[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
Berbeda Dengan Sebelumnya


__ADS_3

"Si*l! Bagaimana bisa perusahaan HD itu tau tentang rencana proyek danau biru kita? Siapa baj*ngan yang sudah berani-beraninya membocorkan rencana proyek ini!" seru Tahta pada sang asisten di ruang kerjanya.


Reza terlihat sibuk dengan laptopnya. Jari besar pria itu menari dengan lihai di atas keyboard tanpa memerdulikan ocehan Tahta di kursi kerjanya. Dia harus segera mengatasi virus yang tengah menyerang sistem keamanan data perusahaan.


"Ini virus internal, Pak," ucap Reza sembari memutar laptop dengan layar dipenuhi oleh tulisan angka dan huruf tak beraturan.


Tahta yang sebelumnya juga tengah fokus mengevaluasi data proyek danau biru, mengangkat kepalanya. Netra pria itu membulat sempurna dan seolah siap mencabik siapapun yang ada di hadapannya.


"Siapa yang sudah berani-beraninya berkhianat di sini. Jika sampai aku menemukan orang itu, tidak ada kata ampun untuknya."


"Tapi ini akan sedikit sulit untuk diselidiki, Pak. Dia memasukkan kode dengan acak dan sumber peretasan juga tidak terdeteksi," jelas Reza sembari kembali bergulat dengan keyboardnya.


"Shi*t!" umpat Tahta menggebrak keyboard komputer hingga membuat benda itu tergeser dari tempatnya.


Sudah dua kali perusahaannya kebobolan, dan dua kali ini pula dia belum berhasil menemukan pelaku yang sudah menghancurkan rencana proyeknya. Proyek danau biru yang diimpikan oleh Zain dan Tahta ini merupakan proyek yang sudah berjalan sejak tiga tahun terakhir. Perusahaan HD yang merupakan pesaing utama dalam proyek ini selalu mengincar kelengahan mereka, dan membuat rencana yang menyerupai rencana pembangunan mereka, untuk memenangkan proyek pembangunan danau biru.


Ayahnya sudah membantu membebaskan lahan itu dari pemilik baru dan mengembalikannya pada pemilik lama dengan perjanjian. Tentu saja hal yang diinginkan Zain adalah dukungan untuk masuk dalam jajaran penguasa pemerintahan, dan tugas Tahta adalah memenangkan proyek pembangunan pabrik dan perkebunan di tanah tersebut, untuk membuka lapangan kerja baru yang bisa menampung lebih banyak orang.


Tahta mengusap kasar wajahnya yang terlihat kusut. Sudah tiga malam pria itu tidak bisa tidur dan selalu pulang terlambat. Saat di rumah dia juga masih harus menghadapi istrinya yang selalu mendesaknya dengan berbagai pertanyaan karena pulang tengah malam. Ya, dia berusaha memaklumi hal ini karena Bella tengah hamil. Namun sudah satu bulan semenjak pernikahan keduanya, tapi kecemburuan Bella semakin menjadi.


"Proyek ini tidak boleh gagal. Hubungi tim perencana, kita akan membuat rencana baru sekarang juga," perintah Tahta sembari merapikan jas yang dia kenakan.


Sementara itu di negara tetangga, seorang wanita terlihat tengah tersenyum lebar sembari menatap pantulan dirinya di cermin. Manik matanya bergerak menghitung jumlah asesoris yang bertengger di atas kepalanya. Aksesoris yang berkilau keemasan itu terlihat menyilaukan.


Cinta menghela napas, menghirup aroma melati yang berterbangan di sekelilingnya. Aroma yang tak lain berasal dari dirinya sendiri. Rambut wanita itu telah digulung, membentuk sanggul besar di belakang, dan ditutup sepenuhnya dengan roncean melati segar.


Wanita itu beranjak dari kursi rias setelah mengenakan alas kaki berwarna putih, dengan heels dua centimeter miliknya. Tubuhnya masih terlihat bagus dan ramping meskipun dalam keadaan hamil tiga bulan. Perut memang terlihat sedikit membuncit, tapi itu tidak akan terlalu kentara jika tidak diamati dengan seksama.


Dia melangkah perlahan menuju jendela besar yang ada di belakangnya. Kebaya putih yang terlihat pas di tubuhnya itu terseret dan menjuntai ke belakang saat Cinta melangkah. Kain batik berwarna coklat yang membungkus tubuh bagian bawahnya terlihat begitu elegan.

__ADS_1


Wanita yang terlihat begitu memesona itu berdiri menatap awan biru cerah melalui jendela tersebut. Matanya terpejam sesaat sembari menarik tipis sudut bibirnya. Saat dia membuka netra, maniknya berkaca.


Papa, Mama, tolong restui kami. Kali ini, tolong bantu Cinta untuk mendapatkan kebahagiaan, batin wanita yang tengah mengatupkan kedua tangannya untuk memohon tersebut.



"Kak Cinta," sapa seorang wanita muda yang baru saja membuka pintu.


Cinta menoleh menatap gadis itu dengan senyum termanis yang dia miliki. Wanita itu mendekati Cinta dengan tatapan takjub sembari menutup mulut.


"Kak Cinta cantik banget ... pantesan Aa Rudi nggak bisa berpaling," goda gadis yang masih berusia dua puluh satu tahun tersebut.


"Nggak gitu, Rumi ... Rudi aja yang nggak suka cewek kata tetangga," jawab Cinta dengan tawa tertahan.


