![[Not] A Perfect Marriage](https://asset.asean.biz.id/-not--a-perfect-marriage.webp)
Desert coklat dan red velvet menjadi topik hangat sore ini bagi dua bocah yang tengah duduk di kursi penumpang bersama neneknya tersebut. Ya, Cinta memutuskan untuk kembali ke Bogor setelah menemui Nana yang menjadi pekerja keras, dan cenderung tidak cerewet setelah kepergian kekasihnya itu. Tentu saja dengan dua orang yang sudah sangat antusias sedari pagi ingin ikut menemaninya pulang.
"Tante, apa Tante yakin mau ke rumah Cinta?" tanya wanita dua anak itu nampak ragu.
"Yakin seratus persen. Apa jangan-jangan kamu yang nggak mau Ibu ke rumahmu?"
"Bukan begitu, tapi jalan ke rumah Cinta itu susah lo, Tan. Naik turun, terus gelap."
Tawa kecil lolos dari bibir Laras. "Kamu pikir kami sedang berbicara dengan siapa, Nak? Aku ini sudah tinggal dan hidup di Indonesia sebelum kamu diadon sama bapak ibumu itu. Kalau cuma masalah jalan gelap dan naik turun itu sudah makanan sehari-hari ibu waktu muda."
"Oma jangan salah, biasanya kalau malam itu ada suara-suara aneh," celetuk Ratu dengan wajah seriusnya.
"Oma pasti takut dengernya. Itu suaranya wuk, wuk, wuk gitu. Tante Rumi aja nggak berani pulang kalau denger suara itu."
"Benarkah?"
"Iya, Oma. kata nenek itu suaranya burung hantu. Kalau ada orang lewat dia matanya akan begini ... haa ...," sahut Raja dengan mata membeliak sambari memutar kepalanya menirukan gerakan burung hantu.
Gelak tawa terdengar dari dua wanita berbeda usia tersebut. Cinta yang duduk di depan bahkan sampai memiringkan tubuhnya menatap kedua bocah yang begitu menggemaskan itu. Dia tidak sadar sedari tadi ada seseorang yang sesekali mencuri pandang ke arahnya dan kedua bocah di belakangnya melalui spion. Senyum mengembang di bibir Tahta saat rasa hangat dari canda tawa itu menggelitik hatinya.
Teruslah seperti ini. Kalian harus terus tertawa bahagia setiap hari. Aku berjanji akan menebus setiap detik kesusahan dan kesedihan yang telah kau lewati sendirian sebelumnya, Sayangku.
"Papa, lihat jalan!" tegur putra semata wayangnya dengan ketus.
Tahta yang ketahuan melirik Cinta hanya bisa menelan salivanya saat atensi wanita di sampingnya itu terarah padanya. Jalan lurus itu membuatnya leluasa untuk mengalihkan pandangan sesekali.
"Setelah ini jalannya belok-belok. Kalau tidak bisa fokus biar aku saja yang nyetir."
"Iya, Mama," jawab Tahta dengan patuh seperti anak yang tengah kena omel.
"Aku bukan ibumu."
"Memang. Ibuku ada di belakangmu. Kalau kamu ibu dari anak-anakku."
Tak ayal jawaban santai Tahta itu membuat Cinta melayangkan tatapan tajam padanya. Namun, hanya seperti sekian detik Cinta memalingkan wajahnya menatap ke arah jendela. Dia menipiskan bibir, setengah mati menahan senyum yang meronta ingin mengembang di bibir tipisnya. Pipi mulusnya bahkan sudah samar-samar ada rona kemerahan. Jantungnya kali ini serasa tidak aman, ada degupan kecil yang sudah lama tidak pernah dia rasakan kembali bahkan saat bersama Rudi.
Ini tidak benar. Tidak seharusnya aku terbawa suasana dan jatuh ke mulut pria br*ngsek ini. Cinta menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Mengatur ekspresinya ke mode profesional lagi.
__ADS_1
"Oma, Oma, lihat! itu kebun nenek!" pekik Ratu sembari menunjuk hamparan kebun wortel di bukit seberang jalan.
"Kebun nenek?" Laras mengangkat alisnya sembari menatap arah tangan cucunya.
"Ibunya Mas Rudi, Tante. Kita sudah hampir sampai ke desa. Dan di jalan masuk ini perkebunan keluarga Mas Rudi."
Laras hanya menganggukkan kepala mendengar penjelasan Cinta. Hati kecilnya sedikit tergelitik melihat betapa luasnya perkebunan yang ditunjuk oleh cucunya itu. Ternyata suami mantan menantunya itu bukan lawan yang mudah jika dibandingkan kekayaan putranya sekarang. Tapi lagi lagi restu Tuhan seperti ada ditangannya. Tuhan memberikan jalan dengan memanggil suami Cinta, memberikan kesempatan bagi putranya untuk meminta pengampunan.
