[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
Jangan Menggenggam Duri


__ADS_3

Wanita dengan tinggi tidak lebih dari dagu Tahta itu menggerakkan wajahnya ke arah leher, mencoba menghirup aroma maskulin sebanyak-banyaknya dari sana. Merasa kurang puas, wanita dengan rambut bergelombang itu menci*mi leher berotot Tahta di berbagai sisi.


"Ehm ..., Sayang." Tahta mencoba sedikit menjauhkan lehernya dari Bella.


Namun, wanita itu masih berusaha merangsek ke ceruk leher Tahta. Dengan sigap pria bertubuh atletis itu memegang bahu Bella dan mendorong tubuhnya kebelakang dengan lembut.


"Sayang, kau tahukan aku tidak akan mungkin melakukan hal itu sebelum kita benar-benar bersama," ucap Tahta lembut masih dengan kedua tangan memegang bahu mulus tersebut.


Bella, putri satu-satunya dari salah satu keluarga konglomerat di negara yang serumpun dengan Indonesia itu memutar bola matanya kesal. Dia menepis tangan Tahta dan berbalik kembali menuju meja riasnya.


Tahta mengembuskan napas panjang melihat kekasihnya yang sedang merajuk. Dia melangkah menyusul Bella dan berdiri tepat di belakangnya.


"Ayolah ... hubungan kita akan semakin mulus setelah pertemuan ini." Tangan kekarnya mengusap puncak kepala Bella.

__ADS_1


Tidak ada tanggapan dari awal wanita yang sedang sibuk memoleskan lipstik di bibir seksinya itu. Tahta tahu betul Bella sedang kesal, tapi mau bagaimana lagi. Dia tidak mungkin melakukan dosa dan mengecewakan ibu yang sangat disayanginya itu.


"Cepatlah, aku akan menunggumu di bawah," sambungnya dan melenggang pergi dari kamar yang dipenuhi oleh aroma lavender tersebut.


Bella melihat pantulan tubuh Tahta yang menghilang di balik pintu dari kaca meja riasnya. Sorot mata tajam dan senyum licik mengembang di bibirnya.


Apapun yang terjadi kau harus aku dapatkan, Tahta. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi, batin Bella.


Setelah menunggu lebih dari sepuluh menit, akhirnya orang yang ditunggu-tunggu itu turun juga. Seorang wanita yang terlihat seksi dan glamor dengan tas seharga ratusan juta itu menuruni satu persatu anak tangga dengan anggun.


Sementara di kediaman Mahardika, Cinta terlihat sibuk di dapur bersama Bi Siti, pembantu utama di rumah tersebut. Dia mengaduk dan mencicipi masakan yang dibuatnya sendiri dengan terampil seperti seorang koki handal. Cinta memang sudah terbiasa memasak sendiri sejak dia berusia tujuh belas tahun. Orang tuanya bangkrut saat itu dan ibunya harus bekerja membantu ayahnya, jadi mau tidak mau dia harus mengurus semua kebutuhan rumah termasuk menjaga adiknya.


"Masak apa, Ta?" tanya Laras yang baru saja masuk ke dapur.

__ADS_1


"Opor ayam, Tante. Tahta kan suka opor."


Laras mengangguk perlahan. Dia memperhatikan gerak-gerik Cinta yang begitu aktif seolah tak peduli dengan pertemuan hari ini.


Aku selalu berpikir dia menyukai Tahta, tapi kenapa dia malah terlihat bersemangat sekarang? Apa aku yang salah tebak? Tidak, feeling ku biasanya selalu tepat. Atau mungkin dia sedang berusaha untuk ikhlas menerima kenyataan bahwa Tahta sudah memiliki kekasih? Pertanyaan-pertanyaan tentang Cinta terus saja berputar-putar di kepalanya.


Dia sendiri bahkan tidak mengira jika putranya itu punya kekasih di luar sana. Wanita paruh baya itu selama ini berpikir Cinta lah yang akan menjadi menantunya karena, mengingat satu-satunya wanita yang selalu berada di sekitar putranya adalah Cinta. Dia bahkan sudah senang hanya dengan memikirkan hal tersebut. Namun meskipun begitu, Laras tidak bisa memaksakan kehendaknya.


"Ayo, Nak kita ke depan saja. Sebentar lagi mereka mungkin akan sampai," ajak Laras dan diangguki Cinta.


...Bersambung .......


...****************...

__ADS_1


Halooo kakak-kakak, Simi masih setia menunggu dukungan dari kalian. Jangan sungkan-sungkan buat komentar yaa, biar Simi makin semangat nulisnya.


__ADS_2