![[Not] A Perfect Marriage](https://asset.asean.biz.id/-not--a-perfect-marriage.webp)
Haiii, jangan lupa baca novel Simi yang lain juga, yaa. Klik gambar profil untuk novel lainnya.
Novel-novel Simi bukan tipe long story, mungkin hanya sampai 150 bab sudah tamat. Oke!
......................
..."... apapun yang dia lakukan, takdir akan tetap menemukan jalannya."...
Tahta tengah berada di depan pintu rumah berlantai dua yang didominasi cat berwarna putih tulah dan tosca. Meskipun rumah itu tidak besar, tapi terlihat cukup bagus dan menarik karena perpaduan warna cat yang tepat dan lampu putih yang menyinari ke arah-arah yang tepat.
Tahta tidak sendiri, seorang wanita tengah berdiri mematung di ambang pintu. Sepertinya dia baru saja membuka pintu dan terkejut melihat tamu tak diundang itu.
Gadis itu memandang tidak ramah pada Tahta, yang masih berdiri sembari sesekali mencuri pandang ke dalam rumah.
"Untuk apa Anda kemari?" tanya gadis dengan kaos oblong dan celana selutut itu tanpa basa-basi.
"Kakak ...." Tahta menelan ludah dengan berat saat melihat ekspresi Nana yang semakin menggelap saat dia menyebut kata 'kakak'.
"Apa Cinta ada di rumah?"
"Tidak," sahut Nana cepat.
Tahta hanya mengangguk pasrah mendengar jawaban yang lebih seperti seruan untuknya segera pergi. Sekali lagi, pria itu mengarahkan pandangan ke dalam rumah berharap seseorang yang dia cari muncul dari balik tembok. Namun nihil.
"Baiklah, aku akan pergi," pamit Tahta dengan senyum yang begitu berat untuk dia sematkan. Nana bahkan bisa melihat raut kekecewaan dan kelelahan dari wajah putih Tahta.
"Kau sudah besar dan cantik seperti kakakmu," ucap Tahta sebelum benar-benar berbalik pergi.
"Jangan mencarinya." Tahta menghentikan langkah, memutar kepalanya saat kata-kata Nana menusuk gendang telinganya.
"Biarkan kakakku hidup tenang. Sudah terlalu banyak dia merasakan penderitaan, jadi tolong kali ini biarkan dia bahagia."
Deg!
Bak pisau tajam tengah menghujam jantungnya dan diputar di dadanya. Tahta merasakan sakit yang lebih sakit dari luka tembaknya dulu.
"Kau benar. Akulah sumber penderitaannya." Tahta mengepalkan kedua tangannya.
"Tidak. Kakakku sendiri yang memilih jalan itu, dia sendiri yang membuat dirinya menderita, tapi untuk sekarang akan lebih baik jika Kak Cinta tidak lagi terbelenggu dengan masa lalunya."
Tahta terdiam menatap Nana. Dia seolah tengah meneliti isi kepala gadis berusia dua puluh dua tahun tersebut. Nana tidak menyalahkannya, tapi mata itu jelas menatap marah dan seolah ingin mengoyaknya.
"Aunty, Ratu pengen susu!" Suara cempreng gadis kecil itu membuat kedua terperanjat, terutama Nana.
Dengan reflek Nana menarik gagang pintu agar Tahta tak bisa melihat ke dalam rumah. Gadis itu mulai gelisah, jantungnya berdegup semakin kencang.
__ADS_1
"Aku harus masuk, sebaiknya Kak Tahta pulang sebelum Kak Cinta datang," usir Nana terang-terangan.
Gadis itu tidak mau menunggu jawaban Tahta. Dia berbalik masuk ke dalam rumah, meninggalkan Tahta yang masih mematung di halaman rumahnya.
Anak itu ... Apakah dia anak Cinta dan Rudi? Betapa bahagianya mereka bisa dikaruniai anak secantik itu. Jika saja .... Tahta menghela napas berat. Sudah terlalu banyak kata 'jika' yang keluar dari mulutnya hari ini. Dia memejamkan mata, menenangkan diri, sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan pekarangan rumah adik mantan istrinya itu.
...----------------...
Setelah pertemuannya dengan Laras sore tadi, Cinta bergegas ke kios bunga untuk menyelesaikan pekerjaannya. Hari ini dia terpaksa pulang sedikit larut. Bisa dilihat dari jam yang tergantung di dinding ruang tamu sudah menunjukkan pukul sembilan tepat.
Nana yang masih menonton televisi di ruang tengah, menoleh saat mendengar derap langkah mendekat ke arahnya. Dia menatap datar pada Cinta yang terlihat begitu letih.
Kini keduanya telah sama-sama duduk di sofa ruang tengah dengan Cinta yang menyadarkan tubuhnya. Suara televisi yang kecil dan lampu remang-remang menciptakan keheningan untuk kedua wanita dewasa itu.
