![[Not] A Perfect Marriage](https://asset.asean.biz.id/-not--a-perfect-marriage.webp)
Laras menatap nanar dua lembar kertas di atas meja ruang tamunya. Bola matanya bergeser ke kanan dan kiri, menatap bergantian dua lembar surat penting di hadapannya tersebut. Satu surat sudah dia terima sejak kemarin dari pihak rumah sakit, dan satu lainnya baru saja dia terima pagi ini. Tanpa terasa, empat hari sudah berlalu sejak menantu yang sekarang telah menjadi mantan menantunya itu meninggalkan putranya.
Laras mengambil sebuah kertas dengan lambang rumah sakit di bagian atas. Tangannya mencengkeram erat kertas tersebut saat netra tuanya menangkap tulisan ayah dan anak dalam surat di tangannya.
"Ambilah ini," ujar Laras sembari menyodorkan kedua kertas tersebut pada Tahta yang tengah duduk di hadapannya.
"Mulai sekarang lakukan apapun yang kau mau. Ibu tidak akan lagi peduli dengan urusanmu." Laras bangkit dari kursinya setelah berucap dingin pada Tahta. Dia kecewa. Dia benar-benar telah gagal. Putranya jatuh dalam perangkap wanita licik itu tanpa bisa berkutik lagi. Mata Laras memanas saat meninggalkan ruangan yang seolah mencekiknya itu.
Tahta menatap surat di tangannya. Dia terlihat tidak terlalu peduli dengan hasil tes DNA yang menunjukkan bahwa janin itu adalah anaknya. Dia menyibakkan kertas dari rumah sakit dan mulai menatap kertas di bawahnya yang lebih tebal. Napasnya seketika memburu dan netranya bergetar. Tahta mengepalkan tangan dan mengatupkan rahangnya sekuat yang dia bisa. Dia sudah menduga hal ini akan terjadi, tapi ini terlalu cepat. Bagaimana bisa ibunya itu mengerahkan kekuatannya untuk membuat anaknya menjadi duda secepat ini, pikir Tahta.
Sertifikat perceraian itu dia rem*s-rem*s bersama dengan hasil tes DNA. Mata pria itu menggelap seolah aura negatif telah menguasai tubuhnya. Tahta bangkit, meninggalkan kediaman orangtuanya dengan kekesalan yang membuncah.
"Kenapa kau bertidak sejauh ini?" tanya seorang pria berjas dokter pada wanita yang tengah duduk santai bersandar di sofa ruang kerjanya.
"Bukankah kau sendiri yang bilang untuk membantumu?"
"Kau hanya perlu mencuri semua data tentang perkebunan dan proyek itu darinya." Pria itu mulai meninggikan suaranya.
Bella menegakkan badannya mendengar suara Bimo yang terdengar kesal. "Lalu apa kau punya rencana lain selain ini, saat pria itu sudah mulai meninggalkanku karena istri si*lannya itu?"
Bimo sedikit terhenyak, ya. Dia sempat melupakan tentang pernikahan Tahta. Dia tidak terlalu ambil pusing soal Cinta karena menganggap Tahta sudah benar-benar dalam genggaman Bella. Namun dia salah. Pada akhirnya pria itu memilih untuk berada di sisi wanita yang sudah sah menjadi istrinya. Ruangan itu kini menjadi hening seketika. Bella telah merebahkan kembali tubuhnya yang terasa lelah di sofa. Sedangkan Bimo masih menatap lekat ke arah kekasihnya.
"Jadi ... apa rencanamu selanjutnya?"
"Tentu saja menikah dengannya," jawab Bella dengan enteng.
Bimo membeliakan matanya dan menatap tajam Bella. "Apa maksudmu? Kau tidak perlu pergi sejauh ini, Bebi."
__ADS_1
"Kau pikir aku bisa mendapatkan semua data itu hanya dengan menjadi kekasihnya? Dengan surat DNA itu pun aku juga sudah tidak punya pilihan lain selain menikah dengannya. Sekarang pun pasti ayahku sudah mendapatkan informasi tentang kehamilan ini."
Bimo kembali dibuat diam seribu bahasa oleh Bella. Pembuluh darah di lehernya berdenyut. Tangan kekar berotot itu mengepal erat di atas meja hingga membuat urat-urat di lengannya menonjol. Wajah Bimo memerah bak kepiting rebus. Detak jantungnya memburu. Bimo tau tidak ada pilihan lain, tapi hatinya tidak bisa menerima jika kekasihnya harus menikah dengan pria lain. Bagaimanapun juga dia benar-benar mencintai Bella. Dia merasa menyesali rencananya yang harus melibatkan Bella untuk saat ini.
