
Kemudian setelah perbincangan rahasia di dalam mobil tersebut.
Prof Munakata dan perwakilan Asia keluar untuk menikmati suasana musim gugur yang berbahagia, dimana sebuah pesta pernikahan akan terselenggarakan.
Sementara itu di sisi luar gerbang taman lainnya.
Mobil dari Fritz datang dan para pengawal yang berpakaian setelan jas hitam ada di dalam parkiran tersebut membuka pintu masing-masing dari mobil mereka.
Ketiga buah hati Fritz begitu merasa senang dan mereka sangat menantikan pesta yang terselanggarakan di luar ruangan, dimana mereka biasanya begitu jarang bermain di luar karena Fritz tentunya harus melingundungi mereka.
Riami yang sudah mengenakan gaun cantik berwarna putih di berikan kursi roda kecil oleh Kate dan Cayana mendorongnya dengan Naidan juga berjalan di sampingnya.
Fritz berlutut di hadapan ketiga buah hatinya sambil mengelus kepala Riami yang tengah duduk di kursi roda.
"Kalian bertiga boleh pergi kemana pun di area taman ini, asalkan tidak jauh-jauh dari Mamah Kate dan Mamah Aurora." Ucap ramah Fritz kepada ketiga buah hatinya yang masih balita dimana begitu cantik dan tampan dengan pakaian pesta mereka.
Mereka bertiga mengangguk dan hal itu di lihat oleh Kate dan Aurora yang sudah siap menemani mereka untuk menikmati pesta besar tersebut di taman kota Kyoto.
Namun sebelum itu, Kate menghampiri Fritz untuk sejenak bicara, dimana Fritz pelahan mulai berdiri dari berlututnya itu.
"Kau akan pergi menemui Hanjiro, Fritz?" Tanya Kate.
"Iyah, aku juga ingin membicarakan sesuatu kepada Profesor Munakata." Jawab Fritz dengan wajah serius.
"Baiklah kalau begitu, sekarang aku akan menemani mereka bertiga." Kata Kate yang perlahan tersenyum dan menghadapkan wajahnya ke arah buah hati Fritz yang tengah menyeringai bahagia menikmati suasana musim gugur yang sejuk dan tidak terlalu panas itu.
Fritz pun berpisah dengan kate dan Aurora.
__ADS_1
Sementara itu di sisi lain parkiran lainnya.
Mobil sedan hitam milik Hanjiro datang dan dirinya di kerumuni pengawal berpakaian jas hitam yang seakan memang dirinya sangat di pentingkan di saat itu.
Hanjiro keluar dari pintu mobilnya yang di bukakan oleh Drivernya dan di sambut dengan bungkukan hormat dari para pengawal yang ada di dekat parkiran.
Tidak lama Hanjiro datang, Helikopter milik Vassnorla pun datang dimana para pengawal lainnya setelah melihat itu langsung bergegas mengamankannya dengan senjata yang mereka sembunyikan di koper serta setelan jasnya.
Hanjiro melihat Helikopter yang di tumpangi calon istrinya itu di tempat khusus dan membuat angin besar yang menerpa tubuhnya.
Dalam terpaan angin dari baling-baling Helikopter besar itu, Hanjiro tersenyum dan jantungnya berdegup kencang, dimana sebentar lagi dirinya akan memiliki kekasih untuk hidup bersama.
Tentu hal itu sesuatu yang sangat lumrah dimana gerogi dalam masa pernikahan, apalagi hal itu sesuatu yang sakral.
Ketiga buah hati Fritz pun melihat Helikopter itu dengan mereka tersenyum dimana anginnya menerpa tubuh kecil mereka.
Aurora berlutut di hadapan buah hati Fritz dan melindungi mereka dari angin kencang itu menggunakan sayap kupu-kupunya yang bisa berubah transparan dan masih bisa ketiga buah hati Fritz lihat Helikopter itu dari sayapnya yang memiliki panel penyamaran.
Tidak lama setelah itu, mobil rombongan dari Warewolf datang dimana datangnya sama arahnya dengan rombongan Fritz.
Para pengawal di parkiran taman tersebut membuka kan pintu mobil mereka dan keluar lah Dante bersama Lavia yang saling bergandeng tangan.
Kemudian sosok perempuan elf kecil perwujudan dari sosok misterius yang selalu ada di samping Dante juga keluar dan berjalan di belakang dua kekasih itu.
Lavia melihat sekeliling wilayah taman itu yang begitu ramai dan banyak pohon warna-warni menghiasi dimana bunga-bunga dari kekuatan Kate ikut menghiasi.
Dante melirik ke arah kiri tepat Lavia sedang menggandeng lengannya.
__ADS_1
"Ini yang kau inginkan bukan, Lavia?" Tanya Dante dengan senyum menyeringai di wajahnya yang tampan.
Beberapa tamu penting yang terutama kaum perempuan dimana memakai kimono beraneka ragam melihat ketampanan maksimal dari Dante yang seakan seperti pangeran dari negeri Es.
Warna matanya biru bercahaya dan kulitnya begitu putih seperti salju dengan rambut panjang abu-abunya.
Lavia saat itu merasakan sebuah sesuatu yang tidak biasa dari kulit tubuhnya yang juga begitu cantik, dimana dirinya mengenakan dress tanpa lengan dan rambutnya terikat melingkar di belakang hingga memperlihakan lehernya yang kecil dan begitu seksi dengan helaian selir-selir dari ikatan rambutnya itu.
Para bangsa lain pun terlihat terpikat dengan kecantikan Lavia yang memiliki tubuh seakan sempurna sebagai bangsa Elf, dimana tubuhnya begitu ideal sebagai seorang perempuan.
Kulitnya yang putih dan tanpa noda itu pun menjadi sesuatu yang membuatnya menjadi sosok perempuan cantik saat di pandang dari sisi mata laki-laki dan tidak sedikit ada yang iri melihat kecantikan dari Lavia.
Dante melihat sekeliling dan dirinya dalam hati merasa bangga bisa memiliki Lavia, karena Dante juga terpikat dengan kecantikan dari Lavia walau caranya cukup kasar.
Dimana sekarang di dalam tubuh cantiknya itu ada benihnya yang akan tumbuh jadi anak-anak penerus Dante dan dirinya juga merasa ingin melihat hasil dari hubungan bersama Lavia hingga pada akhirnya dirinya mengandung.
Dante pun memegang tangan Lavia yang tengah menggandeng lengan kirinya sambil menyeringai bahagia.
"Ayo kita pergi ke tempat yang sudah di sediakan, Sayang." Kata Dante sambil melangkahkan kedua kakinya masuk ke taman lebih dalam dimana tempat utama acaranya akan di mulai.
Lavia melirik ke arah kanan atasnya dan kedua kakinya pun mengikuti langkah Dante dimana wajahnya merasa khawatir kalau Dante akan melakukan sesuatu jika dirinya mencoba melakukan hal yang di langgar olehnya.
Sosok elf jelmaan dari sosok misteirus yang mengikuti Dante pun berjalan di belakang mereka berdua.
Persiapan pernikahan itu pun akan di mulai dimana mulainya tamu-tamu penting yang akan berdatangan.
__ADS_1