Laras menatap sengit ke arah Tahta yang tengah fokus menyetir. Lihat saja kalau kau sampai mengecewakan Ibu lagi, akan ibu coret namamu dari daftar pewaris. Biarkan Gema saja yang menjadi pewaris utama kekayaan Ibu. Anak tak tau diri, bisa-bisanya dia membuang berlian yang sudah aku berikan hanya untuk batu akik palsu.
Setelah melewati puluhan tikungan dan tanjakan, akhirnya mobil Jazz itu berhenti disebuah rumah sederhana berwarna putih. Tahta melihat rumah itu dengan sedikit mengernyit, kemudian dia mengarahkan pandangan pada layar monitor yang ada di dashboard mobil.
"Benar ini rumahnya?" tanyanya seolah tak percaya pada informasi yang dia dapatkan dari GPS di layar tersebut.
"Benarlah. Ayo twins kita turun." Cinta segera membuka sabuk pengamannya dan membuka pintu.
"Yeyy, kita pulang ... kita pulang ..." sorak Ratu dengan girangnya meloncat keluar saat pintu dibuka oleh ibunya.
Raja dengan santai memunguti coklat dan boneka adiknya yang ditinggal begitu saja di jok mobil. Senyum mengembang di bibir Cinta saat Raja turun dari mobil sembari berpegangan pada tangannya.
"Tante, mari masuk."
Dua orang yang baru saja turun itu masih berdiri mematung di depan mobil menatap rumah berpagar putih tersebut.
"I-ini rumah kalian?" Kini Tahta yang membuka mulutnya.
"Iya, ada yang salah?"
"Kalian bertiga tinggal di rumah sekecil ini, Nak?"
"Iya, Tante. Mari kita masuk. Di luar dingin. Sebentar lagi magrib." Cinta memilih menggandeng lengan mantan mertuanya itu. Menuntun Laras memasuki area halaman rumahnya.
Rumput hias mengelilingi pekarangan rumah yang tidak begitu lebat tersebut. Cat yang didominasi warna putih membuat rumah sederhana itu terlihat lebih menonjol dan elegan. Meskipun menurut Laras dan Tahta rumah ini tidak begitu layak, bagi Cinta rumah ini adalah tempat ternyaman untuknya. Jauh dari hiruk pikuk dunia yang terkadang begitu menyakitkan.
"Assalamualaikum," ucap anak-anak saat Cinta membuka pintu dan mereka berlari masuk terlebih dahulu.
__ADS_1
"Di rumah ada orang, Ta?"
"Tidak, Tante. Itu hanya kebiasaan anak-anak saja untuk mengucap salam saat masuk rumah."
"Ibu pikir ada orang, soalnya rumahnya juga masih bersih ditinggal lama," puji Laras sembari mengedarkan pandangannya.
"Biasanya Rumi yang suka datang ke sini pas Cinta tinggal pergi, Tan. Dia bersihkan beberapa hari sekali."
"Rumi itu tetangga kamu?"
"Bukan. Dia adiknya Mas Rudi."
Laras tersenyum sumir mendengar jawaban Cinta. Lagi-lagi keluarga pria itu yang memperhatikan cucu dan mantan menantunya. Begitupun dengan Tahta yang ada di belakang mereka. Raut sedih dan kecewa tergambar jelas di wajahnya saat Cinta kembali menyebut nama pria yang sudah mengganti posisinya itu. Dia kecewa pada dirinya sendiri karena sama sekali tidak berperan apapun dalam kehidupan kedua buah hatinya.
Mereka kembali masuk ke dalam, melangkah ke ruang tengah di mana anak-anaknya berkumpul dan merebahkan tubuh. Netra Tahta langsung terpaku pada tembok yang ada di sisi kirinya. Dia mematung menatap foto dengan ukuran besar yang menempel rapi di tembok tersebut. Tatapannya begitu sulit diartikan. Dadanya bahkan terlihat semakin cepat bergerak naik turun. Foto yang seandainya bisa dia minta tidak pernah ada di dunia ini, pemandangan yang paling menyakitkan pun membuat dadanya berdesir.
"Cantik," gumam Tahta setelah puas memandangi foto pernikahan tersebut.
Seandainya dulu dia tidak begitu keras kepala. Seandainya dulu dia menghargai janji suci yang diikrarkan untuk Cinta. Seandainya dulu dia sekali saja mau meluangkan waktu untuk mengambil gambar pasangan bersama Cinta, mungkin foto mereka berdua saat ini akan menjadi barang paling berharga di dunia ini. Namun, penyesalan hanya tinggal penyesalan. Kata seandainya sudah terlalu banyak terucap, bahkan mungkin dia tidak akan bisa merangkai semua kata seandainya itu dalam semalam.
"Papa, ayo mainan," ajak Ratu dengan suara imutnya sembari menarik kecil ujung kaos abu-abu yang Tahta kenakan.
Bersambung ....
_________________________________
Buat para readers yang baca novel ini, Simi sarankan kalian juga baca novel
Terjerat Pernikahan
Terlambat Mencintaimu
Novel pertama itu masih ada hubungannya dengan Bang Tahta, loh. Dan novel kedua dijamin nggak akan mengecewakan.
__ADS_1