![[Not] A Perfect Marriage](https://asset.asean.biz.id/-not--a-perfect-marriage.webp)
"Rud," gumam Cinta saat mendengar suara temannya yang bergetar dan pelukan yang seolah takut kehilangan tersebut.
Perasaan wanita itu entah kenapa menjadi lebih tenang dan menghangat. Ini kali pertama ada seseorang yang memberinya perasaan takut ditinggalkan. Kali pertama ada seorang pria yang khawatir atas bulir air mata yang dia jatuhkan.
"Aku tidak apa-apa, Rud."
"Apa karena mantan suamimu?"
Cinta terdiam sejenak, matanya terpejam saat desiran rasa sakit kembali menghunus jantungnya. Namun sejurus kemudian wanita itu mengangguk perlahan dalam dekapan Rudi.
"Apa kau ingin mendengar sebuah kenyataan?" Kembali pria itu hanya mendapat anggukan atas pertanyaannya.
"Mungkin ini tidak akan membuatmu bahagia, tapi setidaknya kau tidak harus menangisi pria sepertinya. Kau mau mendengarnya?" tanya Rudi sekali lagi untuk memastikan.
"Hmm, katakan."
"Aku mencintaimu," ungkap pria berkaos hijau army itu hingga membuat Cinta terhenyak mendengar pernyataan itu.
Cinta mengangkat wajahnya, menatap lekat Rudi yang terlihat tenang menatap netranyanya. Wanita itu tidak bisa menyembunyikan keterkejutan. Bola mata Cinta membeliak bahkan seolah hampir melompat dari kelopaknya. Dia ingin melepaskan diri. Namun kedua tangan Rudi mengunci pinggang rampingnya.
"Sejak kapan?" tanya Cinta mencoba menghalau keterkejutan dari tatapannya.
"Sejak lama. Bertahun-tahun yang lalu. Kau terkejut?" Cinta mengangguk atas pertanyaan Rudi. Itu memang sebuah pernyataan yang masih menjadi tanda tanya besar baginya. Dia selalu bersama Rudi saat berlibur di desa ini. Kebiasaan ini sudah berlangsung sejak dia berusia tiga belas tahun. Nenek Cinta hanya tinggal bersama kakeknya. Mereka selalu merasa kesepian, itu sebabnya kedua orangtua itu selalu menjemput Cinta saat libur sekolah dimulai.
Namun, selama tiga belas tahun ini, Rudi selalu bersikap wajar di hadapannya. Mereka sering saling menggoda. Cinta kembali membeliak menatap Rudi saat potongan ingatan masa lalunya melintas. Pria itu selalu mengikutinya, menjadi pelindungnya saat anak-anak nakal mengganggunya, bahkan pria itu dulu enggan pulang jika sedang bersama dirinya.
"Sejak kecil?"
"Ya," jawab Rudi tanpa ragu. Cinta memicingkan mata pada pria itu. Dia seolah tak percaya dengan jawabannya yang begitu spontan.
"Bukankah kau tahu ekonomi kita dulu jauh berbeda. Aku selalu minder saat melihat om dan tante menjemputmu. Rasanya sungguh tidak pantas orang kampung ini memiliki perasaan lebih pada gadis kaya sepertimu. Tapi sebelum kematian nenek, aku mendengar dari nenek bahwa keluargamu sedang dalam kesulitan. Aku sedih mendengar kabar itu, tapi di sisi lain ada perasaan senang di hatiku," ungkap Rudi dengan senyum sumir di wajahnya yang terlihat manis.
"Jahat sekali, Rud."
__ADS_1
Senyum mengembang di bibir tipis Rudi. Dia mengeratkan pelukan di pinggang Cinta, menepis jarak antara keduanya. Sedangkan satu tangan lainnya menyibakkan surai tipis Cinta yang menutupi wajah wanita itu.
"Apa seperti itu? Ya... sepertinya memang seperti itu. Tapi dengan begitu aku bisa menggandeng tanganmu tanpa ragu. Aku selalu berharap kau segera datang ke sini dan menemuiku lagi. Tapi sayangnya kau tidak pernah datang. Bahkan setelah nenek dimakamkan, kau menghilang begitu saja. Aku mencarimu. Aku bahkan ke Jakarta untuk menemuimu, tapi orang-orang bilang kau sudah pergi dan ... orangtuamu meninggal." Rudi menundukkan kepala dalam-dalam di hadapan Cinta. Raut wajahnya berubah sendu. Bahkan terlihat jelas netra pria itu memerah.
Rudi menarik napas panjang untuk mengendalikan perasaannya. Hati Rudi terasa pedih saat mengingat momen yang hampir empat tahun berlalu itu.
"Aku ingin menjagamu, tapi aku gagal, bahkan sebelum memperjuangkanmu." Bulir bening dari sudut netra Rudi meluncur.
Entah kenapa, jantung Cinta berdebar. Suara detak jantung itu bahkan bisa dia dengarkan. Gerakan samar di dada memertegasnya. Cinta masih terdiam menatap pria yang seolah telah kehilangan segalanya itu.
