[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
Serenade Rindu


__ADS_3

Wanita itu mencari posisi duduk ternyaman di belakang kemudi. Tidak lupa sebelum menginjak pedal gas, dia memoleskan kembali lipstik pada bibirnya yang sudah semerah darah. Baru saja wanita itu ingin menginjak pedal gas mobilnya, mata Cinta menangkap sesosok pria yang terlihat terburu masuk ke dalam mobilnya.


"Bukankah tadi mereka bilang dia sedang ada rapat penting?" gumam Cinta dengan tatapan sinisnya ke Tahta.


Tangan mungil Cinta dengan cepat meraih paper bag yang sudah dia siapkan sedari tadi. Wanita berambut panjang itu setengah berlari menuju mobil Tahta yang ada di ujung parkiran dekat dengan lift.


Tahta baru saja sampai di depan mobilnya saat wanita yang dihindarinya itu mendekat ke arahnya. Mata mereka bertemu. Tahta terdiam sejenak, terkejut dengan kehadiran Cinta yang begitu tiba-tiba.


"Sayang." Suara teriakan dari ponsel di dekat telinganya menyadarkan lamunan Tahta.


"Iya, Sayang. Maaf tadi ada kucing lewat, aku akan segera ke sana," ucap Tahta dan melenggang pergi begitu saja meninggalkan Cinta.


Cinta yang baru saja menghentikan langkahnya tepat di samping mobil Tahta tertegun mendengar ucapan Tahta. Desiran rasa sakit yang tiba-tiba menjalar di hatinya, membuat air mata meluncur begitu saja dari sudut netranya. Paper bag berwarna coklat itu jatuh terhempas saat tubuh Cinta serasa kehilangan kekuatannya. Mobil sedan berwarna hitam tersebut melaju meninggalkan Cinta yang masih diam membeku di tempatnya.


Tangan mungilnya terkepal erat. Desiran rasa sakit itu semakin terasa menyiksa batinnya. Dia memejamkan mata menghentikan aliran air mata yang sudah membasahi pipi mulusnya.


"Bukankah dia Cinta? Aku dengar dari Sena, dia ditolak sama Pak Tahta beberapa hari yang lalu, nggak tau malu, yaa."


Seorang karyawan yang juga berada di area parkir bersama dua rekannya asyik bergunjing sambil melirik Cinta yang terlihat menyedihkan.


Cinta menghapus bekas air mata di pipinya. Menarik napas panjang, mencoba menguatkan perasannya sendiri. Dia tidak ingin mendengar lagi cemoohan mereka yang menatapnya dengan jijik. Sudah cukup sulit baginya untuk menghadapi Tahta, tidak ada waktu untuknya meladeni ucapan kosong orang-orang di sekitarnya itu.

__ADS_1


"Hah ... sudah hancur ternyata," ucap Cinta saat membuka kotak kue dari dalam paper bag yang baru saja dia pungut.


Senyum miris tercetak jelas di wajah ayunya sambil menutup kotak kue tersebut dan berbalik pergi. Aku juga tidak berusaha merebutnya. Namun, memangnya salah kalau aku tetap berusaha menunjukkan rasa cintaku? Selama mereka blm terikat secara sah, aku hanya ingin Tahta tahu betapa berarti sosoknya selama ini untukku. Toh, aku hanya ingin memberi kue buatanku, kok untuknya. Kenapa aku selalu dicap pelakor? batin Cinta dengan air mata yang kembali menggenang.


...----------------...


Awan gelap menyelimuti seluruh kota Kuala Lumpur hari ini. Orang-orang yang baru saja turun dari mobil berjalan cepat bahkan sedikit berlari agar tidak terkena tetesan air hujan yang mulai menyapa. Cinta menatap dengan sendu setiap tetes air yang melewati kaca yang ada di sampingnya. Meskipun dia sedang berada di sebuah rumah makan yang cukup mewah dan ramai pengunjung, dia merasa sepi. Kesepian. Seolah dia sedang berada di padang rumput yang gelap dan tak ada seorangpun yang bisa menggenggam tangannya.


"Apa kau sudah lama menunggu?" sapa Laras sambil mengambil tempat duduk tepat di hadapan Cinta.


Cinta mengalihkan pandangannya ke arah Laras, dan tersenyum ramah pada wanita paruh baya tersebut. "Tidak begitu lama, Tante. Mungkin sekitar lima atau sepuluh menit."


