![[Not] A Perfect Marriage](https://asset.asean.biz.id/-not--a-perfect-marriage.webp)
Cinta perlahan mendekati ibu mertuanya yang sedang terbaring di ranjang kamarnya yang begitu luas. Kamar yang terlihat elegan dengan desain bergaya American shabby cick itu terlihat sangat nyaman. Beberapa ornamen dan furniture yang terpajang di sana menunjukkan berapa berkelasnya kamar tersebut. Ini kali pertama Cinta memasuki area pribadi mertuanya.
Tahta mengekor di belakang istrinya. Dari apartemen hingga sampai ke rumah lamanya, Tahta sama sekali tidak menjaga jarak dengan Cinta. Tembok besar di antara mereka sepertinya benar-benar sudah runtuh. Namun, kini Cinta yang ingin menarik garis pembatas di antara keduanya. Dia merasa aneh dan sedikit terganggu dengan sikap Tahta yang selalu menempel di sisinya.
"Ibu?" sapa Cinta sembari mengambil tempat duduk di samping ibu mertuanya.
"Apa Bi Sumi mengabarimu?" tanya wanita paruh baya yang tengah terbaring dengan air muka pucat.
Cinta mengangguk perlahan. "Apa Ibu mau Cinta bawa ke rumah sakit?"
"Tidak perlu. Dokter Adi sudah ke sini tadi pagi. Asam lambung ibu tinggi, hanya butuh istirahat sebentar." Senyum simpul terukir di wajah wanita yang biasanya selalu berekspresi datar tersebut.
Manik mata sayu Laras mengarah ke putranya. Meski sedang sakit dan terlihat lemah, tatapan wanita paruh baya tersebut masih bisa mengisyaratkan rasa kekesalan dan kekecewaannya pada Tahta. Tidak lama, Laras kembali. mengalihkan pandangannya pada Cinta yang sedang memijit lengannya dengan ekspresi sedih.
"Ibu tidak apa-apa, Nak. Kau tidak perlu terlalu khawatir," ujar Laras menenangkan menantunya.
"Di mana ayah?" tanya Tahta yang beberapa hari ini tidak mendapati keberadaan ayahnya di perusahaan.
Laras tidak menjawab. Dia hanya mengalihkan bola matanya dengan malas ke arah lain. Melihat hal tersebut Bi Sumi yang sedari tadi berdiri di samping pintu membuka suara. "Tuan Besar sedang pergi ke luar negeri, Tuan Muda."
Apa dia menemui selingkuhannya yang lain saat ibu sedang sakit seperti ini? Tahta mengetatkan rahang bawah memikirkan tentang sifat buruk ayahnya.
...----------------...
Warna jingga yang menghiasi permukaannya langit kota sudah mulai berangsur memudar. Tidak ada bintang yang terlihat di sekitar rumah Laras malam ini. Langit berwarna hitam pekat menyelimuti malam di kota Kuala Lumpur. Suara petir saling bersahutan, bahkan kilatannya mampu menerangi kota dalam sekejap mata.
Cinta masih setia menunggu ibu mertuanya yang sedang menikmati makan malam di dalam kamarnya. Tahta pun juga berada di sana. Duduk di sofa sembari asyik memainkan ponsel di tangannya.
"Tahta, kau pulalah sendiri. Aku akan menginap di sini beberapa hari untuk menemani ibu," ujar Cinta sambil menoleh ke arah Tahta di belakangnya.
__ADS_1
Tahta mengangkat kepala, menatap manik mata Cinta yang bening sedang terarah padanya. Dia tidak mengeluarkan sepatah kata pun, dan hanya menatap nanar Cinta. Jika biasanya tanpa diminta pun dia akan dengan senang hati meninggalkan Cinta, tapi kali ini berbeda. Entah kenapa lidahnya terasa kaku untuk sekedar menjawab iya, atas permintaan wanita di hadapannya tersebut. Ada kekosongan di hatinya saat membayangkan harus pulang ke apartemennya yang besar itu tanpa ada Cinta di sekitarnya.
"Tidak. Aku akan di sini menemanimu."
"Tidak perlu."
"Ini rumah orangtuaku."
"Tapi kau biasanya juga tidak pernah pulang, kan?"
