![[Not] A Perfect Marriage](https://asset.asean.biz.id/-not--a-perfect-marriage.webp)
"Selamat siang, Bu Cinta?" sapa seorang wanita yang sudah berumur saat berpapasan dengan Cinta di lorong sekolah.
"Eh, Bu Is. Selamat siang juga." Senyum Cinta mengembang dengan sempurna.
"Apa Bu Cinta baru kembali dari mengantarkan makan siang untuk calon pacar lagi?" tanya rekan guru Cinta yang lebih seperti sedang menggodanya.
Cinta hanya bisa tersenyum malu-malu mendengar pertanyaan tersebut. Ya, hampir semua rekan kerja yang dekat dengannya tau persis ke mana dan siapa yang dia temui setiap jam makan siang.
Semenjak kejadian satu minggu yang lalu antara dirinya dan Tahta. Cinta sudah sudah memutuskan untuk memperjuangkan kembali cinta pertamanya tersebut. Dia benar-benar tidak rela jika Tahta disakiti oleh Bella. Wanita yang jika sudah membuat keputusan tidak bisa diganggu gugat itu terus berusaha mendekatkan dirinya pada Tahta.
Cinta akan mencari alasan agar bisa bertemu dengan Tahta setiap hari. Meskipun hanya bertemu satu menit untuk sekedar mengantarkan makan siang buatannya. Perasaannya pada Tahta benar-benar sudah tidak bisa terbendung lagi.
"Bu Cinta, tadi kepala sekolah bilang hari ini ada rapat dadakan tentang kurikulum baru. Mungkin nanti pulangnya agak sore."
"Benarkah, Bu Is? Kenapa tiba-tiba?"
Guru yang bernama Isna itu hanya mengerdikan bahunya dan berpamitan pada Cinta. Wanita yang mengenakan seragam berwarna hitam itu tiba-tiba tersenyum aneh, sebuah ide muncul di kepalanya. Dengan segera Cinta mengeluarkan ponsel dari dalam saku jasnya.
"Apa kau sibuk hari ini?" Tulis cinta pada pesan WhatsApp yang ditujukan untuk Tahta.
Tring!
Ponsel bergambar apel itu bergetar di atas meja dan membuat si empunya menengok dengan cepat. Tahta mengambil benda pipih tersebut di sela-sela kesibukannya sebagai pemimpin rapat.
Seorang karyawan yang ada di ujung meja sedang sibuk menjelaskan tentang keuangan perusahaan saat Tahta sibuk dengan ponselnya. Dia membuka layar dengan segera, berharap kekasih tercintanya mengirimkan pesan spesial. Namun semangat Tahta memudar seketika saat melihat nama pengirim pesan tersebut.
__ADS_1
Dia sudah seperti operator seluler yang selalu meneror setiap jam, gerutu Tahta dalam hati membaca pesan singkat Cinta.
Tahta menutup kembali ponselnya tanpa membalas pesan tersebut. Dia meletakkan benda pipih tersebut dan fokus pada pembahasan keuangan yang sempat tertunda. Namun, belum ada lima menit ponsel itu diletakkan, sudah ada getaran yang muncul kembali.
"Tolong nanti sore jemput aku. Ban mobilku bocor dan aku pulang telat karena ada rapat. Oke, Kak Tahta yang baik." Begitulah isi pesan yang baru saja dibaca oleh Tahta.
Heh! Kalau ada maunya saja dia memanggilku kakak, batin Tahta sambil menjawab pesan tersebut dengan sebuah kata singkat, padat, dan jelas.
Ponsel yang sedari tadi tidak lepas dari genggaman mungil Cinta bergetar. Bak mendapatkan sekarung uang, Cinta begitu bersemangat membaca pesan bertuliskan "Iya" tersebut. Sebuah pesan singkat yang teramat singkat itu berhasil membuat wanita anggun itu hampir melompat kegirangan.
Mungkin dulu balasan pesan dari Tahta ini akan menjadi hal biasa bagi Cinta. Namun, semenjak hubungannya dengan Bella terungkap, Tahta menjadi semakin terang-terangan mengabaikannya. Bahkan untuk bisa bertemu dengannya pun menjadi sangat sulit karena waktunya hanya dihabiskan bersama Bella.
