12 MANTAN

12 MANTAN
PART 41 TANGAN ITU MENCENGKERAM KUAT


__ADS_3

Pandanganku mengedar, tempat ini terlalu ramai, batinku menggurutu dalam hati. Tante Inge baru saja pergi menyambut para tamu yang datang.


Kuputuskan mengisi perutku sedikit sebelum meninggalkan tempat ini. Mengambil sepotong cheese cake dan memakannya.


“Nesya,”


Seseorang menyapa, kubalikkan badan melihatnya. Regan, berdiri dengan seringai senyum meremehkan. Kutaruh piringku di atas meja, membalikkan badan bergegas pergi, namun tangan besar itu lebih dulu menahan langkahku.


“Mau kemana sayang?”


Kutepis pegangan tangannya kasar, ucapannya barusan terdengar menjijikkan. Segera kuambil ponselku dalam tas, berpura-pura menerima telepon, berjalan keluar dari dalam pesta. Kulangkahkan kakiku, berjalan cepat sedikit berlari.


Kaget, tanpa kuduga bahwa Regan sengaja mengikuti dari belakang. Kupercepat langkahku menuju lift, menekan tombol lift dengan hati was-was.


Grab!


“Mau kemana?”


“Regan, lepasin,” pekikku berusaha lepas dari pegangan tangannya.


“Kenapa sih kamu menghindar terus. Aku kan cuma mau bicara.”


“Mau bicara apa,” kataku sengit, “bicara saja, nggak perlu pegang-pegang.”


“Ikut aku.”


Regan menyeretku ke arah pintu darurat. Tangan kanannya memegang erat bahu tanganku, sebelah tangannya lagi mencengkeram kuat lengan kananku, seutas senyuman miring tersungging dari bibirnya, sudut matanya menatapku seolah siap menerkamku kapan saja.


“Ck! Yang diberita itu… kamu kan?” celetuk Regan berdecak pelan, raut mukanya terkesan mengejek.


“Enggak.”


Jari jarinya menari-nari di kulit pipiku tanpa sungkan, Regan terkekeh mengejek, “Kalau bukan kamu, siapa?” kata-katanya terdengar sebagai tuduhan padaku.


Aku terdiam tak menjawab pertanyaannya, tidak ada untungnya aku menceritakan yang sebenarnya pada Regan, yang ada malah menambah masalah baru untuk diriku sendiri.


“Jadi… kamu sudah putus sama Fint.” Alisnya yang tebal terangkat, terlihat jahat. “Aku siap jadi pengganti Fint.”


“Jangan mimpi Regan, aku tidak sudi bersamamu.”

__ADS_1


“Oh ya, bagaimana kalau kita bersenang-senang malam ini.”


Ucapannya barusan membuat bulu kudukku meremang, ketakutan, kejadian masa lalu seolah terbayang di pelupuk mataku. Bagaimana dia berbuat kasar dan anarkis padaku. Aku tidak mau hal itu terjadi lagi dalam hidupku, tidak mau.


Tiba-tiba saja Regan menyerangku, berusaha mengoyak bajuku, menciumiku dengan brutal. Aku berontak, teringat akan satu hal.


Duk!


Regan memekik keras ketika dengan sengaja aku membenturkan kepalaku ke dahinya. Detik itu juga aku mengambil langkah seribu, berlari sejauh-jauhnya dari lelaki jahanam itu.


“Nesya, nesya kenapa?”


Seseorang menghampiriku, menahan tubuhku yang gemetaran dengan kedua tangannya.


“Iyang, aku mau pulang, antar aku pulang. Aku mau pulang,” jawabku mengulang-ulang kata dengan nada penuh ketakutan.


“Iya, iya aku antar pulang.”


Irwansyah membantuku berjalan menuju lift. Saat kami keluar dari dalam lift, seseorang telah menungguku di kursi lobi. Wajahnya tampak cemas, mencemaskan keadaanku seperti biasanya. Begitu melihat kehadiranku, ia melompat dari duduk, berlari menghampiri kami.


Kedua tangannya meraihku paksa dari pelukan Irwan, melingkarkan lengannya di pundakku, sebelah tangannya lagi menahan lengan kiriku, supaya aku tidak jatuh.


“Fint, kau. Bukannya kemarin…” tukas Irwan dengan mimik muka tak percaya.


“Bukan urusanmu,” balas Fint ketus, membawaku bersamanya. Ia menghentikan langkahnya sejenak, melepaskan jaket yang kukenakan, lalu melemparnya ke muka Irwan sambil berkata, “Oh ya, terima kasih sudah menolong Nesya. Sampai sini biar aku yang mengantarnya pulang.” Ucapannya terdengar seperti pacar yang cemburu.


