[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
Hati Yang Tersakiti


__ADS_3

Cinta duduk termangu menatap langit malam dari jendela kamarnya. Di luar sana malam begitu pekat. Embusan angin dari pegunungan seolah bisa membekukan tulang-tulang Cinta. Namun wanita itu tidak peduli. Dia merapatkan jaketnya sembari menatap nanar bintang yang berjarak ratusan tahun cahaya tersebut. Ada yang sedang mengganggu pikiran wanita itu. Netra coklatnya tiba-tiba terbuka lebar seolah sebuah ingatan baru saja tergali.


"Aku ... aku sudah terlambat datang bulan!" Bibir wanita itu terbuka dan lidahnya terasa kelu.


Tarikan napas Cinta menjadi semakin cepat dan dalam. Matanya memanas sebelum akhirnya cairan bening meluncur dari sudut netra, yang kini sudah terpejam seiring isakan kecil yang tertahan. Cinta mengatupkan kedua bibirnya rapat-rapat seiring derasnya air yang mengalir di pipi.


Tangannya terulur mengusap lembut permukaan perutnya yang masih rata. Sudut bibir wanita itu terangkat membentuk sebuah senyuman kecil yang terlihat samar, tapi isakan tangisnya tak bisa memudar.


"Kita berdua akan bahagia, Sayang. Tidak apa-apa, kau masih punya mama," ujar Cinta dengan tatapan menerawang jauh di kegelapan malam.


"Dari mana, Kak?" tanya Nana pada kakaknya yang baru saja menuruni mobil keluarga berwarna merah yang kakaknya beli dua hari yang lalu.


"Dari dokter," ujar Cinta sembari melenggang masuk ke dalam rumah.


"Kok nggak ngajak Nana?"


"Kamu masih tidur tadi. Dokter Pristi kan buka cuma sampai jam tujuh, habis itu dia berangkat praktik ke rumah sakit," jelas Cinta atas protesan adiknya.


Cinta menuang air dalam gelas berleher tinggi dan meneguknya dengan sekali tegukan. Nana merasa ada sesuatu yang aneh dengan sikap kakaknya. Wanita itu terlihat gusar dan sedikit tertekan.


"Jadi bagaimana hasilnya?"


Cinta menarik kursi di sampingnya dan mendudukkan dirinya dengan lesu. "Kakak hamil, Na."


"Wah ... Nana dapat ponakan baru, dong," ujar Nana dengan girang.


"Lalu kenapa kakak sedih gitu? Harusnya rezeki itu di syukuri. Disambut dengan suka cita."


"Tapi kan kamu tahu, Na Kakak sekarang sendiri. Dia akan lahir tanpa kasih sayang ayahnya. Kakak takut dia tidak bisa bahagia."

__ADS_1


"Hellow, Kak ... coba kakak lihat berapa banyak janda di luar sana yang juga membesarkan anaknya sendiri. Berapa banyak anak di luar sana yang tumbuh tanpa dampingan keluarga yang utuh? Mereka bisa bahagia. Anak akan mengerti jika sudah saatnya dia mengerti. Bahkan kita yang tumbuh dengan kedua orangtua yang utuh pun juga tidak bisa bahagia, kan?"


Cinta mengangguk perlahan. Nana memang selalu menjadi penerang dalam gelapnya sudut hati Cinta. Setiap ucapan yang keluar dari mulut gadis itu seperti pil pahit yang menyembuhkan lukanya. Ucapan yang terasa pedas, kasar, terkadang menyakitkan. Namun ada harapan di dalamnya.


Di sudut negara yang lainnya, sepasang kekasih tengah melangsungkan pernikahan. Acara resepsi mereka bahkan menjadi topik hangat di berbagai social media. Tahta dan Bella, pasangan muda penuh cinta abad ini. Begitulah headline berita yang tengah panas dibicarakan. Penyatuan dua perusahaan besar, tentu saja bukan hal sepele yang bisa diabaikan begitu saja oleh para pembuat berita.


"Sayang, terima kasih untuk hari ini," ucap Bella yang tengah berbaring manja di dada bidang Tahta.


Mereka baru saja kembali ke kamarnya, hotel bintang lima yang juga milik keluarga Bella. Banyak tamu berdatangan dari kalangan pebisnis untuk memberi mereka selamat, sekaligus mencari muka dan kesempatan untuk mendekatkan diri pada keluarga keduanya. Sepanjang acara Tahta lebih banyak diam dan memasang ekspresi wajah datar.


Tahta hanya tersenyum sumir. "Tidurlah, ini sudah malam."


