
Kent balas tersenyum miring. “Untungnya tidak.” Ia terdiam sejenak lalu melanjutkan bicara. “Hari ini kamu mau kemana? Aku masih ada jadwal operasi. Aku antar pulang?”
“Aku mau di sini,” rengekku melingkarkan tangan di lengannya manja.
“Tidak boleh. Nanti ketahuan orang,” tuturnya melepas pegangan tanganku lembut.
Aku mengerucutkan bibir cemberut. Baru mau melangkah, secara mendadak Kent membalikkan badanku dengan sebelah tangannya, mendekapku ke dalam pelukannya. “Nanti kalau sudah nikah, kamu harus tinggal di sini selamanya.” Sebuah ciuman mendarat manis di bibirku sedikit lama. Aku suka, dada ini rasanya berdebar-debar girang setiap Kent menyentuhku.
Setengah hari berada di rumah, bosan rasanya. Pagi tadi, selesai mengantarku, Kent langsung berangkat ke kantor. Meninggalkan sebuah kecupan kecil di keningku.
Tersentak kaget ketika terdengar pintu rumah terketuk beberapa kali. Kupikir Kent yang datang. Ternyata... terkejut ketika mendapati Fint, menatapku dengan wajah tak bersahabat.
Seketika itu juga mimik mukanya berubah menjadi senyuman, “Sayang, ada acara penting di kantor. Cepat ganti bajumu, dandan yang cantik ya,” katanya mentowel daguku genit.
Mataku membulat penuh mendengar ucapnya barusan, namun aku tak bisa menolak ajakannya kali ini. Langkahku berjalan enggan menuju kamar, menyiapkan diri.
Kuambil baju dalam lemari pakaianku, gaun selutut berwarna putih, hadiah dari sponsor 8 bulan lalu, kupilih sebagai dress code. Memoles wajahku dengan make up tipis. Kubiarkan rambut panjangku tergerai mengembang indah sama seperti aku mendapat casting iklan sampo untuk pertama kalinya.
Iris mata kopi miliknya menatapku lekat, senyum bahagia terlukis dari wajah tampannya. Ia menggandeng tanganku sembari berkata, “Cantik. Cantik banget.” Menarikku ke dalam dekapannya, sembari mengecupku tipis. “I love you, Sya.”
Deg!
Tersentak mendengar ucapannya barusan, seperti ada suatu tersembunyi dari nada bicaranya yang berat.
Benar saja, saat kami berdua tiba di podium, 100 mata memandang tajam ke arah kami. Lampu Blitz DSLR menyorot silau bergantian. Lensa-lensa kamera mereka membidik tepat ke arah kami berdua, mengambil gambar dari berbagai sudut sisi.
Bulu mata lentik itu mengerjap pelan, sudut matanya melirik tanya pada pria yang tengah duduk di sebelahnya. “Fint, ada apa ini?”
__ADS_1
Fint balas tersenyum singkat. “Kamu lupa. Minggu depan hari pernikahan kita. Aku mengadakan konferensi pers untukmu,” ungkapnya menjelaskan apa yang terjadi di hadapanku sekarang.
Aku mengatupkan bibir tak berkomentar. Sebelah tangan Fint meremas punggung tanganku lembut, seakan ia berniat menenangkan ketegangan yang kurasakan saat ini. Tentu saja, aku sangat tegang dan juga kaget menghadapi awak pencari berita yang begitu antusias melontarkan tanya.
Fint memulai bicara, ia menjelaskan tentang persiapan pernikahan dan tanggal pernikan yang akan segera digelar beberapa Minggu ke depan. Bibirku seolah kelu, hanya mampu mendengarnya bicara tanpa bisa berkata sepatah kata pun. Otakku seakan kosong, pandanganku mendadak buram, kepalaku serasa berkunang-kunang. Tiba-tiba keringat dingin menetes di pelipis, aku merasakan mual, perut melilit bagai sembelit.
“Kenapa, sayang,” ucapnya bertanya sedikit berbisik
“Perutku sakit.”
“Hah, sakit.” Kedua alisnya bertaut terkejut. Terburu-buru Fint mengakhiri sesi tanya jawab, bersigap membawaku ke kantornya. Membiarkanku berbaring di Sofa. “Kamu tidak apa-apa?” mimik wajahnya terlihat cemas.
“Fint, antar aku pulang.”
“Pulang,” celetuk Fint sedikit terkejut, kemudian ia tersenyum misterius. “Sayang, maaf aku tidak bisa mengantar. Biar supir yang antar ya.”
Aku mengangguk pelan. “Iya, tidak apa.” Beranjak dari sofa dibantu Fint berdiri.
“Bisa.”
“Sebentar, aku telepon supir dulu.” Bergerak mengambil ponsel dan menelepon. Setelah mematikan ponselnya ia bergerak kembali menghampiriku, “Sudah kutelepon. Ayo aku antar ke parkiran.
“Tidak perlu. Aku bisa jalan sendiri,” jawabku lemah.
“Serius. Atau perlu aku panggil supir ke sini.”
“Tidak apa. Kamu lanjutkan saja lagi. Aku tidak apa-apa.”
Fint menghela napas pendek, kemudian mendaratkan kecupan kecil di keningku. “Oke, hati-hati di jalan. Jangan terlalu capai, ingat si kecil,” ujarnya mengusap perutku sayang.
__ADS_1
Aku balas dengan anggukan pelan. Membiarkannya pergi meninggalkanku sendirian di ruangan ini.
Rintik hujan membasahi helai rambutku yang tergerai kusut kala kaki ini turun dari taksi. Ya, aku lebih memilih naik taksi ketimbang di antar supir Fint.
Tok… tok… tok… kuketuk pelan daun pintu kayu mahoni ber cat hitam itu. Menunggu seseorang untuk bersedia membukanya, tanpa berniat untuk mengetuk yang kedua kali. Kaki ini berputar hendak melangkah pergi, jika si empunya rumah tak kunjung keluar dari persemayamannya. Aku hampir putus asa, sampai akhirnya suara itu memanggil namaku lembut.
“Nesya..”
Aku berhambur menabrak dada yang kutunggu, memeluknya erat.
“Hei! Ada apa?” tanya lelaki itu, mendengar suaranya sedikit membuatku merasa tenang meski sekelumit kecemasan menghantui perasaanku, sekarang. “Masuk.” Perlahan melepas pelukan, menuntunku menuju kursi tamu. Kami duduk bersebelahan sekarang, di dalam rumah yang terbiasa lengang dan sepi.
“Kent,” ujarku memanggil namanya pelan.
“Hmm…” jawabnya bergumam lirih.
Iris mataku menatap kedua bola matanya lekat. “A-apa kamu sudah lihat?”
“Lihat apa?”
“Konferensi presku,” ungkapku mengakui.
Kent terdiam, tak menjawab sepatah kata pun. Air mata mulai menggenang di kedua kelopak mata ini.
“Maafkan aku Kent. Kamu marah?”
Kent mengusap wajah sekali, menghela napas pelan. Menautkan kedua jari jemarinya membentuk kepalan. “Tidak, itu keputusanmu.”
*Selamat tahun baru 2021. Maaf, lama baru nongol. banyak yang harus dikerjakan akhir tahun.
__ADS_1
Bantu like dan komennya ya guys semoga suka*.