Di dalam mobil Fint. “Kamu nggak apa-apa? Apa yang dilakukan Regan?” Fint meneliti kondisi fisikku dengan pandangan mata cemas.


Tangisku pecah, aku menangis di depan Fint. Ketakutan, ya, itu yang kurasakan.  Fint memelukku, mengusap air mataku.


“Sudah… jangan nangis. Kuantar kau pulang ya.”


Kuanggukkan kepala mengiyakan, kata-kata Fint yang lembut sedikit mampu membuatku tenang.


Mobil Fint baru saja keluar dari halaman parkir hotel ketika Fint menggenggam tanganku dengan sebelah tangannya yang bebas.


Aku sudah tak sanggup lagi menahan berat tubuhku. Fint harus bersusah payah membopongku ke dalam kamar ketika kami sampai di rumah.


Jari jemarinya yang hangat mengusap-usap lembut rambutku. “Kamu sudah makan?” Tanya Fint padaku.

__ADS_1


Kugelengkan kepala pelan. “Tidak. Aku tidak mau makan.”


“Kok tidak mau makan. Setidaknya makan sedikit. Jangan buat dirimu sakit,” pesan Fint tegas. “Biar kubuatkan mie goreng. Atau kau mau pesan saja.”


Kuraih lengan kanannya, memeluknya dengan kedua tanganku. “Aku takut,” ucapku lirih, bibir ini rasanya gemetar saat mengatakannya.


Fint kembali duduk di sebelahku, memeluk kepalaku mendekap tekap dalam dada. Mengusap rambutku lembut, pelukannya sedikit membuatku merasa tenang. Kudorong dadanya pelan, membiarkannya menatap kedua mataku bergantian.


Fint mengusap pipiku, “Jangan takut.” Mengecup keningku sayang. “Kuambilkan air minum dulu,” ujarnya melepas tanganku dari lengannya.


Kutarik kembali lengannya, kali ini lebih kuat, hingga posisi wajah Fint berada sangat dekat denganku. Kedua pasang bola mata kami saling bersiborok, menatap bergantian. Bibir itu hampir menyentuhku kalau tidak saja telapak tanganku lebih dulu menahannya.


Fint mengulum bibirnya, kecewa. “Uhm… aku—aku ambil minum dulu.”


Kulepas cepat pegangan tanganku, membiarkannya keluar dari dalam kamarku. Kugigit bibir bawahku pelan, seandainya saja kubiarkan Fint menciumku, mungkin…


Ah! Tidak-tidak, kami sudah membatalkan pernikahan, masa iya aku menginginkan pernikahan itu lagi. Fint kembali membawakan segelas teh hangat dan sebotol air minum, kemudian buru-buru berpamitan pulang, sepertinya ia takut berlama-lama di dekatku, takut terjadi sesuatu. Aku tersenyum geli dalam hati melihat sikapnya yang salah tingkah.


Gelimbang-gelimbung sendirian di atas tempat tidur, terbayang kejadian di hotel. Regan, wajah, senyum dan sentuhan tangannya mengusik benakku, membuatku jijik.


Aku beranjak dari tempat tidur, berjalan menuju ke dapur, perutku mendadak merasakan lapar yang sangat.


Seperti hari-hari biasanya di dalam rumah, aku mengenakan kaus top crop seatas pusar yang kupadu padankan dengan hotpants, memamerkan paha, betis, kaki jenjang yang mulus menggoda iman. Kubiarkan rambut panjangku tergerai lepas tanpa diikat.


Terdengar lirih suara televisi yang masih menyala dari ruang keluarga yang sepi. Siapa ya?


Segera kuambil panci, membawanya serta bersamaku,  menuju ruang keluarga dengan hati was-was.


Perasaan tadi Fint pamit pulang, terus siapa?


Kakiku mengendap-endap mendekati ruang keluarga, pelan-pelan, tidak ingin menimbulkan suara. Kedua mataku membelalak sempurna.


Seonggok manusia tengah tertidur di sofa, kedua matanya benar-benar terpejam, tangan kanannya masih memegang remote televisi.


Hmph! Kebiasaan, yang nonton televisinya, penontonnya malah tidur, batinku tersenyum geli.


Melihatnya tertidur pulas membuat hatiku merasa tentram. Fint... aku baru sadar sekarang—setelah bertemu dengannya lagi—ialah orang yang selalu ada untukku.


Di saat aku sedih, bahagia, bahkan saat aku harus menerima kenyataan kehilangan bayiku. Kutinggalkan sebuah kecupan kecil di pipinya.

__ADS_1


🔶🔸🔸


Menurutmu, apa yang terjadi selanjutnya?


__ADS_2