( S3 ) Benih Tahta Kekasih Vampirku

( S3 ) Benih Tahta Kekasih Vampirku
Book 3-17: Keceriaan Malam dan Pemimpin WareWolf.


__ADS_3

Book 17


Sementara itu Fritz tengah berada di dalam ruangan kerjanya tengah terduduk tertunduk di sofa panjang sambil merenung dengan kondisi dirinya benar-benar belum bisa melupakan sosok yang selama ini dirinya sangat cintai.


Cara apapun untuk membangkitkan Canaria kembali sudah banyak buku yang Fritz baca di bantu oleh Aurora, bahkan Kate sendiri.


Namun tidak ada satu pun buku atau apapun yang bisa di bilang membangkitkan nyawa yang sudah tiada.


Fritz menyandarkan tubuhnya di belakang sofa tempat dirinya duduk dan mendangakan kepalanya ke atas langit-langit ruangan yang tercahayai sinar matahari di siang hari menjelang musim gugur itu.


"Tenang lah, Fritz. Kau tau bahwa kau merindukan dirinya, tidak baik selalu memikirkannya karena sekarang yang ia tinggalkan adalah anak-anak yang lucu untukmu." Kata Fritz kepada dirinya sendiri dan dirinya pun terpejam kedua matanya untuk sejenak menenangkan pikirannya yang teringat masa itu.


Kemudian malam tiba di kastil Fritz berada dengan suasana jauh lebih ramai sebelum makan malam tiba.


Suara teriakan di sertai tawa dari kembar tiga itu kembali terdengar, dimana Fragetuel, Prof Munakata dan Aurora bermain kejar-kejaran di lorong kastil kediaman Fritz berada dengan semua lampu tengah menyala.


Fritz tidak ingin mengacaukan kesenangan mereka dan masih ada waktu sebelum waktu makan tiba.


Fritz datang dari tempat kerjanya dan langsung duduk di kursi khususnya seperti biasa sambil melihat Kate, Vassnorla dan Hanjiro tengah menyiapkan makan malam untuk Fritz dan tentunya tamu yang berkunjung.


Kemudian di lorong ruangan lain terdengar teriakan Riami bersama Cayana.


"Kakak.... Kakek dan Paman Munakata datang.... Hahahaha..." Tertawa Riami dengan bahagia.


"Kakek dan Paman Munakata benar-benar mengerikan... Kyaaaaaa..." Cayana teriak dengan ketakutan.


Dimana Fragetuel dan Prof Munakata berdandan seperti salah satu Anime jepang bertema Raksaksa pemakan manusia dengan kostum seperti tidak berbusana seperti yang ada di dalam Anime itu  yang mengejar mereka berdua dengan gaya lari yang aneh, dimana seperti zombie dan orang mabuk.


"Blaaaaaaa... Lbaaaaa..." Prof Munakata berlari dengan kedua kainya di lekuk dan kedua tangannya di goyangkan ke kiri kanan dengan cepat serta ekspresi layaknya zombie mabuk.


Fragetuel pun juga demikian dimana dirinya malah berlari mundur dengan pose seperti setengah kayang ke belakang dimana lagi-lagi berlari dengan cara yang aneh.


"Raaaaaa... Raaaaa..."


Semua yang ada di ruang makan itu melihat dua orang dewasa yang benar-benar totalitas untuk bermain dengan seorang anak.


Sampai Vassnorla merasa malu melihat Kakeknya yang seperti anak kecil dan berakhir dengan terdengar suara tulang kecengklak.


'Krkk..'


"Aduhh... Tulangku...." Kata Fragetuel yang pada akhirnya dirinya jatuh di lantai karena pinggangnya encok karena berlari dengan seperti kayang ke belakang.


"Dasar Kakek..." Kata Vassnorla sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Hanjiro tersenyum bersama dengan Kate dan juga Fritz yang melihat tingkah orang tua itu yang benar-benar mau melakukan hal gila untuk bermain dengan anak-anaknya yang lucu itu.


Kemudian terdengar suara Naidan berteriak keras dari yang kecil hingga terdengar jelas.

__ADS_1


"kkkkkkKKKYYYYAAAAAAAAA.... KENAPA MAMAH AURORA MEMAKAI PENDORONGNYAAAAAAA.... " Teriak Naidan.


Naidan berlari cepat melewati ruang makan itu di belakang tempat kursi Fritz tengah di duduki olehnya.


'WUSHHH...'


Kemudian ada Aurora dengan pendorongnya dari sayap kupu-kupunya berwarna biru juga melesat cepat dengan memakai kostum hantu putih terbang.


