
Kutepis kedua tangannya jengah. “Siapa juga yang mau menikah sama kamu,” jawabku teramat sadis.
Entah kenapa, aku yang tak terbiasa menyakiti perasaan orang lain, tiba-tiba 180° derajat berubah total, menjadi kasar, ketus dan melontarkan kata-kata jahat di depannya. Mirip adegan film yang pernah kubintangi.
Saat itu juga Fint menyembul, muncul dari balik pintu dan menyapa, “Kent! Baru datang atau sudah tadi.”
Kent mengulum bibirnya ke dalam sambil menjawab, “Aku pulang dulu.”
Membalikkan badan, berjalan pergi meninggalkanku dan Fint.
Deg!
Sudut pandangku mendapati kedua matanya, basah oleh air mata. Ia menyekanya dengan punggung tangan kanannya, tersengar isak lirih yang tertahan. Dari belakang punggungnya, tampak awan kesedihan dan kesepian menyelimuti.
Aku jadi tidak tega melihatnya bersedih, ingin rasa hati berlari memeluk punggungnya, namun segera kutepis jauh-jauh angan-angan semu itu dari benakku. Aku tidak mau terluka lebih dalam lagi.
Kuseruput es cincau buatan Mama, sembari mencomot habis pisang goreng hangat di atas meja.
“Ma, adek pulang dulu ya Ma. Nanti malam masih ada acara, tidur dulu capek,” kataku berpamitan hendak pulang.
“Nggak dijemput Fint?”
“Enggak Ma, dia sibuk sama kerjaannya. Aku juga tidak mau menyusahkannya terus,” jawabku menjelaskan sedikit.
Sebetulnya, aku hanya tidak mau hubunganku dengan Fint semakin rumit. Pernikahan kami memang sudah dibatalkan dan aku tidak mau mengulang ketiga kalinya. Cukup, aku sudah terlalu sering menyakiti hati Fint.
Kuputar kemudi, berbelok di pertigaan jalan. Aku ingin membeli camilan sebelum pulang, kuparkirkan mobilku di halaman supemarket. Mengenakan atribut wajibku sebelum keluar dari dalam mobil.
Kuambil beberapa camilan kecil dari raknya. Betapa terkejutnya aku, saat kedua mataku mendapati berita yang sedang tayang di televisi.
“Artis berinisial N melakukan aborsi di luar negeri.”
Terpajang jelas foto mirip diriku di layar hologram itu. Kurundukkan ujung topiku, berjalan memutar, mengembalikan satu per satu camilan yang sudah terlanjur kumasukkan ke keranjang belanjaan.
Aku bergerak mundur, membatalkan acara belanja kali ini, saat melihat beberapa orang berjubel mengantre pembayaran di kasir.
Aku tidak mau salah satu dari mereka memergoki kehadiranku di sini. Cepat-cepat saja aku mengambil langkah seribu, bergegas menuju mobil.
Huft! Lega, akhirnya selamat.
Kuhubungi nomor telepon Vivi, bermaksud menanyakan duduk perkara tentang berita yang muncul di televisi barusan. Seseorang pasti sengaja membocorkan kejadian waktu itu, tapi aku tak mau menuduh siapapun.
Malam hari, aku tidak bisa menolak datang saat bos besar meminta kedatanganku untuk hadir.
Seharian ini aku tidak bisa menghubungi Vivi, kemana saja dia?
Sialnya, mobilku tiba-tiba ngadat, tak bisa distarter. Dengan sangat terpaksa aku memesan taksi, pergi menuju hotel sendirian dengan argo yang lumayan mencekik leher.
Tak hanya mobil, langit juga seakan marah tak bersahabat. Tiba-tiba saja hujan turun cukup deras,
Setibanya di depan hotel, aku berjalan sedikit berlari menuju lobi hotel, rambutku sedikit basah sebab menghindari hujan.
Dug!
Tanpa sengaja aku menabrak seseorang yang tengah berjalan di depanku.
“Ah! Maaf, maaf,” kataku menundukkan kepala meminta maaf.
“Nesya…”
“Irwan! Sedang apa di sini?” tanyaku menatap terkejut padanya, tak pernah kusangka-sangka bisa bertemu dengannya di tempat ini.
__ADS_1
“Hmm… aku ada janji dengan produser.” Senyum manis mengembang dari bibirnya yang tipis. “Kamu sendiri?”
“Uhm, ada acara kantor.”
“Perlu kutemani?”