"Tapi Kakak beneran cantik, sumpah nggak bohong. Terima kasih, ya Kak udah mau nerima Aa. Rumi akhirnya bisa lebih tenang karena pasti A' Rudi nggak galau-galau lagi. Kak Cinta tau nggak, setelah lamaran kemarin itu dia kayak orang kesurupan senyum-senyum sendiri, mungkin ...." Rumi mendekatkan dirinya pada Cinta.


"... mikirin malam pertama." Sontak ucapan Rumi adik dari calon suaminya itu membuat pipi Cinta bersemu merah. Blush on tipis di pipinya bahkan tak mampu menutupi rona merah karena rasa malu tersebut.


"Kak, ayo udah ditungguin. Kak Rumi suruh manggil pengantin malah diajak ghibah," ketus Nana yang tiba-tiba muncul dengan suara cempreng khas gadis muda itu.


"Yee, siapa yang ghibah sih, Na. Emang kamu sukanya ghibah, tiap hari ke rumah cuma mau ghibahin Kakak dia ini," adu Rumi pada Cinta dan berakhir mendapat pelototan dari gadis di ambang pintu tersebut.


"Sudah, sama tukang ghibah nggak boleh ribut. Ayo keluar," ujar Cinta sembari melangkah dengan anggun diikuti oleh kedua adik perempuannya.


Jantung Cinta berdegup tak beraturan. Beberapa kali wanita itu menarik napas panjang untuk mengurangi rasa gugupnya, tapi tetap saja tidak berhasil. Dia berpikir hari pernikahan ini tidak akan menjadi semenegangkan sekarang karena ini bukan pengalaman pertama baginya. Namun dia salah. Ini berbeda dari pengalamannya dulu. Kedatangan Rumi membuatnya sadar. Hari ini dia berhak untuk mengharapkan sebuah kebahagiaan.


Mereka menuruni anak tangga dengan perlahan. Orang-orang sudah menunggu di halaman depan yang cukup luas. Rumah Rudi yang biasanya nampak sepi, kini ramai dengan kedatangan tamu undangan. Sebenarnya Cinta tidak ingin ada perayaan. Namun Mira yang sangat senang karena putra satu-satunya itu akhirnya mau menikah, tidak mau menyimpan kebahagiaannya sendiri.


Semua orang menoleh bersamaan saat Cinta melewati pintu utama rumah. Dengan perasaan tidak karuan, wanita itu berjalan menuju tempat ijab kabul dilaksanakan. Seorang pria yang sudah rapi dengan jas pengantin berwarna putih menatap kagum ke arahnya. Mata pria itu sama sekali tak berkedip. Setiap gerakan dan setiap langkah kaki Cinta tak pernah luput sedetikpun dari pengawasannya.

__ADS_1


"Mari kita mulai," ucap penghulu menyadarkan Rudi yang tengah terhipnotis oleh keanggunan calon istrinya.


"Mari kita dimulai, Pak." Senyum Mira terus mengembang menyaksikan putranya yang sebentar lagi menanggalkan status lajangnya.


"Saya nikahkan engkau ananda Rudi Mahendra Bin Sarman Mahendra dengan Cinta Aulia Mirza Binti Faris Oksha Mirza dengan mas kawin seperangkat alat sholat, uang seratus juta, emas dua puluh gram, dan tanah setengah hektar dibayar tunai."


Para tamu undangan yang mayoritas adalah ibu-ibu teman arisan Mira tercengang mendengar mas kawin yang penghulu sebutkan. Bukan hanya tamu undangan, bahkan sang pengantin wanita pun membeliakan matanya tak percaya. Dia sama sekali tidak pernah meminta mas kawin apapun selain seperangkat alat sholat pada Rudi. Netra Cinta melirik ke arah tangan Rudi yang tengah menjabat penghulu di hadapannya.


"Saya terima nikahnya Cinta Aulia Mirza Binti Faris Oksha Mirza dengan mas kawin seperangkat alat sholat, uang seratus juta, emas dua puluh gram, dan tanah setengah hektar dibayar tunai," ucap Rudi dengan lantang tanpa cela sedikitpun.


Cinta terpaku pada pria di sisinya itu. Ujung mata wanita itu terasa memanas. Hatinya bergetar dan lidahnya terasa kelu saat mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Rudi. Dia tidak merasakan kesungguhan ini saat pernikahan pertamanya dulu.


"Istriku sangat cantik," bisik Rudi tanpa malu bahkan saat penghulu masih menatap keduanya.


"Terima kasih banyak," ucap Cinta saat mencium tangan pria yang sekarang sudah resmi menjadi suaminya tersebut.


Air mata Cinta luruh saat permukaan bibir pria itu menyentuh lembut keningnya. Ada getaran aneh menjalar ke seluruh tubuhnya saat mereka saling bersentuhan. Getaran yang membuat hati Cinta semakin berdebar. Mata mereka bertemu dan terkunci seolah saling menenggelamkan satu sama lain.


"Yeeey," sorak dua orang gadis yang ada di belakang memecah keheningan di antara sepasang pengantin baru tersebut.


...Bersambung .......



...****************...


Haloo, Kakak-kakak.


Alhamdulillah Simi bisa update. Sebelumnya Simi mau ngucapin terima kasih banyak atas doa-doa kakak semuanya. Semoga Alloh mengizinkan dan semoga aku masih bisa terus menciptakan karya-karya baru yang lebih menarik untuk kakak-kakak semua. Doa terbaik juga untuk kalian, semoga sukses dan bahagia selalu. Jangan lupa tersenyum, yaa.

__ADS_1


See you soon. Lope lope sekebon buat kalian, My Shining Star 🌟


__ADS_2