[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
Siapa yang Kau Pilih?


__ADS_3

Cinta mematikan lampu kamarnya setelah memastikan kedua buah hatinya telah tertidur pulas. Mereka berdua sudah memiliki kamar sendiri, tapi sepertinya mereka lebih nyaman tidur bersama ibunya. Begitu pula dengan Cinta, dia akan merasa ada yang kurang jika harus tidur tanpa kedua bocah yang belum genap lima tahun tersebut.


Cinta perlahan menutup pintu, memastikan tidak ada suara yang dia timbulkan. Saat membalikkan badan, manik matanya langsung bertabrakan dengan tatapan sendu Tahta yang masih menunggunya di ruang tengah. Ada debar aneh saat netranya bertemu dengan pria di hadapannya itu. Detik berikutnya, dia segera mengalihkan pandangan ke arah wanita paruh baya yang ada di sebelah mantan suaminya.


"Tante tidak istirahat?" tanya wanita yang sudah berganti pakaian dengan piyama setelan panjang itu.


"Kamar Nana tidak besar, tapi insyaallah masih lumayan nyaman, Tante. Maaf, ya kalau Cinta tidak bisa menyambut Tante di rumah dengan lebih baik," sambung Cinta dengan penuh penyesalan sembari mendudukkan dirinya di sofa tunggal di sisi kiri Tahta.


"Tidak, Nak. Ini sudah lebih dari cukup. Ibu hanya belum ngantuk." Laras tersenyum lembut menanggapi ucapan Cinta. Dia tahu ada rasa sungkan di diri wanita muda itu, dia tidak ingin membuatnya merasa lebih tidak nyaman lagi.


"Apa anak-anak biasa tidur jam segini?" tanya Laras merujuk pada waktu yang masih menunjukkan pukul delapan malam.


"Tidak, Tan. Biasanya mereka baru mau tidur setelah jam sembilan, tapi sepertinya mereka cukup kelelahan selama diperjalanan."


"Ooh..." Laras mengangguk perlahan dengan pandangan yang berubah sendu. "Kau pasti juga lelah harus mengurus dua anak balita seorang diri," sambung Laras penuh penyesalan.


Aah ... mendengar pertanyaan ibunya hati Tahta bak teriris pisau tajam. Ada desiran yang menyakitkan namun tak terlihat dan tak berbekas. Semakin dia menyelami kehidupan Cinta, semakin dia tenggelam dalam rasa bersalahnya sendiri. Sorot sendu netra coklatnya tak lepas dari wanita yang selama ini dirinduinya. Ketika mata mereka tanpa sengaja kembali bertemu, Cinta kembali membuang pandangan. Menyesakkan.


Cinta mengangkat wajahnya mendengar pertanyaan Laras. Namun, lagi-lagi pandangannya bertemu dengan pria yang pernah menghancurkan hatinya itu. Sedetik, hanya sesaat, Cinta sempat terpaku pada sorot mata pria itu. Namun, segera dia menguasai dirinya kembali, mengalihkan pandangan.


"Tidak, Tante. Mereka sudah seperti anugerah terindah, berkah, dan keajaiban dalam hidup Cinta. Cinta bahkan tidak bisa memikirkan bagaimana cara Cinta bertahan dengan sebaik ini jika tanpa adanya mereka. Jadi, sedikitpun Cinta tidak merasa lelah, Tan. Justru mereka adalah alasan Cinta tetap semangat menjalani kehidupan ini." Senyum tipis penuh ketulusan tersungging di bibirnya saat membayangkan kembali pertama kali dia menatap wajah kedu buah hatinya.


"Kau ibu yang sangat baik. Kau wanita paling tangguh yang pernah ibu jumpai. Anak-anak pasti sangat bangga memiliki ibu sebaik dirimu," puji Laras tulus.

__ADS_1


Sementara Tahta masih membisu. Dia tengah bergelut dengan hatinya sendiri. Pria itu terus menggosokkan ibu jarinya dengan ibu jari lainnya sembari menatap penuh sesal pada mantan istrinya tersebut. Beberapa kali jakun pria itu bergerak naik turun dengan berat, seolah saliva yang ditelannya itu begitu berat untuk ditarik ke bawah.