"Sudahlah, Bimo. Aku tahu kau kesal, tapi jangan membuat kekacauan untukku lagi. Bukankah sebelumnya aku sudah bilang ingin mengakhiri semua ini? Kau bilang aku harus bertahan sebentar lagi, dan sekarang aku sedang berjalan dengan rencanaku sendiri untuk membalaskan dendam paman. Kau hanya perlu terima jadi nanti dan jangan menganggu rencanaku jika kau tidak ingin rencanamu gagal," ujar Bella sembari melangkah pergi meninggalkan ruangan Bimo.
Braak!
Suara gebrakan menggema di seluruh ruangan setelah pintu tertutup sempurna. Tangan Bimo terlihat terkepal kuat di atas meja dengan kondisi memerah di salah satu sisinya. Matanya menatap nyalang ke arah pintu.
"B*jing*n!"
...----------------...
Di negara tetangga, seorang wanita cantik dengan rambut di gulung membentuk sanggul kecil tengah asyik menyiapkan sarapan. Wajahnya terlihat lebih segar dengan make-up tipis yang menghiasi bagian bibirnya. Wanita itu sudah mulai menikmati hari-harinya tinggal di desa. Tanpa terasa sudah satu minggu dia meninggali rumah tersebut. Rumah yang sebelumnya kotor itu kini sudah terlihat bersih dengan perabot lengkap memenuhinya.
"Na ... sarapannya sudah siap," serunya pada seorang gadis yang tengah sibuk dengan laptopnya di depan televisi.
"Kapan kamu berangkat ke Jakarta, Na?"
"Minggu depan, Kak. Soalnya daftar ulang dan jadwalnya hari kamis. Aku harus nyari kos-kosan dulu."
"Kamu beneran mau berangkat sendiri? Kakak temenin, ya? Kalo kos-kosannya nggak ada yang kosong gimana?" Cinta menatap lekat adiknya yang tengah menikmati sarapan tanpa melihat ekspresi khawatir kakaknya.
"Kan ada Nada, Kak. Ingatkan sahabat Nana dulu, yang sering main ke rumah. Nanti Nana langsung dijemput Nada di stasiun."
Cinta mengangguk perlahan mendengar penjelasan adiknya. Namun hal tetap saja tidak bisa menghilangkan kekhawatiran di kepala Cinta. Gadis itu tidak pernah sekalipun jauh darinya. Dia sempat menyesali keputusannya untuk tinggal di Bogor, tapi kemudian dia tersadar. Nana sudah hampir dewasa, dan gadis itu tidak senaif dirinya.
__ADS_1
Cinta menghela napas panjang menatap Nana. Gadis yang terlihat kasar namun sebenarnya penuh kasih. Senyum tipis terukir di sudut bibir Cinta.
Wanita itu kembali fokus pada makanan di hadapannya. Menyendok nasi dengan sayur bening. Baru saja suapan itu meluncur di ujung bibirnya, perut Cinta serasa bergejolak. Rasanya sesuatu dari dalam perut tengah meluncur naik ke lehernya. Cinta berusaha menelannya kembali. Wajahnya mulai memucat.
"Uukh!" Cinta menutup mulutnya sembari berlari menuju kamar mandi.
Nana yang melihat kakaknya mual segera berlari menyusul. Mengetuk pintu beberapa kali namun tidak ada jawaban.
"Kakak sakit?" tanya Nana dari balik pintu.
Cinta tidak sanggup menjawab adiknya. Tubuhnya terasa lemah setelah berjuang mengeluarkan isi perut yang sedari tadi bergejolak, memberontak keluar. Kepalanya terasa berputar-putar hingga Cinta harus bertumpu pada wastafel kecil yang airnya masih mengalir, membersihkan sisa-sisa makanan yang kembali dia keluarkan.
"Ayo kita ke dokter, Kak. Mumpung masih pagi," seru Yana yang terdengar khawatir.
...Bersambung .......
...****************...
Haloo, kakak-kakak.... Maaf, ya Simi baru bisa update. Hari ini weekend jadi my little girl ngajak main dan baru bisa ngetik sore. Jangan maraaah....🤗
Pokoknya lope lope sekebon buat kalian semua. Yuk silaturahmi dengan saya di sosial media juga, bebh.
Kakak-kakak bisa ketemu Simi di:
Fb : Ismi Sima Simi
__ADS_1
IG : @ismisimasimi
Jangan segan untuk menyapa, yaa. Saling terhubung akan membuat segalanya lebih mudah dan indah, kan. See you soon.