( S3 ) Benih Tahta Kekasih Vampirku

( S3 ) Benih Tahta Kekasih Vampirku
Book 3-8: Kenyataan, Rencana Pernikahan dan Menggemaskan sang Buah Hati.


__ADS_3

Book 3-8


Esok pagi cerah tiba dimana markas bawah laut itu berada.


Fritz sehabis berbincang dengan Prof Munakata itu langsung tertidur untuk istirahat sejenak tubuhnya.


Fritz yang masih terlelap tidur itu tengah bermpimpi kalau Canaria sedang membangunkannya seperti dahulu yang dirinya ingat.


"Fritz, ayo bangun." Kata Canaria dalam mimpi Fritz dengan senyum manisnya terpancar di bibir mungilnya.


Lalu Fritz terbangun dengan kenyataan bahwa tidak ada Canaria di sampingnya yang sedang membangunkannya.


Kamar yang sunyi itu membuat keheningan kenangan Fritz terputar kembali saat dirinya tidur.


Kedua matanya perlahan membuka dan tubuhnya ia bangkitkan dari tempat tidur sambil menurunkan kedua kakinya di lantai kamar tersebut dan tertunduk lesu sambil mengingat sosok yang dalam mimpinya membangunkan dirinya.


"Canaria..."


Fritz sejenak terdiam dan memang terkadang kehadiran Canaria di mimpinya karena masih belum bisa melupakan sosok yang sangat ia cintai itu.


Kemudian dirinya berdiri dan membersihkan wajah di kamar mandi yang tersedia di kamar tersebut lalu bergegas untuk ke pangkalan pesawat berada agar bisa pulang ke rumah tempat tinggalnya berada yang tentunya menemui kembali anak-anak tercintanya.


Kate yang paham dengan tingkah Fritz dimana tidak bisa lama-lama meninggalkan ketiga anaknya di rumah itu, dirinya menunggu Fritz bersama para pilot dan Co-pilot di pangkalan yang sudah berada di atas permukaan kembali.


Fritz ketika itu masuk ke sebuah lift khusus untuk ke permukaan pangkalan udara itu berada.


Kate melihat pemandangan pagi yang di kelilingi lautan dan aroma laut semerbak di sekelilingnya.


Bahkan ada sebuah paus yang tengah melompat ke atas air dan mereka seakan sedang menuju ke perairan hangat sambil menghibur dirinya dengan cara melompat di atas air.


Kate melihat itu dan dirinya tersenyum, "Andai ketiga anak-anak itu berada di sini dan melihat lautan yang begitu luas, pasti mereka akan takjub dan senang." Kata Kate.


Kemudian datang Hanjiro bersama Prof Munakata. yang sudah rapih dengan pakaian setelan jas serta jubahnya.


"Apa Fritz belum bangun dari tidurnya?" Tanya Hanjiro kepada Kate yang sedang berdiri di tepi pangkalan yang berada di atas permukaan air yang cukup tinggi di pagi yang cerah dan cukup dingin itu dengan angin laut yang cukup kencang berhembus.


"Pasti dirinya akan bangun." Tersenyum Kate dan melihat Hanjiro berdiri di samping kirinya.


Prof Munakata membawa beberapa hadiah untuk anak-anaknya Fritz dan mereka memang ingin berkunjung ke tempat kastilnya berada dengan ikut Helikopter mereka.


"Aku dan Hanjiro akan berkunjung, hadiah ini akan aku taruh di dalam Helikopter kalian." Kata Prof Munakata.


Kate melirik ke arah belakang Kirinya dan tersenyum tipis, "SIlahkan saja."


Kemudian Fritz muncul dari lift di sisi sebuah area tertutup di pengkalan besar datar bulat itu dan dirinya melihat Kate dan Hanjiro sedang berdiri di tepi pangkalan udara dekat Helikopternya berada dan Prof Munakata membawa barang-barang yang mungkin hadiah untuk anak-anaknya seperti yang di bilang Hanjiro sebelumnya.


Hanjiro saat itu berbincang santai dengan Kate sebelum Fritz mendatangi mereka.


