
Lalu, pelan-pelan aku menceritakan tentang kejadian hari itu.
Hari di mana pertama kali aku bertemu dengan kesatria penolong yang juga merupakan ayah dari jabang bayiku.
One night stand in Santorini, OIA.
Firda sempat terbelalak kaget saat kuceritakan tentang lelaki mabuk yang hampir memukulku dengan botol bir. Tampangnya berubah kesal waktu kubilang kalau Leon bersama dengan wanita lain malam itu. Begitu juga saat kukatakan gara-gara menolongku—lelaki itu mendapat luka parah pada lengan kirinya—Firda meringis miris seakan ikut merasakan luka perihnya. Dan … yang terakhir ketika Leon menyeretku pulang paksa sampai kami kembali ke tanah air, karena kekesalanku pada Leon kuputuskan untuk mengakhiri hubunganku dengannya. Yup, aku minta putus darinya.
“Terus sekarang, kamu mau bagaimana?” tanya Firda spontan bertanya ketika aku baru saja selesai bicara.
“Tentu saja mencarinya.”
“Cari ke mana? Emangnya ‘dunia selebar daun kelor’. Mending kamu_” ucapnya tak selesai bicara.
“Enggak, Fir. Aku gak akan lakukan itu. Aku rela jadi single parent daripada melakukan hal laknat itu,” ujarku kesal mendengarnya bicara. Setitik air mata menetes di pipiku, sedih.
Firda menyeka air mataku dengan tisu yang diambilnya. “Sudah, sudah. Maafin aku, anggap saja aku gak pernah ngomong tadi. Nanti aku bantu cari. Oke!” katanya mencoba menenangkanku. “Jangan sedih. Aku akan bantu kamu, kalau perlu aku bakal keliling dunia buat cari dia.” Manik matanya seakan menyala-nyala terbakar semangat.
Aku tersenyum geli mendengarnya bicara barusan lalu memberinya pelukan hangat. “Terima kasih Fir. Aku gak tahu mesti bagaimana kalau seandainya gak ada kamu.”
“Jangan nangis. Gak baik buat si kecil,” tuturnya menasehati ala mama.
“Aku jadi terharu.” Isakku sedih.
Firda menepuk-nepuk punggungku sayang. “Sudah, sudah. Sudah malam, tidur gih. Aku juga mau pulang.”
Dengan cepat aku menarik lengannya yang hendak pergi sembari merengek manja, “Temani dong! Aku lagi gak mau tidur sendiri.”
Firda menghela napas pendek, melihat jam di dinding. “Baiklah. Aku pinjam piyamamu.”
Senyum senang tersungging dari bibirku—bergegas beranjak dari duduk mengambilkan piyama untuknya. Hufh … sedikit merasa terobati—ada yang menemaniku sekarang—biar tidak terlalu kepikiran dengan masalah yang sedang kuhadapi sekarang.
Pagi yang cerah, aku memulai hariku dengan … uwek!
__ADS_1
Morning sickness istilah yang biasa dipakai buat ibu hamil. Mual dan muntah tentu saja.
Terdengar langkah kaki seseorang mengikutiku ke kamar mandi. “Nes, kamu gak apa-apa?”
Kubasuh mulutku dengan tisu toilet, menolehnya pelan. “Enggak apa. Cuma mual saja.”
“Jadi ke rumah mamamu.”
Kali ini kubalikkan badan, menatapnya penuh. “Ke sana gak ya? Aku malah takut kalau mama tahu kondisiku.”
“Makan dulu saja terus minum jus jeruk biar gak mual. Biar kubuatkan, kamu mandi gih.”
Aku balas mengangguk mengiyakan. Menutup pintu kamar mandi setelah Firda betul-betul menghilang di balik tembok pembatas antara kamar mandi dan kamar tidur.
Dua jam kemudian mobilku memasuki pekarangan sebuah rumah yang rindang penuh warna-warni bunga anggrek dengan pohon mangga gadung besar tumbuh di samping tembok pagar rumah. Rasanya kaki ini enggan untuk turun, tapi Firda mengusap sayang punggung tanganku mencoba menenangkan dan meyakinkanku.
Firda memintaku untuk selalu berjalan pelan dan hati-hati. Kayak anak kecil baru sunat, harus jalan pelan-pelan. Hehehe sedikit membuatku tersenyum geli melihat sikap dan perlakuannya yang ‘over protektif’ khawatir berlebihan.
