12 MANTAN

12 MANTAN
PART 36 KATAKAN SEBENARNYA


__ADS_3

Aku berlari dan berlari, coba lepas dari pria gila yang berlari memburuku dari belakang, sekarang. Napasku terengah-engah, kurasakan sakit di sekitar perut, namun aku tetap berlari tak ingin tertangkap olehnya.


Langkahku mulai tak tentu arah, aku tidak tahu harus pergi kemana lagi, menyusuri jalan berbatu menghindari pepohonan yang tiba-tiba muncul menghalangi jalanku.


Aku hampir terperosok jatuh terjerembap, kalau saja tanganku tidak lebih dulu berpegangan pada tiang pohon besar.


Grab!


Sebuah tangan menarik punggung tanganku kuat-kuat. Membuatku reflek memutar badan mendapati kedua bola mata yang tengah menatap kejam padaku.


Kelopak mataku terbuka lebar, terdiam, mengumpulkan sisa-sisa jiwa yang masih separuh sadar. Pandanganku mengedar, kusadari seseorang sedang menggenggam jari jemari tanganku erat.


Mimpi, barusan hanya mimpi, tapi sosok yang duduk di sebelahku sekarang tampak nyata, sangat nyata karena aku bisa merasakan hangat ruas telapak tangan yang kini menggenggam tanganku.


Ia memandangiku sembari mengusap pipiku sayang. “Sayang, kamu tidak apa-apa? Ada yang sakit?”


“Kent…”


Kuhela napas lega, syukurlah, kupikir Reza berhasil menyekapku di suatu tempat aneh, penuh dengan orang-orang jahat tak kukenal, sangat menyeramkan.


Saat kubuka mata sekali lagi, senyum mengembang dari bibirku, aku senang dia ada, nyata adanya, batinku lega.


Aku memeluk tangannya dengan kedua belah tanganku, memejamkan mata sekali lagi, berharap ini semua bukan hanya mimpi belaka.


“Jangan pikirkan apapun. Aku di sini,” kata-katanya terdengar sehalus beledu di telingaku, sungguh menenangkan hati.


Ia mendekatkan diri, mengecup bibirku singkat. Menatapku lebih lekat, tapi… ada satu hal yang kurasa janggal. Kedua matanya sembab memerah.


“Kamu habis nangis?” tanyaku meneliti kedua iris matanya yang memerah.

__ADS_1


Kent menggelengkan kepala pelan, mengusap matanya sekali, kemudian beralih menatapku lagi dan tersenyum.


“Lapar tidak?”


Aku balas menggelengkan kepala, menolak tawarannya. Tiba-tiba saja seseorang membuka pintu dan masuk, raut wajahnya menyembul dari balik pintu.


“Nesya!” serunya panik memanggil namaku, berjalan cepat menghampiri tempat tidurku.


Fint menepuk pundak Kent, memberi isyarat padanya untuk segera beranjak dari duduk. Tak pelak dengan berat hati Kent berdiri dari duduk dan bergeser, berdiri di sebelah Fint. Fint memegang punggung tanganku lembut.


“Hei! Jangan pegang-pegang,” pekik Kent menyingkirkan tangan Fint dari tanganku dengan muka geram sedangkan Fint melotot galak padanya, sembari menggerutu lirih.


“Sudahlah, jangan bertengkar di depanku.”


Aku terkikik geli melihat tingkah laku keduanya. Akch! Kenapa perutku  terasa nyeri, sakit, teramat sangat sakit, seperti ada luka di dalam perutku.


“Kenapa sayang?” tanya keduanya bersamaan, kemudian mereka berdua saling  menatap.


Ekspresi muka Fint tampak panik, namun tak sepanik wajah Kent yang terlihat sangat mencemaskanku. Kent terburu-buru berjalan memutari tempat tidur, menggenggam punggung tanganku erat.


“Perutmu sakit?” ujarnya panik.


Aku mendongak, menyusuri iris mata hazel itu, meneliti bulatan pupil matanya, coba menerka-nerka. “Kent, perutku kenapa?” balasku bertanya sembari memegang perut.


Kent terdiam, mengulum bibir ke dalam seakan menahan tuk bicara lebih jauh. Ia tak segera menjawab, malah melayangkan pandangan pada Fint. Seolah paham, perlahan Fint undur diri, berdiri dari duduk, keluar dari dalam ruangan tanpa bicara sepatah kata pun.


Kini, tinggal aku dan Kent, saling menatap dalam diam. Kedua bola matanya menatapku lekat-lekat, sambil memegang kedua tanganku semakin erat. Kent tertunduk dalam, tatapan matanya berubah sedih, berkaca-kaca, menelan ludah pelan seperti menahan tangis.


“Kent, katakan. Apa yang sebenarnya terjadi?” kataku dengan nada tegas, menanti sebuah jawaban pasti keluar dari mulutnya.

__ADS_1


“Nesya…” ucapnya memanggil namaku, kedua belah matanya mulai berair.


Kent memalingkan muka ke samping, memandang ke tempat lain, sepertinya Kent berusaha menyembunyikan sesuatu dariku.


Kutangkup wajahnya dengan kedua tangan, memaksanya tuk menatap padaku. “Kamu kok nangis, kenapa?” tanyaku hati-hati


“Sayang, maafin aku. Aku, aku_” ucapnya tak selesai, menyeka air mata dengan punggung tangan kanannya.


Kutatap kedua matanya dan pipinya yang basah oleh tangis, menyetarakan pandangan dengannya. “Kent kenapa? Katakan, jangan menangis.”


Ibu jariku mengusap air matanya pelan, kemudian ia memelukku, menangis lepas di pelukanku. Kuusap punggungnya sayang, coba menenangkan  perasaannya yang sedang sedih.


Aku sendiri tidak tahu kenapa dia begitu sedih. Apa yang sebenarnya terjadi?


Deg!


Setitik air mata meleleh dari kedua kelopak mata. Hatinya hancur, bukan, melainkan jiwa, dan raganya, seakan hancur berkeping-keping.


Tangis pilu pecah seketika itu juga, meraung-raung tak terkontrol. Sedih, pedih, sesak di dada, sungguh menyakitkan.


🔶🔸☺️


...Malam semua...


...malam penuh bintang...


...sepenuh hatiku...


...menuangkan cerita untuk kamu...

__ADS_1


__ADS_2