![[Not] A Perfect Marriage](https://asset.asean.biz.id/-not--a-perfect-marriage.webp)
Malam sudah menyapa desa di kaki bukit. Warna jingga kemerahan yang sebelumnya bertengger sudah berangsur pudar tergusur oleh langit gelap dan bertabur bintang. Seorang wanita tengah duduk termenung di kursi yang ada di halamannya. Dikelilingi oleh lampu taman berwarna kekuningan, malam ini terasa sangat menenangkan.
"Selamat malam," sapa seorang pria yang baru saja melewati pagar rumahnya.
"Rud? Kau sudah pulang?"
"Kau pikir ini hantu?" jawab pria itu sembari sedikit merentangkan tangannya di hadapan wanita tersebut.
Sudut bibir Cinta naik ke atas secara otomatis melihat senyum cerah dan gurauan Rudi. Sudah tiga hari mereka tidak saling bertatap muka. Dia menatap lekat wajah berhidung mancung itu. Angin malam dan suara jangkrik di area perkebunan, seolah menjadi musik yang mengiringi pertemuan mereka malam ini. Jelas sekali terlihat dari binar mata Cinta bahwa wanita itu lega bisa kembali melihat Rudi berdiri di hadapannya lagi.
"Apa kau merindukanku?" goda Rudi sembari mengambil tempat duduk di samping Cinta. Kursi besi itu cukup panjang untuk mereka berdua duduki. Cinta sedikit menggeser posisinya dengan canggung agar tidak terlalu menempel pada Rudi. Namun, pria di sampingnya itu tidak mau kalah. Dia kembali menggeser posisi, menepis jarak hingga bahunya menempel pada Cinta.
"Genit banget, siiih...." Cinta mencubit kecil pinggang Rudi hingga membuatnya sedikit terjingkat.
"Sakit, Taa," keluh pria yang sibuk mengusap pinggangnya.
"Ya, salah sendiri jadi cowok genit banget."
"Memang kelihatan seperti itu? Coba cewek mana yang aku godain?"
"Aku! Kamu pikir aku bukan cewek?" ketus Cinta dengan lirikannya yang mematikan.
"Dan hanya kamu, seorang." Rudi menatap lembut manik mata Cinta hingga membuatnya tersipu. Wanita itu bahkan sampai memalingkan muka dan mengulum senyumnya agar tidak semakin malu. Entah kenapa hati Cinta serasa berbunga mendengar ocehan Rudi. Dia bahkan tidak bisa mengendalikan ekspresinya.
Apa bawaan hamil jadi kayak gini, ya? Gampang banget baper, astaga ... memalukan, batin Cinta masih dengan pipinya yang merona.
Cinta menarik napas panjang, mengatur kembali ekspresinya. Dia menoleh ke arah Rudi yang menyunggingkan senyum manisnya.
"Rud, bisakah kita bicara serius?"
"Aku selalu serius saat berbicara denganmu. Aku selalu memikirkanmu beberapa hari ini. Kau membuatku tak bisa tidur dengan tenang."
Cinta terdiam sejenak. Matanya yang berkilau karena sorot lampu yang terarah padanya menatap sendu pada pria di hadapannya itu. Hatinya bergetar saat mendengar setiap ucapan Rudi yang terdengar begitu tulus. Cinta kembali mengatupkan kedua bibirnya, menahan air mata yang mencoba mengoyak pertahanannya.
"Rudi, apa kau ...." Wanita itu terlihat ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Dia merem*s jemarinya bergantian. Detak jantungnya berpacu dengan suara jangkrik yang tengah bersenandung bersautan.
"Aku kenapa?" tanya Rudi melayangkan tatapan penuh tanya.
"Apa kau ... benar-benar menyukaiku?"
Rudi mengangkat kedua alisnya. Netranya yang terbuka lebar menatap lekat manik Cinta yang berkilau. Pria yang sebelumnya lebih banyak tersenyum dan bercanda, kini terlihat lebih serius.
"Aku mencintaimu," jawabnya dengan penuh keyakinan.
"Jika kau mau aku bersumpah demi orangtuaku, aku akan melakukannya. Jika kau masih belum percaya, kau bisa mengambil nyawaku sekarang juga untuk membuk–"
"Rud!" sela Cinta menutup mulut Rudi dengan tangan mungilnya.
"Aku percaya. Jangan berkata yang aneh-aneh lagi, aku percaya. Aku tidak mau kehilangan siapapun lagi. Aku percaya padamu, Rud. Aku percaya," ucap wanita yang air matanya kini sudah bergelayut manja di pelupuk mata.
Rudi menatap sendu wanita yang tengah terisak di hadapannya. Dia memegang tangan Cinta yang masih menutup mulutnya. Membawa tangan mungil itu ke dalam genggaman dan satu tangan lainnya mengusap lembut cairan bening yang meleleh di pipi Cinta.
__ADS_1
"Maafkan aku. Kau pasti masih sakit dengan kepergian orangtuamu. Maafkan aku, hmm ...."
"Aku tidak mau kau mati. Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain dirimu dan Nana. Kau mengerti," ujar Cinta dengan nada kesalnya di sela isakan tangis yang coba dia tahan.
"Iya, aku mengerti. Aku selalu di sini untukmu, dan jantung ini berdetak hanya untukmu. Jadi, jangan ragukan perasaanku padamu, mengerti," jawab Rudi lembut sembari mengarahkan tangan Cinta ke dadanya yang berdebar lebih cepat dari biasanya.
