
Aku menaruh panci di atas meja makan dan kembali ke kamar, bermaksud mengambilkan selimut untuk Fint, ketika hendak menyelimuti, Fint terbangun dengan kedua mata menatap tajam padaku.
Ia menarik lengan kiriku hingga membuatku terjatuh dipelukannya. Kedua tangannya melingkar ketat di pinggangku.
“Fint! Lepasin.”
Cup!
Kecupan singkat mendarat di bibirku. Aku mengulum bibir ke dalam rapat-rapat, menoleh samping, sebagai isyarat kalau aku tidak ingin berciuman.
“Katanya pulang, kok masih di sini?”
“Aku nggak tega ninggalin kamu sendirian di rumah.”
Kuhela napas pendek, “Biasanya juga sendirian.”
“Uhm, oke. Aku pulang saja sekarang.”
Klontang!
Terdengar suara barang jatuh di luar rumah. Kepalaku menoleh ke arah jendela. Kaget, benar-benar membuatku kaget dan was-was.
Kutepuk pundaknya pelan. “Fint, apaan tuh! Coba lihat,” pintaku padanya dengan wajah penasaran.
“Biarin aja,” balasnya tenang.
“Fint…”
“Nesya, aku ngantuk,” ucapnya beralasan, padahal ia hanya malas untuk beranjak dari tempatnya, dan ingin memelukku lebih lama.
“Nesya.”
“Hmm…” gumamku menjawab.
Fint tersenyum tipis, membetulkan anak rambutku yang jatuh ke wajahnya.
“Kenapa menciumku?” suaranya lembut, selembut beladu.
Pipiku merona seketika itu juga. “Tidak. Siapa juga yang cium kamu,” elakku berbohong. Aku tahu aku tidak pandai berbohong.
Fint menepuk pipinya (bekas kecupan bibirku) dengan jari telunjuknya. Kupalingkan pandanganku, menatap ke arah lain, berpura-pura tidak tahu.
Terkaget, pupil mataku melebar ketika Fint menangkup wajahku dengan kedua tangannya, meraup bibirku, menyesapnya perlahan. Menggayut-gayut tak memberi jeda. Ciumannya di leherku memberikan sensasi yang luar biasa. Entah kenapa tubuhku tak menolak kala jari jemarinya menggerayang nakal di kulit tubuhku.
__ADS_1
Malam ini, aku benar-benar merasakan betapa aku masih menginginkan Fint. Melupakan sejenak rentetan kejadian tentang Irwansyah, Regan, Kent dan Reza, ingin rasanya kusapu bersih bayangan mereka dari simpanan memoriku.
Kupandangi pria yang tengah tertidur di sampingku. Fint… mungkin bersamanya aku bisa bahagia. Kukecup pipinya sekali lagi, seketika itu juga ia bergerak berbaring ke samping, memelukku, membiarkanku terbenam dalam dekapan kedua lengannya.
Untuk kesekian kalinya, Fint melamarku lagi saat kutunjukkan berita tentangku di media sosial, tapi ia tidak memaksaku untuk menerima lamarannya seperti sebelum-sebelumnya.
“Nesya, kau masih ragu padaku?”
Kuhela napas pendek, menatap wajah pria yang selalu siap menikahiku kapan saja. Esok atau bahkan lusa pun ia siap.
“Entahlah, aku tidak bisa berpikir sekarang.”
Ia mendengus pelan, lalu berkata, “Semua terserah padamu, aku tidak akan memaksamu.”
...♥️♥️♥️♥️♥️♥️...
Matahari menerobos masuk melalui celah tirai kamar yang sepi. Sinarnya mengenai pelupuk matanya sebelah kiri. Saat ia membuka mata, ia tak menemukan pria itu di sampingnya.
Mungkin Fint sudah berangkat kerja? Batinnya sembari menyingkap selimut yang menutup tubuh tanpa busana selembar pun.
Turun dari tempat tidur, ia menyambar kaus, dan hotpants miliknya yang tergeletak di bawah lantai. Memakainya, lalu bergegas ke kamar mandi.