“Tidak. Tidak perlu,” kataku spontan menolak tawarannya, kulirik jam tanganku, lalu berkata, “Iyang, aku pergi dulu.”
“Tunggu, Nesya,” pekik Irwan berusaha menahan langkahku. Jari jemarinya membetulkan rambutku yang basah dengan penuh perhatian, “Kamu naik apa ke sini?”
“Naik taksi.”
Matanya membelalak. “Sendirian,” tukasnya seakan tak percaya.
Aku menganggukkan kepala pelan, mengiyakan. Kedua matanya mengamati, dari ujung kepala hingga ujung kakiku.
“Mm… bajumu,” ujarnya ragu-ragu mengatakannya. Irwan melepas jaket denimnya dan berkata, “Pakailah, nanti masuk angin.”
Aku tersenyum kecil mendengar perkataannya yang kekanakan. Irwan, pria yang hampir sama dengan Fint, sama-sama terlalu perhatian, membuatku tak enak hati.
“Ayo kuantar.”
“Nggak perlu I. Nanti kamu ditunggu.”
Sedikit terkejut saat Irwan memegang kedua pundakku—membalikkan badanku memintaku berjalan duluan—sedangkan dia berjalan di belakangku.
“Ayo jalan. Aku tidak tenang membiarkanmu jalan sendirian.” Irwan terdiam sejenak, kemudian bertanya, “Sya, kenapa aku telepon tidak diangkat?”
“Mmm… maaf,” kataku singkat.
Ujung jari jemarinya menyentuh punggung tanganku ragu. Kami berada di dalam lift sekarang, hanya berdua. “Sya, aku sakit.”
“Dadaku…. Deg deg-an tiap lihat wajah kamu.”
Ow! Kata-katanya yang simpel terdengar manis di telingaku, meski sebetulnya sedikit gombal. Senyum simpul tersungging dari bibirku. Irwan selalu bisa membuat hatiku melambung tinggi, seperti sekarang.
Aku menyikut lengannya gemas. “Gombal. Wanita lain pasti langsung klepek-klepek dengar rayuan gombal kamu.”
“Enggak kok. Gombalnya cuma sama kamu aja.”
“Bohong.”
“Kok bohong sih. Serius.”
Bunyi pintu lift terbuka dengan sendirinya. Percakapan kami harus terpotong sampai di sini.
“Iyang, aku ke sana dulu,” ujarku menunjuk pintu hall.
Irwan mengangguk pelan, “Oke, kalau sudah selesai telepon aku, biar kuantar pulang.”
Dalam hatiku berkata, tidak perlu, aku bisa pulang sendiri. Tapi kuurungkan, mengingat hujan turun begitu deras, dan… aku takut pulang malam sendirian.
Terpaksa kuiyakan saja tawarannya, senyum senang mengembang di bibirnya tatkala aku menjawab dengan pasti, “Iya, nanti kutelepon.”
Kulangkahkan kaki ragu memasuki ruangan besar yang gemerlap, tampak riuh ramai para model, artis, aktor, dan para penyanyi yang notabennya berasal dari agensiku. Jelas saja, acara ini adalah acara ulang tahun agensiku.
Beberapa dari mereka tampak berkasak kusuk di depanku, beberapa pasang mata melirik dan melempar pandangan padaku aneh. Apa mungkin mereka?
“Nesya sayangku. Untung kamu datang,” sapa Bu Inge Widyayanti (Bos Besar) pemilik agensi.
Direktur utama, sekaligus promotor ternama. Aku masih ingat pertama kali bertemu dengan Tante. Ya, aku memanggilnya dengan sebutan “Tante”, dia sudah seperti Tanteku sendiri.
__ADS_1
Orangnya ramah, baik, tegas, disiplin dan perfeksionis dalam segala hal. Hanya saja Tante lebih memilih untuk melajang daripada menikah.
Dia selalu bilang, “Nikahnya sih gampang. Menjalani hidup rumah tangganya yang nggak gampang.”
Aku selalu tersenyum tipis saat Tante mulai membicarakan cerita teman-teman sejawatnya yang sudah lebih dulu menikah.
Lain halnya denganku, meskipun hubunganku dengan pria selalu berakhir tragis tapi aku ingin segera menikah, memiliki keluarga kecil bahagia.
🔶🔸🔸
Malem semua, bagaimana?
Menurut kalian siapa yang paling pas jadi suami Nesya
Keant?
Fint?
Leon?
Irwansyah?
Bantu jawab, beserta alasan ya... 🥰
__ADS_1