[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
Jika Bisa Waktu Kembali


__ADS_3

..."Waktu akan berlalu, setiap momen akan terlewatkan. Setelahnya mereka hanya akan menjadi 'kenangan'. Apa yang ingin kau ciptakan? Kenangan baik, kenangan buruk?"...


____________________________________________


Tahta melangkah lesu memasuki kamarnya yang juga berada dilantai dua. Ruang tidur itu hanya terpisah satu ruang dengan kamar yang tengah dihuni mantan istri dan anak-anaknya. Duduk di sisi ranjang, pria itu memejamkan mata sembari menyembunyikan kepalanya di antara dua tangan. Kalimat penolakan dari putranya atas status hubungan mereka terus saja berputar di kepalanya.


"Pria itu sudah menjadi sosok yang sempurna untuk anak-anak. Heh!" senyum kekecewaan tercetak jelas di bibir pria usia pertengahan tiga puluhan tersebut.


Tahta merebahkan tubuh dengan kedua tangan masih menyatu menutupi matanya. Sesaat, ketika Raja sudah mau berada dalam dekapannya, dia berpikir kesempatan telah terbuka lebar. Namun hanya dengan satu kalimat dari bocah itu, seolah pintunya kembali tertutup rapat. Entah seberapa besar usaha yang harus dia keluarkan untuk bisa membukanya.


Dia membiarkan kakinya tetap menggantung dan pikirannya melayang, memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa dia lakukan untuk menebus kesalahannya. Tahta membiarkan netranya tetap terpejam, tapi otaknya diperas hingga waktu terus bergulir menyingkap langit gelap dan berganti dengan warna merah jingga.


"Sweety, jangan berlari!" suara nyaring perempuan memecah keheningan pagi ini di rumah Mahardika.


Rumah yang biasanya nampak tenang itu kini dipenuhi dengan suara tawa renyah anak-anak sejak pagi buta. Dua manusia bertubuh mungil itu terlihat setengah berlari dari dalam kamar menuju tangga.


"Berhenti. Tunggu Mama, Nak." Cinta mencoba menyusul anak kembarnya dari belakang. Namun seolah semakin mengejek, kedua bocah itu mempercepat langkah kakinya.


"Hap!" Lengan kekar meraih tubuh keduanya tepat sebelum mereka mencapai anak tangga.


Pria itu Tahta. Dia segera mengumpulkan kesadarannya saat mendengar suara Cinta. Dia baru saja bisa tertidur tiga jam yang lalu, matanya masih cukup berat saat berusaha bangkit. Namun melihat kedua buah hatinya tengah berlari menuju anak tangga, kedua mata itu seketika membola sempurna dengan kaki yang reflek berlari ke arah keduanya.


Cinta berdiri tepat di hadapan kedua bocah yang sekarang tengah ada di gendongan Tahta. "Sudah berapa kali mama bilang jangan berlarian di tangga. Ini tinggi, Nak. Kalau terpeleset bisa jatuh, berdarah. Kalian mau lihat Mama sedih?" omel Cinta dengan wajah seriusnya.


Kedua bocah kembar itu hanya menggeleng dengan bibir yang sudah maju beberapa centimeter. Tahta yang melihat pemandangan itu hanya bisa membuang napas panjang.


"Lain kali tidak boleh diulangi lagi, ya, Sayang. Ayo, sekarang minta maaf ke Mama." Tahta mencoba menengahi, dia tidak tega melihat kedua buah hatinya mendapatkan omelan sepagi ini.


"Maaf Mama." Raja mengawali permintaan maaf tersebut dan diikuti oleh Ratu.


"Anak pintar. Mama tidak boleh marah-marah lagi, ya. Ayo, sekarang kita turun, kita lihat Oma," ajak Tahta sembari mencium gemas pipi gembul keduany, sembari melangkah menuruni tangga.


Mendapatkan ciuman yang begitu tiba-tiba membuat membuat Raja melirik sinis ke pria yang tengah menggendongnya. Dengan wajah yang ditekuk, bocah kecil itu mengelap kasar pipi kanannya.

__ADS_1


Melihat tingkah putranya itu tak membuat Tahta gentar. Dia makin tertantang untuk menggoda sang putra dengan mendaratkan beberapa ciuman lagi di seluruh wajah Raja. Cinta terkekeh geli melihat putranya yang terlihat begitu frustasi mengelap seluruh mukanya dengan kedua tangan mungilnya.


"Papa berhenti!" sentak Raja dengan wajah paling garangnya.


Semua orang membeku menatap Raja, termasuk Laras yang tengah duduk di ruang tengah. Tahta sesaat bahkan seolah lupa cara untuk bernapas. Dia menatap haru sekaligus tak percaya pada putranya. Jantungnya berdegup kencang dengan luapan kebahagiaan. Cinta bahkan sampai mengangkat kedua alisnya.


"Kau–kau ... memanggil Papa? Anakku ... anakku memanggilku Papa?" Netranya sudah berkaca saat dia menoleh pada Cinta untuk memastikan pendengarannya.


Cinta menipiskan bibir membuat lengkungan senyum samar, dan mengangguk perlahan.


"Anak Papa. Terima kasih, Sayang. Anakku. Anakku sayang." Tahta mempererat pelukannya dan mengecup kepala dua bocah itu bergantian.


"Lebay." Satu kata yang acuh tak acuh itu kembali membuat tercengang semua orang. Mulut pria kecil itu memang sangat pedas.