Kemudian Kate merasakan kehadiran Fritz dan dirinya berbalik badan dan terlihat sosok laki-laki tampan dengan jubah besar belakangnya berkibar membuat Fritz begitu keren dengan setelan jas hitamnya.


Para prajurit perempuan yang bekerja di pangkalan itu pun melihat kharisma dan ketampanan Fritz dengan kulit yang putih dan rambutnya belah tengah dengan ada gradasi merah di beberapa bagian rambutnya dan yang paling mencolok adalah di sekeliling matanya yang berwarna merah tipis mempertegas tatapan tajamnya itu.


"Kau sudah bangun akhirnya, Fritz." Kata Kate.


"Ayo kita bergegas berangkat, Kate." Kata Fritz.


Hanjiro berbalik arah ke arah Fritz, "Hei, aku juga ikut, aku ingin berkunjung ke tempatmu dan bermain dengan anak-anakmu yang lucu itu." Kata Hanjiro.


Fritz tersenyum dan merangkul Hanjiro, "Ayo dan kau bisa bermain dengan anak-anakku lalu bertemu Vassnorla."


Hanjiro memerah wajahnya, "Kau ini masih saja, tidak apa kan." Tersenyum malu Hanjiro.

__ADS_1


Kate pun tersenyum dan mengikuti mereka berdua untuk masuk ke Helikopter yang sudah siap untuk berangkat tersebut.


Prof Munakata pun duduk di dalam sambil merapikan beberapa hadiah yang akan di berikan untuk ketiga buah hati Fritz.


Ruangan di belakang Helikopter itu cukup luas dan mereka duduk santai bersebarangan di dalam ruangan tersebut.


Perlahan baling-baling besar Helikopter itu berputar cepat di atas serta bagian ekornya dan kemudian tubuh Helikopter itu mulai terbang dan memutar untuk menuju ke arah negeri sakura tersebut, tempat Fritz dan Hanjiro tinggal.


Fritz kembali melihat pemandangan laut dari tempat duduk di sebelah kanannya dekat jendela sambil tersenyum tipis memikirkan anak-anaknya.


Kate tersenyum melihat Fritz yang seakan begitu sayang dan tidak ingin lama jauh dari ketiga anak-anaknya itu, karena pastinya dirinya memaklumi kalau masa-masa kecil itu adalah masa yang berharga dan Fritz sendiri juga selama 6 bulan itu merenung dan kehilangan 6 bulan bersama bayinya sebelumnya saat ketika masih lucu-lucunya.


Sekarang dirinya ingin menghabiskan banyak waktu di masa balitanya sebelum mereka tumbuh menjadi dewasa.


Prof Munakata juga melihat senyuman dari Fritz itu, "Dia pasti memikirkan anak-anaknya." Kata Prof Munakata.


"Begitu lah." Jawab singkat Kate.


Kemudian Prof Munakata berencana untuk berdiskusi dengan Fritz dan para pengasuh ketiga anaknya itu mengenai sosok yang tertangkap kamera di wilayah teritorial Warewolf yang dimana sosok itu bersama dengan pemimpin kubu Warewolf yang di pihak manusia.


Dirinya sangat penasaran dengan sosok tersebut, dimana tidak ada data apapun yang cocok dengan apa yang sudah coba ia dapatkan, sampai dirinya semalaman tidak tidur mencari sesuatu itu.


Karena takut kalau sosok berjubah itu adalah Devildra dan pemimpin Warewolf sudah di hasut karena hal tersebut.


Kalau misalkan bukti itu benar, maka dirinya akan memberi informasi darurat dan selagi belum ada gerakan besar, Prof Munakata akan menyuruh Hanjiro untuk bergerak dalam situasi itu, karena takutnya seperti dahulu, dimana selalu di serang terlebih dahulu.


Namun karena belum banyak bukti, dirinya harus berdiskusi hal itu dengan orang-orang yang ahli dan masih satu anggota dari Archon Team yang masih ada.


Setelah informasi terkumpul dan terungkap siapa sosok itu, maka baru kordinasi kepada bangsa lain untuk melakukan penyerbuan ke dalam wilayah teritorial bangsa Warewolf tersebut dan langsung menangkap pemimpinnya lalu intrograsi agar semuanya jelas.


