[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
'Itu' Yang Mengesankan


__ADS_3

Benar saja, sepulang Bella dari rumah sakit, orangtuanya sudah bersiap menyambutnya di ruang tamu. Mereka berdua memasang tampang serius dan menatap tajam putrinya yang tengah berdiri dengan santai di hadapan mereka.


"Jelaskan pada papa," perintah Tuan Azam Almer pada putrinya.


"Apa yang harus aku jelaskan? Bukankah Papa sudah tahu segalanya?"


"Dasar anak tidak tahu diri! Bagaimana kalau sampai media tahu, putri tunggal keluarga Almer hamil di luar nikah? Mau ditaruh di mana muka papa?!" bentak Azam dengan penuh emosi.


"Apa anak Mahardika itu mau bertanggungjawab?" timpal mama Bella, Nyonya Maya.


Bella memutar bola matanya kesal mendengar pertanyaan-pertanyaan yang terdengar bodoh baginya itu. Dia menatap kedua orangtuanya secara bergantian dengan ekspresi datar. Membuat keduanya menatap bingung pada putrinya itu.


"Tentu saja dia harus bertanggungjawab, mau ataupun tidak mau. Benar bukan?"


"Tentu saja! Ayo segera ke rumah mereka. Papa tidak mau sampai media mendengar hal ini sebelum kalian resmi menikah," ujar Azam sembari meraih tangan putrinya dan setengah menyeretnya keluar rumah. Maya mengikuti keduanya dari belakang. Tampangnya pun tak kalah tegang dari Azam. Dia tidak mau menjadi bahan olokan rekan sosialitanya jika sampai kabar kehamilan Bella menyebar.


Mobil mewah yang ditumpangi oleh keluarga Almer melaju kencang membelah malam di jalanan kota yang padat. Tidak berselang lama, mobil itu sampai di sebuah rumah mewah yang berada di tengah komplek perumahan elit kota Kuala Lumpur. Azam melangkah dengan pasti menuju pintu besar rumah tersebut.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Bi Sumi yang bergegas membukakan pintu saat bel berbunyi. Bi Sumi sempat membeliak menatap Bella sembari mengatupkan kedua bibirnya.


"Di mana Tuan Zain? Saya ada perlu penting dengannya."


"A–ada di dalam, Tuan. Silahkan masuk." Bi Sumi segera memanggil tuannya setelah mempersilahkan tamu tak terduga itu masuk. Rasa penasaran menyelimuti wanita yang sudah berusia senja tersebut.


"Selamat malam, Pak Azam." Zain yang muncul dari balik dinding pemisah ruangan bersama Laras segera menyapa tamunya.


Atmosfer di ruangan itu seketika berubah menjadi sedingin musim salju di Korea. Dua keluarga itu saling bersitatap. Napas Azam yang memburu karena sudah tidak sabar meminta pertanggungjawaban untuk putrinya dan Zain yang terlihat dingin tanpa ekspresi.


Laras memilih memalingkan muka. Enggan untuk menatap kedua wanita di hadapannya itu. Dia tahu betul reputasi Nyonya Almer yang suka menghamburkan uang dan tidak mengurus keluarga. Apalagi kepiawaiannya dalam menggunjing adalah rahasia umum dikalangan sosialita.


"Saya kira Anda sudah pasti tahu tujuan saya ke mari," ujar Azam setelah Zain duduk berseberangan dengannya.


"Apakah ini masalah putri Anda dan putra saya? Itu bukan masalah besar," jawab Zain dengan entengnya.


Azam dan Maya membeliakan mata menatap Zain. "Apa maksud Anda? Bagaimana bisa saya menganggap ini masalah kecil saat saya tahu putra Anda sudah menikah. Saya tidak sudi putri saya dijadikan istri kedua," geram Azam dengan sedikit meninggikan intonasi suaranya.


Laras mengembuskan napas berat. Dia masih bersikap tak acuh dengan pembicaraan mereka. Laras tidak peduli dan tidak mau tahu lagi.


"Anda tidak perlu emosi. Tidak akan ada yang menjadi istri kedua. Putra saya sudah resmi bercerai dengan istrinya. Jadi pernikahan antara putri Anda dan Tahta akan terjadi secepatnya, tapi dengan satu syarat."

__ADS_1


Azam mengerutkan dahi. Dia sudah sering mendengar dari rekan bisnisnya, bahwa pria yang dia hadapi saat ini adalah pria licik dengan topeng emas. Tidak disangka sekarang dia juga harus menghadapi kelicikan itu.


"Apa yang Anda inginkan?"


"Yah, ini tidak akan merugikan Anda. Anda hanya perlu memberikan suara dan dukungan Anda pada pemilihan kursi calon perdana menteri. Bukankah Anda berhubungan dekat dengan orang-orang partai? Meskipun sebenarnya tanpa dukungan Anda saya yakin saya bisa menjadi salah satu calon, tapi bukankah lebih banyak sekutu akan lebih menguntungkan," ujar Zain dengan mengangkat dagunya penuh percaya diri.


