![[Not] A Perfect Marriage](https://asset.asean.biz.id/-not--a-perfect-marriage.webp)
Rudi terlihat gusar setelah menerima kabar tentang Cinta dari sahabatnya. Pria itu beberapa kali meninju tembok di samping foto-foto Cinta hingga menimbulkan bekas kemerahan di punggung tangannya. Rudi menatap pekat malam dari balik kaca jendela kamarnya. Sebuah ide jenius baginya tiba-tiba menyelusup ke dalam otak pria bercelana pendek tersebut.
Rudi meraih ponselnya dan mengirim pesan singkat pada Bimo.
Aku ada ide agar targetmu bisa kembali masuk dalam perangkap
^^^Bagaimana?^^^
Seperti yang sering terjadi, buat Tahta bertekuk lutut pada Bella.
^^^Apa kau gila? Aku tidak akan membiarkan Bella melakukan hal itu.^^^
Bodoh sekali kau ini. Jebak dia. Buat dia tidak sadarkan diri dan buat seolah-olah dia melakukannya. Aku akan membantumu dalam hal finansial, untuk membobol data mereka, Bukankah ini pertukaran yang adil. Kau mendapatkan targetmu kembali, dan Cinta bebas dari pria b*jing*n itu.
^^^Baiklah. Kau sudah janji. Akan kupegang janjimu.^^^
Rudi menyunggingkan senyum liciknya setelah mendapat balasan dari Bimo. Dia bersandar di dinding dengan mata lurus menerawang jauh ke luar jendela. Wanita yang selalu menggoda pikirannya sudah dia temukan. Hanya dengan secuil usaha, dan keberuntunganlah yang berkata. Wanita itu datang dengan sendirinya tanpa dia harus menjemput.
Rudi tak mau melepaskan kesempatan emas yang ada di depan matanya. Dia harus segera mendapatkan wanita itu seutuhnya sebelum Tahta menyadari kelicikan wanita yang dia tempatkan di sisinya.
Pria itu tersadar dari lamunannya saat Cinta melempar sebuah kertas berwarna putih yang terlipat rapi ke arahnya.
"Apa semua ini juga kebohongan? Kau menjebakku, kau sengaja melakukan ini!" seru Cinta sembari melemparkan sebuah kertas yang dia ambil dari dalam laci.
Rudi menunduk, meraih kertas yang terjatuh di depan kakinya. Pria dengan kaos oblong berwarna putih itu membuka benda tipis tersebut. Mata hitam Rudi terbuka lebar saat dia melihat logo yang begitu familiar bertengger di kertas tersebut.
"Dari mana kau mendapatkan ini?" tanya Rudi dengan keterkejutannya.
"Heh!" Cinta tersenyum sinis mendengar pertanyaan Rudi.
__ADS_1
"Hari itu ... kau sengaja menyuruh ibu untuk menceritakan semuanya, kan? Kau sudah mempersiapkan semua, benar kan?" tanya Cinta dengan nada dingin sembari melirik tajam suaminya.
Rudi tak bersuara. Pria itu hanya menatap nanar Cinta yang diliputi oleh amarahnya. Netra coklat yang membara seolah tengah menusukkan seribu duri tajam ke jantungnya. Rudi hanya bisa mer*mas kertas di tangannya sembari memejamkan mata yang terasa semakin memanas.
Anggukan kecil dari Rudi membuat Cinta menghela napas berat. Bukan itu jawaban yang diinginkan olehnya. Wanita itu berharap setidaknya ada satu hal saja yang bisa dia jadikan alasan untuk tetap bertahan. Namun, gerakan kepala Rudi itu meruntuhkan mentalnya. Rasa sakit atas pengkhianatan kini kembali mengorek luka lamanya lebih dalam.
"Kenapa kau tega melakukan ini padaku, Rud? Kenapa kau melakukan hal ini pada anak-anakku? Kau keterlaluan, Rud. Kau jahat!" Tirta bening kini tak mampu lagi dia bendung.
Guncangan di bahu Cinta dan isakan tangis wanita itu terdengar begitu memilukan. Hati Rudi terasa sakit seolah tengah diremas kuat melihat kepedihan di wajah istrinya. Rudi dengan ragu melangkah mendekati Cinta yang tengah tertunduk dengan air mata menganak sungai.
