[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
Tanggungjawab Kekasih


__ADS_3

Seorang wanita seksi dengan dress cantik melangkah pasti di sebuah koridor rumah sakit. Beberapa orang yang lalu lalang, atau hanya sekedar mencari udara segar mengarahkan pandangannya pada wanita yang memang terlihat mencolok tersebut. Namun, ekspresi orang yang mereka pandangi tetap datar.


Wanita itu masuk begitu saja ke dalam ruangan Wakil Direktur Pelayanan Medik. Tentu saja tidak ada yang berani menghentikan Bella melakukan hal tersebut, petugas rumah sakit pun hanya bisa menatapnya penuh tanya. Dia adalah putri salah satu investor utama dan juga rekanan dari tempat tersebut.


Pria yang tengah sibuk membolak-balik berkasnya dibuat terkejut saat pintu berwarna putih di hadapannya itu tiba-tiba terbuka. Matanya yang berlapis kacamata putih berbentuk bulat itu menatap menyelidik ke arah wanita yang tengah berjalan mendekatinya.


"Ada apa, Bebi?"


"Apa kau begitu sibuk hingga tak ada waktu untuk menemuiku?"


Bimo mengangkat kedua alisnya tatkala mendengar suara Bella yang sedikit meninggi. Dia bangkit, meninggalkan kertas putih itu, dan menghampiri kekasihnya yang sudah berdiri dengan bersedekap tangan di depan mejanya. Kekesalan terpancar jelas dari wajah Bella.


"Bebi ... kau lihat sendiri pekerjaanku begitu menumpuk. Bukankah kau juga sendiri yang bilang kalau wanita tua itu sedang memata-matai kita?" ucap Bimo sembari menarik pinggang Bella menempelkan pada tubuhnya.


Bella tersipu saat pria itu mulai mengecup lembut leher jenjangnya. Dia memejamkan mata saat rasa geli yang menggelitik tapi menyenangkan itu menjalar. Melupakan amarah yang coba dia utarakan.


"Katakan ada apa? Apa kau begitu merindukanku?" tanya Bimo dengan lembut tepat di sisi telinganya.


Aroma maskulin pria itu membangkitkan sel-sel yang tertidur. Embusan napas Bimo yang perlahan menyapu salah satu area sensitif bagian tubuhnya, membuat Bella menginginkan lebih dari itu. Hanya dengan beberapa menit pertemuan dan beberapa kali sentuhan. Mereka mendamba. Saling bertaut satu dan lainnya. Namun, tiba-tiba Bella memalingkan muka saat Bimo akan memperdalam ciumannya.


"Ada apa, Bebi?" tanya Bimo dengan sorot mata yang sudah dipenuhi oleh hasrat.


"Ada hal penting yang harus aku sampaikan."


Bimo menautkan kedua alisnya saat air muka Bella menampakkan keseriusan. Apa dia akan menuntut untuk dinikahi lagi, pikir Bimo. Dia tidak bisa membiarkan rencana yang sudah dibuat matang-matang gagal begitu saja. Untuk saat ini Bella adalah satu-satunya orang yang bisa membantunya membalas kekejaman keluarga Mahardika pada orangtuanya.


"Ada apa, Bebi .... Apa yang sudah membuatmu terlihat begitu tertekan," tanya Bimo sembari membelai lembut pipi Bella.


Bella mengarahkan pandangan tajam dan tegas pada kekasihnya. "Aku hamil."


Deg!


Bimo terkesiap. Tangannya membeku di udara. Mata yang sudah membulat sempurna itu bergetar menatap lekat Bella. Bibir yang sedari tertarik ke samping perlahan mulai mengerut. Senyum manisnya pun perlahan memudar.


Bimo mengepalkan tangan dan menjatuhkannya. "Berapa lama?"


"Sembilan minggu. Aku memiliki periode yang berantakan, jadi aku menyadarinya setelah dua bulan. Jadi aku tidak mau menunda lag–"


"Tidak bisa!" tegas Bimo memotong ucapan Bella.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" Bella menatap nyalak ke pada Bimo yang sekarang terlihat gugup.


"Kau mau mempermainkanku? Apa kau lupa bisa berada di sini karena siapa? Apa kau lupa bisa mendapatkan jabatan ini juga karena siapa?"


"Bu–bukan begitu, Bebi. Dengarkan penjelasanku dulu. Bukankah sudah tujuh tahun kita bersama. Apa aku pernah meninggalkanmu atau berpaling darimu?" ujar Bimo menarik Bella dalam dekapannya. Bella menggeleng dengan ujung mata yang sudah berair.


Bimo meraih pipi Bella dengan kedua tangannya. Mata mereka saling bertemu. "Kau tahu ayahku juga sangat menyukaimu. Ibuku bahkan sudah menganggapmu seperti putrinya sendiri. Mana mungkin aku mengecewakan mereka. Tapi aku harus membalaskan kematian mereka. Aku tidak mau keluarga itu hidup tenang. Bisakah kau membantuku sedikit lagi?"


Bella terdiam sejenak menatap sendu kekasihnya. Bibirnya bergetar seakan hendak berucap namun berat. Pada akhirnya dia hanya mengangguk perlahan dengan pasrah.


"Aku mencintaimu. Kita akan merawat dan membesarkan anak-anak kita nanti, setelah semua rencana kita selesai." Kecupan lembut mendarat di kening Bella.


Wanita dengan mata sembab itu berjalan lunglai ke arah mobilnya. Hatinya berdenyut nyeri. Sedih, kecewa, takut, semua bercampur dengan air mata yang luluh tak tertahan. Tangisnya pecah seiring dengan deru mesin mobil yang melaju kencang menyusuri jalanan kota.


