
Tangan mungil nan hangat menyapa tanganku lembut. Seorang bocah kecil menggandeng tanganku lembut, kami berjalan bersama, meninggalkan jejak tanpa alas kaki di atas pasir. Ayunan, dinding panjat, seluncuran, seperti di sebuah taman bermain.
Semilir angin menyapu hangat wajah dan rambutku yang tergerai lepas. Ia melepas genggaman, berlarian ke sana kemari, bibir mungilnya tersenyum ceria, gelak tawa kecilnya yang lucu membuat hatiku terhibur, merasakan bahagia.
Ia memanjat, berseluncur, dan mengajakku bermain petak umpet. Tiba saat ketika giliranku mencari dan kemudian menemukannya, perlahan-lahan ia… menghilang dari hadapanku. Lenyap seketika itu juga, bagai asap yang tertiup angin.
Mimpi, kuharap semua ini hanya mimpi.
Nesya PoV
Klek!
Pintu kamar mulai terbuka bersamaan dengan kedua bola mataku membelalak lebar. Terkejut, berdiri mematung.
“Reza!” seruku menyebut namanya, seolah tak percaya melihat sosok yang tengah berdiri di hadapanku sekarang.
“Hallo, sayang,” sapa lelaki bertato itu, terdengar genit menggoda.
Reza bergerak menghampiri, aku berusaha menghindar, berjalan mundur ke belakang. Tersentak, terhempas di atas tempat tidur dengan tubuh terhimpit. Kedua tangan Reza mencengkeramku ketat.
“Lepaskan!” erangku berusaha lepas. “Reza, lepaskan!”
__ADS_1
Ujung jari telunjuknya menari-nari menyentuh wajahku. “Sayangku, kamu memang sangat cantik,” ujarnya menggodaku. “Tidak sia-sia aku menguntitmu selama beberapa minggu. Sebelum aku memberikanmu pada mereka, bagaimana kalau kita melakukannya malam ini, sekali saja.” Senyuman iblis melengkung lebar dari bibirnya, memperlihatkan sederet gigi taringnya yang menyeringai jahat.
“Kenapa kau mengikutiku? Apa maksudmu mereka?” tanyaku menyipitkan mata tak mengerti.
Senyum aneh itu tersungging lagi dari bibirnya. “Kau tak perlu tahu, hanya perlu menurut padaku.”
Aku berontak, coba lepas dari cengkeraman kedua tangannya, tapi aku tak berdaya, kedua tangannya mencekal erat.
“Apa maumu?”
“Badanmu akan kujual.”
Aku merasakan sesuatu yang tidak beres dari kalimat yang diucapkannya barusan. Kutatap nanar kedua mata bajingan yang sedang menindih tubuhku sekarang.
“Kau tinggal menuruti perkataanku, kalau tidak aku akan cuci otakmu sama seperti mereka?”
“Mereka siapa?” Alisku bertaut tak mengerti.
“Uhm, coba kuingat dulu. Refina, Kania, Widya, Leoni.”
Aku terbelalak mendengarnya menyebutkan nama “Kania” di depanku. Salah satu model seagensiku yang menghilang tanpa kabar berita. Kedua orang tuanya kebingungan mencari keberadaannya, hampir setahun lebih sejak pertemuan terakhir kami di studio foto. Dan aku baru tahu kalau semua itu karena makhluk biadab yang ada di hadapanku sekarang, Reza.
__ADS_1
Ada rasa takut menjalar dalam dada. Aku tak pernah menyangka dia tega melakukan semua ini, bahkan padaku.
Dengan segenap keberanian kukerahkan tenaga, menyodok kuat area ***********. Tak pelak itu membuatnya membungkuk kesakitan di atas tempat tidur. Aku tak menyia-nyiakan kesempatan, berlari terbirit keluar dari dalam kamar, menuruni tangga.
Bruk! Auch! Kakiku terselip, pantatku menabrak lantai keras. Lampu ruangan tampak padam namun tak begitu gelap, mataku masih bisa melihat daun pintu rumah yang tak jauh dari tempatku terjatuh.
Aku segera berdiri, melangkah terseok-seok, tanpa kusadari cairan kental berwarna merah merembes perlahan, menetes menodai lantai ubin yang dingin.
Ingin rasanya aku berlari, keluar dari tempat suram ini. Napasku naik turun, sedikit lagi, sedikit lagi sampai depan pintu.
Grab!
Kaget, tentu saja aku kaget. Sebuah tangan besar mencengkeramku, menarik, merengkuhku paksa. Tapi… tiba-tiba saja pandanganku buram, kugelengkan kepala coba menyatukan roh, dan tubuhku, namun sepertinya aku tak berhasil.
🔶🔸😔
Selamat malam semua. Dah nggak penasaran kan siapa penculik Nesya.
Menurut kalian kelanjutannya bagaimana?
__ADS_1