"HAHAHAHAHA... BERSIAP LAH SAAT KAU TERTANGKAP AKAN AKU GUSELI TUBUHMU... NADIAN...."


"NAMAKUUUU NAIDANNNNNN...... KYAAAAAAAAA...." Teriak Naidan yang di kejar cepat oleh Aurora dimana dirinya tidak ingin di tangkap olehnya untuk di guseli tubuhnya seperti yang selalu Aurora lakukan kepada Riami.


Fritz memejamkan kedua matanya dan dirinya tertunduk sambil memegang dahinya dengan tangan kanannya, " Ya ampun... Selalu saja seperti ini jika mereka mencoba berkunjung." Kata Fritz sambil senyumnya hadir karena melihat buah hatinya benar-benar bersemangat.


Hanjiro menghampiri Fritz dan menepuk pundak kirinya, "Rumah ini menjadi lebih ramai bukan?" Tanya Hanjiro dengan senyum senang melihat keramaian itu.


Fritz membuka matanya dan menghela nafas panjang dan membuangnya secara perlahan, "Andai jika ada Canaria di sini, mungkin kerjar-kejaran yang selalu mereka sukai itu tidak akan menggunakan kekuatan dan lebih ke anak normal pada umumnya, sejujurnya aku ingin tau sekali reaksi dirinya jika melihat anak-anaknya yang ia kandung itu sudah seperti ini, apakah dirinya masih bisa sabar atau memarahi mereka karena hal tersebut." Kata Fritz yang membayangkan bagaimana jika Canaria saat itu masih ada untuk melihat anak-anaknya yang kejar-kejaran seperti ini.


Hanjiro merasa simpati dan dirinya mencoba menghibur Fritz, "Mungkin sebagai seorang Ibu, ada saatnya dirinya bisa marah, namun tentu marahnya itu adalah kasih sayang, apalagi kau lah mengenal dirinya dan pasti tau apa yang di lakukan dirinya jika misalkan berada di sisi kita." Kata Hanjiro.


Fritz membayangkan sejenak Canaria marah dengan beberapa buah hatinya di dalam pikirannya dan tentu saja Riami yang paling kecil itu ia selalu gendong dan menyayanginya seperti dirinya menyayangi Fritz.


Fritz juga yakin kalau pastinya Canaria tidak pilih kasih sayang kepada ketiga anaknya itu, karena Fritz paham kalau Canaria sangat tinggi rasa empatinya dan seperti tau memahami orang lain.


Tentu Fritz juga tidak melakukan pilih kasih dan semuanya sama di berikan kasih sayang yang setara, walau tentu cara antara anak laki-laki dan kedua anak perempuannya berbeda untuk membuatnya bagaimana menyayangi mereka.


Hingga pada akhirnya mereka bertiga terlihat akur ketika tengah bermain walau seperti yang terlihat Riami tidak seperti mereka berdua yang memiliki kekuatan Vampir milik Fritz.


Mereka pun di tempat dudukan khusus seperti biasa dan makan malam tenang pun di mulai kembali.


Hari kemudian semakin larut setelah makan malam itu selesai.


Sebelum anak-anak Fritz di bawa ke ruangan mereka untuk tidur, Fritz mencium satu persatu seperti sebelumnya, mulai dari Cayana, Naidan dan Riami yang di gendong oleh Aurora.


Tempat tidur mereka bertiga dalam satu ruangan dengan banyak pula mainan di sana yang tertata rapih.


Malam itu Riami ingin tidur dengan Cayana.


"Mamah Aurora, Riami ingin tidur bersama Kakak Cayana." Kata Riami kepada Aurora.


"Heee... Kau ingin tidur bersama Kakak lagi rupanya... Cium Mamah dulu, Riami, baru boleh tidur bersama Kakakmu." Suruh Aurora kepada Riami yang menggemaskan itu.


Riami memegang pipi kiri Aurora dan dirinya mencium pipi kanannya dengan bibir mungilnya, "Muchh.. Sudah... Mamah..."


"Yang kiri belum." Kembali Aurora meminta untuk Riami mencium pipi kirinya.


"Muchh.. Sudah, Mamah." Cium kembali Riami.

__ADS_1


Kemudian Aurora mengguseli tubuh Riami sambil menaruhnya di atas tempat tidur Cayana yang dekat dengan jendela kamarnya yang ada di lantai dua.


"HMMM... MAMAH GEMAS DENGANMU... MHMMM... RASAKAN INI..."


"Hahahaha.... Mamah... Hentikan... Nanti aku sulit tidur.... Hahahaha..." Tertawa geli Riami di guseli oleh Aurora.