Laras hanya mengangguk sambil berbalas senyum. Dia kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling restoran Eropa yang baru diresmikan beberapa bulan yang lalu itu. Kesan romantis dan mewah akan langsung terasa ketika memasuki restoran ini. Dengan dekorasi yang didominasi oleh sentuhan kayu, lampu-lampu redup, dan lantai keramik yang indah, restoran itu pasti bisa membuat pengunjung langsung jatuh cinta. Selain tempatnya yang memesona, mereka juga punya menu-menu masakan Italia yang lezat. Diantaranya ada Bakmie Truffle dan Porcini Coffee Rubbed Steak. Itu sebabnya Cinta memilih tempat tersebut untuk bertemu dengan Laras. Wanita paruh baya itu sangat menyukai masakan Eropa.


Cinta menggeleng. Netranya tertunduk sedih mengingat kejadian sore tadi. Sekelebat bayangan wajah Tahta dan eskpresi yang acuh kembali meruntuhkan ketegaran hati wanita itu.


"Kau meminta waktu dan Tante sudah memberikan waktu satu minggu untukmu. Tante tidak mau menunggu terlalu lama sampai kau bisa mendapatkan hatinya lagi, Cinta. Tante tidak mau hubungan mereka semakin dekat. Jadi, kali ini tolong bantu Tante," pinta Laras dengan penuh harap.


Cinta mengangkat kepala. Diam membisu menatap manik mata wanita yang berusia lebih dari setengah abad itu. Terlihat sebuah pengharapan dan ketulusan dari binar bening matanya. Rasanya sungguh tidak tega jika harus berkata tidak dan mengecewakan orang yang sudah dengan senang hati menolongnya.


Cinta mengangguk perlahan dengan pasrah. "Baiklah, Tante."

__ADS_1


Senyum cerah muncul di bibir Laras. Dia meraih tangan Cinta, menggenggamnya dengan penuh arti. Wanita itu seolah mendapatkan secercah cahaya dari kegelapan yang beberapa hari ini sudah menyelimutinya.


"Terima kasih, Nak. Aku tidak tahu lagi harus meminta bantuan pada siapa. Aku takut dan aku juga tidak ingin anakku memiliki nasib sepertiku. Dia anak yang baik, dan hanya kamulah wanita yang cocok untuknya."


"Tapi, Tante. Cinta tidak yakin Tahta akan mau melakukannya."


"Kau tidak perlu khawatir. Tante sudah berhasil mendapatkan tanda tangan persetujuan darinya untuk pengajuan berkas pernikahan," jawab Laras sambil mengeluarkan sebuah amplop coklat dari dalam tasnya.


Mata Cinta membulat sempurna bahkan seolah hampir melompat dari tempatnya saat membuka isi berkas tersebut. Tanpa sepengetahuan darinya dan Tahta, Laras sudah mengurus pendaftaran pernikahan mereka berdua.


"Bagaimana cara Tante mendapatkan tanda tangan darinya? Ini sangat mustahil jika dia membubuhkannya begitu saja."


"Itu bukan hal yang sulit selama Lidya masih berada di sana. Dia satu-satunya orangku. Lidya hanya perlu menyelipkan berkas-berkas ini dan meminta tanda tangan saat dia lengah. Dia masih sangat ceroboh saat sedang kalut," jelas Laras dengan senyum liciknya.


Cinta mengerutkan kening menatap tak percaya pada wanita di hadapannya itu. Sangat berbahaya. Hanya kalimat itu yang saat ini terlintas di benaknya.


"Apa selama ini kau menganggapku wanita lemah dan meragukan kemampuanku?" tanya Laras saat mendapati tatapan aneh dari Cinta.


"Ti–tidak. Tentu saja Tante sangat hebat," tutur Cinta dengan senyum yang terlihat jelas sangat dipaksakan.


Serenade cinta yang terdengar mengalun dari ujung ruangan restoran itu membuat suasana terasa semakin romantis dan hangat. Namun, itu tidak berlaku untuk Cinta. Dia mengalihkan pandangannya ke arah jendela kaca yang sudah dipenuhi oleh percikan air hujan. Menikmati pemandangan malam kota yang basah karena air hujan, dan membiarkan Laras menikmati makan malamnya.

__ADS_1


...Bersambung .......


__ADS_2