"Kak Raja!"


"Aku cuma keceplosan, kenapa dia sampai menangis, seperti anak kecil saja. Bahkan kau saja tidak menangis saat dimarahi Mama."


"Ah, mulutmu itu memang tidak ada saringannya. Sepertinya memang dulu kakak melewatkan pembagian hati nurani."


Laras menatap penuh haru dengan pemandangan tersebut. Sekilas itu seperti potret keluarga bahagia. Seorang ayah yang menggendong kedua anaknya, dan ibu yang tengah mengekori ketiganya dengan canda tawa. Pagi ini cuaca cukup dingin, tapi hati mereka menghangat.


"Kau jadi pulang hari ini, Nak?"


Cinta yang tengah sibuk menyuapkan nasi pada putranya menoleh saat merasa pertanyaan Laras tertuju padanya. "Jadi Tante. Sudah cukup lama Cinta meninggalkan perkebunan. Beberapa bunga juga harus segera Cinta panen."


Tahta yang sebelumnya fokus menyuapi sang putri, kini menghentikan aktivitasnya. Netra pria itu terangkat lurus menatap mantan istrinya dengan penuh penyesalan. Hatinya terasa tercubit mendengar wanitanya itu harus bekerja di bawah terik matahari demi menghidupi kedua anaknya.


Menyadari kegundahan putranya, Laras memberanikan diri untuk bertanya, "Bolehkah kami ikut mengantarkan kalian pulang?"


Cinta sedikit terkejut mendengar permintaan Laras, namun segera dia menguasai dirinya kembali.


"Apa tidak menggangu waktu Tante? Tahta juga pasti sangat sibuk dengan hotelnya yang baru dibuka."

__ADS_1


"Tidak."


Semua atensi terarah pada Tahta yang tiba-tiba menyahuti pertanyaan Cinta dengan cepat tanpa keraguan sedikitpun.


"Aku–aku bisa bekerja dari mana saja."


Cinta mencebikkan bibirnya mendengar penuturan Tahta. "Kau atau Reza yang bekerja?"


Pertanyaan itu lebih terdengar seperti ejekan di pendengaran Tahta. Namun hal itu tak ayal melah membuat bunga di hatinya bermekaran. Dia bisa kembali melihat berbagai ekspresi di wajah ayu itu. Dia tidak lagi melihat wajah datar, kaku, dan penuh formalitas saat bercakap dengannya.


"Aku memang menggajinya untuk bekerja."


"Bilang saja malas kerja. Dasar pemalas," celetuk raja yang sedari tadi memilih untuk menyendok makanannya sendiri.


"Ayah jangan malas, nanti ayah tidak punya uang. Kata mama kita harus rajin bekerja agar bisa membeli mainan dan jalan-jalan." Kini suara cempreng Ratu turut memenuhi ruang makan tersebut.


Tahta menatap penuh kasih pada anak perempuan yang tengah duduk di paha kirinya itu. Dia mengelus lembut rambut berkilau gadis kecil tersebut dengan senyum tipis tersungging di bibirnya.


"Ayah akan bekerja keras untuk kalian, kalian tidak perlu bekerja. Kalian hanya harus selalu tersenyum dan bahagia. Itu sudah cukup untuk ayah bisa menghasilkan banyak uang. Kalian bisa beli apapun yang kalian inginkan, kita bisa jalan-jalan kemanapun. Hmm?"


Tatapan Cinta begitu dalam membidik mantan suaminya. Hatinya cukup tersentuh dengan kata-kata yang terlontar dari mulut pria di hadapannya itu. Jika saja masa lalu mereka tidak begitu buruk, mungkin sekarang dia sudah berlari memeluk tubuh kekar itu. Namun, sekali lagi dia harus menekan perasaan yang kembali beriak di dalam hatinya.


"Huh! nggak ada buktinya." Suara ketus dari mulut mungil itu kembali memecah suasana haru tersebut.


"Raja ...." Cinta tak tahan untuk 'tak menegur mulut anaknya yang semakin lama semakin pedas itu.


"Selama ini yang bekerja untuk kita cuma Mama aja, kan."


"Kak Raja, kata Mama kan kita memang harus ngumpet dulu dari orang jahat. Papa kan harus menghukum orang jahat dulu baru bisa ketemu kita. Kalau nggak dihukum nanti orang jahatnya gangguin kita." Ratu dengan polosnya berusaha membela sang ayah.


Netra Laras sudah berkaca menyimak pembicaraan orang-orang terkasih di hadapannya itu. Ada rasa penyesalan bercampur haru memenuhi rongga dadanya. Jika saja saat itu dia tidak melepaskan menantunya itu begitu saja. Jika saja putranya itu tidak bersikap bod*h. Jika saja Cinta mau bertahan dan melawan dengan semua ketidakadilan yang dia terima. Jika saja kata jika tidak terucap hari ini, mungkin cucu-cucunya itu tidak perlu melewati rasa sakit dan kekecewaan mereka saat ini.


"Maafkan ayah, Sayang. Maaf. Maaf. Maaf." Tahta membawa gadis kecil itu ke dalam pelukannya. Mendekap erat tubuh mungil itu dengan wajah yang disembunyikan diantara rambut dan telinganya. Air matanya pun kembali lolos. Dia menjadi sosok yang begitu rapuh dan cengeng jika berhadapan dengan ketiga orang yang dulu pernah disia-siakannya itu.

__ADS_1


Bersambung....



__ADS_2