[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
Beban Keluarga


__ADS_3

"Sayang, aku bersumpah itu bukan keinginanku," ucap seorang pria yang sedang mencoba membujuk kekasihnya.


"Bukan keinginanmu tapi kau menerimanya dengan senang hati," ketus wanita yang duduk di kursi riasnya, sedang sang pria sedang bersimpuh di hadapannya.


"Dengarkan aku, Bella. Aku benar-benar hanya mencintaimu. Aku menikahinya karena ayah mengancamku. Ibuku, adikku Gema, mereka juga orang yang sangat penting bagiku. Tolong pahamilah keputusanku ini," pinta Tahta dengan nada yang sedikit tegas.


Bella terdiam saat mendengar suara Tahta yang sedikit meninggi. Pria di hadapannya itu sepertinya sudah mulai lelah memohon. Sudah satu minggu Bella mendiamkan Tahta dan enggan untuk bertemu dengannya. Segala cara dilakukan oleh pria yang duduk bersimpuh itu agar bisa bertemu dengannya termasuk datang ke rumah dan menyelonong masuk ke dalam kamarnya seperti hari ini.


Sepertinya aku tidak bisa memprovokasinya lebih lama lagi. Jika sampai dia kesal padaku dan memilih menyerah, itu akan sangat merugikan untukku. Baiklah permainan tarik ulur ini sepertinya harus aku hentikan sejenak. Sekarang yang penting adalah layang-layang ini sudah bisa aku kendalikan sepenuhnya, batin Bella menatap tajam Tahta.


"Baiklah, aku akan mempercayai ucapanmu, tapi dengan satu syarat."


"Baiklah. Katakan syarat apa yang kau minta?" jawab Tahta dengan cepat.


"Aku ingin kau berkencan denganku setiap malam. Jika kau pulang lebih cepat, kau harus menemuiku terlebih dahulu dan pulang ke rumahmu saat malam saja. Sejujurnya aku sangat keberatan jika kau terlalu lama bertemu dengan wanita ular itu," pinta Bella dengan tegas.


"Itu bukan hal yang sulit buatku, Sayang. Aku bahkan bisa saja membeli apartemen baru jika bukan karena ayahku itu."


Bella menganggukkan kepalanya masih dengan ekspresi yang dibuat sekesal mungkin. "Oh, satu lagi. Ceraikan dia secepatnya. Bukankah kau bilang ingin menikahiku? Aku tidak mau kau jadikan istri kedua, dan aku juga tidak mau menunggu terlalu lama lagi."


Tahta pun mengangguk, m nyanggupi permintaan wanita yang sudah menjadi kekasihnya selama dua tahun lebih tersebut. Dia memeluk erat Bella, tanpa disadarinya ada senyum licik yang mengembang di salah satu sudut bibir berwarna merah darah itu.


...----------------...

__ADS_1


Bagi Cinta waktu bergulir begitu cepat. Dia berusaha mati-matian untuk membuat cinta pertamanya itu menaruh perhatian terhadap dirinya. Namun, nihil. Sudah satu bulan dia berstatus sebagai seorang istri, tapi tidak sehari pun dia pernah duduk dan makan berdua dengan suaminya. Bahkan obrolan ringan pun tidak pernah terjadi di antara keduanya.


"Apa hari ini dia tidak akan sarapan lagi?" gumam Cinta sambil mengaduk oseng tempe kesukaan Tahta.


Wanita yang setiap pagi mengenakan celemek berwarna coklat dengan gambar beruang itu, menata hidangan untuk sarapan pagi ini dengan telaten. Dia melepaskan celemek favoritnya itu setelah melihat jam dinding menunjukkan pukul tujuh tepat, yang artinya sudah waktunya Tahta berangkat ke kantor. Cinta duduk di samping kursi utama meja makan, manik matanya terus mengarah ke tangga lantai dua berharap pria yang sedang ditungguinya itu datang menghampiri.


Senyum merekah di bibir tipis Cinta saat kedua netranya menangkap sosok pria terkasihnya sedang menuruni anak tangga.


"Tahta," ucap Cinta sambil berdiri menyambut suaminya.


