![[Not] A Perfect Marriage](https://asset.asean.biz.id/-not--a-perfect-marriage.webp)
Cinta mengekori suaminya yang tengah menenteng tas ransel berukuran sedang. Di depan rumah, adik iparnya sudah bersiap di samping mobil pajero berwarna putih yang biasa digunakan Rudi untuk perjalanan jauh.
Suara jangkrik saling bersahutan di sekitar rumah berwarna putih itu. Cinta mendongak menatap langit, memastikan langit malam ini tidak berbalut awan hitam. Meskipun tidak terlalu banyak bintang seperti biasa, setidaknya cuaca cukup bagus untuk melakukan perjalanan.
"Aku pergi dulu, Sayang. Hanya tiga hari, setelah itu aku berjanji akan secepatnya pulang." Rudi mencium mesra kening istrinya.
"Halo, Bubu jangan nakal, yaa," sambung pria yang mengenakan pakaian kasual tersebut sembari mengelus lembut perut Cinta.
Senyum wanita itu mengembang, meraih tangan Rudi dan mencium punggung tangannya. Cinta menempelkan tangan pria itu pada pipi mulusnya sembari memejamkan mata, merasakan setiap kehangatan yang menembus kulit.
"Jangan macam-macam di kota, semoga semua urusanmu lancar di sana," ujar wanita hamil itu dengan senyum manis yang menyegarkan.
"Aamiin. Hati-hati di rumah dengan ibu, jangan bertengkar," gurau Rudi dengan mencubit kecil pipi istrinya yang mengembang.
"Kita berangkat dulu ya, Kak," pamit Rumi yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil.
Cinta mengangguk dengan senyum cerahnya. Dia bersama Mira yang ada di belakangnya melambai, saat supir yang duduk sendiri di kursi kemudi sudah menekan pedal gas mobil tersebut.
Kendaraan yang selalu setia membawa Rudi pergi ke kota setiap tiga bulan sekali itu semakin menjauh dari pandangan Cinta. Dia teringat saat kemarin Rudi berpamitan akan pergi ke kota untuk bertemu pengepul, dan melihat penjualan sayurannya di beberapa supermarket. Senyum wanita itu perlahan memudar. Menghilang begitu saja, berganti dengan tatapan sendu dan netra yang digenangi tirta bening bergelayut di pelupuknya.
"Ayo masuk, Nak." Mira menepuk bahu menantunya saat mobil itu sudah hilang di kejauhan.
Cinta mengangguk diiringi senyum simpul. Melangkah lesu masuk ke kediamannya yang sederhana namun terasa nyaman dan hangat.
"Ibu, aku mau istirahat duluan, ya. Ibu juga harus segera tidur," ucap Cinta berpamitan dan segera melangkah masuk ke kamarnya.
Wanita itu duduk di bibir ranjang dengan berurai air mata. Ini tidak terlalu sopan untuk meninggalkan mertuanya begitu saja. Dia tidak bisa menahan cairan bening itu terlalu lama. Jantung Cinta terasa berdenyut nyeri melihat kepergian suaminya. Entah kenapa, entah sejak kapan itu terjadi, tapi yang pasti ... dia sangat takut kehilangan pria yang sudah memberikan segalanya untuk dirinya itu. Dia takut kehilangan cinta dan kasih sayang yang selama ini sangat dia dambakan.
"Kau tidak akan meninggalkanku, kan? Kau sudah berjanji untuk selalu bersamaku. Segeralah kembali, aku tidak mau terlalu lama kau tinggal sendirian di sini, Rud," gumam Cinta dengan memeluk erat foto pernikahan mereka yang dipajang di atas meja.
...----------------...
__ADS_1
Malam sudah semakin larut saat seorang ibu terlihat gugup dan gelisah di depan pintu ruang persalinan. Sudah hampir tiga jam dia berdiri dan berjalan ke sana ke mari di lokasi itu. Namun tidak juga ada kabar tentang putrinya.
"Nyonya Maya, bisakah Anda duduk? Saya pusing melihat Anda seperti itu. Bukankah biasanya Anda juga tidak pernah peduli dengan keluarga," ujar Laras yang ada di belakangnya.
Kalimat terakhir Laras itu membuat Maya menatap tajam ke arahnya seketika. "Seburuk apapun aku sebagai seorang ibu, aku tidak akan mungkin tega melihat putriku dalam bahaya. Bukankah Anda juga seorang ibu, harusnya Anda paham, Nyonya Laras."
Laras memutar bola matanya malas. Mengarahkan ujung netranya pada pria yang ada di sampingnya. Dia terlihat sibuk dengan benda pipih di tangannya dan seolah tidak peduli dengan percakapan antara dua wanita tersebut. Senyum sinis tercetak di sudut bibir Laras diiringi dengan ekspresi geram Maya saat menyadari arah pandang Laras.
Sementara di dalam ruangan khusus itu, seorang wanita hamil tengah berjuang untuk sebuah nyawa yang masih bergeliat di dalam perutnya. Dia merintih, menangis, dan bahkan berteriak saat rasa sakit terasa menyiksa. Pria yang menjadi suaminya, hanya bisa duduk dengan wajah pucat di sisi wanita itu. Tangan kekarnya sudah dipenuhi oleh cakaran. Tidak ada kalimat apapun yang keluar dari mulutnya, hanya ada kepanikan dan ketegangan di wajah Tahta.
