![[Not] A Perfect Marriage](https://asset.asean.biz.id/-not--a-perfect-marriage.webp)
Mobil berwarna hitam itu bergerak dengan kecepatan tinggi membelah keramaian malam di kota Kuala Lumpur. Setengah jam lebih perjalanan mobil tersebut akhirnya sampai di area parkir apartemen yang Cinta tinggali.
"Apa kau masih ingin menangis?" tanya Tahta dingin.
Cinta menggeleng dengan sedikit memajukan kedua bibirnya. Iya, dia sudah melupakan semua kesalahannya karena sebuah kalimat sederhana yang diucapkan Tahta. Cinta masih tidak percaya pria di hadapannya itu rela meninggalkan acara kencan hanya untuk menjemputnya. Rasanya seperti masih tersisa harapan untuk bisa menyelusup ke dalam hati cinta pertamanya tersebut.
Tahta turun dan membukakan pintu untuk Cinta. Menatap raut wajah Cinta membuatnya kembali merasa bersalah karena tidak menepati janjinya.
Cinta memasang senyum simpul saat Tahta berinisiatif membukakan pintu untuknya. Dia turun dari mobil dan berdiri mematung di hadapan pria bertubuh tinggi tersebut.
"Terima kasih," ucap Cinta dengan tulus.
"Bukankah sudah. sedikit terlambat untuk mengatakan kalimat itu?" ejek Tahta.
"Kau tahu? Kau adalah satu-satunya pria yang bisa membuatku bahagia. Satu-satunya pria yang bisa aku andalkan selain ayahku. Aku merasa takut, aku takut tidak ada lagi tempat bersandar jika kau tidak lagi peduli padaku," ungka Cinta dengan air mata yang kembali menggenang.
Tahta mengangkat kepala Cinta yang tertunduk dengan perlahan. Dia dengan lembut menyeka air mata wanita itu dan mengelus rambut hitam berkilau Cinta dengan tatapan teduh.
"Aku ...." Cinta terlihat ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
Wanita itu memberanikan diri menatap mata coklat Tahta dengan intens. "... aku ingin menikah denganmu. Aku mencintaimu, Tahta. Aku mencintaimu."
Betapa tercengangnya Tahta mendengar pengakuan Cinta yang begitu tiba-tiba. Bola matanya bahkan sampai menonjol dan seperti hampir menggelinding keluar dari tempatnya. Lidah Tahta tiba-tiba saja terasa kaku, dan otaknya seolah tidak mampu untuk memikirkan apapun. Dia mengambil dua langkah mundur menjauhi wanita yang menatapnya dengan mata sembab tersebut.
__ADS_1
"A–apa kau gila? Kai sedang bercanda?" celetuk Tahta masih tidak percaya dengan kalimat yang baru saja didengarnya.
"Tidak. Aku serius, aku berani bersumpah aku sudah mencintaimu sejak pertama kali melihatmu. Aku sudah begitu lama menyimpan perasaan ini, Tahta. Aku mohon menikahlah denganku. Tinggalkan dia yang tidak benar-benar mencintaimu itu."
Cinta melangkah maju mendekat ke arah pria yang masih diam membatu di tempatnya. Dia meraih tangan kiri Tahta dan menggenggam telapak tangan berotot itu dengan kedua tangan, diiringi senyum manisnya.
Tahta tersadar saat merasakan genggaman di telapak tangan kirinya, dan mengarahkan tatapan tajamnya pada kedua tangan Cinta. Dia menghempaskan tangan Cinta begitu saja dan kembali melangkah mundur.
"Aku tidak mencintaimu. Aku tidak akan pernah menikah denganmu," ucap Tahta dingin.
Pria dengan tampang yang suram itu bergegas menjauh dari Cinta. Dia masih terlihat syok. Wajahnya menegang dan alisnya hampir menyatu.
"Tahta, tunggu aku! Dengarkan aku, Tahta." Cinta mengejar pria pujaannya itu.