"Kakak sudah makan malam?"
Cinta hanya mengangguk singkat dengan kepala masih bertengadah ke langit-langit.
"Apa kakak bertemu dengannya?"
Kali ini pertanyaan Nana membuat Cinta mengernyitkan kening. Dia menoleh ke arah Nana. Cinta paham siapa yang dimaksud oleh adiknya itu.
"Nana harap, jika dia kembali, jangan pernah Kakak membuka hati seperti dulu lagi. Ingat betapa hancurnya Kakak saat itu," ucap Nana dengan nada dingin.
"Bagaimana jika dia berkata dia akan berubah menjadi lebih baik?"
"Ooh, ayolah Nanaa. Kau sekarang menjadi gadis pemarah. Adik Kakak ini sudah dewasa rupanya," gurau Cinta dengan mencubit gemas pipi tirus adiknya.
"Aku serius, Kak."
Nana menekuk wajahnya kesal karena sikap Cinta yang seolah menganggap omongannya sebagai gurauan.
Cinta bangkit. Duduk sembari menghela napas panjang. "Kita tidak akan tahu apa yang terjadi nanti, Na. Kakak akan terus seperti ini. Melewati hidup sebagaimana mestinya. Selama anak-anak bisa bahagia, selama mereka tidak harus terkurung karena kesalahan yang pernah Kakak lakukan, Kakak tidak akan keberatan atas apapun. Tapi kau benar, kita tidak boleh percaya dengan mudahnya hanya karena sebuah kata-kata," ujar Cinta diakhiri dengan menarik sudut bibirnya.
"Sudah malam, cepatlah tidur." Cinta menepuk paha adiknya dan bangkit berdiri meninggalkan Nana yang masih terdiam.
Aku tidak ingin kau merasakan patah hati untuk ketiga kalinya, Kak. Aku tidak ingin kau menjalani hidup seperti papa dan mama. Kau sudah cukup bahagia bersama si kembar, batin Nana menatap nanar kepergian kakaknya.
...----------------...
Diwaktu yang bukanlah hari libur, keadaan jalanan dan toko bunga Cinta tak begitu ramai di siang hari. Dia tidak akan menengok tokonya hari ini, karena harus menemani si kembar. Cinta baru saja sampai ke Jakarta lagi kemarin malam. Hari berlalu secepat kilat bagi Cinta. Rasanya baru kemarin dia bertemu Laras dan esoknya kembali ke Bogor, tapi tiba-tiba bulan baru sudah menyambutnya kembali. Dan hari ini dia harus menghadiri undangan pembukaan hotel Malaba. Rasanya enggan sekali dirinya untuk datang dan menginjakkan kaki di tempat itu, tapi bukan hanya dari pihak hotel yang mengundang, Laras pun secara pribadi mengundangnya.
Cinta berjalan dengan gontai masuk ke dalam rumah, pikirannya sekarang bercabang-cabang. Semenjak pertemuannya dengan Tahta dan Laras, dia lebih sering merasa gelisah. Cinta memang meminta Laras untuk tidak mengatakan apapun pada Tahta, tapi dia yakin pria itu tetap akan tahu suatu hari nanti. Dia juga selalu merasa bersalah karena membuat anak-anak dan ayah kandungnya tidak saling mengenal. Padahal dia tahu, si kembar pasti merindukan sosok ayah seperti yang dimiliki teman-teman bermainnya.
"Ratu ... Raja," sapa Cinta saat melihat duo R tengah asyik dengan mainannya.
__ADS_1
Ratu yang sedang menggambar pun menoleh sekilas, lalu melanjutkan aktivitasnya. Sedangkan Raja, dia tetap fokus pada stik PS di tangannya.
Cinta menghela nafas, dan berjalan mendekati Ratu.
"Ratu lagi ngapain, Nak?"
"Ratu lagi gambar keluarga, Ma. Lihat bagus kan?" jawab gadis kecil itu dengan riang sembari mengangkat buku gambar miliknya.
"Ini ada mama, ada Raja, Ratu, dan juga papa. Kita mainan di taman yang ada baling-baling besarnya," ucapnya sembari menunjuk lingkaran besar warna-warni yang menjadi background gambar. Bocah perempuan itu tengah memproyeksikan keinginannya. Baling-baling besar yang dimaksudnya adalah biang lala, Cinta paham betul dengan semua itu. Dia baru saja dipameri oleh teman bermainnya kemarin.
Cinta tidak tahu harus merespon apa. Speechless rasanya saat harus mendengar angan-angan putri kecilnya ini. Dia melirik Raja yang kini hanya diam menatap mereka sembari mengunyah camilannya. Anak itu sangat jarang mengekspresikan diri, berbanding terbalik dengan Ratu yang lebih terbuka dengan semua pikirannya. Apa Raja juga berpikir seperti Ratu? Apa anak itu juga merindukan sosok ayah? Ah, rasanya dia hampir gila kalau harus bermain-main dengan pikirannya sekarang.