Kucomot tempe goreng hangat yang baru saja terhidang di atas meja dapur. Menatap halaman pekarangan rumah dari jendela dapur besar transparan. Papa yang pecinta bunga anggrek saking sukanya sama tuh bunga separuh dinding pagar isinya bunga anggrek berjajar berwarna-warni dari segala spesies.
Suara bising gergaji listrik dari sebelah rumah memekak sampai di telinga. Sembari menatap bunga pandanganku tertuju pada satu hal. “Ma, di sebelah ada yang bangun rumah?” tanyaku pada mama yang tengah sibuk membuat adonan donat kesukaanku.
“Iya, mungkin. Mama juga enggak tahu,” jawab mama tanpa menengok ke arahku.
“Rumah siapa, ma?” tanyaku menatap punggung mama yang tengah berdiri membelakangiku.
“Gak tahu sayang … coba saja kamu tanya tukangnya,” jawab mama dengan nada sedikit sewot.
“Ah, mama. Kalau Nesya yang tanya bisa-bisa diculik sama tukangnya,” cibirku menggerutu mengerucutkan bibir.
“Ya, enggak ‘lah sayang.”
“Kan Nesya cantik,” kataku terlalu pede, sengaja melontarkan banyolan garing sekedar merubah suasana. Tak pelak mama pun tertawa geli mendengarnya.
__ADS_1
Sontak membalikkan badan. “Narsisnya anak mama,” ucapnya mencubit ujung hidungku gemas.
Kami pun tertawa bahagia bersama. Dalam hati kecil aku merasa rindu akan momen seperti ini, bercengkrama bersama orang tersayang.
Senja mulai menampakkan warnanya di ufuk barat, suara bising itu sudah betul-betul berhenti tatkala langit menyongsong separuh malam. Suasananya berganti senyap, sunyi, hanya suara jangkrik terdengar bernyanyi girang dengan nada minor c saling bersahut sahutan.
Kubuka tirai jendela kamar, menatap bangunan belum jadi yang setengah tertutup dinding tembok pagar rumahku. Rumah siapa ya? batinku bertanya-tanya.
Aku menguap lebar, kantuk menyerang begitu saja. Masih terlalu sore untuk tidur, tapi rasanya aku tak kuat menahan. Kubiarkan jendelanya terbuka, berjalan gontai menuju tempat tidur. Perutku tidak betul-betul kenyang sebetulnya, entah mengapa kelopak mataku tidak mau diajak kompromi. Aku tertidur lelap—bergeming—meski teriakan mama yang menyuruhku makan terdengar sampai di telinga.
Waktu bergulir cepat seiring detik jam dinding yang berputar tik-tok-tik-tok. Separuh terbangun ketika iris mata hitam belok memerah menatap langit-langit kamar, lalu beralih menatap ke arah jendela. Tampak gelap gulita di luar sana.
Kruuuk! Bunyi perutku berdendang nyaring. Aku mendengus pelan. Kurasa makhluk kecil dalam perutku meronta minta makan.
Telapak tangan ini mengusap sayang bagian perut yang masih terlihat datar dan sexy, belum ada tanda-tanda membesar.
Kupandangi jam dinding, tepatnya pukul 22.13—rasanya enggan untuk turun dari tempat tidur—mungkin karena efek sisa kantuk. Menuruni anak tangga satu per satu, menuju dapur. Membuka pintu kulkas tidak sabar. Kosong! Tidak ada cemilan atau buah siap makan, hanya beberapa botol berisi air dingin dan makanan beku.
Hufh! Terpaksa, aku harus keluar malam-malam untuk membeli makan. Beli makan di mana ya? O, ya! Di ujung jalan komplek ada penjual nasi goreng, berpikir cepat.
Segera saja aku berjalan keluar dari rumah.
Eits! Tunggu! Aku lupa belum pakai jaket dan masker. Kubalikkan badan kembali ke dalam kamar, hanya semenit aku keluar dari dalam rumah dengan costum anti wartawan: masker. Biasanya kalau keluar ke mall atau jalan-jalan atributnya lebih lengkap lagi: masker, jaket, topi dan kacamata hitam.
*Hehehe, menurutmu apa aku berlebihan?
⭕😎
Pagi, selamat hari pancasila. semoga pandemi cepat berakhir. bwt jangan lupa like dan komen ya teman. bantu rate bintang 5 juga dong
Terima kasih*
__ADS_1