Bruk!
“Fint!”
Nesya mengusap dahinya yang sakit. Ia tak menyangka kalau Fint masih berada di dalam rumahnya, hanya memakai selembar handuk di badan dengan dada telanjang.
“Sudah bangun.”
“Kupikir dah pulang.”
Seutas senyum tipis tersungging dari bibirnya, “Ngusir nih ceritanya.” Kedua lengannya melingkar di leherku sayang.
“Eng… enggak kok.”
Sebuah kecupan singkat mendarat di pipi kiriku, reflek membuat tanganku menyentuh bekas kecupannya.
Pipiku serasa panas. “A-aku mandi dulu,” kataku menerobos pertahanan lengannya, berjalan lurus menuju kamar mandi.
Selesai mandi, aku kembali dikejutkan olehnya. Fint, sedang memasak si dapur. Hari ini, apa dia berencana untuk libur? Ini hari Senin, hari yang sibuk.
Seutas senyum tersungging tipis dari bibirku. Aku bersyukur, setidaknya Fint menemaniku pagi ini. Entah kenapa ketika kedua mata ini menatap padanya, dada ini tiba-tiba berdebar tak menentu. Perasaan yang sudah lama tak pernah kurasakan, tampaknya… aku jatuh cinta pada pria yang sama sekali lagi.
__ADS_1
Dengan senyum ceria aku menyapanya, “Masak apa?”
“Masak buat kamu.”
“Iya tahu, maksudku masak apa?”
“Nasi goreng rasa cinta.”
Aku menahan senyum, memutar bola mata malu-malu mendengar kalimat bucin yang terlontar dari mulut manisnya.
“Auw! Sayang…” ujarnya memanggilku dengan manja seketika tanganku mencubiti pinggangnya gemas. “Hei! Hei! Hentikan.”
Kedua tangannya memegang kedua pergelangan tanganku, kemudian mendaratkan kecupan kecil di bibirku. Tak puas hanya mengecup, kedua tangannya menangkup rahangku dan mulai ******* bibirku intens. Kutepuk-tepuk dadanya, ketika hidungku mencium sesuatu.
Kutarik bibirku, menghentikan ciuman. “Fint! Fint!” pekikku kembali menepuk-nepuk dadanya.
Fint spontan terbelalak kaget, segera mematikan kompor. Terlambat, nasi gorengnya sudah lebih dulu gosong, kami berdua tertawa bersama melihat nasi gosong di wajan penggorengan.
"Tuh kan, gosong. Kamu sih! Nggak jadi sarapan deh."
“Melihatmu saja sudah kenyang,” ucapnya menggodaku.
“Fint, sudah…” kudorong dadanya dengan kedua tanganku.
Kruk!
Suara perutku menyapa lantang, kututupi perutku malu. Tentu saja aku lapar, semalam belum makan.
“Makan di luar yuk! Kamu mau makan apa?”
“Uhm, makan rawon langganan kamu aja,” jawabku tersenyum, kemudian melingkarkan tanganku di lengannya. “Ayo, aku dah lapar.”
Mata Fint menyipit kala tersenyum. “Iya, iya. Ayo makan.”
Aku menggelandangnya keluar dari dalam rumah. Fint membantuku membukakan pintu sebelum dirinya masuk dan duduk di kursi pengemudi.
Sesampainya di warung, kami memesan dua piring nasi rawon lengkap dengan empal daging sebesar dompet koinku. Tak lupa kecambah kecil dan sambal sebagai pelengkap rasa.
Hmm, sedap… sudah lama kami berdua tidak tempat Warung makan pinggir jalan dengan beberapa kursi plastik sebagai tempat duduk.
Asyik dan menyenangkan, makan sambil menikmati merdu suara kendaraan lalu lalang dan celometan para pejalan kaki.
🔶🔸🔸🔸🥰
__ADS_1
Senang nggak waktu diajak pacar makan di warung pinggir jalan?