"Tahta! Aku mencintaimu. Tolong tetaplah bersamaku," Wanita yang sudah berderai air mata tersebut memeluk erat Tahta dari belakang.
"Tidak. Aku tidak mau kau disakiti, tinggalkan wanita j*lang itu. Aku mohon, Tahta. Jangan pergi, aku ingin menikahimu," rengek Cinta dengan tangisnya yang terdengar memilukan.
"Lepas!" Kali ini Tahta mengerahkan tenaga untuk membebaskan diri dari Cinta, hingga tubuh Cinta terhempas dan jatuh.
Dia menatap tajam Cinta yang masih terduduk dengan bahunya yang bergetar karena tangisan. "Aku tidak pernah sekalipun menganggapmu sebagai seorang wanita yang bisa aku cintai. Tidak sekalipun. Ingat itu,"
Tahta melenggang pergi masuk ke dalam mobil, meninggalkan Cinta yang menangis pilu. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan ucapan Cinta. Tahta selama ini hanya menganggap wanita itu sebagai adik yang harus dia jaga, tapi sekarang semua itu tidak berlaku lagi. Pria berotot itu mencengkeram setir mobil dengan napas yang tidak teratur, meninggalkan tempat yang membuatnya sulit bernapas tersebut.
__ADS_1
Wanita cantik yang berusaha memperjuangkan cinta pertamanya itu hanya bisa meratap sedih atas penolakan yang dia dapatkan. Hatinya berdenyut nyeri, rasanya hampir seperti tersayat pisau dan membuat raganya tak berdaya. Kaki Cinta serasa tak bertulang lagi, hanya bisa pasrah melihat mobil yang berjalan semakin menjauh darinya tersebut.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sedang mengawasi keduanya. Seorang wanita paruh baya dengan tampilan elegannya, berdiri mematung di samping lift yang tidak jauh dari tempat Cinta. Dia berjalan menghampiri Cinta yang masih terduduk lemah. Langkah kaki wanita itu terdengar jelas dan menggema semakin mendekat ke arah Cinta.
"Cinta," ucapnya sambil menepuk perlahan bahu Cinta.
Cinta menoleh ke arahnya dengan air mata yang masih setia berlinang tanpa bisa dia hentikan. Mata wanita itu membulat saat kedua netranya bertatap langsung dengan wanita paruh baya tersebut.
"Tante?" Cinta berusaha menyeka air mata yang terus menerus mengalir saat menyadari Laras ada di belakangnya.
"Ayo, bangunlah. Kau tidak sepantasnya bersimpuh seperti ini," ucap Laras membantu Cinta berdiri.
Cinta tidak berani mengangkat kepalanya. Dia menunduk dalam, melihat air mata meluncur ke lantai parkiran apartemennya.
Laras menatap sendu sesosok wanita yang sudah seperti putrinya itu. Sejak kecil dia menyaksikan pertumbuhan Cinta, dan sekarang dialah satu-satunya orang yang bisa menguatkannya. Laras memeluknya, menepuk lembut pundak Cinta berharap bisa memberikan rasa nyaman untuknya.
"Ayo kita pergi dari sini," ajak Laras sambil menuntun Cinta masuk ke dalam mobil miliknya.
Sementara itu, Tahta dengan perasaan campur aduk membelah keramaian malam dengan mobil berkecepatan tinggi miliknya. Sepanjang jalan menuju apartemen, rahang pria itu mengetat dengan tangan sesekali memukul setir mobilnya.
"Si*l!" umpatnya penuh amarah.
"Kenapa Cinta jadi seperti ini. Dia bahkan memfitnah Bella karena keegoisannya. Seharusnya aku mendengarkan ucapan Bella." Tahta mengacak rambutnya dengan kasar.
__ADS_1
"Lain kali aku tidak boleh bersikap terlalu lembut padanya agar tidak ada kesalahpahaman lagi. Aku yakin dia hanya sedang terbawa suasana karena ada Bella. Ya, pasti karena itu."
...Bersambung .......