[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
Sebut Saja Wanita Cerdas


__ADS_3

..."Jika waktu bisa dengan mudahnya diputar ulang, pasti tidak akan ada kata menyesal di dunia ini, dan ... tidak akan ada perbaikan sikap."...


Cinta tengah sibuk membalik berkas menunjukkan beberapa gambar bunga di dalamnya. Sedangkan pria yang meminta penjelasan atas nama-nama bunga itu justru sibuk memandanginya. Cinta bagaikan medan magnet bagi Tahta. Netranya tak pernah bisa lepas sedetikpun dari wajah ayu wanita itu. Bahkan aroma mawar dari tubuhnya membuat pria itu seakan melayang bersama bunga-bunga yang terasa bermekaran di dalam dadanya.


Sangat indah. Wajahnya terlihat lebih berseri. Dia benar-benar hidup dengan baik tanpaku. Jika saja waktu itu aku menyadari perasaanku lebih awal. Jika saja waktu itu aku bisa lebih memprioritaskan dia yang sudah menjadi istriku. Andaikan saja dia masih mau memberikan kesempatan padaku ....


Cinta menarik tubuhnya ke belakang saat sepasang netra coklat itu menatapnya semakin dalam. Dia berdehem singkat menghilangkan kecanggungan dan menyadarkan si pemilik netra agar kembali dari alam bawah sadarnya. Cinta sangat mengerti dengan situasi ini, entah apa yang tengah bersarang di kepala pria yang telah menjadi mantan suaminya itu, yang pasti Cinta ingin segera mengakhiri pertemuan ini dan pergi dari kota metropolitan ini. Dia sudah sangat merindukan bunga-bunganya. Dia juga khawatir semakin dekat dengan Tahta dia akan menyadari kehadiran si kembar.


"Jadi bagaimana dengan kerjasamanya, Pak Tahta?" tanya Cinta membuka percakapan kembali.


Tahta yang sempat terpesona oleh mantan istrinya itu sempat salah tingkah sesaat dan memilih mengalihkan pandangan ke samping. Menarik dan merapikan jasnya yang sama sekali tidak berantakan. Setelah hatinya membaik, dia kembali menatap profesional ke arah Cinta.


Hah! Gila! Apa yang aku pikirkan. Bagaimana mungkin aku berpikir seperti itu pada wanita yang sudah bersuami. Aku pasti gila.


"Ya, saya menerimanya. Ini surat kontrak kita," ucapnya sembari mendorong map di hadapannya.


Cinta membuka berkas tersebut. Membalik dan membacanya singkat kemudian tanpa menunggu lama langsung membubuhkan tanda tangan di atasnya. Dia tidak perlu membaca lagi isi surat tersebut karena manager Hendra sebelumnya sudah memberikan salinan berkas tersebut untuk dipelajari.


"Baiklah, terima kasih banyak atas waktu Anda. Saya masih ada beberapa pekerjaan, jadi saya pamit undur diri terlebih dahulu," pamit Cinta dengan menunduk hormat.


Wanita itu berdiri setelah mendapat anggukan dari lawan bicaranya. Dia berbalik badan hendak melangkah sebelum merasakan tangan kanannya dijegal oleh tangan kekar. Genggaman tangan itu terasa kuat, tapi sama sekali tidak menyakitinya sama sekali.


Cinta kembali memutar tubuhnya, menatap tangan kekar yang tengah mencengkram pergelangan tangannya. Manik mata Cinta bergerak menelusuri tangan itu hingga manik matanya bertemu dengan sepasang manik mata yang sudah menatapnya penuh arti.


Apa dia gila? Ah, ini benar-benar gila. Jantungku sudah hampir meledak dibuatnya. Sekarang apa-apaan ini?


"Maaf, Pak Tahta tolong lepaskan tangan saya," pinta Cinta dengan sesopan mungkin. Namun, pria itu sama sekali tak bergeming.


Tahta menatap dalam pada manik mata berwarna coklat tua itu. Jantungnya kini sudah tidak baik-baik saja. Ada degupan hebat bercampur rasa sakit di sana. Tahta ingin sekali merengkuh tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. Apa aku boleh egois sekali saja?

__ADS_1


Cinta memutar pergelangan tangannya perlahan, mencoba meloloskan diri. "Pak Tahta, saya harus segera pergi."


"Apa kau bahagia?" pertanyaan itu tiba-tiba meluncur begitu saja dari mulut Tahta.


"Apa kau bahagia bersamanya? Sepertinya kau hidup dengan baik setelah meninggalkanku."


Deg!


Cinta menelan salivanya dengan berat. Darahnya terasa berdesir mengalir deras, dan anehnya aliran darah itu terasa mengiris hatinya. Ada rasa nyeri yang berpusat di dadanya dan menjalar ke seluruh tubuh saat mendengar pertanyaan yang lebih terdengar seperti pernyataan tersebut. Andai saja kabar itu dia tanyakan dahulu kala. Andai saja kebahagiaannya itu dia tanyakan dulu saat mereka masih bersama, mungkin bukan rasa sakit yang Cinta rasakan sekarang, tapi perasaan bahagia yang tak tergambarkan.


"Ya, tentu saja." Cinta menatap tegas Tahta.


