[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
Luka atau Bahagia


__ADS_3

Cinta sedang melihat pantulan dirinya sendiri dari cermin besar di sebuah ruangan yang terlihat asing. Ruangan itu terlihat kosong. Hanya ada dua kursi dan sebuah cermin besar yang terlihat baru. Cinta kembali merapikan kebaya berwarna putih dan hijab dengan warna senada. Dia menatap langit-langit ruangan yang serba putih tersebut dengan tatapan nanar. Ingatan tentang kejadian tadi malam sekilas terlintas di benaknya.


Cinta sedang sibuk mencuci tangan di kamar mandi restoran. Dia sibuk memainkan jari-jarinya saat tiba-tiba seorang wanita muncul dan ikut berdiri di sampingnya. Cinta mengangkat kepalanya dan melirik wanita itu dari pantulan cermin besar di hadapannya.


"Bella?" gumamnya yang sedikit terkejut.


"Hai, Cinta? Nggak nyangka ya kita bisa sering kali bertemu secara kebetulan," ucap Bella sambil tersenyum miring.


Cinta menatap tajam Bella setelah mendengar celotehan penuh arti dari wanita berpakaian seksi tersebut. Tangannya yang masih basah terkepal erat di kedua sisi.


"Aku peringatkan kau, ya. Jangan pernah sakiti Tahta. Dia tidak pantas bersama wanita murahan sepertimu."


"Ck! Menyedihkan sekali kau ini, ya," ejek Bella dan melangkah maju mendekat ke arah Cinta.


"Bukankah kau melihatku juga hari itu? Akuilah kehebatanku dalam menaklukkan hati Tahta. Jiwa dan raganya sudah menjadi milikku sekarang. Dia tidak akan pernah percaya omongan yang keluar dari mulutmu itu, jadi ... berhentilah berharap." Bella menepuk bahu Cinta setelah selesai berbisik tepat di samping telinganya.


Wajah Cinta memerah. Rasanya jantung dan ubun-ubunnya sudah panas dan hampir meledak begitu saja. Andaikan dia kehilangan kontrol atas dirinya, mungkin saja kamar mandi itu sudah porak poranda saat itu juga.


"Kak Cinta?" Satu tepukan di bahunya berhasil menyadarkan Cinta dari lamunannya.


"Ada apa, Na?" tanya Cinta meraih tangan mulus adiknya.


"Apa Kakak sudah yakin dengan keputusan Kakak ini?" tanya Nana sembari duduk di samping Cinta.


Cinta tersenyum dan mengelus rambut adiknya dengan lembut. "Bukankah kau lebih mengenalku daripada siapapun. Aku tidak akan mungkin melakukan ini jika tidak yakin."

__ADS_1


Nana menarik satu sudut bibirnya ke kiri dengan malas mendengar jawaban Cinta. Rasanya sangat tidak rela jika harus melihat kakaknya menikah dengan cara seperti ini. Dia tahu Cinta sedang menjadikan kebahagiaan dan masa depannya sebagai pertaruhan. Namun, gadis yang sedang beranjak dewasa itu tidak bisa melakukan apapun.


"Ayo keluar, Tante Laras sudah menunggu kita di dalam masjid," ajak Nana dan menggandeng tangan kakaknya.


Mereka berjalan beriringan menuju aula masjid yang sudah dipersiapkan oleh Laras. Tidak ada banyak orang di tempat tersebut. Hanya ada seorang penghulu, dua orang saksi dan Laras. Lalu di mana pengantin prianya?


Dia, si putra sulung keluarga Wijaya masih dalam perjalanan. Raut wajahnya menunjukkan ekspresi bingung bercampur penasaran. Setelah sekian tahun, baru kali ini Zain mau menjemput dan berangkat kerja satu mobil dengannya.


"Bukankah jalannya kelewat, Yah?" tanya Tahta saat sopir Zain tidak berbelok di persimpangan jalan.


Tidak ada jawaban apapun yang dia dapatkan selain mobil yang semakin kencang melesat membelah keramaian kota. Tahta hanya terdiam sambil sesekali ujung matanya melirik Zain yang terlihat tenang tanpa ekspresi.


"Kita sudah sampai. Turunlah," perintah Zain saat mobil itu berhenti tepat di depan pintu masjid agung.


"Ayah tobat? Apa kita mau sholat Dhuha?"


Suara derap langkah kaki itu tiba-tiba saja terhenti di ambang pintu bersamaan dengan menolehnya orang-orang yang ada di dalam. Pandangan Tahta seketika tertuju pada sesosok wanita yang sudah duduk bersimpuh dengan kebaya pengantinnya. Jantungnya seolah lupa untuk berdetak beberapa saat, hingga pria itu mengedipkan matanya untuk memastikan.