Petugas medis sudah terlihat sibuk memersiapkan peralatan untuk proses melahirkan. Namun, seorang pria berpakaian dokter lengkap berdiri membeku di sisi ranjang. Dia terus saja menatap nanar wajah kesakitan Bella. Terlihat tangannya yang terkepal di bawah sedikit bergetar. Mata hitam pria itu menatap Tahta. Dari sorot matanya, seolah dia ingin menendang Tahta dari sana dan menggantikan posisinya untuk memberi kekuatan pada Bella.
"Aarghh, Dok! Sakit, sakiiit," pekik Bella saat merasa ada dorongan dari dalam perutnya.
Dokter kandungan yang sudah menangani Bella sejak awal kehamilannya itu bergegas memberikan dorongan untuk Bella. Mengarahkan wanita itu mengejan karena pembukaan sudah sempurna.
Raut wajah dua orang pria yang ada di sisi Bella semakin tegang. Darah seolah berhenti mengaliri tubuh mereka saat kekuatan Bella untuk mengejan semakin menipis.
"Ayo, sedikit lagi. Sesuai hitungan saya. Anda pasti bisa, satu, dua, tiga, ayo!"
Ceklek!
Perhatian semua orang tertuju pada pintu ruangan yang tiba-tiba saja terbuka. Seorang perawat keluar dari ruang persalinan.
"Bagaimana keadaan putri saya?" tanya Maya dengan tidak sabar saat perawat wanita itu keluar.
"Alhamdulillah, Ibu Bella kondisinya stabil dan putrinya juga," jawab perawat muda itu dengan senyum ramah.
Ibu yang sudah berusia setengah abad itu pada akhirnya bisa bernapas lega. Dia bergegas masuk ke dalam ruang tersebut bersama suaminya. Sementara itu, Laras kini yang terlihat sibuk dengan ponselnya. Sesekali dia melirik lorong seolah tengah menunggu seseorang.
"Selamat malam, Nyonya Laras?" sapa seorang wanita yang terlihat seumuran dengannya.
__ADS_1
"Selamat malam Dokter Yuli. Maaf sudah mengganggu Anda malam-malam," ujar Laras menyalami wanita berpakaian formal itu.
"Mari ikut saya." Laras melangkah masuk ke dalam ruangan Bella diikuti oleh Dokter Yuli yang juga teman Laras.
Langkah tentang Laras membuat dokter dan perawat menoleh, termasuk Bella yang sudah selesai dibersihkan. Dia menatap lekat ibu mertuanya itu. Namun tatapan Laras tertuju pada Bimo yang tengah memandangi bayi yang ada di dekapan Bella.
Sementara itu, Tahta terlihat sibuk dengan ayah mertuanya. Pria tua itu tiba-tiba saja menjadi ramah dan seolah perhatian dengan kesehatan Bella di hadapan Tahta. Jelas sekali terlihat Tahta memaksakan senyumnya saat menanggapi ocehan Azam.
"Saya ingin Anda melakukan tes DNA pada anak itu dan putra saya," ucap Laras membuat semua orang yang ada di ruangan itu tercengang.
Seluruh perhatian tertuju pada dua orang yang ada di ambang pintu tersebut. Mata Bella bahkan membulat sempurna, begitu pula dengan Bimo.
"Ibu?" Kini Tahta maju mendekati ibunya.
"Apa maksud Ibu? Bukankah kita sudah pernah melakukan itu, dan ibu sendiri yang melihat hasilnya."
Laras menarik satu sudut bibirnya. Ekornya mata wanita itu tertuju pada sesosok pria yang masih mematung di dekat kaki Bella. "Itu terjadi saat ibu belum tahu ada ular lain di sekitarmu."
"Apa maksud ucapan Anda, Nyonya Laras? Putri saya hanya memiliki satu kekasih dan itu putra Anda. Tolong jaga ucapan Anda," seru Maya penuh penekanan.
"Sudahlah, Maya. Aku tidak mau berbasa-basi dan bersopan santun lagi. Bukankah sudah rahasia umum kalo Keluarga kalian juga memiliki pasangan lain di luar pernikahan? Jadi bekerjasama lah denganku, maka aku juga akan berkerjasama dengan kalian," ujar Laras sembari menunjukkan foto Maya bersama seorang pria.
Maya membeku, begitu juga dengan putri dan suaminya. Ini adalah aib yang mereka simpan dengan rapi. Azam bahkan sampai menelan salivanya dengan berat. Karirnya akan hancur kalau sampai berita itu tercium media. Tanpa sadar Bella memererat dekapannya pada sang bayi.
"Kau memang licik, Laras!" Maya menatap nyalang besannya.
"Apa kau baru tahu aku ini licik? Bukankah kau dulu pernah bilang aku adalah serigala di kalangan sosialita?" jawab Laras dengan senyum liciknya.
"Oh, aku lupa memperkenalkan dia adalah Dokter Yuli. Dokter terbaik dari rumah sakit Aisyah. Aku tidak akan menggunakan jasa rumah sakit ini untuk melakukan tugas penting. Silahkan Anda lakukan, Dokter Yuli."
Tentu saja perkenalan singkat itu berhasil mengguncang ketenangan Bimo. Tangannya terkepal erat hingga membuat urat-urat lengannya menonjol. Jika dia membiarkan hal itu terjadi, seluruh kebohongan Bella akan terungkap. Bimo tidak ingin Bella yang baru saja berjuang antara hidup dan mati itu harus mengalami kesulitan lagi.
__ADS_1
...Bersambung.......
...****************...