"Apa kau tidak senang menikah denganku?"


"Tentu saja aku senang. Hanya saja aku sangat lelah."


Rupanya hatimu itu sudah bukan untukku lagi, ya. Tidak masalah, selama aku masih menjadi istrimu, artinya kau tetap berada dalam genggamanku, batin Bella sembari berbalik membelakangi Tahta yang sudah lebih dulu memejamkan mata.


Cinta tengah berdiri mematung di antara hamparan pohon bunga mawar dan krisan miliknya. Dia sedikit mengeratkan genggaman tangannya pada benda pipih dengan layar yang masih menyala. Berita tentang pernikahan mantan suaminya itu ternyata tidak hanya menjadi perbincangan di negara tetangga saja. Ada rasa nyeri yang menyergap hatinya saat melihat potret Tahta bersanding mesra dengan kekasihnya itu.


Cinta menelan salivanya dengan berat. Bulir bening kembali luruh saat mata wanita itu terpejam. Dia menarik napas dengan rakus seolah dadanya telah terhimpit batu yang begitu besar. Napas Cinta serasa tercekat di tenggorokan.


Aku sudah berusaha untuk baik-baik saja, tapi ternyata aku tidak bisa. Aku tidak bisa, Tahta. Kenapa kau melakukan ini padaku? Kenapa kau mengukir kenangan indah untukku? Wanita itu tak kuasa lagi. Tubuhnya menyusut, tenggelam dalam lautan pepohonan bunga krisan yang setinggi lutut tersebut. Cinta terisak. Bahunya terguncang hebat karena dia berusaha menahan tangisnya agar tidak pecah.


Tidak. Aku tidak boleh seperti ini. Aku harus melepaskannya, batin wanita itu. Dia menyeka air mata yang seolah tak ada habisnya.


"Cinta," suara lembut menyusup masuk ke telinga Cinta membuat wanita itu dengan segera mengangkat kepalanya.


"Ru–Rudi?" gumamnya sembari berusaha menyeka air mata yang masih meluncur deras di pipinya.

__ADS_1


Pria yang tengah mengenakan topi koboi coklat itu mendekat pada Cinta. Meraih bahu wanita itu dan membantunya berdiri. Rudi menatap lekat Cinta yang masih tertunduk menghindari tatapannya.


"Ada apa?" tanya Rudi memegang lembut pipi Cinta.


Cinta masih berusaha menghindari pria itu dengan memalingkan wajahnya. Namun Rudi dengan segera mengatupkan kedua tangannya di pipi Cinta. Mengusap lembut pipi wanita itu, membersihkan sisa-sisa air mata yang telah mengering di sana.


Cinta tertegun mendapat perlakuan lembut dari pria yang menjadi temannya itu. Dia mendongak perlahan, menatap lekat manik mata Rudi yang meneduhkan.


"Jangan menangis," ujar Rudi sembari tersenyum tipis dan mengelus lembut pipi itu dengan jemarinya. Mata mereka bertemu. Sesaat Cinta terbuai dan hampir tenggelam dalam pekatnya manik hitam yang memabukkan tersebut.


"Kau tahu kenapa?" sambung Rudi dan mendapat gelengan kepala dari wanita di hadapannya.


"Karena kau sangat jelek saat menangis. Matamu menjadi sebesar bola pingpong dan bibirmu turun ke bawah seperti nenekku," ledeknya sembari menarik sudut bibirnya membentuk lengkungan ke bawah.


Candaan spontan itu tidak disangka berhasil membuat senyum Cinta mengembang di balik air matanya yang masih berlinang. Wanita itu memukul perlahan dada bidang Rudi melepaskan kekesalannya pada pria itu.


Rudi menangkap pergelangan tangan Cinta. Netranya menatap lembut manik mata Cinta yang juga terarah padanya. Tanpa aba-aba, Rudi menarik tubuh Cinta dalam dekapannya. Melingkarkan satu tangannya di bahu Cinta, dan satu lainnya di kepala wanita itu. Cinta terjingkat karena pelukan Rudi. Matanya membulat sempurna. Pria itu mempererat pelukannya saat Cinta berusaha menjauhkan diri.


"Hatiku sangat sakit saat melihatmu menangis sendirian di sini," bisik Rudi dengan suara bergetar.


...Bersambung .......



...****************...


Haiii, Kesayangan.


Please, sebelum kembali klik dulu gambar jempol di pojok kiri dan klik vote di pojok kanan ya, Bebh. See you soon, My Shining Star.

__ADS_1


__ADS_2