Azam menatap lekat lawan bicaranya. Itu bukan hal sulit untuknya. Ada lebih banyak keuntungan dengan pernikahan putrinya. Keluarga Mahardika berada dia tingkat di atas keluarganya. Saham perusahaannya bisa meningkat, hanya dengan dia memiliki hubungan dekat dengan keluarga berpengaruh ini.


"Baiklah. Itu bukan hal yang sulit untuk saya," ujar Azam diiringi senyum puas dari putrinya yang berada di ujung kursi.


...----------------...


Cinta masih terduduk lemas di kursi ruang tengah. Nana mengulurkan segelas teh hangat pada kakaknya. Gadis itu menggigit kecil ujung bibir bawahnya, menatap nanar Cinta yang masih pucat pasi.


"Ayo ke dokter aja, Kak. Masak masuk angin dari kemarin nggak sembuh-sembuh?" ucap Nana mencoba membujuk kakaknya.


"Selamat pagi," sapa seorang pria yang baru saja membuka pintu kayu berwarna putih dan melangkah masuk ke ruang tengah.


"Ada apa ini?" tanyanya saat melihat Nana duduk di samping Cinta yang tengah bersandar pada kursi.


"Kak Cinta sakit, Kak Rud."


"Nggak panas," ujar Rudi menatap bingung adik temannya.


"Cuma masuk angin ini, Rud. Mungkin karena aku belum bisa beradaptasi dengan cuaca di sini," ujar Cinta dengan lemah.


"Kamu yakin?" tanya Rudi memegang tangan Cinta untuk memastikan suhu tubuhnya.


Wanita itu mengangguk perlahan sembari tersenyum manis pada teman kecilnya itu. Senyum yang berhasil membuat Rudi salah tingkah dan mengulum senyumnya.


"Atau ... kau mau aku peluk biar hangat," goda Rudi sembari menaik turunkan alisnya.


"Apa'an, sih. Garing banget." Wajah Cinta bersemu merah dengan bibirnya yang terus saja tertarik ke samping tanpa bisa dia kendalikan.


"Ehm! Ehm!"


Dua orang yang sama-sama sedang salah tingkah itu langsung menoleh saat mendengar suara batuk yang jelas dibuat-buat. Mereka mengatupkan bibir dengan ujung mata melirik ke arah Nana.


"Aku masih di bawah umur, yaa. Tolong jaga gombalannya," ujar Nana dengan nada sinisnya.

__ADS_1


"Halahhh, di bawah umur tapi tontonannya drama Korea yang isinya cip*kan semua." Cinta memutar bola mata dan memajukan bibir bawahnya. Dia paham betul penikmat drama Korea tidak sepolos itu.


"Eh, jangan salah, ya. Nana itu menikmati alur ceritanya."


"Tapi juga itunya, iya kan?"


"Enggak! Itunya cuma sedikit. Hitung aja episodenya berapa dan itunya cuma berapa detik."


"Tapi berkesan kan?"


"Ti–"


"Jadi drama Korea banyak itunya?" sela Rudi yang menatap bingung kedua wanita di hadapannya tersebut.


"Tidak!" jawab keduanya serempak sembari membelalakkan mata.


Rudi kembali menatap keduanya secara bergantian. Kali ini kebingungannya bertambah. Sebelumnya kedua wanita itu saling beradu argumen seolah tidak ada yang salah, tapi tiba-tiba saja mereka menjadi kompak. Wajah keduanya pun terlihat merona merah.


Rudi mengalihkan pandangannya pada Cinta. Menatapnya lekat seolah tengah menganalisa wanita itu. Cinta memalingkan muka dan menunduk menghindari tatapan mata Rudi yang begitu teduh. Pria itu tersenyum kecil saat melihat telinga Cinta juga turut memerah. Dia mencondongkan wajahnya ke arah Cinta.


"Jadi ... berapa detik yang bisa membuat berkesan?" bisik Rudi tepat di samping telinga Cinta yang membuat gadis itu bergidik dan bulu halus ditubuhnya meremang.


"Dah lah pergi aja. Cuma jadi obat nyamuk Nana," protes Nana dan beranjak meninggalkan dua orang yang tengah beradu pandang tersebut.


Nana berjalan keluar rumah. Namun tiba-tiba dia kembali membuka pintu dan berseru, "Kak Rud, kalo suka bilang, jangan main kode-kodean."


"Nana!" pekik Cinta, namun adiknya itu sudah berlalu pergi dengan langkah seribu.



...Bersambung ........


...****************...


Halo, kakak-kakak....


Simi masih setia bersama kalian. Aa Rud gombalannya garing banget, yaa. Please deh training itu Aa Rud biar pinter ngegombal.


Oh, iyaa kemarin ada yang DM ke simi minta di kasih bocoran dikit tentang novel baru. Jadi itu ceritanya tentang seorang artis yang penuh kontroversi, Gaes. Dia jatuh cinta sama cowok yang tidak percaya dan benci pada wanita nakal karena trauma masa kecilnya. Nanti aku kasih spoiler lagi, yaa kalo udah mendekati hari-H...

__ADS_1


Lope lope sekebon buat kalian, Kesayangan. Terima kasih banyak atas dukungannya. Jangan lupa tersenyum, yaa.


__ADS_2