Berbeda dengan Cinta, Laras sedang dalam kondisi hati yang sebaliknya. Wanita paruh baya itu sedang duduk di ruang keluarga, sambil memijit perlahan jidatnya yang sudah mulai berkerut. Kekeras kepalaan putranya membuat ibu dua anak itu menjadi sangat tertekan.
"Apa Anda ingin minum kopi, Nyonya?" tanya Bi Siti yang sedari tadi memperhatikan Laras yang gelisah.
"Tidak, Nyonya."
Laras membuang napas panjang sambil memejamkan mata. Semenjak perdebatan pagi itu, Tahta dan Laras saling bersitegang. Ibu yang sudah berumur itu selalu curiga saat putranya keluar rumah. Dia terus saja menanyai Tahta kemana dan dengan siapa dia pergi. Bahkan, Laras dengan terang-terangan melarang putranya untuk bertemu Bella. Tentu saja hal tersebut membuat Tahta marah dan memilih untuk tinggal di apartemen yang niatnya hanya untuk investasi semata.
Aku harus bicara dengannya. Iya, hanya dia satu-satunya orang yang bisa membantuku saat ini, batin Laras sambil menatap tajam foto keluarga yang tergantung di dinding.
Warna biru langit sudah mulai memudar dan berganti dengan hitam. Beberapa bintang juga sudah mulai bisa terlihat di sudut-sudut kota yang minim cahaya, di mana Cinta sedang terduduk dengan lesu di sudut kota tersebut.
Acara rapat kurikulum yang ternyata adalah acara perpisahan rekan guru Cinta itu sudah selesai satu jam yang lalu. Namun, orang yang sudah berjanji untuk menjemput tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Untunglah ada sebuah kursi kecil di pinggir jalan, jadi dia tidak terlalu lelah untuk tetap berdiri selama satu jam.
__ADS_1
Tempat tersebut sangat sepi. Karena ini adalah acara dadakan, rekan Cinta tidak ada waktu untuk membooking restoran. Akhirnya, mereka memilih rumah makan yang ada di pinggiran kota dengan area duduk yang cukup luas, dan dimanjakan dengan pandangan taman yang indah.
Cinta meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Tahta. Berharap kali ini dia mengangkat telepon atau setidaknya membalas pesan-pesan yang sudah dikirimnya.
Ponsel yang tergeletak di atas meja sebuah restoran itu beberapa bergetar dan berkedip terus menerus. Seorang wanita yang sedang menikmati makanan di hadapannya tertarik untuk mengintip ponsel tersebut.
"Untuk apa dia menelpon Tahta?" sungut wanita tersebut melihat nama Cinta di layar.
Dengan sengaja wanita dengan dress merah tersebut mematikan panggilan dan menghapus semua pesan-pesan yang dikirim oleh Cinta. Tak lupa sebelum menghapus semua pesan, Bella juga membalas pesan Cinta dengan tulisan Dia sedang sibuk berkencan denganku. Bella.
"Rasa'in, nggak bisa pulang kan. Heh! makanya jangan macam-macam," ucapnya dengan ekspresi wajah puas.
"Ada apa, Sayang?" Tahta yang baru saja kembali dari kamar mandi membuat Bella terkejut dan hampir menjatuhkan benda pipih tersebut.
"Ti–tidak ada apa-apa."
Tahta menatap aneh pada kekasihnya tersebut dan mengarahkan pandangan pada ponsel yang masih berada di tangan Bella.
"Apa ada sesuatu di ponselku?"
"Tidak ada. Aku ... hanya ingin melihatnya saja kupikir kau ganti HP baru," jawab Bella sambil meletakkan kembali ponsel tersebut.
Cinta mendongakkan kepala menatap langit malam yang begitu gelap. "Apa aku berlebihan jika berharap padanya?"
Tanpa sadar air mata meluncur begitu saja dari pelupuk mata yang indah itu. Hatinya berdenyut nyeri setelah melihat balasan dari Bella. Segalanya sudah dia lakukan untuk mendapat perhatian Tahta lagi, tapi sepertinya dia bukan apa-apa jika disandingkan dengan Bella untuk saat ini. Rasa cinta yang sudah bertahun-tahun dia tanam dalam diam, berharap bisa tumbuh dan berkembang. Kini rasanya sudah terkoyak oleh keadaan.
__ADS_1
"Aku bisa merelakanmu, melepasmu untuk mendapatkan cinta yang kau mau. Asalkan bukan dengan wanita j*lang sepertinya."
...Bersambung .......