[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
Lepaskan Masalalu


__ADS_3

"Sebenarnya ...." Nana tiba-tiba terlihat gusar. Dia meneguk segelas air dari gelasnya dengan berat. Memainkan jari-jarinya sembari menatap ragu pada kakaknya.


"Ada apa?"


"Sebenarnya ... sesaat sebelum kecelakaan itu ... aku sempat menelepon ayah." Pengakuan Nana menarik perhatian Cinta hingga dia membulatkan matanya.


"Aku ingin meminta ayah segera pulang karena kakak sudah menunggu, tapi saat itu ayah bilang sedang di jalan, dan ...." Anna kembali menggantungkan kalimatnya.


"Dan apa?"


"... dan aku mendengar mereka bertengkar. Ayah ingin menjual mobilnya dan ibu tidak terima, aku segera mematikan telepon setelah itu. Jadi kecelakaan itu ... terjadi karena mereka bertengkar." Air mata Nana luruh saat menceritakan kejadian lampau yang dia pendam sendiri selama bertahun-tahun.


Gadis cantik itu menyeka air bening yang meleleh di pipinya. Netra yang memerah dia arahkan pada Cinta di seberang meja. Nana mengangkat kedua alisnya. Mengejutkan. Kakaknya itu hanya diam menatapnya sembari tersenyum tipis.


"Tidak apa. Semua sudah berlalu, tidak perlu menjadi kepedihan sebagai sangkar yang kita rajut untuk diri sendiri. Lepaskan saja, biarkan berlalu. Hidup kita akan tetap baik-baik saja meskipun berbalut luka. Kau dan kakak. Kita akan baik-baik saja."


Nana mengangguk sembari mengulum senyumnya. Buliran air bening pun masih setia membasahi pipinya. Saudara sekandung itu pada akhirnya saling merangkul, meluruhkan ganjalan yang menyakitkan hati selama bertahun-tahun. Membuang semua pedih, dan bertekad meninggalkan hari yang perih.


...----------------...


Cinta berdiri mematung di depan pintu berwarna putih. Tangannya mulai menekan tombol nomer di intercome dengan ekspresi sayu. Wanita itu memejamkan matanya seolah tengah meyakinkan dan menguatkan dirinya sendiri setelah mendengar suara kunci yang terbuka. Perlahan, wanita yang tengah mengenakan dress putih bermotif bunga-bunga kecil berwarna biru itu membuka pintu. Melangkahkan kaki dengan berat memasuki apartemen yang pernah memberikan banyak luka dan secuil kebahagiaan padanya.


Wanita itu mengayunkan kakinya mendekati jendela kaca besar yang ada di ruang keluarga. Menyibakkan tirai berwarna abu-abu di hadapannya, dan menatap sendu langit jingga yang mulai menggelap di sisi lainnya.


Ekor mata wanita itu mengarah pada jam dinding berwarna putih yang tergantung di dekat televisi. Jarum pendek menunjuk pada angka lima, sedangkan jarum panjangnya menunjuk pada angka enam. Cinta mengeluarkan ponsel dari dalam tas selempang kulit berwarna coklat. Dia membuka aplikasi berkirim pesan dengan logo bewarna hijau. Menekan sebuah nama yang bertengger di urutan paling atas. Cinta kembali membaca pesan yang dia kirim pada pemilik nomor tersebut.


Cinta : Bisakah kita makan malam bersama hari ini? Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu.

__ADS_1


Tahta : Baiklah, aku akan segera pulang setelah jam kerja selesai.


Begitulah isi pesan antara suami istri itu. Sudah dua hari mereka sama sekali tidak saling bertatap muka. Tahta menghubunginya beberapa kali, namun wanita yang sudah terlanjur kecewa itu enggan untuk meresponsnya. Dia juga tahu Nana, adiknya mengusir Tahta secara halus saat pria itu berusaha menemuinya di apartemen. Namun kali ini, wanita itu sudah bertekad untuk tidak menghindar dari masalahnya. Dia tidak bisa hanya diam dan mengurung diri. Setidaknya harus ada sebuah solusi atau penjelasan yang dia dapatkan dari pria itu.


"Jika kali ini kau kembali membuatku kecewa ... aku bersumpah tidak akan sudi melihat mukamu lagi, Tahta."


...----------------...


