[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
Tidak Punya Tempat Untuk Bersandar


__ADS_3

Cahaya matahari begitu menyengat hingga bisa membuat kulit serasa terbakar jika terlalu lama di bawahnya. Namun, bagi anak-anak di sebuah Sekolah Menengah, hal itu bukanlah suatu halangan untuk menjalankan aktivitasnya di luar ruangan. Mereka terlihat berlalu lalang di halaman sekolah tersebut. Ada yang sedang berolahraga, ada yang sedang membersihkan halaman, bahkan ada pula yang sedang di hukum untuk berlari memutari halaman luas itu. Anak-anak terlihat begitu riang dan menikmati pekerjaannya, tapi tidak dengan seorang guru yang sedang duduk sambil meletakkan kepala di atas meja.


"Cinta, sebaiknya kamu pulang dulu saja. Bahaya jika nanti semakin memburuk," saran teman sejawat Cinta.


Wanita berseragam dengan warna hitam yang duduk lemas itu menoleh. Wajahnya terlihat pucat pasi. Dia sempat memejamkan mata sejenak, karena kepalanya yang tiba-tiba berdenyut nyeri. Cinta tidak membuka mulutnya sedikitpun, tapi kepalanya mengangguk ringan.


"Ayo, aku antar kamu cari taksi. Sudah seperti ini juga, masih saja berangkat kerja. Kamu itu harus bisa menjaga diri, kalau kamu sakit kasihan kan adikmu," celoteh wanita dengan papan nama bertuliskan Wenda di dadanya.


Cinta memasuki taksi yang sebelumnya sudah Wenda pesan. Dia pergi meninggalkan mobilnya di sekolah. Penjaga sekolah pasti akan mengurusinya nanti, Cinta sudah tidak ada tenaga untuk mengemudikannya lagi. Bahkan karena rasa sakit di kepalanya, pagi tadi dia hampir menabrak pagar sekolah. Sungguh tidak baik mengendarainya dalam keadaan kurang fit.


Taksi tersebut melaju sesuai alamat yang Cinta berikan. Sepanjang perjalanan, wanita berambut panjang itu tidak membuka matanya sama sekali. Hingga akhirnya taksi berhenti di sebuah rumah besar di tengah komplek perumahan elit.


"Nona Cinta?" ucap Bi Sumi, saat membukakan pintu rumah. Wanita berumur itu sedikit terkejut melihat kondisi cinta yang pucat dan lemah.


"Non Cinta, sakit?" Bi Sumi terlihat mulai khawatir, saat nona mudanya itu berjalan dengan tidak stabil masuk ke dalam rumah.


"Di mana ibu?"


"Nyonya sedang pergi, Non. Nyonya bilang akan menghadiri acara amal."


"Bi, saya mau nginap di sini sementara. Saya takut membuat Nana khawatir kalo pulang ke apartemen lama," pinta Cinta sambil merebahkan tubuh di atas sofa.


"Ba–baik, apa Non Cinta mau ke kamar Tuan Muda sekarang?"


"Di kamar tamu saja, Bi. Terlalu jauh kalau saya harus naik ke atas." Ya, Cinta tidak mau lagi menimbulkan masalah baru dengan menempati kamar itu. Sudah terlalu berat beban yang harus dia tanggung saat ini.

__ADS_1


Bi Sumi memapah Cinta masuk ke dalam kamar tamu. "Ya Alloh, Non. Badan Non Cinta panas sekali. Bibi telepon Nyonya, ya Non?" tawar Bi Sumi setelah Cinta berbaring di ranjang.


"Tidak usah, Bi. Tolong ambilkan air putih saja, saya hanya butuh istirahat sebentar," tolak Cinta yang kemudian memejamkan mata.


Bi sumi meninggalkan wanita yang dia kenal begitu ramah, sabar, dan penuh kasih tersebut. sorot mata wanita tua itu menunjukkan ketidak tegaannya untuk meninggalkan Cinta. Wanita yang tidak punya siapapun yang bisa dia gunakan sebagai pegangan. Hati Bi Sumi tergetar saat membayangkan Cinta merintih sendirian setiap kali rasa sakit itu menyergap tubuhnya.


Bi Sumi yang sedari tadi gelisah menunggu kepulangan nyonya rumahnya tersebut, akhirnya bisa sedikit lega melihat kemunculan wanita berambut pendek menenteng tas dengan merk Gucci.


