![[Not] A Perfect Marriage](https://asset.asean.biz.id/-not--a-perfect-marriage.webp)
..."Dari banyaknya cara Tuhan menyadarkan perasaan cinta dalam hati manusia, mengapa harus dengan cara kehilangan untuk membuatku menyadarinya?"...
Tahta menatap jalanan kota Jakarta dari balik jendela ruang kerjanya. Pria itu berada di gedung yang sangat tinggi. Terlihat dari betapa kecil pemandangan di bawahnya yang tengah ia saksikan. Ekspresinya datar dan seolah tak ada kehidupan di sorot matanya.
"Za, jam berapa mereka sampai?" tanyanya tanpa berbalik.
"Jam delapan, Pak," jawab pria yang tengah duduk di sofa sembari merapikan berkas di dalam mapnya.
Ya, dia Reza, asisten pribadi Tahta yang sangat setia. Dia bahkan rela meninggalkan kelima kandidat calon istrinya di Malaysia demi menyusul Tahta ke Indonesia, dan lagi dia memang lahir dan besar di Indonesia.
"Apa semua orang yang bertanggung jawab untuk acara grand opening datang?"
"Ya, Pak. Manager hotel juga sudah mengundang semua partner yang akan memenuhi kebutuhan hotel kedepannya."
Hotel Malaba dengan lambang huruf M itu adalah milik Tahta. Dia menggunakan aset yang telah dia pindah tangankan itu untuk membangun hotelnya. Ah, bukan membangun. Lebih tepatnya membeli hotel yang hampir bangkrut karena management-nya. Dia merenovasi sedemikian rupa hingga membuat hotel yang awalnya terlihat tak terawat menjadi hotel yang berkonsep modern dan mewah. Perpaduan yang sempurna. Keluarganya memang bukan lagi keluarga adidaya seperti dulu. Kekuasaan keluarganya itu sudah hilang tiga bulan yang lalu setelah kebusukan sang ayah terbongkar. Namun, kemampuan bisnis Tahta tentu saja tak akan ikut menguap.
Tahta hanya mengangguk kecil, melirik jam di tangan kanannya. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lebih empat puluh lima menit. "Ayo kita bersiap."
Pria yang tengah mengenakan jas berwarna hitam dengan rambut tersisir rapi kebelakang itu memasuki ruang rapat bersama Reza. Ada lima orang yang sudah menunggunya di dalam ruangan. Kelima orang itu secara spontan berdiri dan menunduk hormat saat Tahta berjalan ke arah mereka.
"Apa semua sudah hadir?" tanya Tahta memecah keheningan.
"Dari Blooming Flower yang bertanggung jawab untuk dekorasi bunga belum datang, Pak," jawab Hendra, manager hotel yang duduk di sisi meja sebelah kiri Tahta.
"Baiklah, kita tunggu sebentar lagi." Kembali pria bertubuh atletis itu menjawab dengan tanpa ekspresi. Wajahnya begitu datar meskipun tidak terlihat marah, tapi bisa membuat lawan bicaranya merasa terintimidasi.
__ADS_1
Manager muda yang baru berusia dua puluh tujuh tahun itu hanya bisa menghela napas lega. Setidaknya dia tidak akan terkena semprot pagi-pagi karena keterlambatan orang lain. Sembari merem*s jarinya yang saling tertaut, Hendra berdoa dalam hati agar tim Blooming segera datang. Dengan gelisah Hendra melirik jam dinding yang tepat berada di atas pintu. Sudah lewat delapan menit. Kini jantungnya semakin berdebar tak karuan. Bagaimana jika mereka tak menepati janji?
"Bagaimana?" tanya Tahta yang menyadari kegelisahan Hendra.
"Sebaiknya Pak Hendra hubungi saja mereka. Mungkin ada kendala," usul Reza yang dibalas anggukan kecil oleh Tahta.
Tepat saat Hendra hendak meraih ponsel untuk menghubungi tim marketing Blooming, pintu terbuka dan menampilkan tiga sosok manusia yang dia nantikan. Dia akhirnya kembali bisa bernapas lega.
Tahta yang mendengar suara pintu terbuka secara reflek menoleh dengan acuh. Tubuhnya tiba-tiba menegang tatkala indra penglihatannya menangkap sosok yang sangat dia rindukan. Tanpa sadar pria itu sudah berdiri dari duduknya. Netranya bahkan tak bisa teralihkan. Begitu pun dengan wanita yang tengah berdiri mematung di ambang pintu tersebut.
