[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
Pemabuk


__ADS_3

Seorang wanita duduk di depan meja rias di dalam kamarnya. Dia memegang sebuah pulpen dan kalender kecil di atas meja. Tangan mungil tersebut terarah pada angka yang tertera di atas kalender yang hanya seukuran buku tulis. Dia mencoret sebuah angka yang berada di paling bawah ujung.


"Sudah tiga bulan ternyata. Cepat sekali waktu berlalu," gumam wanita yang tengah mengenakan gaun tidur tersebut.


Dia menatap bayangan dirinya di cermin yang dikelilingi lampu LED berwarna putih. Cinta terlihat begitu memesona meskipun tidak ada polesan make up di wajah ayunya. Kecantikan wanita tersebut benar-benar natural dan apa adanya. Senyum simpul muncul dari bibirnya yang penuh, tapi juga terlihat getir bersamaan.


...----------------...


Seorang pria muda duduk dengan kepala tersandar pada kursi sebuah perusahaan yang berskala besar pula. Dia menghisap dengan nikmat rokok di mulutnya, menyesap ujung rokok tersebut sembari menutup mata menikmati aroma tembakau yang terbang terbawa angin. Malam ini langit terlihat cerah, titik-titik bintang dapat terlihat jelas dari jendela kaca besar tempat pria tersebut duduk menikmati pemandangan malam kota.


"Pak, sudah tidak ada pekerjaan lagi untuk hari ini. Apa Pak Tahta tidak akan pulang?" tanya seorang asisten yang sedang merapikan berkas di meja, berharap bosnya tersebut segera memberinya kebebasan.


Tahta membuang puntung rokok di tangannya ke sembarang arah. Di lantai sudah tergeletak begitu banyak putung rokok lainnya. Ada beberapa kaleng bir juga yang tergeletak di ruangan tersebut.


"Aku sudah minum minuman sial*n ini setiap hari, dan aku juga mabuk setiap hari, tapi ... aku masih mengingat jelas apa yang aku lakukan. Lalu ... kenapa aku tidak mengingat kejadian malam itu sama sekali?" gumam Tahta dengan tatapan matanya yang tajam dan mematikan.


Ya, ini sudah hampir satu bulan sejak kejadian pagi yang mengejutkan tersebut, tapi Tahta masih belum mempercayai perbuatannya. Bella terus mendesak dan meyakinkannya bahwa mereka sudah melakukan aktivitas intim tersebut. Namun, ucapan Cinta tidak cukup untuk meyakinkan Tahta.


Tahta yang sebenarnya ingin memperbaiki hubungannya dengan Cinta, mengurungkan niatnya. Dia menjadi pemabuk beberapa minggu terakhir, bahkan kembali seperti dulu, pulang saat malam sudah berada di pertengahan. Rasanya sangat malu untuk menemui istrinya. Dia tidak tahu harus bagaimana.


"Anda tidak pernah minum alkohol sebelumnya. Toleransi Anda terhadap alkohol juga rendah. Mungkin saja saat itu yang Anda minum kadar alkoholnya sangat tinggi. Sebagian orang memang akan melupakan apa yang telah dilakukannya saat mabuk," jelas Reza yang sudah berdiri tegap di belakang Tahta.

__ADS_1


Tahta kembali mencoba mengingat saat teman prianya menyodorkan gelas wine itu. Warna merah dan bau wine tersebut tidak begitu asing. Tahta cukup yakin itu adalah wine kelas atas yang biasanya sering disajikan saat ada pertemuan bisnis. Rasanya tidak mungkin jika itu bisa berakibat seburuk itu pada ingatannya. Tahta merem*s kaleng bir berwarna biru di tangan kirinya dengan keras. Kaleng yang tertekan kuat itu penyok, bahkan suaranya membuat Reza mengangkat kedua alisnya.


...----------------...


Cinta tengah mengerjakan rangkuman materi untuk mengisi kelas esok hari. Ditemani dengan drama Korea kesukaannya, jari lentik Cinta menari dengan lihai di atas keyboard laptop berwarna hitam. Ekor mata Cinta melirik ke arah jam digital yang ada di pojok kanan bawah layar laptop.


