![[Not] A Perfect Marriage](https://asset.asean.biz.id/-not--a-perfect-marriage.webp)
Suara sendok yang beradu dengan gelas memenuhi ruang yang dipenuhi barang pecah belah. Tangan kekar seorang pria juga dengan kaku memutar gagang sendok di dalam cairan berwarna kecoklatan.
"Kenapa nggak minta tolong Mbok Parmi aja, Tuan?" tanya seorang wanita tua yang baru saja tiba di ruangan tersebut.
"Enggak, Mbok. Hanya satu aja." Tahta menaruh sendoknya dan perlahan mengangkat nampan kecil yang berisi cangkir berwarna putih.
"Tahta," panggil Laras saat pria itu berbalik dan hendak melangkah.
Seulas senyum muncul di bibir wanita itu dengan sorot mata tertuju pada secangkir teh yang dibuat putranya. Sepertinya ini kali pertama dia melihat tangan berharga putranya membuat dan menyajikan teh untuk orang lain.
"Mama berharap Cinta bisa melihat ketulusanmu, Nak. Mama selalu berdoa semoga kalian bisa kembali bersama, membesarkan anak-anak kalian dengan baik." Tahta menarik sudut bibirnya. Api di dadanya seolah tiba-tiba kembali menyala semakin terang.
"Tapi ... jika itu papamu yang meminta maaf pada Mama, Mama sudah pasti tidak akan memaafkannya. Dan kau sendiri memasukkan papamu ke penjara karena kesalahannya, kan?" Senyum Tahta lenyap ditelan bumi. Kini tatapan kesal yang dia sajikan pada Laras. Entah apa maksud ibunya itu. Dia memberikan semangat, pun menjatuhkannya ke dasar samudera.
Laras hanya terkekeh kecil melihat perubahan ekspresi putranya yang begitu cepat. "Sudahlah, cepat kirim teh itu. Cinta pasti kedinginan."
Mendengar nama Cinta disebut, kekesalan Tahta menguar di udara. Tanpa sepatah kata, pria itu melenggang pergi meninggalkan sang ibu yang terus menatap punggungnya dengan senyum haru. Semangat hidup putranya sudah benar-benar kembali beberapa hari ini. Tatapan dan hati yang seolah tak berperasaan beberapa tahun terakhir sudah benar-benar hilang. Dia berusaha begitu keras untuk menjadi sosok yang baik bagi anak-anak dan Cinta.
Tahta menyusuri anak tangga dengan langkah lebar, namun memelan saat hampir mendekati kamar lama ibunya dulu yang ada di lantai dua. Kamar ini masih satu lantai dengan miliknya, dan hanya terpisah sebuah ruangan kecil, untuk bersantai menikmati pemandangan dari jendela.
Pria dengan potongan rambut pendek di samping itu perlahan memutar gagang pintu. Namun, gerakannya terhenti saat pintu baru terbuka sedikit, dan suara anak kecil yang begitu imut, menyelusup ke dalam indra pendengarannya.
Cinta tengah sibuk menidurkan kedua anaknya. Terlihat Ratu yang ada di tengah sudah tertidur pulas. Tangan Cinta terus menepuk perlahan paha putranya yang tak kunjung tertidur.
"Ayo tidur, My Sweety ini sudah malam," ujar Cinta sembari melirik jam yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
"Mama."
"Hmm?"
"Apa ...." Raja terlihat ragu untuk melanjutkan pertanyaannya.
__ADS_1
"Kenapa, Sayang?"
"Apa om itu beneran papa Raja dan Ratu?"
Seketika alis mata Cinta terangkat tinggi mendengar pernyataan putranya. Dia membenarkan posisi dan menatap wajah Raja dengan lembut.
"Oh, Anakku ... Mama tahu kau pasti sangat kepikiran tentang hal ini. Raja-ku ini memang pria yang pintar. Dan pasti kau tidak akan mudah untuk dibohongi, kan?" Cinta mengusap lembut surai hitam putranya.
"Seperti yang Mama bilang dulu, Om Tahta adalah ayah kalian yang sebenarnya," ujar Cinta dengan senyum sumir.
"Lalu kenapa papa kita, papa Rudi? Kenapa om itu tidak pernah mencari kita dulu?"
"Itu karena papa Tahta tidak tahu keberadaan Raja dan Ratu. Kalau kita main petak umpet, kan kadang susah nyari yang sedang sembunyi."
"Kenapa kita harus sembunyi?"
"Emm ... karena dulu ada orang jahat di dekat papa Tahta, jadi mama harus sembunyi biar nggak disakiti. Sekarang orang jahatnya sudah dihukum sama papa Tahta. Jadi kita nggak perlu sembunyi lagi," jelas Cinta dengan lembut seolah tengah membacakan buku dongeng pada putra kecilnya.
