[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
Mengancamnya


__ADS_3

Hari masih terlalu dini saat Laras masuk ke dalam sebuah ruang kerja dengan cahaya yang tidak begitu terang. Suaminya sudah duduk nyaman di kursi kebesaran miliknya. Ya, pria yang berusia hampir enam puluh lima tahun itu sangat terobsesi dengan pekerjaan. Dia bahkan bisa mengorbankan seluruh waktunya hanya untuk bekerja dan bekerja. Bagi Zain uang adalah segalanya dan jabatan adalah mahkota yang dibanggakannya.


Laras dengan perlahan dan sedikit ragu mendekat ke arah Zain, pria yang sedang fokus pada tumpukan kertas. Wanita yang biasanya memiliki tatapan dingin dan aura mendominasi itu seolah menjadi tidak berdaya di hadapan Zain. Dia bahkan memainkan jari-jarinya untuk meredakan rasa gugup yang tiba-tiba menjalari tubuhnya.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Zain dengan nada dingin khas dirinya.


Bergegas Laras duduk di kursi yang berada tepat berada di hadapan suaminya. "Bagaimana pendapatmu tentang pernikahan Tahta?"


"Aku tidak peduli dengan hal-hal bodoh semacam itu. Kau urus saja sendiri," jawab Zain terlihat acuh.


"Heh! Ayah macam apa kau ini. Dia itu putramu, bukan sapi perah yang hanya bisa kau manfaatkan." Di pagi yang bahkan matahari masih mengintip itu, Laras sudah tersulut emosi.


Zain meletakkan bolpoin dan mengangkat kepala menatap istrinya. "Oh, Baby. Kenapa kau begitu bersemangat. Katakan saja apa yang kau mau?"


"Aku ingin kau membuat Tahta menikahi Cinta." Perkataan Laras kali ini berhasil membuat Zain sedikit tercengang.


"Memang kenapa? Bukankah kau selalu menuruti keinginan putramu itu? Kenapa kali ini kau tidak menurutinya saja?" tanya Zain sambil memijit pelipisnya.


Laras menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Kali ini dia meyakinkan diri dan memberikan tatapan tajamnya pada Zain.


"Aku tidak ingin putraku mengalami nasib buruk sepertiku," ucap Laras yakin.


Zain memicingkan sebelah matanya mendengar jawaban Laras. Sebuah kalimat yang membuat pria bertubuh tinggi tegap itu merasa tersindir.


"Nasib buruk seperti apa yang kau maksud, Istriku tercinta?" tanya Zain yang terkesan mengerikan.

__ADS_1


"Heh! Kau pasti lebih tau, Zain. Jika kau masih ingin aku berada di pihakmu, bantu aku membuat anak itu menikahi Cinta. Anggap saja ini permintaan terakhirku."


Laras berucap dengan penuh rasa getir. Dia menelan salivanya seolah sedang menelan pil pahit yang begitu menyiksa. Rasa nyeri tiba-tiba menghujam jantungnya. Ya, banyak rasa sakit yang tertahan di hati wanita paruh baya itu.


"Bukankah kau tahu aku akan membuat Tahta menjadi Dewan Rakyat Malaysia setelah aku menjabat sebagai Perdana Menteri. Putri keluarga Almar adalah calon yang cocok. Pengaruh keluarganya bisa mendongkrak suara untuk pemilihan nanti. Lima tahun lagi, dan kita harus memulainya dari sekarang."


Laras mengepalkan tangannya erat mendengar penjelasan Zain. Pria itu masih berambisi dengan jabatan di pemerintahan. Sepertinya menjabat sebagai seorang CEO saja belum cukup untuknya. Wanita itu sudah mulai meradang dan ingin sekali meneriaki suami yang tidak tahu diri tersebut. Namun, dia masih mencoba bersikap waras. Laras menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata dan mencoba menetralkan kembali emosinya.


"Aku sudah bilang aku tidak akan lagi membantumu jika kau tidak membantuku kali ini. Aku akan mengumumkan bahwa seorang pria terpandang dan berhati mulia ini sudah memiliki seorang anak dari hubungan gelapnya dan bahkan membuangnya. Ingat, Zain putraku bukanlah sapi perahmu," gertak Laras dengan menahan emosi.