"Nyonya," sapa Bi Sumi sembari menghampiri Laras dengan tergesa.


"Ada apa, Bi?


"Nona Cinta ada di sini."


Laras menautkan kedua alisnya. "Tumben malam-malam dia ke sini. Saya tidak ada janjian apa-apa dengannya."


Segera Laras menghampiri menantu satu-satunya tersebut. Betapa terkejutnya Laras saat memegang dahi Cinta yang sedang tertidur. Demam tinggi, itulah yang terjadi.


"Bi, cepat ambilkan kompres dan panggilkan dokter juga."


Cinta yang samar-samar mendengar suara keributan, mengerjapkan mata beberapa kali. "Ibu," ucapnya lemah.


"Oh, Nak. Apa kau terganggu, tidurlah lagi. Dokter akan segera sampai ke sini," ucap Laras sembari mengganti kompres di kepala Cinta.


"Maaf sudah merepotkan, Ibu."

__ADS_1


"Tidak. Aku yang seharusnya minta maaf karena sudah membuatmu berada di posisi seperti ini." Laras dengan telaten merawat Cinta.


Jam terus berputar dan hari pun ikut berganti. Sudah dua malam ini Cinta terbaring lemah di ranjang kamar tamu keluarga Mahardika. Kondisinya sudah berangsur membaik, setidaknya makanan yang masuk ke dalam perutnya tidak dia muntahkan lagi. Namun, demam wanita yang tetap terlihat cantik meskipun tanpa riasan itu tidak kunjung turun. Begitu pula Laras, sudah dua hari ini dia berada di kamar tersebut saat Zain sudah meninggalkan rumah. Dia tidak meninggalkan cinta barang sejenak. Laras benar-benar sudah menganggapnya seperti anak perempuan sendiri.


Malam ini dia sibuk mengompres Cinta yang sudah terlelap karena pengaruh obat yang baru saja diminumkan. Laras menatap sendu sesosok wanita yang sedang terbaring tak berdaya itu, tapi tiba-tiba saja pintu dibuka dengan sedikit kasar. Hal itu tentu saja membuatnya reflek menoleh ke arah sumber suara.


"Tahta?" gumamnya menatap pria yang berdiri mematung di depan pintu.


"Untuk apa kau ke mari?" tanya Laras mengalihkan pandangan dan kembali menetralkan ekspresinya.


Pria yang terlihat sedikit berantakan tersebut tidak menjawab. Namun, manik mata Tahta tertuju ke arah Cinta yang terbaring. Dia melangkah ragu mendekat ke arah kedua wanita yang ada di hadapannya. Seperti ada sesuatu di dalam hatinya yang menariknya untuk terus mendekat, sampai akhirnya tubuh kekar Tahta berdiri membeku di samping ranjang.


"Dia ... dia kenapa?


"Apa selain otakmu yang tidak bisa berfungsi dengan normal, matamu juga?" ketus Laras.


Tahta tidak menanggapi kesarkasan ibunya. Dia masih fokus pada Cinta yang terlihat gelisah dalam tidurnya. Wanita yang dulu pernah menjadi salah satu orang terdekatnya. Wanita yang beberapa hari lalu juga menjadi orang yang paling menyebalkan dalam hidupnya. Kini terbaring tanpa daya, bahkan jika dia mencaci seperti sebelumnya.


"Pergilah saja. Tidak ada gunanya kau di sini, atau mungkin kau sedang tertawa dalan hati melihat istrimu seperti ini."


Tahta membuka lebar matanya mendengar kata istri yang diucapkan Laras. Kata itu terdengar begitu aneh, namun juga membuat hatinya berdebar. Mulut pria itu sedikit terbuka, hendak menjawab ucapan Laras.


"Nyonya, Tuan sudah pulang," panggil Bi Sumi tiba-tiba, yang berhasil membuat mulut Tahta kembali terkatup.


Laras bergegas pergi untuk menyambut kepulangan suaminya. Walaupun hubungan mereka tak seharmonis yang terlihat di media, setidaknya dia harus menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri, meski tidak sekalipun dihargai. Laras melenggang meninggalkan Tahta yang masih berdiri diam di tempatnya.

__ADS_1


...Bersambung .......


__ADS_2