Cinta sama sekali tak menyangka pertemuan keduanya ini dengan sang mantan suami terjadi karena sebuah pekerjaan, di mana mereka pastinya akan terhubung untuk beberapa kali lagi. Napasnya serasa tercekat di tenggorokan. Dia menyadari tatapan tak percaya dari sorot mata Tahta. Entah mengapa perasaan takut tiba-tiba menyelimutinya.
"Ehm." Cinta berdehem pelan saat menyadari tatapan beberapa orang lainnya yang juga terfokus padanya. Segera dia menetralkan pikiran dan melangkah masuk dengan senyum profesional sebagai seorang pebisnis.
"Maaf saya terlambat. Kami sempat terlibat kecelakaan kecil saat menuju kemari," ucap Cinta dengan penuh penyesalan saat sampai di samping meja rapat.
"Pak, semua sudah lengkap." Ucapan manager Hendra menyadarkan Tahta dan Reza dari lamunannya.
"Baik, mari kita mulai."
Dua jam sudah pertemuan dalam ruang rapat itu digelar. Orang-orang pada akhirnya bisa mengakhiri rapat tersebut dengan ekspresi lega. Semuanya berjalan lancar. Satu persatu peserta rapat keluar dengan saling melempar senyum, termasuk Cinta dan timnya. Dia lega karena Tahta bersikap profesional juga. Mereka seperti orang asing, tapi itu benar-benar tidak menciderai perasaan Cinta.
"Blooming Flower," ucap Tahta saat Cinta dan timnya selesai merapikan berkas dan hendak beranjak.
Semua orang menatap penuh tanya ke arah Tahta, termasuk Reza dan manager Hendra. Sementara Tahta menatap lurus kearah Cinta dengan sorot mata yang sulit diartikan.
__ADS_1
"Ada yang bisa kami bantu, Pak Tahta?" tanya Cinta dengan sopan.
'Pak Tahta' entah kenapa mendengar kata itu membuat hati Tahta serasa diremas. Dia memejamkan mata sesaat, menarik napas berat seolah menyadari sesuatu.
"Lain kali jangan sampai terlambat," jawab Tahta dengan ekspresi datar dan berdiri meninggalkan ruangan.
Cinta hanya bisa menunduk, menipiskan bibirnya karena memang merasa bersalah telah membuat semua orang menunggu. Tapi ini juga bukan kemauannya. Dia sudah berusaha berangkat sepagi mungkin. Jika saja mobil tadi tidak menyerempet mobilnya sudah pasti dia akan datang tepat waktu. Bagaimana mungkin Tahta sekejam itu padanya? Kini perasaan jengkel tengah menyelimutinya.
"Manusia tak bermoral. Tak punya simpati, dasar si—." Cinta mengehentikan ucapannya, dan melirik dua orang disampingnya saat menyadari rekan setimnya itu bisa mendengar apa yang dia gumamkan.
Dua orang itu hanya bisa saling melempar lirikan satu sama lain mendengar ucapan bosnya. Mereka berusaha menahan senyum saat melihat Cinta berbalik dengan kesal dan melenggang pergi meninggalkan keduanya.
"Bu Cinta bisa marah rupanya," celetuk Yuli, salah satu tim marketing Blooming dan dibalas anggukan mantap oleh Roni.
Sabar ... sabar ... ini semua demi Raja dan Ratu. Aku harus memberikan kehidupan yang layak untuk mereka. Hanya satu bulan lagi, setelah itu akan kutendang jauh muka songongnya itu, gerutu Cinta dalam hati.
Wanita berambut sepinggang itu melangkah lebar menuju mobil Jazz berwarna merah yang terparkir di depan gedung. Ada goresan memanjang di samping kanan mobil tersebut. Cinta bergegas masuk ke dalam sembari menutupi wajahnya dari terik sinar matahari. Tempat parkir bawah tanah masih dalam proses perbaikan, jadi untuk sementara para tamu belum bisa menggunakannya.
...----------------...
Sementara itu, dari dalam gedung seorang pria menatap kepergian Cinta dengan tatapan nanar. Dia berdiri di depan jendela besar, tangannya terulur ke kaca seolah hendak meraih tubuh Cinta yang terlihat mungil dari tempatnya berdiri.
Aku sebenarnya ingin bertanya apakah kau baik-baik saja, tapi aku terlalu takut untuk menanyakan hal itu setelah semua yang aku lakukan padamu. Bagaimana mungkin pria brengs*k yang telah menyakiti istrinya bertanya kabar? Dan ... sepertinya dia hidup dengan baik bersama suaminya, batin Tahta tersenyum kecut.
...Bersambung.......
__ADS_1
...****************...
Nih, double up, niiih. Spesial buat kaliaaan, My Shining Star dan buat yang selalu gercep komen dan vote. Lope lope sekebon buat kaliaaan semua pembaca setia Abang Dudaaa.....