Sudah jam sepuluh tapi dia belum pulang juga. Apa dia akan lembur lagi hari ini? Sikapnya sangat aneh. Kadang baik,, bahkan saking baiknya bisa membuatku salah paham, tapi kemudian ... setannya balik lagi, batin Cinta mengerdikan bahunya sembari melengkungkan ujung bibirnya ke bawah.


Cinta hendak memainkan kembali jarinya di atas keyboard, saat tiba-tiba suara bel pintu berbunyi dengan nyaring. Malam yang sunyi tersebut membuat suara sekecil apapun akan terdengar lebih keras dan menggema. Sesaat wanita itu menautkan kedua alisnya. Namun segera dia beranjak untuk membukakan pintu.


"I–ini? Dia mabuk lagi?" tanya Cinta sembari menunjuk Tahta yang tengah dipapah oleh asisten pribadinya.


"Sebenarnya ... sedikit, Bu Cinta tapi ... Pak Tahta sepertinya sedang kurang enak badan."


Reza melangkah masuk membawa tuannya itu menuju kamar pribadi miliknya yang berada di lantai dua. Sebenarnya cukup sulit untuk menaiki anak tangga sembari memapah tubuh yang berotot dan lebih besar darinya. Namun sebagai seorang anak buah dia tidak mungkin menolak permintaan istri tuannya. Segera Reza merenggangkan otot-ototnya setelah merebahkan tubuh kekar Tahta di atas ranjang.


"Terima kasih atas bantuannya, Za" ujar Cinta dengan tulus.


"Tidak masalah, Bu Cinta. Em ...." Reza nampak ragu untuk melanjutkan kalimatnya.


Cinta masih berdiri menatapnya, menunggu pria muda itu menyelesaikan ucapannya.

__ADS_1


"Sepertinya Pak Tahta menyukai Anda. Saat mabuk, dia selalu bilang merasa bersalah karena sudah membuat Anda menderita." Reza segera berpamitan setelah menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan. Ya, dia sangat prihatin melihat kondisi atasannya beberapa hari terakhir. Dia seperti orang yang sudah tidak ada semangat hidup lagi.


Cinta duduk termangu di samping suaminya. Dia menatap wajah maskulin tersebut dengan seksama. Ucapan Reza barusan membuat hatinya tiba-tiba berdesir. Apakah aku pantas untuk berharap lagi? Aku takut hanya akan menjadi seekor itik yang merindukan bulan.


Cinta mengulurkan tangannya. Mengarahkan telapak mungil itu ke pipi Tahta dan membelainya lembut. Namun, dia menghentikan gerakan tangannya tiba-tiba saat hawa panas menyapu permukaan kulitnya.


"Kau benar-benar sakit?" Cinta menempelkan punggung tangannya ke dahi Tahta untuk memastikan, dan benar saja. Pria yang tergeletak tak berdaya itu sedang demam.


"Aku pikir kau monster yang tidak akan bisa tumbang. Ternyata kau manusia juga," ejek Cinta sembari tersenyum miring pada Tahta yang tidak mungkin bisa merespon.


Wanita itu dengan telaten melepaskan sepatu dan jas suaminya satu persatu. "Dasar pemabuk. Berat sekali badanmu ini. Astaga, bau rokoknya ...." Cinta terus saja mengeluh kesal sembari mencoba melepaskan jas hitam Tahta.


Cinta menelan salivanya dengan berat tatkala kancing baju berwarna putih itu sudah terbuka setengahnya. Perut dengan tonjolan berbentuk persegi berjumlah enam tersebut terpampang jelas di hadapannya. Dengan sengaja, tangan Cinta menekan daging yang seolah tak berlemak. Pipi Cinta merona bak tomat yang sudah siap panen.


Ya ampun, jantungku rasanya sudah mau lompat. Apa harus aku lanjutkan sampai bawah? Bisa kena serangan jantung kalo tiap hari begini aku. Kalo ini komik, hidungku pasti sudah mimisan, batin Cinta sembari melirik area berbahaya yang sudah pernah memasukinya.


"Ah, sudahlah. Toh dia juga masih suamiku, jadi halalan toyiban, kan."


...Bersambung .......


__ADS_1


...****************...


__ADS_2