"Jadi, Cinta tolong berikan aku kesempatan untuk kali ini. Aku tidak bisa membiarkan kau menangis sendirian karena pria itu. Biarkan aku meminjamkan bahuku untukmu kali ini. Tolong terima lamaranku," pinta Rudi melepaskan pelukannya dan memegang kedua tangan Cinta.
Kembali wanita itu dibuat terkejut karena ucapan pria di hadapannya tersebut. Detak jantungnya semakin berpacu saat melihat sebuah pengharapan besar dari manik mata hitam Rudi. Napas Cinta semakin memburu. Dia mengatupkan rapat kedua bibirnya. Tidak tahu harus bagaimana untuk menjawab pernyataan yang tiba-tiba itu.
"A–aku .... Rud, bukankah kau tahu aku seorang janda? Dan ... kau juga tahu aku baru bercerai dua minggu yang lalu."
"Lalu kenapa? Aku hanya ingin tahu apa kau mau menerimaku atau tidak? Aku tidak peduli hal lain selain itu."
Cinta semakin gusar. Dia mengalihkan pandangannya beberapa kali. Menatap tangannya yang masih berada dalam genggaman Rudi. Terasa hangat. Ada rasa aneh yang bergelayar saat pria itu menyentuh setiap bagian, dalam tubuhnya.
"Ehm." Cinta dengan cepat menarik tangannya dari genggaman Rudi saat suara seseorang menginterupsi mereka. Rudi mengetatkan rahang dengan kesal. Tangannya terkepal erat sembari menghirup udara dengan rakus mengisi rongga dadanya.
Kedua orang itu menoleh pada sumber suara. Seorang wanita paruh baya yang mengenakan kulot coklat dan blouse hitam bermotif bunga mendekati keduanya.
"Ta–Tante Mira?" Cinta masih terlihat gugup saat wanita itu berdiri di hadapannya.
"Tadi Tante lewat sini dan melihat kalian di tengah kebun, jadi Tante mampir sekalian," jawab wanita yang dipanggil Mira tersebut.
"Ibu dari mana?" tanya Rudi dengan nada sedikit sinis. Kekesalannya masih belum bisa memudar. Dia hampir saja mendapatkan jawaban cintanya jika saja ibunya itu tidak muncul.
"Dari kebun. Hari ini panen kubis, kan? Kamu tidak mengecek pekerjaan mereka?"
"Aku sudah meminta Pak Eko mengawasi mereka."
__ADS_1
Mira hanya manggut-manggut sembari menarik bibirnya membentuk lengkungan ke bawah seolah tengah meledek putranya. Cinta menyadari hal tersebut. Wanita itu mengulum senyumnya. Dia segan jika pria disampingnya melihat senyum yang seolah turut mengejeknya tersebut. Cinta kembali melirik Rudi dan dengan cepat berganti melirik ke arah Mira.
Bagus. Aku ada ide.
"Tante mau lihat-lihat bunga di sini? Mari Cinta temani," tawar Cinta dengan senyum cerahnya. Dia dengan segera menggandeng lengan wanita yang sudah mulai berkeriput itu setelah mendapat persetujuan, dan melenggang meninggalkan Rudi. Pada akhirnya pria itu hanya mengekori kedua wanita tersebut dengan ekspresi kesalnya.
"Nana tadi main ke rumah lagi, Tante?" tanya Cinta membuka percakapan.
"Iya, mungkin anak itu bosan karena di sini terlalu sepi baginya. Katanya dia mau ke Jakarta?"
"Iya, Tan. Mungkin Minggu depan berangkat," jawab Cinta dengan senyum manis khasnya yang begitu memesona.
"Cinta, apa kau lihat tanah yang ada di dekat sungai itu?" tanya Mira sembari menunjuk sebidang tanah yang dipenuhi oleh pohon tomat.
"Kenapa, Tan?"
"Itu tanah nenekmu. Dulu saat kami masih susah, beliau meminjamkan tanah itu untuk kami garap. Mungkin sekarang sudah waktunya untuk Tante mengembalikan tanah itu."
"Tidak usah, Tante. Saya tidak tahu persoalan tanah itu, mungkin nenek sudah menghadiahkan tanah itu untuk Tante."
"Tidak, Nak. Nenek sudah banyak membantu keluarga Tante dulu, itu milikmu."
Cinta tertunduk. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana lagi, begitu banyak kejutan yang terjadi hari ini. Mantan suaminya yang sudah menikah lagi, pernyataan cinta Rudi, dan sekarang tanah. Dia tidak tahu harus bahagia atau tenggelam dalam kepedihan hatinya karena Tahta.
...Bersambung .......
...****************...
Halo, Bebh.
Bagaimana kabar kalian hari ini? Sehat-sehat selalu, yaa... Jangan lupa tersenyum.
Mohon dukungannya untuk novel ya teman-teman. Silahkan beri komentar, like, vote, dan hadiah pada Cinta. Karena Cinta dan Tahta adalah dua hal yang selalu menggoda. Lope lope sekebon buat kalian, Kesayangan.
__ADS_1
Oh iya, aku baru tau ternyata ngasih komentar itu bisa masuk dalam itungan poin dan nambah peringkat top fans, yaa. Waoow, banyak-banyak komentar dong, Gaes biar aku semangat meskipun nggak bisa kontrak. Sedih banget nggak dapet apa-apa.