Hanjiro sendiri juga yang sudah di beri tahu itu merasa khawatir dengan rekaman yang ia lihat.


Takutnya membuat gaduh di organisasi perdamaian ini antar bangsa.


Akan tetapi rasanya pasti akan sulit, karena semua teritorial bangsa lainnya tidak terlalu terbuka kecuali yang tinggal di wilayah Sweden, dimana kekuasan dari keluarga Vanhelsing.


Helikopter itu terbang tinggi dan menggunakan kembali pendorong untuk mempercepat lajunya ke wilayah negara Jepang dengan cahaya matahari menyinari dari sisi kanan, tepat di timur mata angin berada.


Prof Munakata beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke bangku paling belakang, dirinya merebahkan tubuhnya di kursi panjang untuk tidur sebelum sampai ke kediaman kasti Fritz berada, dimana dirinya terlihat cukup lelah karena mencari informasi yang baru ia dapat itu beberapa hari lalu.


Sementara Kate berbincang kepada Hanjiro mengenai keseriusannya kepada Vassnorla.


"Hei, Hanjiro, apa kau sudah mulai ke tahap serius dengan Vassnorla mengenai masalah tersebut?" Tanya Kate kepada Hanjiro yang sedang duduk di seberang bangkunya berada.


"AKu sudah memikirkannya dan kemungkinan besar aku akan melamarnya dalam waktu dekat ini." Jawab Hanjiro.


Kate tersenyum lebar dan dirinya mendukung hal itu, "Bagus jika kau akan melamarnya dalam waktu dekat ini, berikan lah pesta yang meriah saat pernikahan itu terjadi."


Hanjiro sudah memikirkan itu dan dirinya hanya ingin mengundang semua peneliti yang ada di Kyoto tempat sebelumnya bekerja serta kepolisian Kyoto yang juga sebelum dirinya keluar karena pekerjaan barunya itu.


"Mungkin tidak terlalu mewah dan itu akan di selenggarakan di sebuah taman yang luas, karena aku akan menyewa taman di kota Kyoto untuk pernikahan tersebut." Kata Hanjiro yang dirinya sudah merencanakan pernikahannya itu dengan sangat matang.


"Yah kau adalah wakil dari manusia itu sendiri dalam kedamaian bangsa itu sendiri, kau sudah cukup berjasa di pekerjaanmu ini, memiliki pendamping memang sudah seharusnya kau lakukan agar lebih semangat di bandingkan sebelumnya." Lirik Kate ke arah Fritz.


Pandangan Fritz terbuyarkan saat dirinya sedang menikmati pemandangan dari atas langit dimana masih lautan di bawah mereka dan dirinya melirik ke arah kiri menatap balik ke ara Kate.


"Aku sudah bahagia dan tidak perlu lagi pendamping, karena sudah banyak kenangan dalam diriku ketika Canaria hadir dan memberiku keturunan yang cantik dan tampan, bahkan ada yang bisa di katakan cantik dan tampan." Fritz ikut bicara dan dirinya memuji anak-anaknya, termasuk Cayana, dimana wajahnya memang bisa di bilang seperti perempuan cantik, namun bisa juga di dandani dengan seperti laki-laki tampan yang maskulin.


Saat yang sama di kediaman kastil Fritz berada.


"Hacihh..."

__ADS_1


Cayana bersin ketika dirinya sedang di dandani oleh Vassnorla di atas tempat tidur setelah mandi pagi, dimana Cayana di pakaikan pakaian laki-laki dan rambut panjangnya di kuncir ke belakang.


Vassnorla menyisir rambut Cayana seperti laki-laki dan memang Cayana cocok di pakaikan pakaian perempuan dan laki-laki, "Jangan lagi bermain terlalu lama di kamar mandi, kalau kau sakit, maka nanti tidak bisa bermain dengan adik-adikmu." Kata Vassnorla.