Pada akhirnya Cinta memilih kembali fokus pada gambar Ratu. "Anak Mama udah pinter gambar, ya. Bagus banget gambarnya. Besok lusa Mama ajak kalian ke taman mini, mau? Nanti kita lihat hewan-hewan dan naik biang lala."
"Mau!" jawab kedua anaknya serempak dengan binar cerah di mata keduanya. Tentu saja mereka sangat senang. Ini adalah pertama kalinya mereka akan pergi jalan-jalan ke tempat yang selalu diceritakan teman bermain mereka. Saat melihat foto dan video keluarga yang pernah temannya tunjukkan membuat perasaan iri meluap di hati Ratu. Dia juga ingin seperti itu, tapi Cinta selalu sibuk dengan kebun dan pekerjaan lain.
Cinta kembali menghela napas. Ada sendu yang samar terukir dari sorot matanya saat melihat kebahagiaan anak-anaknya. Dia tahu selama ini dia terlalu sibuk, hingga dia lupa untuk menyisihkan waktu bagi keduanya. Dia hanya selalu berpikir untuk mencukupi semua kebutuhan materi si kembar. Dia seorang janda tanpa ada jaminan hari tua, dia harus bekerja keras sendiri agar bisa menyejahterakan anak-anaknya, tapi lupa dengan kebutuhan lainnya yang lebih mereka butuhkan untuk saat ini.
Tanpa Cinta sadari, sebulir air mata mengalir keluar dari pelupuk matanya. Cinta menatap Raja dengan pandangan kosong. Anak laki-laki itu begitu mirip dengan pria yang sudah membuat mereka ada. Begitu pun Ratu, dia terlihat seperti versi wanita dengan rambut panjangnya. Andai saja kita bisa bersama, apa anak-anak akan bahagia?
"Mama kenapa menangis? Kita nakal, ya?" tanya Raja yang menyadari air mata ibunya.
Cinta menggeleng sembari tersenyum lembut lalu mengusap pipinya sendiri, menghalau air matanya. Tangannya bergerak membelai lembut puncak kepala si kembar, dan mencium kening keduanya bergantian.
"Kalian anak Mama yang paling baik, nggak pernah nakal. Mama yang nakal."
Kedua bocah itu memeluk Cinta, menenggelamkan wajahnya di dada wanita itu.
"Kalian mau ke pesta sama Mama?" tanya Cinta dan disambut wajah barbinar kedua anaknya.
Sebenarnya ini adalah keputusan yang berisiko, tapi tidak ada pilihan lain. Nana tiba-tiba saja ada acara bersama teman-teman dan kekasihnya. Ya, gadis itu sudah memiliki kekasih yang sebenarnya Cinta kurang cocok, tapi itu pilihan adiknya. Di Jakarta tidak ada siapapun yang dia percaya menjaga si kembar selain Nana. Dan lagi, seperti yang dia pernah ucapkan. Dia tidak akan mengurung si kembar karena kesalahan yang dia lakukan. Biarkan mereka menikmati segalanya, apapun yang dia lakukan, takdir akan tetap menemukan jalannya. Jadi, dia hanya perlu menjalani hidup sebagaimana mestinya.
"Baiklah, sekarang ayo kita bersiap!"
"Yeeey!" seru bocah-bocah yang sebentar lagi berusia lima tahun tersebut.
Mereka sudah beberapa kali menemani Nana ke pesta-pesta yang diadakan rekan kerjasamanya, tapi baru pertama, untuk pesta besar seperti grand opening hotel ini.
"Nanti Ratu mau ambil kue coklat yang banyak." Gadis kecil itu sudah mulai menyusun rencananya seperti biasa.
"Dasar kampungan." Tentu saja itu mulut Raja. Anak laki-laki itu memang bermulut pedas level sepuluh.
"Sepertinya mama lupa memberikan perasaan saat melahirkanmu," celetuk Ratu dengan ketus.
"Kau tidak boleh jauh-jauh lagi dariku atau dari mama, jika tidak, kau akan hilang lagi seperti yang terakhir," ujar Raja mengingatkan Ratu pada momen terakhir mereka datang ke pesta. Gadis kecil itu terlalu asyik menjelajahi setiap hidangan hingga terpisah dari ibunya. Tentu saja hal itu membuat Cinta panik setengah mati.
__ADS_1
Ratu hanya nyengir lebar memperlihatkan barisan giginya mendengar ucapan Raja. Dan Cinta, dia hanya bisa terkekeh kecil mendengar percakapan keduanya. Raja memang terkesan dingin dan kurang bersahabat, tapi sebenarnya anak itu penuh perhatian.
...Bersambung........