Cinta masih diam menundukkan kepalanya dengan anggukan perlahan sebagai respon. Bahu wanita itu sesekali masih bergerak naik karena isakan kecilnya. Rudi tersebut tipis melihat Cinta yang seperti anak kecil takut ditinggal. Dia menarik tubuh Cinta dalam dekapannya. Mengelus lembut rambut hitam Cinta yang tergerai. Angin malam menerbangkan ujung rambutnya.
"Jadi, kenapa kau bertanya tentang itu?" tanya pria yang tengah mengenakan hoodie berwarna hitam tersebut.
Cinta menempelkan dagunya di bahu Rudi. "Kau yakin mau menikahi janda seperti aku ini?"
Rudi memicingkan matanya mendengar pertanyaan yang terdengar aneh ini. "Tentu saja. Kalau tidak kenapa aku melamarmu."
"Kalau begitu ... ayo kita menikah," ujar Cinta dengan entengnya yang justru membuat pria yang sebelumnya tenang itu membelalak lebar.
Dia mendorong tubuh Cinta dengan cepat hingga membuat wanita itu sedikit tersentak. Rudi menatap tak percaya ke arahnya. Bibir tipis pria itu bergetar seolah kata enggan untuk lolos dari sana.
"Ka–kau serius?"
Cinta mengangguk perlahan dengan senyum lembutnya yang menenangkan. Mulut Rudi terbuka dengan tatapannya yang berbinar. Dada pria itu terlihat bergerak naik turun dengan lebih cepat. Rudi benar-benar bak terhipnotis. Rasanya dia tengah berada di alam mimpi dan enggan untuk kembali terbangun. Perasaan gembira sekaligus tak percaya beradu dalam pikirannya.
"Ke–kenapa bisa?"
"Kau mau aku tolak? Tapi, Rud kau sebenarnya sudah tahu ini, tapi aku ingin mengatakannya sendiri. Aku ... aku sedang ham–"
"Tidak masalah," sela Rudi dengan cepat dan tegas.
Cinta membeku, menatap nanar pria yang terlihat begitu tulus mencintainya itu. Kembali air mata dengan sombongnya meluncur begitu saja tanpa permisi. Cinta tidak peduli. Kali ini dia membiarkan cairan bening itu mengalir begitu saja. Wanita itu menatap haru Rudi yang tengah menatapnya dengan penuh keyakinan.
Betapa b*doh dan butanya aku karena tidak bisa melihat ketulusan dari Rudi. Oh, Tuhan apa kau kali ini benar-benar mengizinkan aku untuk bahagia? Jika memang begitu, tolong jangan ambil dia dariku. Tolong jangan biarkan nasib buruk ini berkelanjutan. Biarkan aku menua bersamanya, Tuhan.
"Apa kita bisa menikah sekarang?" tanya Rudi yang membuat Cinta tersadar seketika.
"Apa kau gila? Aku bahkan baru beberapa minggu bercerai, paling tidak tunggulah satu bulan lagi."
"Haah! Lama sekali," keluh Rudi sembari mengacak rambutnya frustrasi.
Pria itu tiba-tiba kembali menoleh menatap lekat Cinta. Cinta yang ditatap sedemikian rupa menjadi kebingungan. Tatapan aneh dia layangkan pada Rudi.
"Kau tidak akan berubah pikiran kan? Bagaimana kalau sampai kau berubah pikiran?"
Wanita itu bisa kembali bernapas lega setelah mendengar pertanyaan Rudi. Dia memutar bola matanya dengan malas.
"Tidak akan. Kau bisa pegang janjiku."
Senyum lebar mengembang. Pria itu tengah terbang di tas awam hingga mungkin akan sulit untuk kembali menapakkan kaki ke bumi lagi. Rudi menarik Cinta dalam dekapannya. Memejamkan mata erat dan menelusupkan wajahnya di ceruk leher Cinta. Menghirup aroma manis wanita itu sebanyak yang dia bisa. Kebahagiaan yang sudah ditunggu bertahun-tahun akhirnya menyapa. Bahagia. Hanya kata itu yang tercipta di malam ini, hingga membuat Rudi menyingkirkan kewarasannya.
"Anak papa. Jangan nakal di perut mama, ya," ucapnya sembari mengelus perut Cinta penuh kasih.
...Bersambung.......
__ADS_1
...****************...
Selamat pagi, siang, malam tergantung kapan kalian bacanya, kesayangan. Gimana kabarnya hari ini? Sehat-sehat selalu, yaa.
Hari ini 8/8 Simi ulang tahun, ada yang mau ngucapin sesuatu nggak, nih. (ngarep banget, Thor ; ^) he-he-he
Oh iya, ini akhir pekan, yaa. Seperti biasa, Simi mau ngucapin Spesial thanks buat :
Aqila Riawan
Salia Wongso
Rani
Riyan
Rahma
Susan Line
Mutia Tia
Hana
Marimar
Fauziah Ziah
Susan
Efbe
Susan Lagi
Fernando
Line Susan
Mikasari Nasa
Terima kasih banyak sudah merelakan jatah vote mingguannya untuk Cinta yang selalu berTahta. Aku tau kalian sayang banget sama aku, aku juga sama kok, sayang banget. Uwuwuwu....
Terima kasih banyak juga untuk kakak-kakak yang sudah berkenan mensupport Simi dengan ngasih komentar-komentar, like, dan hadiahnya. Lope lope sekebon buat kalian, My Shining Star.
Dan satu lagi, karena voting judul kemarin hasilnya 5:5. Apalagi Kak Lie Naa pilih Essence Of Love dan Kak LAJ pilih Tahta, & Duda, aku memutuskan untuk nggak jadi ganti. Biar adil, ini aja udah.😂
__ADS_1