"Aku tidak sakit, Mamah Norla, tiba-tiba saja aku bersin." Jawab polos Cayana sambil menggerakan kedua kakinya yang menggantung di tepi tempat tidur itu ke belakang dan kedepan secara bergantian.


Kemudian terdengar suara bersin dari Naidan dan Riami yang sudah terlebih dahulu selesai di dandani dan tengah di gendong keduanya oleh Aurora yang berada di lorong menuju ke ruang bermain mereka di dalam kastil.


"Hacih... Hacihh.."


"Kalian berdua ini terlalu asik bermain di kamar mandi yah." Kata Aurora sambil melihat gemasnya kedua anak Fritz itu yang tengah bersin.


Terutama Riami.


Naidan melirik ke wajah Aurora dengan polosnya, "Tiba-tiba aku ingin bersin, bukan karena terlalu lama."


Riami pun tersenyum, tetapi hidungnya mengeluarkan lendir di sisi kanannya, "Hehehee..."


Aurora melihat itu dan dirinya langsung bergegas cepat ke ruangan itu untuk menaruh mereka berdua serta menyeka hidung dari Riami yang mengeluarkan lendir di sisi kanannya, "Ya ampun ingusmu keluar itu, sayang."


Aurora menaruh terpisah Naidan di sofa bludru berwarna coklat dengan mainan robot dan mobil tersedia di sana, lalu Riami di duduki di sofa bludur berwarna merah muda terang dan lalu menyeka ingus yang keluar dari hidung Riami menggunakan tisu yang ada di atas meja kecil berbentuk kotak di dekat sofa yang di duduki oleh Riami.


Riami hanya tersenyum sambil melihat Aurora yang sedang menyeka ingusnya yang keluar karena bersin sebelumnya.


"Hehehehe..."


Aurora yang melihat Riami tersenyum itu membuatnya gemas dan setelah ingusnya di seka, dirinya langsung mengguseli tubuh kecilnya RIami dengan wajahnya sampai Riami terbaring di sofa dan tertawa keras.


"SIAPA YANG MENGGEMASKAN... HMM... HMM..."


Aurora memegang kedua tangan mungil Riami.


"Hahahahaha... Geli... Mamah.... Hahahaha...."


Aurora mencium-cium wajah Riami yang begitu lembut, terutama kedua pipinya yang begitu wangi tubuhnya setelah mandi pagi.


"Muchh... Muchh... Mamah akan menciumi kamu sampai pipimu memerah... Muchh..."


Aurora mencium sekaligus menggelitiki tubuh Riami yang kecil yang mengenakan gaun berwarna merah muda dengan gambar strowberry di gaunnya tanpa lengannya itu.


"Hahahaha Mamah... Geli... Hahaha... Hahahaa..."


Bahkan Aurora mencium ketiak Riami dan terus ke bagian tubuhnya, karena saking gemasnya terhadap dirinya.


Tawa itu terdengar sampai keluar dan Naidan juga itu tertawa ketika melihat Riami terus di guseli oleh Aurora.


"Kakak... Hahahaha... Tolong.... Hahahaha...." Riami sampai meminta tolong kepada Naidan.


Namun Aurora melirik ke arah Nidan dengan wajah serius, "Kalau kau kesini, maka aku akan mengguseli dirimu tanpa ampun, Naidan..."


"Hehehehe... Aku tidak mau..." Nidan kemudian acuh dan mengambil mainan robot-robotnya dan bermain dengan imajinasinya di atas sofa.


Aurora kemudian menatap wajah Riami yang tengah tersenyum lebar kepadanya dengan sejenak menghentikan guselannya pada tubuh Riami.


"Mamah mulai lagi..."


"Hahahaha.... Mamah... Geli.... Hyaaaaa... Hahahaha...."


Aurora lagi-lagi mengguseli tubuh Riami di sofa itu dan kemudian Vassnorla datang membawa Cayana yang dirinya gendong dan di dandani layaknya seperti Naidan dengan celana pendek dan kaosnya juga yang berwarna hitam dan putih layaknya laki-laki.


Cayana melihat Riami yang sedang di guseli oleh Aurora dan dirinya ikut tersenyum.

__ADS_1



__ADS_2