"Ya, kau harus bahagia. Setidaknya kau tidak akan menyesal telah meninggalkanku dan memilih menikah dengan pria lain. Heh!" Tiba-tiba pria itu tersenyum sinis dan melepaskan genggaman tangannya begitu saja.


"Bagaimana mungkin seorang wanita yang mengatakan sangat mencintaiku sampai melakukan segala macam cara untuk bisa bersamaku, menikah lagi dengan pria lain hanya dalam kurun waktu satu bulan setelah perceraiannya. Kita sebut apa wanita seperti itu?"


Cinta membulatkan mata mendengar ucapan mantan suaminya itu. Kedua tangannya terkepal erat hingga menimbulkan sensasi tertusuk di telapaknya. Wanita itu mengetatkan rahang dan mendekat satu langkah ke arah Tahta. Dengan sorot mata tajamnya dia mendongak menatap Tahta. "Bagaimana kalau kita sebut dia wanita cerdas karena memilih meninggalkan pria br*ngsek tukang selingkuh dan lebih memilih pria yang hanya mencintainya."


Tubuh Tahta terasa tak berdaya. Dia jatuh terduduk di sofanya. Memegangi kepalanya yang terasa berat, pria itu merutuki kebodohannya sendiri. Namun, dia menyimpulkan satu hal, pria itu, suaminya hanya pelampiasan bagi Cinta. Bodoh! Apa yang aku pikirkan pada istri orang lain. Aku tidak bisa menjadi pria brengs*k seperti ini.


"Pak Reza, apa benar Pak Tahta mengambil alih tugas saya untuk Blooming Flower?" tanya pria yang baru saja masuk ke dalam ruangan Reza dengan tergesa-gesa.


Reza hanya mengangguk tanpa mengangkat kepala dan terus fokus pada dokumen di hadapannya. Pria muda yang menjabat sebagai manager itu melangkah mendekati meja kerja Reza.


"Kenapa? Apa kinerja saya kurang baik?" Kali ini direspon dengan gelengan ringan oleh lawan bicaranya.


"Lalu kenapa? Apa ada masalah? Atau ... saya mau dipecat?" Manager Hendra memberondong pertanyaan dengan ekspresi khawatir.


Reza menghela napas berat melihat tingkah orang yang dia bawa dan rekomendasi pada atasannya tersebut. Pada akhirnya Reza melepaskan penanya dan menatap Hendra yang lebih muda darinya itu.

__ADS_1


"Semua yang kau ucapkan itu tidak ada yang benar. Kerjasama ini sedikit lebih spesial dari yang lain, jadi berhentilah berpikir aneh-aneh."


"Spesial? Apa yang spesial dari bunga-bunga yang hanya akan dijadikan pajangan meja?"


"Haishh! Sudahlah, kau tidak akan paham. Sebaiknya kau pergi sekarang."


"Tidak! Jelaskan dulu pada saya," tuntut Hendra dengan penuh keseriusan.


Reza yang sudah mulai jengkel akhirnya bangkit dan menyeret kerah pria itu, membawanya keluar dari ruangan.


"Kau terlalu banyak bicara," ucapnya sembari mendorong pelan Hendra dari ambang pintu.


Tepat saat Hendra hendak menjawab, seorang wanita keluar dari ruangan bosnya dengan raut wajah penuh amarah. Wanita yang tak lain adalah owner dari Blooming Flower itu melangkah lebar melewati kedua lelaki itu tanpa berkata apapun. Keduanya dibuat ternganga dengan sikap wanita cantik berpakaian formal dengan celana berwarna cream tersebut.


Hendra melirik penuh tanya pada Reza yang masih menatap punggung Cinta yang semakin menjauh. Menyadari tatapan Hendra, Reza memutar bola mata malas sembari merapikan jas hitamnya.


"Sudah aku bilang ini agak spesial," ucap Reza acuh, dan melenggang pergi ke arah ruangan Tahta.


Hendra yang juga penasaran dengan kata 'spesial' itu memberanikan diri untuk mengekori pria yang sudah seperti kakaknya tersebut. Reza memutar gagang pintu berwarna silver, di dalam nampak seorang pria yang duduk di sofa dengan wajah frustasinya.


Mereka berdua masuk tanpa berucap apapun. Hanya menatap pria itu dalam diam. Dia tahu kondisi atasannya sedang dalam suasana hati yang buruk.


"Aku melakukan hal bodoh pada wanita yang sudah bersuami. Dia pasti semakin membenciku sekarang," ujar Tahta memecah keheningan sembari tersenyum sinis.


"Anda hanya sedang terlalu terbawa suasana. Bu Cinta mungkin hanya syok dan butuh waktu. Buktinya dia masih mau bekerjasama dengan kita meskipun tahu tempat ini milik Anda," jawab Reza mencoba menenangkan bosnya.


Hendra mengangkat alisnya, kini dia semakin bingung mendengar percakapan dua orang tersebut. Dia masih berdiri dengan canggung di belakang Reza. Istri orang? Cinta? Apa yang mereka maksud dari Blooming tadi? batin Hendra mencoba menebak-nebak situasi.


"Apa mbak Cinta yang tadi?" bisiknya tepat di belakang telinga Reza.

__ADS_1


"Sudah bersuami? Mbak Cinta kan janda," gumamnya dan masih bisa didengarkan oleh kedua atasannya.


...Bersambung........


__ADS_2