Cayana dan Naidan ikut tersenyum melihat Riami tertawa di guseli oleh Aurora.


Fritz menatap datar di dekat pintu yang bersiap ingin di tutup olehnya, "Ayo lah Aurora, kau itu bisa mengguseli Mereka berteiga besok, sekarang waktunya mereka untuk tidur." Kata Fritz yang melihat perubahan besar kepada sifat Aurora kepada anak-anak Fritz.


"Hehehehe... Baiklah... Kalian bertiga tidur dan sampai besok lagi yah... Mamah akan mengguseli kalian saat pagi nanti, hehehehe...." Kata Aurora.


Mereka bertiga tersenyum dan Cayana naik ke atas temat tidur, kemudian memeluk Riami sambil menarik selimut berwarna merah muda dengan gambar buah semangka yang sudah terlihat dalam isinya.


Aurora berjalan ke arah luar pintu dengan ada Fritz bersiap mematikan lampu kamar ruangan itu.


"Selamat tidur, Cayana, Naidan dan Riami." Kata Fritz kepada mereka bertiga dengan senyum menyeriingai bahagia.


"Selamat tidur juga, Papah..." Jawab mereka bertiga serentak.


Fritz mematikan lampu utama di kamar itu dan tersisa penerangan lampu tidur yang ada di setiap kepala samping tempat tidur mereka bertiga.


Kemudian pintu itu pun di tutup rapat oleh Fritz.


Aurora dan Fritz pun berjalan menuruni lorong lantai dua dari kamar mereka bertiga menuju ke tangga untuk pergi ke ruang bermain ketiga buah hati Fritz, dimana di sana sudah ada Fragetuel, Hanjiro, Prof Munakata, Kate dan Vassnorla.


Mereka malam itu ingin membahas sosok misterius yang ada di samping pemimpin Warewolf.


Tepat di sisi lain dimana bangsa Warewolf tinggal, dimana ketika itu waktu sudah menjelang pagi di sana dengan suasana salju yang dingin dan cukup gelap.


Terdapat sebuah Kastil besar seperti milik kediaman Fritz dengan warna abu-abu keseluruhan dengan halaman dan atap tertutup salju tebal.


Tepat di arah jendela di lantai dua yang mengarah ke sisi depan halaman kastil tersebut.


Dante, Nama Pemimpin Warewolf tengah berdiri menghadap kaca yang mengarah ke halaman depan dengan mengenakan pakaian jas abu-abu dan putih di dalam sebuah ruangan besar interior klasik laksana bangsawan eropa pada umumnya dengan sebuah ranjang besar di dalamnya dan cat berwarna putih juga biru cerah.


Rambutnya putih panjang hingga ke pinggang dengan di kuncir kebelakang dan wajahnya tegas dengan bibir berwarna biru cerah tercampur dengan kulitnya yang putih dan bola matanya bersinar biru berkelip seperti sebuah gel dalam pasta gigi yang membuatnya indah di pandang siapapun yang melihatnya.


Kemudian sosok misterius yang di bicarakan oleh group Fritz itu datang dimana masih berjubah putih dan emas dengan tinggi hampir 3 meter berada di samping kirinya.


"Sudah siapkah dirimu membawanya keluar, karena kesepakatan kita sudah terikat, walau rencananya gagal." Kata sosok misterius tersebut yang bicara.


"Sepertinya memang sudah dan aku juga akan menyelenggarakan pesta pernikahan resminya dengan perempuan yang tidak berguna itu kepada Anggota Godfather lainnya." Dante membalikan tubuhnya setengah ke arah kanan dan melihat ada sosok perempuan Elf bertelinga lancip bermata biru besar, berambut putih dengan di dahinya ada poni dan rambut panjang di kedua sisi dekat depan telinganya lalu rambut panjangnya di ikat melingkar di belakang kepalanya yang sedikit ada bagian yang keluar.


Kulitnya putih seperti susu serta bibirnya kecil mungil berwarna merah muda.


Elf cantik itu tengah duduk di tengah ranjang besar ber penutup beratap sambil menutup tubuhnya dengan selimut tebal berwarna abu-abu dan melihat ke arah Pemimpin Warewolf yang tampan bermata biru cerah berkelip itu yang juga tengah melihatnya.

__ADS_1


Namun raut wajah Elf itu sedikit terlihat sedih dengan kedua matanya yang terbuka lebar dengan tubuh yang ramping sempurna dan kulitnya benar-benar tercahayai putih bersih tanpa hal apapun yang menghalangi kecantikan tubuhnya yang saat itu sebagian tubuhnya terbuka karena hanya tertutup sehelai selimut di bagian depan saja.



__ADS_2