"Di luar sedang hujan deras. Bagaimana kalo jalanan licin dan aku mengalami kecelakaan di jalan?"
Suasana di kamar wanita paruh baya itu menjadi sedikit tegang karena perdebatan sepasang suami istri tersebut. Laras sedikit terkejut melihat interaksi keduanya. Dia seperti sedang melihat masa lalu. Interaksi antara Tahta dan Cinta mengingatkan Laras pada hari di mana wanita serigala itu belum datang mengusik hubungan mereka. Hatinya seketika menghangat. Tidak ada yang lebih dia inginkannya, selain melihat anak dan menantunya bisa berhubungan layaknya pasangan suami istri.
Laras meraih ponsel yang tergeletak di sebelahnya. Mengirim pesan darurat kepada Bi Sumi yang sedang sibuk memasak di dapur.
Laras mengarahkan pandangannya pada Cinta setelah berhasil mengirim pesan singkat yang tentunya ada maksud tertentu tersebut. "Tidurlah, Nak. Ini sudah malam, biarkan saja Tahta berbuat sesukanya."
"Baiklah, Bu. Ibu juga segeralah beristirahat," ujar Cinta sembari tersenyum manis kepada mertuanya.
Wanita muda yang mengenakan pakaian kasual itu beranjak pergi. Namun, sebelum keluar dari kamar tersebut Cinta sempat melayangkan tatapan sinisnya kepada Tahta yang juga ikut beranjak dari sofa.
Ada senyum tipis yang bahkan hampir tidak terlihat di sudut bibir Tahta, saat Cinta menutup pintu dengan ekspresi wajah kesalnya. Tahta melenggang pergi tanpa menatap ibuny, yang tanpa dia sadari sedari tadi memperhatikan gerak-gerik di antara kedua pasangan tersebut.
"Ibu berharap tidak pernah ada penyesalan dalam hidupmu, Tahta," celetuk Laras dengan nada dingin, saat putranya itu hendak melangkahkan kaki keluar kamar. Tahta menengok sekilas dan berlalu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun sebagai tanggapan.
...----------------...
"Aduuh, kok bisa rusak disaat seperti ini, sih Bi," keluh Cinta sambil mengintip lubang kunci pintu kamar tamu.
__ADS_1
"Itu kemarin waktu saya mau buka pintu, muter kuncinya kekencangan, Non. Jadi kuncinya patah di dalam. Saya sudah panggil ahli kunci tapi dia masih ada kerjaan," kilah Bi Sumi sambil menunjukkan kunci yang sudah tinggal setengahnya.
"Ya udah kalo gitu aku tidur di kamar atas saja, Bi."
"Eh, tapi kamar atas kotor banget, Non. Karena tidak pernah ditempati jadi jarang dibersihkan."
"Nggak apa-apa, nanti Cinta bersihin, Bi. Masak iya mau tidur di ruang tengah."
"Tidur di kamarku," sahut pria yang baru saja menuruni anak tangga.
Kedua wanita yang sama-sama sedang mencari solusi masalah mereka masing-masing itu menoleh bersamaan ke arah sumber suara. Cinta memberikan tatapan aneh pada Tahta. Dia sekarang benar-benar yakin otak suaminya tersebut sedang tidak baik-baik saja.
"Tidak mau!"
"Kalau begitu tidur saja di sofa. Sudah Bi, tinggalkan saja dia."
Bi Sumi terlihat bingung. Dia menatap kedua tuan dan nona mudanya itu bergantian. Namun, pada akhirnya Bi Sumi memilih meninggalkan keduanya. Dia baru menyadari tujuan dari nyonya rumah yang memintanya untuk membohongi Cinta.
Untung saja aku sedikit pintar. Biarlah besok Amir saja yang cari ahli kunci, yang penting Non Cinta bahagia, batin Bi Sumi dengan senyum jahilnya.
...Bersambung .......
...****************...
Hayo yang sedari tadi rame malakin Simi buat dobel up. Awas saja kalo sampe nggak bikin kerusuhan di kolom komentar, aku doain kalian semua sukses, yaa.
Insyaallah akan segera di-update lagi, ya Dear. Terima kasih atas dukungan kalian yang bisa bikin Simi semangat update.
__ADS_1