"Maafkan–"
"Pergi kau, Rud!" pekik Cinta sembari menghempaskan tangan Rudi dari bahunya.
Mata wanita itu membelalak lebar dengan penuh amarah menatap pria di hadapannya. Napas Cinta memburu. Dadanya yang naik turun dengan tempo yang begitu cepat mengisyaratkan gejolak emosi yang coba wanita itu tahan.
"Pergi!"
Nana terhenyak mendengar suara tinggi kakaknya. Mata gadis muda itu melebar menatap ke arah kamar Cinta.
"Apa yang terjadi? Tidak biasanya Kak Cinta berteriak seperti itu," gumam Nana dengan ekspresi penuh tanya.
Gadis itu melirik kedua ponakannya yang masih asyik bermain. Ya, kedua bocah itu tidak paham dengan apa yang terjadi. Suara teriakan Cinta juga tidak terdengar begitu keras dari ruangan tersebut. Nana merapatkan tubuh Raja dan Ratu di sisinya. Dia seolah tengah menunggu sesuatu sembari menatap lekat kamar kakaknya.
Sesuai perkiraan Nana. Tidak berselang lama pintu kamar itu terbuka. Seorang pria dengan wajah sayu keluar dari sana dan melangkah lunglai. Dia berhenti sejenak di hadapan Nana. Menoleh memerhatikan kedua bocah yang tengah berceloteh dalam dekapan adik iparnya. Rudi menarik napas panjang sebelum akhirnya pergi meninggalkan Nana yang menatapnya penuh tanya.
Apa yang terjadi pada mereka? Tidak mungkin jika hanya masalah kecil sampai membuat kakak seperti itu.
"Sayang, Tante ke kamar mama dulu, ya. Kalian main berdua di sini sebentar," ucap Nana berpamitan pada kedua ponakannya.
__ADS_1
Nana berdiri di depan pintu kamar Cinta. Suara isakan kecil dari dalam ruangan itu membuat Nana memberanikan diri untuk memutar gagang pintu kamar tersebut.
"Kakak?" lirih Nana saat netranya menangkap sesosok wanita yang tengah terduduk tak berdaya diiringi tangisnya yang memilukan.
Nana melangkah lebar menghampiri Cinta. Gadis itu mensejajarkan diri, menatap nanar kakaknya yang masih menunduk dengan bahu terguncang.
Ekor mata Nana tiba-tiba tertuju pada sebuah kertas yang tergeletak di samping Cinta. Tangan lembut gadis itu meraih benda tersebut. Merapikannya dan perlahan membuka benda yang sudah begitu lusuh bekas rem*san tersebut.
Nana membelalakkan mata tatkala dia mulai membaca kata demi kata yang tertulis di permukaan benda berwarna putih tersebut.
"I–ini ... beneran, Kak?" tanya Nana mengalihkan tatapan pada kakaknya.
Cinta menggeleng. Wanita itu masih belum ada tenaga untuk mengangkat wajahnya. Nyeri di hatinya terasa menjalar hingga melemahkan tulang-tulang di tubuhnya.
"Dia menipuku, Na. Rudi menipuku." Tangisnya kembali pecah seiring Nana membawa tubuh itu dalam dekapannya.
Nana mengelus lembut punggung kakaknya. Dalam rasa penasarannya yang begitu besar, gadis itu tidak bisa memaksakan wanita yang hatinya tengah hancur untuk bercerita. Dia hanya butuh tempat untuk bersandar. Melepaskan beban dengan tangisnya.
...Bersambung.......
...****************...
Haloo, Kakak-kakak.
Bagaimana kabarnya? Sehat selalu, yaa....
Wahh, akhirnya bisa update lagi. Sudah lama tidak menyapa kalian rasanya kayak punya utang bangeeet. Makan tak tenang, tidur tak nyaman karena di kepala ini hanya terlintas tagihan dari kalian. hahaha...
Yuk semangat ngelik, ngevote, ngekomen, biar Simi semangat juga updatenya. Lope lope sekebon buat kalian, My Shining Star.
__ADS_1