Namun, sayang beribu sayang. Pria itu berlalu begitu saja tanpa merespon Cinta sedikitpun. Tahta bersikap seolah tidak ada siapapun di apartemen tersebut selain dirinya. Begitulah setiap hari. Cinta hanya bisa pasrah dan kembali duduk menyantap masakannya sendiri sambil menelan pilu. Dia sangat sadar kehadirannya adalah sebuah gangguan besar di kehidupan Tahta. Dia hanya bisa menunggu sampai Laras bisa membuktikan kebusukan Bella pada putra sulungnya itu.


Sampai kapan aku harus begini? Aku takut perasaanku akan mati cepat atau lambat, batin Cinta sambil mengunyah makanan dan diiringi air mata kepedihannya.


...----------------...


Ceklek!


Jari Cinta seketika terhenti saat mendengar suara pintu yang terbuka. Dia mengangkat kepala dengan cepat, mengarahkan pandangan pada jam besar yang menempel di tembok pemisah ruangan.


Baru pukul delapan, apa mungkin Tahta sudah pulang? Tumben, gumamnya dalam hati.


Benar saja, tidak perlu menunggu lama pria yang ada di pikiran Cinta sudah muncul di hadapannya. Cinta segera berdiri untuk menyambut suami yang bermuka datar tersebut.

__ADS_1


Tahta melangkah mendekati Cinta dengan tatapan dingin dan mematikan. Sudah bisa dipastikan bahwa jantung Cinta sekarang sedang tidak baik-baik saja. Wanita itu berdiri dengan gugup dan tidak berani mengeluarkan sepatah katapun. Manik mata mereka saling beradu pandang, tapi dengan ekspresi yang berlawanan. Tahta berhenti tepat di hadapan Cinta.


"Tanda tangani ini segera," perintah Tahta sambil melemparkan sebuah amplop ke meja.


Cinta menatap bingung ke arah suaminya setelah melihat dia melemparkan benda tersebut. Dia kembali duduk dan meraih amplop berwarna coklat yang tergeletak di samping laptopnya. Perasaan Cinta menjadi tidak karuan memegang benda di tangannya itu. Perlahan dia membuka dan mengeluarkan isinya. Mata Cinta membulat lebar, napasnya menjadi memburu seketika saat ujung kertas berwarna putih muncul dari dalam amplop tersebut.


"Perceraian?" Cinta melemparkan tatapan menuntut pada suaminya.


Sedangkan Tahta. Dia terlihat begitu tenang tanpa mengubah ekspresinya sedikitpun. Perjuangan Cinta untuk menjalankan tugas sebagai istri yang baik sepertinya sama sekali tidak bisa menyentuh perasaannya.


"Ini sudah satu bulan sejak hari si*lan itu, jadi tidak akan ada masalah jika kita bercerai. Aku akan sangat berterima kasih jika kau mau bekerjasama denganku, hubungan kita mungkin saja bisa kembali seperti dulu."


"Hah!" Cinta mengalihkan pandangannya mendengar jawaban Tahta.


Dadanya terasa nyeri bahkan sampai membuat tulangnya serasa remuk. Wanita yang sedang berusaha keras menahan air matanya tersebut meremas ujung kertas yang ada di tangannya.


"Jangan bermimpi. Aku tidak akan semudah itu memenuhi keinginanmu sebelum kau dan wanita itu berpisah."


"Cinta!" teriak Tahta dengan penuh emosi.


Tangan kekar yang sempat terayun ke arah wajah Cinta itu seketika berhenti tepat di depan muka Cinta. Tahta mengepalkan tangan yang hampir saja dia gunakan untuk menampar wanita yang pernah dianggapnya sebagai adik tersebut.


"Pikirkan baik-baik keputusanmu. Aku akan memberimu waktu selama dua minggu dari sekarang. Asal kau tahu, kau itu hanya beban di keluargaku. Kau bahkan tidak bisa membantu perusahaan ataupun usaha ayahku untuk menjadikanku sebagai anggota dewan. Pada akhirnya nasibmu tidak akan berbeda jauh dengan ibuku," ucap Tahta dan melenggang pergi meninggalkan Cinta yang sudah berlinang air mata.

__ADS_1


...Bersambung .......


__ADS_2