![[Not] A Perfect Marriage](https://asset.asean.biz.id/-not--a-perfect-marriage.webp)
"Bu Cinta, untuk hari ini sekolah diliburkan karena ada rapat dadakan dari pemilik sekolah." Seorang wanita yang sudah berumur menghampiri Cinta yang sedang merangkum materi di ruangannya.
Cinta mengangkat kepala dan menatap guru matematika yang ada di hadapannya. "Apa semua guru ikut, Bu?"
"Tidak, Bu Cinta. Hanya beberapa guru senior dan pengurus sekolah saja, akan ada perwakilan dari setiap guru mata pelajaran juga nanti. Bu Cinta bisa mendapatkan informasi dari rekan-rekan," jelasnya sambil tersenyum ramah.
Cinta mengangguk dengan sopan. Yes, batin Cinta yang tidak bisa menutupi kesenangannya saat ini.
Dia memang sedang dalam mood yang kurang baik sejak pertemuannya dengan Bella kemarin. Perasaannya masih begitu berkecamuk. Cinta berusaha mengiklaskan cinta pertamanya. Baginya kebahagiaan Tahta lebih penting daripada ego yang bersemayam dalam hatinya.
Wanita itu berjalan ringan menuju mobilnya. Dia terlihat lebih cerah daripada saat berhadapan dengan buku-buku yang menumpuk di atas meja kerjanya.
"Sepertinya aku memang sedang butuh piknik," gumam Cinta dan mulai menstarter mobil jazz merahnya.
Dengan santun, benda beroda empat itu memasuki area parkir cafe yang tidak jauh dari sekolah tempatnya mengajar. Cafe bernuansa aestetik itu memang membuat pelanggan merasa betah untuk berlama-lama di sana. Termasuk Cinta. Dia suka menjelajahi resto dan cafe di sekitarnya, dan cafe inilah yang bisa membuatnya candu akan suasana yang ditawarkan.
"Eh, itu ...." Pandangan Cinta tertuju pada sepasang kekasih yang sedang bermesraan sambil masuk ke sebuah mobil sedan yang terlihat berkelas.
Netra Cinta semakin terfokus tatkala wajah wanita itu menghadap padanya. Dia Bella, wanita yang baru saja dia jumpai kemarin malam. Kaca mobil Cinta yang gelap membuat Bella tidak bisa mendeteksi keberadaannya. Sebaliknya, kaca mobil yang berada tidak jauh dari Cinta itu tidak terlalu gelap. Cukup untuknya bisa melihat aktivitas yang sedang terjadi.
Cinta mengepalkan tangan erat dengan rahang yang semakin mengetat. Wajah wanita cantik dengan rambut dicepol kecil itu memerah. Amarahnya sudah membuncah di ubun-ubun.
Sekarang aku paham kenapa Tante Laras bersikap seperti itu kemarin. Ternyata dia seorang j*l*ng, batin Cinta dengan tatapan mengerikan..
Mobil sedan pasangan kekasih itu melaju mulus di hadapan Cinta. Dua sejoli yang sedang dimabuk asmara tidak menyadari sama sekali dengan kamera ponsel yang ditujukan pada mereka.
__ADS_1
"Ah, si*lan aku telat," gerutu Cinta menurunkan ponselnya dengan kasar.
Di detik-detik terakhir sebelum mobil itu meluncur, Cinta berniat mengambil gambar keduanya untuk ditunjukkan pada Tahta. Namun, sangat disayangkan dia tidak sempat mengambil foto momen-momen menjijikkan yang berhasil membuatnya membeku seketika.
"Aku harus memastikan hal ini pada Tante. Awas saja kalau sampai wanita itu menyakiti Tahta. Aku nggak akan pernah rela," gumam Cinta yang sudah diliputi oleh amarahnya.
Wanita berseragam guru itu mengurungkan niat untuk menghabiskan waktu di cafe favoritnya. Dia menginjak pedal gas mobilnya dengan kecepatan tinggi keluar dari area halaman yang cukup luas tersebut. Dia menempuh jarak yang sebenarnya tidak begitu jauh, tapi karena ketidak sabarannya, seolah jalanan ibukota Malaysia itu menjadi semakin panjang.
Cinta kembali menambah kecepatan mobil dengan perasaan yang campur aduk. Bayangan Bella yang sedang bermesraan dengan pria asing terus saja mengusik konsentrasinya.
"Tante, Tante Laras?" seru Cinta saat memasuki rumah mewah yang sudah sering dia kunjungi.
Laras yang cukup terkejut dengan seruan Cinta yang tidak biasa, bergegas menghampirinya.
"Ada apa, Ta?"
Cinta mencoba mengatur napasnya, mengendalikan emosi agar tidak terlihat terlalu menggebu di hadapan ibu Tahta.
"Apa ... Tante tau sesuatu tentang Bella?" tanyanya dengan ragu.
Laras mengernyitkan dahi. "Apa kau tahu sesuatu?"
"Cinta ... tadi Cinta lihat dia dengan pria lain," jawab Cinta sambil menyodorkan ponsel di mana terdapat foto Bella di layarnya.
Laras mengamati foto yang tidak terlalu jelas tersebut. Meskipun wajah pria itu tidak sepenuhnya kelihatan dan hanya terlihat dari sisi kanannya, Laras yakin dia adalah pria yang sama. Pria dan wanita yang tidak punya sopan santun dan empati yang pernah ditemuinya dua bulan lalu.
__ADS_1
"Heh!" dengus Laras dengan senyum sinis.
"Apa Tante sudah tahu ini? Itu sebabnya Tante bersikap seperti kemarin padanya?"
"Putraku itu sudah sangat dibutakan oleh cinta. Tadi pagi dia bahkan menantangku ingin membuktikan kesetiaan wanita j*l*ng itu," senyum miris dari seorang ibu yang mengkhawatirkan anaknya tercetak jelas di bibir Laras.
"Aku akan memberitahu Tahta, Tante. Aku akan membuka matanya tentang bagaimana kulit asli wanita yang dipujanya itu," ucap Cinta dan beranjak dari duduknya.
"Apa yang ingin kau lakukan?"
"Aku akan menemuinya. Akan aku tunjukkan bukti ini padanya."
Cinta melenggang pergi dengan wajah suramnya. Dia sudah berusaha keras untuk mengiklaskan perasaannya, berharap pria yang dipujanya itu akan hidup bahagia dengan kekasihnya. Namun saat mengetahui kenyataan ini, rasanya dia tidak lagi bisa melepaskan Tahta begitu saja untuk Bella.
Setidaknya jangan pernah hidup dengan penuh kebohongan. Kau tidak pantas mendapatkan perlakuan seperti ini, Tahta. Kau terlalu baik untuk disakiti olehnya.
...Bersambung .......
...****************...
Hai everyone. Are you okay?
Terima kasih banyak untuk kakak-kakak yang sudah setia memberikan dukungan pada Simi. Semoga Tuhan mengganti kebaikan kalian dengan berlipat ganda kebaikan lainnya.
Mohon selalu dukung karya Simi dengan cara Like, Komen, berikan vote kalian, dan jika berkenan berikan hadiah meskipun sepucuk mawar, yaa.
__ADS_1
Simi selalu bersemangat update karena kalian yang selalu setia menemani dan membersamai Simi di sini. I love you more. :)