Aku sudah menganggap keluarga Bimo seperti keluargaku sendiri. Aku merasakan kehangatan dan kasih sayang orangtua dari mereka, dan ... aku juga tidak mau mereka pergi dengan cara tidak adil seperti ini, tapi ... bagaimana dengan anakku?


Malam semakin dingin. Lampu tamaram, langit berselimut mendung, dan gemericik air langit menemani kegundahan Bella. Wanita itu menghentikan mobilnya di sudut taman. Mengeluarkan benda pipih dari tasnya dan menekan tombol hijau di bagian bawah.


...----------------...


Tahta hari ini terlihat sibuk mengitari istrinya yang sedang menyiapkan makan malam seperti biasa. Namun kali ini ada yang berbeda. Dia memasang ekspresi datar. Tidak ada secuil senyum pun semenjak suaminya itu menginjakkan kaki ke dalam rumah.


Cinta masih diam seribu bahasa, enggan untuk membuka mulutnya sedikitpun. Bahkan rasanya ingin sekali dia menonjok dan menyiram orang yang ada disampingnya ini dengan kuah sayur.


Di tengah kebingungan dan kebisuan pasangan muda itu, suara ponsel yang tergeletak di atas meja makan menarik perhatian keduanya. Tahta segera menghampiri benda pipih berwarna hitam itu. Sebuah panggilan masuk dan membuatnya melirik ragu ke arah Cinta yang tengah mantapnya sinis.


"Aku akan mengangkat telepon sebentar," pamitnya sembari tersenyum simpul dan melenggang pergi.


"Halo," ucap Tahta dan tiba-tiba menautkan kedua alisnya saat mendengar suara isakan tangis dari seberang telepon.


"Bella? Apa yang terjadi?"


"Aku ... aku ...." Bella terus terisak dan menggantung kalimatnya.


"Di mana kau sekarang? Aku akan ke sana. Tunggu aku." Tahta menutup sambungan teleponnya


"Cinta, aku ada urusan sebentar. Aku akan kembali secepatnya," pamit Tahta dan bergegas pergi meninggalkan Cinta yang masih sibuk dengan hidangannya.


Tahta melajukan sedan kelas atas berwarna hitam itu dengan kecepatan tinggi. Menyusuri jalanan kota yang sedikit licin karena guyuran hujan yang baru saja berhenti. Pikirannya berkelana tatkala mengingat isakan tangis wanita yang sampai detik ini masih berstatus sebagai kekasihnya tersebut. Dia ingin segera sampai ke lokasi yang dikirimkan oleh Bella.

__ADS_1


Tok–tok–tok!


Bella menoleh saat mendengar suara ketukan di kaca mobilnya. Wanita itu membuka kunci dan berhambur ke dalam pelukan Tahta saat pria itu baru saja membuka pintu. Dia terisak dalam pelukan kekasih keduanya.


"Apa yang terjadi?" tanya Tahta sembari mengelus lembut rambut Bella.


"Aku ... aku hamil." Bella mengulurkan benda pipih panjang dengan dua garis merah yang sedari tadi berada dalam genggamannya.


Jedar!


Serasa petir tengah menggelegar di dekatnya. Tahta terbelalak. Dia menjauhkan tubuh Bella dengan kedua tangannya dan menatap intens. Manik matanya menyoroti sepasang netra yang sudah sangat sembab tersebut.


"Hamil?" Tahta mengulang ucapan Bella seolah belum percaya.


"Anakku?"


Cinta dengan cepat mengangkat wajah dan membulatkan matanya ke arah Tahta saat mendengar pertanyaan itu. Dia seolah terkejut.


"Tentu saja. Memangnya siapa kekasihku selama ini? Apa kau mau melupakan malam itu begitu saja?"


"****!" umpat Tahta mengarahkan tinjunya pada sandaran kursi.


"Apa maksudmu? Apa kau tidak suka dengan kehadiran anak kita? Apa kau mau membunuhnya?"


"Bu–bukan seperti itu, Bella. Kau tahu sendiri statusku sekarang sudah beristri."


"Bukankah kau sudah berjanji padaku akan menceritakan wanita itu? Apa sekarang kau mau mengkhianatiku? Aku benci kamu Tahta, aku benci, benci!" pekik Bella sambil meninju dada bidang Tahta sekuat tenaga seolah tengah menumpahkan kekecewaannya.


"Bukan begitu, Bella. Hentikan, jangan seperti ini. Kau sedang hamil." Tahta menangkap kedua tangan Bella dan menariknya ke dalam pelukan.


"Aku akan mencari jalan keluar, aku berjanji," ujar pria itu mencoba menenangkan kekasihnya yang tanpa dia tahu, dia telah masuk ke dalam perangkap permainan wanita itu.


Sepertinya bakat akting ayah dan ibuku menurun padaku. Aku tidak menyangka akan mendapatkan kesempatan emas ini. Aku akan punya kesempatan semakin dekat padanya dan mengambil data-data itu, dan jika aku tidak mendapatkan Bimo, setidaknya masih ada Tahta di sisiku, batin Bella dengan senyum liciknya mendengar jawaban Tahta. Dia mengeratkan pelukannya dengan air mata buaya yang masih mengalir.


Awalnya memang wanita itu tidak berniat untuk menjadikan Tahta sebagai kambing hitam atas kehamilannya. Dia hanya sedang kalut dan butuh teman, tapi sepertinya nasib baik sedang berpihak padanya. Tanpa rencana jalan sudah terbuka di hadapannya.


...Bersambung .......


...****************...

__ADS_1


__ADS_2