
“Hei, jangan menangis. Aku hanya heran kenapa kau begitu bodoh,” kata-kataku terlontar pedas.
Tiba-tiba saja tangisnya semakin menjadi, sebagai lelaki aku tidak tega membiarkannya bersedih. Kulingkarkan kedua lenganku memeluknya. Hei, ada apa denganku? Dadaku tiba-tiba berdebar, salah tingkah.
“Maaf, biar aku cari Leon sendirian.”
Dia beranjak dari duduk seolah pamit untuk pergi. Aku merasa sedikit tertolak saat ia mendorong dadaku pelan.
“Kamu bisa tidur di sini. Aku tidur di sofa.”
“Ng, tapi aku nggak mau_” ucapnya ragu-ragu menatapku, entah apa yang ada dalam pikirannya sekarang.
Sejenak kemudian aku tersadar dan tersenyum miring. “Jangan berpikir macam-macam,” celetukku menyindirnya, lalu berkata, “kecuali kamu yang mulai duluan.”
Sudut matanya melirikku tajam, seolah berkata dalam hati, dasar lelaki mesum. Aku menahan senyum ketika ia mulai mengelupasi kulit jari, sepertinya ia gugup. Hal yang wajar dia lakukan saat seorang wanita lajang berada sendirian di dalam ruangan dengan seorang pria.
Pandanganku beralih, menatap risih pada gaun merah panjang yang dikenakannya. Berpikir sejenak, membayangkan baju ganti apa yang akan kupinjamkan padanya. Aku pergi ke kamar, mengacak-acak baju di dalam tas travelku, tanpa sadar pada topeng yang masih saja kukenakan.
Aku kembali padanya, meletakkan T-shirt putih polos serta celana pajamas panjang warna abu-abu di sebelah tempat duduknya.
“Ganti baju. Ini lebih nyaman untuk tidur.”
“Terima kasih. Biar aku tidur di sofa,” balasnya dengan nada tegas
“Tidurlah di kamar. Biar aku tidur sini.” Kemudian aku bergerak duduk di sebelahnya sembari berbisik nakal. “Atau kau ingin aku...”
Muncul perasaan tertarik dalam dada, sikapku mendadak berubah, seperti serigala yang menunggu mangsanya. Kau tahu! Aku berusaha menggodanya.
“A-aku ke kamar mandi dulu,” ucapnya gugup, buru-buru melarikan diri.
“Hei!Kamar mandinya di sana,” tukasku menunjuk ke pintu kamar mandi.
Grogi, reaksi yang sudah bisa kutebak, dia benar-benar malu mendengar ucapku barusan. Kugaruk sebelah alisku yang tidak gatal. Lucu juga, batinku terkekeh geli.
Aku berjalan menuju kamar melewati pintu kamar mandi. Entah kenapa tiba-tiba saja otakku membayangkan hal yang tidak-tidak, membuat libidoku naik melebihi batas ambang, membuat salah satu bagian tubuhku mengejang. Aku mulai panik sendiri, salah tingkah, mencari cara untuk mengatasi kepanikan. Kuhela napas panjang, lagi, dan lagi. Menggigit bibir bawah sembari berpikir keras. Pandanganku mengedar mencari sesuatu, tersenyum kecil setelah menemukannya.
Gemericik air kolam yang meluber terdengar seperti melodi rindu yang mengalun sendu. Tatapanku menerawang memandang langit gelap luas membentang, bertabur ribuan bulir-bulir bintang bercahaya bak mutiara dalam dasar lautan Aegea.
Kugoyongkan pelan gelas wineku, menikmati aroma khas yang membelai hidungku. Senyum wanita itu menari-nari di pelupuk mataku. Empat puluh lima menit berusaha menenangkan diri dalam diam, tapi… sepertinya aku tak berhasil.
“Hatchi!!!”
Suara bersin barusan membuyarkan lamunanku.
__ADS_1
“Belum tidur?” tanyaku menatapnya yang tengah berdiri membeku di depan pintu teras. Wajahnya tampak terkejut melihat kehadiranku.
“Sedang apa?”
Kutepuk bantalan kursi di sebelahku. “Duduklah,” ujarku memintanya menemani.
“Waaa, indahnya!” ucapnya menatap takjub ke atas langit.
Rambut panjangnya tergerai basah sepinggang, kaus yang dikenakannya tampak terlihat menerawang, sedikit memperlihatkan lekuk tubuhnya. Kutelan ludah pelan mendapati pemandangan yang tak biasa di depan mataku. Kualihkan perhatianku, menenggak habis minuman dalam gelas.
Tiba-tiba saja pikiran liarku berkeliaran, membayangkan dirinya sedang bersama dengan pria lain. Siapa tadi nama pacarnya?
“Ternyata ada, gadis bodoh yang membiarkan pacarnya selingkuh dengan wanita lain,” tukasku ketus. Entah kenapa, aku jadi kesal sendiri, mendadak cemburu tidak jelas.
“Hei! Apa kau bilang!” pekiknya marah, “apa kau mabuk?” tukasnya memegang pundakku.
“Tidak, aku hanya minum sedikit,” kataku berbohong.