Hari ini, senja langit kota Kuala Lumpur terlihat begitu merah berbaur gelap yang mulai memudarkannya. Seolah langit tengah membaca perasaan wanita paruh baya yang terlihat suram dan penuh aura kegelapan. Wanita itu berjalan di koridor kantor dengan langkah lebar menuju ruang kerja Direktur yang terletak di ujung. Mata yang menatap tajam lurus ke depan, Alis menukik ke atas, dan bibir yang sedikit mengerucut. Ekspresi wanita itu menunjukkan segalanya. Sebuah amarah. Satu orang pria muda berkacamata yang mengekori wanita itu pun tak berani membuka mulut.


Braak!


Tangannya yang sedikit berisi mendorong pintu hingga terhentak keras menabrak dinding. Semua orang bahkan sampai berjingkat dibuatnya. Termasuk dua orang yang tengah berada di dalam ruangan. Seorang pria yang tengah duduk di kursi kebesarannya, dan seorang wanita berpakaian seksi bergelayut manja di sampingnya.


"I–ibu?" pria yang tidak lain adalah Tahta itu dengan cepat bangkit saat melihat Laras berjalan ke arahnya.


"Siapa ibumu? Aku tidak pernah merasa memiliki anak baj*ngan sepertimu, dan kau," geram laras sembari menunjuk ke arah Bella. Wanita itu terlihat santai berdiri di sisi Tahta. Tak terlihat sedikitpun kekhawatiran di wajahnya.


"Ibu!" Tahta meninggikan suaranya.


"Ka–kau ... beraninya kau membentak ibumu hanya karena wanita jal*ng ini."


"Ibu, Bella sedang hamil. Tolong tahan emosi ibu," tukas Tahta sembari menggeser posisinya untuk menutupi Bella.


"Ka–kau benar-benar–dari mana kau tahu itu anakmu. Bisa saja itu anaknya dengan b*jing*n di luar sana."


"Karena aku ... ini anakku ibu percayalah padaku."

__ADS_1


"Tidak. Sampai mati pun ibu tidak akan percaya itu anakmu sebelum ada buktinya." Laras dengan amarahnya mendekati Bella dan meraih tangan wanita yang sedari tadi tersenyum licik ke arahnya. Dia menarik dan menyeretnya menjauh dari Tahta.


"Lepaskan saya!"


"Ayo kita tes di DNA sekarang juga. Di depan mataku."


"Ini cucu Anda, Tante. Anda menyakiti saya dan calon cucu Anda," rengek Bella meronta agar bisa terlepas dari genggaman Laras.


Laras menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan menatap nyalang pada wanita yang tengah menautkan tangannya pada lengan putranya. Rahang Laras mengetat dan wajah wanita paruh baya itu memerah.


Plaak!


Sebuah suara terdengar nyaring memenuhi ruang kantor yang luas itu. Dua orang pria di sana bahkan hanya bisa bisa membelalakkan mata tatkala tangan wanita tua itu mendarat di pipi mulus Bella, meninggalkan bekas kemerahan di sana. Begitu pun Bella. Tangannya memegangi pipi terasa panas dengan mata membeliak lebar menatap Laras.


"Aakh ... Tahta ..." rintih Bella tiba-tiba sembari memegangi perutnya.


Belum juga dia tersadar dari keterkejutannya, Tahta kembali terkejut mendengar rintihan Bella. Pria itu segera meraih bahu Bella. "Ada apa?"


"Pe–perutku sakit ... sakit sekali."


Tahta dengan segera meraih tubuh kekasihnya. Membawanya pergi dari sana ala bridal style. Mengabaikan Laras yang masih berbalut amarah. Dia pergi. Membawa wanita yang dengan sengaja merusak ketentraman hidupnya. Melepaskan semua keraguan dan memilih menaruh kepercayaannya pada wanita yang berada dalam dekapannya.


...Bersambung .......


...****************...


Halooo, Kesayangan. Sudah senyum hari ini? Senyum dulu dooong ....

__ADS_1


Oh iya, sambil nunggu kelanjutannya Simi mau ngasih rekomendasi novel yang seru abis, nih. Mampir juga ke novel author ketje satu ini, yaa. Novelnya baper abis, jangan lupa siapkan mental sebelum membaca.



__ADS_2