Laras menyadari kegundahan putranya. Dia mengalihkan pandangan ke arah depan, menatap foto pernikahan di tembok dekat pintu kamar si kembar. "Almarhum suami mu begitu tampan. Dia terlihat sangat bahagia di foto itu. Dia pasti pria yang sangat baik sampai membuat cucu-cucuku sangat menyayanginya."


Cinta mengangkat kedua alisnya, mengikuti arah pandang Laras. Wanita itu menipiskan bibir dan sedikit menarik bibirnya ke samping. "Di beberapa aspek, ya ... dia memang pria yang baik, tapi mungkin tidak sangat baik," ucap Cinta sembari menyunggingkan senyum simpul.


Tahta memejamkan mata sembari menarik napas dalam-dalam mendengar jawaban Cinta. Meskipun merasa aneh di jawaban akhirnya, tapi mendengar wanita itu memuji pria lain secara langsung dari mulutnya membuat dada Tahta sedikit bergemuruh. Pria itu mengembuskan napas perlahan. Tenang Tahta, tenang. Pria itu sudah mati, dia tidak akan mungkin bisa menjauhkanmu lagi dari Cinta, batin Tahta menguatkan dirinya.


Mungkin kalian akan sangat membencinya jika kalian tahu kenyataan tentang pria yang sudah mengisi hari kami ini. Bagaimana cara liciknya untuk memisahkan antara ayah dan anaknya, dan bagaimana cara liciknya menghancurkan sebuah rumah tangga, tapi ... aku tidak bisa membencinya, dan aku tidak ingin dia dibenci. Cinta menunduk dalam tatkala mengingat kembali pernyataan Rudi tentang rencana liciknya bersama Bimo dan Bella.


"Baiklah, sudah malam ibu akan istirahat duluan," pamit Laras sembari beranjak menuju kamar Nana yang di bagian paling belakang ruangan.


Kini di ruangan yang hanya berukuran 6x3cm itu hanya menyisakan dua orang yang saling canggung. Si wanita berusaha mengalihkan perhatiannya dengan menonton acara berita di layar datar, yang bahkan dia tidak paham apa yang tengah dibahas. Sedangkan si pria masih tergugu di tempatnya, sorot matanya tertuju pada jemari lentik Cinta yang ada di pangkuan wanita itu.


"Apa ... kau mencintai pria itu?" Pada akhirnya dengan seluruh keberaniannya Tahta membuka mulut.


"Apa kau menikah karena kau mencintainya?"


Cinta mengatupkan bibir dan dengan susah payah menelan salivanya.


"Kau menikah karena kau membutuhkannya untuk anak-anak. Apa aku benar?" Kini Tahta lebih berani menatap netra lawan bicaranya.


Cinta membuang napas kasar. Matanya terbuka dan menatap lekat pria yang tengah duduk di sofa panjang tersebut. "Ya. Kau benar."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Apanya yang kenapa?"


"Kenapa kau tidak memberitahuku?"


"Memberitahu apa? Pernikahan? Kau marah karena tidak mendapat undangan pernikahanku?"


"Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau sedang hamil?"


"Hah?" Cinta memicing sembari tersenyum sinis.


"Kau ingin aku berharap apa pada pria yang tidak mengakui istrinya dan bahkan sudah menghamili kekasihnya?"


"Aku tidak menghamilinya!" sahut Tahta pelan tapi tajam.


"Cih. Sudahlah, Tahta. Kenyataan bahwa kau berselingkuh saat sudah menikah saja sudah menjadi bukti kau pernah melakukannya."


"Aku bersumpah aku tidak pernah melakukan apapun dengan wanita itu." Tahta dengan reflek meraih kedua tangan Cinta hingga membuat wanita itu membeku sesaat.


"Dia menjebakku. Aku—aku tidak punya pilihan lain saat itu, Cinta. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku berpikir bahwa itu benar-benar anakku. Bagaimana jika itu benar, bagaimana mungkin aku mengabaikan darah dagingku. Jika saja aku tahu kau juga sedang mengandung...."


"Apa yang akan kau lakukan? Siapa yang akan kau pilih? Apa kau akan menyingkirkan mereka?"

__ADS_1


Cinta menatap tajam manik mata yang sudah memerah di hadapannya.


Bersambung....


__ADS_2