Padahal sedari tadi aku mencoba menenangkan diri, menghabiskan sendiri seperempat isi dalam botol.
“Apa kau bicara tentangku?”
Jari-jari lentiknya yang menyentuhku seakan membawa arus negatif, membuatku merasakan sesuatu yang tidak biasa.
“Jangan, nanti kau bisa mabuk,” kataku menggurui.
Bukannya mendengarkan perkataanku, dia malah menghabiskan separuh isi minuman dalam botol sendirian. Kupikir dia benar-benar sedang frustasi sekarang, dengan cepat kutarik paksa botol dari genggaman tangannya.
“Hentikan! Apa kau sudah gila?” bentakku padanya kasar.
“Lepaskan!”
Tangan dan bajuku basah tersiram air dalam botol, tapi bukan aku saja, kaus yang dikenakannya pun ikut basah membuat siluet merah jambu kasat mata. Kutarik napas panjang, menahannya sejenak, menenangkan otak liarku yang mulai ambyar. Kugeser dudukku sedikit ke ujung sofa, memalingkan wajahku ke samping kanan, mengalihkan perhatian, memandang lampu kota yang menyala temaram di antara gelapnya lautan.
Tiba-tiba saja terdengar isak tangis lirih. Sontak menoleh, menatap padanya yang kini menutup wajahnya dengan kedua belah tangan.
“Hei, apa kau menangis?” kusentuh pundaknya ragu-ragu. “Kumohon jangan menangis. Maaf kalau ucapanku keterlaluan,” kataku meminta maaf.
“Hiks… Aku tahu. Aku wanita bodoh, gampang diperdaya oleh mereka. Aku memang bodoh. Bodoh! Bodoh!” ucapnya meracau sambil menangis. “Apa aku salah? Aku hanya ingin hidup normal.” Tangannya mengepal, menepuk-nepuk dada kesal.
“Normal?” jawabku bingung, tak mengerti.
Maksudnya? Ujarku bertanya-tanya dalam hati.
__ADS_1
“Ya, normal. Menikah. Punya anak. Itu impianku,” ujarnya menjelaskan.“Aku bosan. Hidup seperti ini. Setiap hari harus terpaksa tersenyum, bersandiwara di depan semua orang. Belum lagi ngadepin orang-orang nggak jelas. Dihina. Ditipu. Dilecehin. Aku capai!” kepalanya tertunduk dalam, ada kesedihan dari raut wajahnya yang murung.
Secuil rasa iba muncul dalam dada, kutepuk-tepuk punggungnya sayang, coba membesarkan hatinya.
“Auch! Hei! Apa yang kau lakukan?” Pekikku ketika dia memukul lenganku gemas. “Senyum dong! Matamu kayak panda,” olokku menggodanya.
“Kau ini,” balasnya dengan wajah malu-malu.
“Ngg… Kalau boleh aku tanya, dari mana kamu kenal sama_ sama siapa itu. Nama pacar kamu,” ujarnya bertanya memancingku melanjutkan cerita.
“Leon!” serunya menyebutkan nama kekasihnya itu.
Dari situ dia mulai bercerita, awal pertemuan hingga dia memutuskan untuk menerima lelaki itu sebagai kekasihnya. Binar bahagia terpancar dari kedua bola matanya yang indah. Senyum manis tersungging dari bibirnya yang menggoda. Ada sekerikil rasa cemburu bersembunyi di balik hatiku, apa iya aku…?
“Hei! Pesta selesai. Kenapa kau masih pakai topeng?”
Ujarnya bertanya padaku, membuyarkan pikiranku yang bermonolog. Aku terdiam sesaat, menatapnya dalam diam sampai dia bertanya lagi.
“Hei! Siapa kau sebenarnya?”
Ujung jari telunjuknya yang lentik menunjuk di depan mukaku.
“Aku?” ucapku tersenyum remeh.
“Siapa lagi. Tidak ada orang lain di sini,” katanya dengan pandangan curiga.
Terbesit sebuah pikiran: membuatnya semakin penasaran padaku. Aku berharap, dia ingin tahu lebih tentangku.
“Aku … mantan, juga teman mantan pacarmu,” kataku tersenyum miring, sok angkuh.
Benar saja, kata-kataku memancingnya dengan sangat jitu. Dia berubah menjadi lebih agresif tanpa mempedulikan sesuatu yang akan terjadi setelah ini. Tanpa komando lebih dulu, dia naik ke pangkuanku, berusaha menarik tali topengku paksa. Hei! Wanita ini terlalu berani. Dan itu membuatku semakin kehilangan akal. Secara spontan aku menggerakkan badan ke samping mencondongkan diri, menghimpit tubuh rampingnya ke punggung sofa.
“Apa yang kau lakukan?” pekikku dengan wajah terkejut.
Kedua bola mataku menatapnya tajam-tajam sambil melontarkan sebuah ancaman. “Berani buka? Kau harus jadi istriku.” Lebih tepat terdengar sebagai sebuah lamaran spontan.
“Lepaskan!”
🔶🔸😶
...Apa yang terjadi selanjutnya?...
See U next week
__ADS_1