"Berani sekali kau mengancamku. Sudah bosan hidup kau rupanya, ya." Zain juga mulai terpancing emosi.


"Apa kau ingat janjimu pada Kakek Tama? Bukankah sebelum beliau meninggal kau berjanji untuk menjaga anak dan cucunya? Aku pikir kau tidak lupa siapa orang yang sudah menjadikanmu seperti ini." Laras masih terus mencoba membuat Zain menuruti permintaannya.


Cara itu sepertinya ampuh untuk membuat Zain diam tak berkutik. Matanya bergetar tatkala ingatan tentang masa muda melintas di kepalanya.


"Dasar berandal! Membuat repot orang saja kerjaanmu itu," hardik seorang polisi sambil memukul kepala Zain.


"Maafkan saya, Pak. Tolong lepaskan saya, saya berjanji tidak akan mencuri lagi. Saya mencuri roti itu karena saya belum makan seharian, Pak. Saya lapar, tolong lepaskan saya," pinta Zain dengan mengatupkan kedua tangannya.


"Enak saja lepaskan. Bawa orang tuamu ke sini dan bayar tebusan. Jika tidak, tidur saja kau di sana. Aku tidak peduli jika kau mati kedinginan."


Zain menatapnya dengan tatapan tajam dan penuh kebencian. Tangan kurusnya mengepal erat seolah siap untuk meninju petugas kepolisian yang sama sekali tidak peduli dengan semua ucapannya itu.


"Ada apa ini, Pak?" suara bariton dari arah belakang Zain itu membuat kedua orang tersebut menatap ke arahnya.

__ADS_1


"Pak Tama," ucap petugas polisi dengan sopan.


"Kenapa dengan anak ini?" tanya Pak Tama yang juga sedang mengurus putranya.


Putra Pak Tama yang berusia sama dengan Zain memang sangat terkenal dengan kebandelannya. Dia sering sekali berbuat ulah, hingga membuat orang tuanya harus berurusan dengan polisi berulang kali. Meskipun menjadi satu-satunya keturunan dari keluarga yang kaya dan sangat dihormati karena kebaikannya, tidak lantas membuatnya menjadi anak yang pandai dan baik pula. Putra Pak Tama bahkan sudah pernah tersandung kasus miras diusianya yang masih sangat muda.


"Dia mencuri, Pak. Memang anak-anak gelandangan ini sangat susah untuk dikendalikan," jelas polisi tersebut dengan tatapan remehnya.


"Apa orang tuamu tidak menjemputmu?" tanya Pak Tama dengan lembut pada Zain.


Pemuda itu mendongakkan kepalanya menatap sendu pria gagah yang berdiri di sampingnya. "Saya ... saya tidak punya orang tua, Pak."


Pak Tama terdiam. Tatapan lembutnya berubah menjadi sendu. Pemuda di hadapannya itu mengingatkan pada dirinya sendiri saat masih seusianya. Berjuang sendiri tanpa siapapun yang mendampingi. Bedanya dia memiliki banyak harta, sedang pria muda ini hanya punya tubuhnya yang kurus dan tak terawat.


"Saya akan menjadi penjamin untuk anak ini. Sekarang bebaskan dia," perintah Pak Tama yang membuat petugas polisi itu terbengong.


"Cepat buatkan surat pembebasannya, saya tidak punya banyak waktu. Anak saya sudah menunggu lama."


"Ba–baik, Pak." Polisi tersebut bergegas memproses pembebasan Zain.


Sejak hari itu Zain menjadi orang Pak Tama. Dia menjadi teman baik putra Pak Tama yang tidak lain adalah ayah dari Cinta dan Nana. Sejak saat itu pula Zain bertekad untuk menjadi orang sukses dengan bantuan Pak Tama. Dia tidak mau disepelekan lagi karena kemiskinannya. Zain berpikir dengan uang semuanya bisa dia dapatkan dengan mudah.


...Bersambung .......


...****************...

__ADS_1


Alhamdulillah di bab sebelumnya banyak like dan ada beberapa komentar. Insyaallah cerita ini akan tetap berlanjut jika kalian tidak segan-segan untuk memberikan like dan komentar kalian, Sayang.


See you again. Terima kasih banyak.


__ADS_2