"Cinta?" ucapnya saat sudah yakin wanita yang mengenakan jilbab itu adalah Cinta.


"Apa-apaan ini?" Tahta menatap Zain menuntut jawaban dari pria yang sudah membawanya ke sana.


"Kalian akan menikah," jawab Zain dengan entengnya.


"Me–menikah? Tidak! Sampai kapanpun aku tidak akan mau menikahi Cinta! Aku tidak mencintainya, satu-satunya wanita yang aku cintai hanya Bella," seru Tahta sambil menatap tajam Cinta yang menahan tangisnya.

__ADS_1


Zain mendekati putranya, menoleh dan mencondongkan tubuh ke arahnya agar bisikannya bisa terdengar jelas.


"Kau adalah putraku, dan tugasmu adalah meneruskan apa yang sudah aku lakukan. Salah satunya adalah menjaga satu-satunya kelurga Kakek Tama. Kalau sampai kau tidak menikahinya hari ini, ingat saja apa yang bisa aku perbuat pada ibumu dan anak si*lan itu," ucap Zain diakhiri dengan menepuk pundak putranya.


Tahta membatu. Pandangannya kosong seolah jiwanya sedang berkelana. Tangan pria berusia dua puluh tujuh tahun itu terkepal erat hingga memperlihatkan urat-urat syarafnya. Pandangannya perlahan beralih pada Cinta yang masih duduk terdiam di depan penghulu. Wanita itu terlihat ketakutan untuk menatap mata Tahta yang menyeramkan.


"Bisa kita mulai?" tanya penghulu yang membuat menyelamatkan mereka dari ketegangan itu.


"Bi–bisa, Pak. Ayo suamiku, bawa putramu ke sini," pinta Laras yang sebenarnya juga tak kalah gugupnya dengan Cinta.


Tahta hanya bisa pasrah saat tangan ayahnya mendorong tubuh kekarnya untuk maju. Pria itu duduk di samping Cinta dengan tatapan kosong. Kilasan-kilasan tentang masa lalu sedikit demi sedikit bermunculan di kepalanya.


Wajahnya berkeringat dingin mengingat kejadian saat adik tirinya harus mendapatkan cambukan dan guyuran air dingin karena di anggap lalai menjaganya. Dia masih mengingat dengan jelas bagaimana Zain menghajar Gema adiknya hanya karena Tahta lupa membawa buku pelajarannya. Zain menganggap semua urusan Tahta adalah tanggung jawab Gema.


Mereka berdua tumbuh dengan menyaksikan dan mengalami segala kekerasan fisik maupun verbal. Menyaksikan ibu mereka yang setiap hari bertengkar dan menangis diam-diam, dan menyaksikan kejahatan-kejahatan kecil yang ayahnya lakukan. Tidak ada secuil pun kebahagiaan di rumah sebesar istana itu. Hingga akhirnya Tahta bertemu dengan sesosok wanita yang dapat mengalihkan kepedihannya. Wanita cantik dan terkenal berhati dewi itu membuatnya lupa untuk memikirkan rasa sakitnya. Perhatian Bella seolah sudah menjadi candu bagi Tahta yang haus akan kasih sayang.


"Sah ...."


Tiba-tiba kata yang berhasil menyadarkan Tahta itu terucap serentak dari orang-orang yang hadir di masjid itu. Dia bahkan tidak sadar kapan mengucapkan kalimat sakral yang di gadang-gadang akan diucapkan khusus untuk Bella tersebut.


Air mata Cinta mengalir menganak sungai saat saksi mengatakan bagiannya. Dia menoleh, menatap haru ke arah pria yang sudah resmi menjadi suaminya itu. Cinta meraih tangan Tahta, ini momen yang sangat dia tunggu-tunggu. Momen di mana dia bisa mencium tangan Tahta dengan patuh layaknya seorang pasangan. Namun, baru saja ujung jari Cinta menyentuh tangan kekar tersebut, Tahta sudah menghempasnya dengan kasar.


"Aku sudah melakukan permintaanmu, aku akan pergi sekarang," ucapnya pada Zain tanpa menatap ayahnya.


Cinta menangis pilu. Tidak ada yang bisa dia tuntut untuk saat ini. Dalam dekapan Laras wanita muda itu menangis tersedu hingga bahunya terguncang.

__ADS_1


...Bersambung .......


__ADS_2