"Kenapa mama tidak punya poto om itu dan mama, seperti poto mama dan papa Rudi?" tanya bocah laki-laki itu sembari mengingat-ingat poto pernikahan yang terpasang di dinding ruang tamunya.
Bocah kecil itu nampak mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti dengan jawaban ibunya. Dia masih menatap lurus ke manik mata Cinta, tapi sorot mata bocah yang belum genap lima tahun itu begitu rumit.
Tatapannya membuat Cinta harus menelan salivanya dengan susah payah. Wanita itu tengah menebak-nebak apa lagi pertanyaan yang akan dia lontarkan. Jantungnya sudah seperti genderang perang yang baru ditabuh.
"Mama." Cinta sedikit membuka lebar matanya. Sepertinya anak ini sudah membuat kesimpulan atau sejenisnya, dan pastinya juga tidak akan mudah untuk diatasi.
"Tidak bisakah kita hanya memiliki Papa Rudi saja?"
Cinta membeku dengan mulut sedikit terbuka. Dia benar-benar tidak percaya dengan pendengarannya. Apa baru saja anaknya itu menolak ayah kandungnya sendiri? Ah, entah, hatinya terasa sangat sakit dan sesak. Bukankah seharusnya aku senang? Bukankah memang ini yang aku inginkan? Melihat pria itu menderita karena penolakan dari orang yang dicintainya. Aku harusnya senang mendengar ini, tapi ini ... Cinta memegangi dadanya yang terasa nyeri dan seolah tertusuk belati.
"Apa kau tidak menyukai Papa Tahta?"
__ADS_1
Cinta begitu penasaran akan jawaban putranya. Namun setelah menunggu, bocah kecil itu tak kunjung menjawab dan malah memutar tubuhnya. Dia menatap kosong langit-langit kamar. Perlahan tapi pasti, mata bocah itu semakin menyipit. Netra coklat tuanya tertutup sempurna, seiring dengan tepukan pelan dari sang ibu.
Cinta membelai lembut puncak kepala putranya. Tatapan wanita itu berubah sendu. Masih ada rasa sakit yang tersisa dari penolakan putranya terhadap sang ayah.
"Andai saja kalian tahu bahwa Rudi tidak lebih baik dari papa kalian. Tapi mama tahu kalian tidak akan paham dengan semua itu. Ini rasanya begitu tidak adil untuk papa kalian, tapi ... semoga dia bisa membuat kalian menerimanya." Cinta mengecup lembut si kembar sebelum akhirnya turun dari ranjang berukuran king size tersebut.
Netra coklatnya terarah pada pintu yang sedikit terbuka. Keningnya berkerut, dia yakin tadi sudah menutupnya dengan benar. Wanita itu melangkah lebar mendekati pintu, takut jika hal buruk atau berbau mistis ada di rumah ini.
Perlahan wanita itu membuka pintu. Dia sedikit terhenyak saat mendapati sesosok pria tengah berdiri mematung di sisi pintu. Air mata sudah menganak sungai di pipinya dan beberapa lelehan cairan bening itu sudah mengering. Cinta melangkah keluar dan perlahan menutup pintu. Dia tidak ingin anak-anaknya terganggu dan mendengar suaranya.
"Kau ... mendengarnya?" tanya Cinta dengan ragu-ragu.
"Maafkan aku."
Cinta menipiskan bibirnya. Entah sudah berapa kali dia mendengar kata maaf dari mulut pria itu. Pria di hadapannya itu terlihat menyedihkan dengan tetesan air matanya. Ya, dia tahu perasaannya pasti lebih sakit dari apa yang baru saja dia rasakan.
Pandangan Cinta kini beralih pada nampan dan cangkir yang ada di tangan Tahta. "Apa itu teh untukku?"
Tahta hanya mengangguk pelan sembari menghirup udara menenangkan hatinya.
"Jangan! Itu sudah tidak enak," seru Tahta saat tiba-tiba Cinta mengambil cangkir tehnya.
Wanita itu tak menghiraukan Tahta. Dia menyeruput teh di tangannya, dan menghabiskan minuman yang sudah dingin itu dalam sekali teguk.
"Apa kau sudah berdiri di sini sejak tadi?" tanya Cinta setelah menyelesaikan minumnya.
"Apa anakku membenciku?"
Cinta menghela napas berat. "Mereka hanya belum mengerti saja."
"Aku memang seorang suami dan ayah yang buruk." Air mata yang dengan susah payah dia bendung, kini kembali mengkhianati Tahta.
__ADS_1
"Tidak. Ini juga salahku. Maafkan aku," ujar Cinta mengusap air mata yang membasahi pipi mantan suaminya. Ini bukan sesuatu yang direncanakan, tangannya benar-benar reflek terulur saat melihat pria itu begitu menderita.
...Bersambung.......