12 MANTAN

12 MANTAN
PART 32 SERBUK BINTANG


__ADS_3

“Nng… tapi tidak langsung pulang,” kataku santai.


“Apa? Hei! Kau yang menyeretku keluar dari pesta. Jadi kau harus mengantarku pulang.”


Spontan terkejut mendapati reaksinya barusan. Ternyata dia galak juga, semakin galak dia semakin membuatku ingin lebih mengenalnya. Aku tersenyum, mengulurkan tangan kananku. “Ikutlah denganku. Tempat ini terlalu indah untuk diabaikan.” Dia terdiam seakan berpikir, tak segera menyambut tanganku, “Kenapa? Apa kau takut padaku?”


Kedua bola matanya menatapku selidik seolah berkata, “Orang ini, kenal saja tidak. Iya kalau dia orang baik-baik. Kalau jahat.” Tebakanku mungkin benar, karena sampai beberapa menit wanita itu bersikap tak acuh padaku.


Kuhela napas pendek, bersikap angkuh, “Ya, sudah. Silahkan, kalau mau pulang sendiri,” kataku meninggalkannya sendirian, sok cuek.


Langkahku terhenti ketika sampai di ujung jalan setelah tadi berbelok ke arah kanan, tak jauh dari tempat wanita itu berdiri. Tiba-tiba perasaan khawatir mengelimuti hatiku. Cemas meninggalkannya sendirian. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya? Pikirku buruk.


“Aish! Kenapa juga harus mikirin dia,” umpatku menggerutu, kesal sendiri.


Kulanjutkan langkahku, berjalan pasti menyusuri sepanjang jalan melewati fasad biru yang terlihat samar di keremangan lampu kota. Sembari berjalan kepalaku menengadah menatap langit, serbuk bintang berkelap-kelip menatapku. Mendadak wajah wanita itu muncul di pelupuk mataku.


Tersentak, terdengar suara jeritan dari kejauhan. Aku segera berbalik, berlari cepat kembali ke tempat wanita itu berada. Sepi, saat aku sampai di tempat tadi aku tak  menemukannya siapapun. Dia menghilang. Perasaan cemas semakin memburu hatiku, pandanganku mengedar mencari sebuah petunjuk. Bau parfumnya samar-samar tercium hidungku, aroma lavender yang khas. Aku berlarian kecil, berburu mengikuti petunjuk yang kudapat, mataku memandang awas ke sekitar, setiap celah dan sudut tempat yang kulewati. Berputar-putar menyusuri gang-gang kecil, seperti berjalan di labirin tembok. Aku bertanya pada beberapa orang yang berpapasan denganku, namun tidak ada dari mereka yang melihat wanita bergaun merah di sekitar sini. Perasaanku semakin cemas memikirkan sesuatu hal yang buruk bisa terjadi pada wanita itu.


Benar dugaanku, seorang lelaki asing bergerak mendekati dirinya. Wanita itu mengambil langkah mundur raut wajahnya tampak ketakutan,  dia menepis tangan lelaki itu yang berusaha memegangnya. Aku berjalan cepat ke arahnya, kutarik lengannya hingga kepalanya membentur dadaku.


“Auch!”


Kedua iris matanya yang bening mendongak menatapku. Tatapannya yang lembut membuatku tak kuasa menahan debaran jantung yang mulai bertalu pelan. Namun, tiba-tiba saja. Prak!!!


Benda keras itu  menghantam lenganku. Beruntung pecahan kacanya tak sampai melukai wanita di depanku. Aku sudah lebih dulu menyembunyikannya dalam  dekapan tubuhku. Spontan saya kutendang perut pemabuk itu hingga terjungkal ke belakang. Aku terkejut mendapati jari-jari lentiknya terasa gemetaran menyentuh dadaku, sepertinya dia benar-benar ketakukan.


Kugenggam tangan kirinya, coba mengurangi perasaan takut yang  mungkin dia rasakan sekarang. “Kamu tidak apa-apa?” tanyaku, memegang kedua pundaknya, manik mataku menatap cemas paras wanita cantik di depanku. Dia benar-benar cantik, menurutku.


“Nesya!”


Seseorang memanggil wanita di sebelahku dengan nada tak bersahabat, kedua matanya membelalak marah. Kami berpapasan dengan dua orang manusia di depan loby hotel. Seorang wanita cantik berpakaian seksi melingkarkan lengannya  pria yang berdiri di sebelahnya. Pria itu terlihat lebih muda dariku.

__ADS_1


“Siapa dia?”


Aku menoleh wanita di sebelahku kaget, baru saja dia menyentak dengan suara keras, wajahnya benar-benar terlihat marah. Sepertinya pria itu adalah pacarnya. Benar saja, mereka bertiga bertengkar heboh di depanku. Selesai bertengkar, dia menatapku murung, meminta maaf.


“Pacarmu?” tanyaku padanya.


Wanita itu mengangguk sedih, membalikkan badan, mengambil langkah. Tapi, tiba-tiba saja dia membalikkan badan, berlari ke arah jalan, berdiri terdiam sembari menoleh kanan kiri, seperti mencari seseorang. Tak berapa lama, dia kembali padaku dengan muka putus asa.


Aku menghampiri wanita itu sambil menenteng kotak P3K di tangan. “Ikut aku ke kamar,” kataku padanya.


“Kamar?” wajahnya mendadak panik, sangat lucu, pasti dia membayangkan hal yang tidak-tidak sekarang.


Ia tersenyum geli menatapnya. “Kenapa? Takut?” ujarku sengaja menggodanya.


Dia bergerak seolah menghindar. “Tidak.” Menggelengkan kepala tak mengakui.


“Baguslah. Ikut aku.” Kutarik tangannya  memaksanya mengikuti langkahku.


“AUCH! Pelan-pelan.” Lenganku mendadak terasa ngeri saat obat luka yang dia oles menyentuh lukaku.


“Diamlah. Ini sudah paling pelan,” balasnya mendelik kesal. “Selesai! Semoga lekas sembuh,” tuturnya sayang di depan lukaku.


Tentu saja hal itu membuatku tersenyum geli. Tiba-tiba saja pandanganku mengarah pada lutut wanita itu.


“Berikan padaku.” Kuambil obat dari tangannya, kemudian berjongkok di depannya.


Dengan hati-hati kuobati lukanya, sambil mengobati aku mengajaknya bicara, sekedar basa-basi mengakrabkan diri, agar suasana di antara kami tidak terlalu canggung, dan itu sedikit berhasil. Kudapati tumit kakinya yang terluka, segera saja aku berjalan ke kamar mandi, lalu kembali ke tempatnya.


“Pakailah ini. Ayo aku antar kau pulang.” Kulempar sepasang sandal jepit ke lantai.


“Mmm… aku lupa. Aku lupa nama hotelnya,” ucapnya tertunduk murung.

__ADS_1


Aku betul-betul kaget mendengar pengakuanku. “Terus, kamu ke sini sama siapa?”


“Leon.”


“Cuma sendirian sama dia?” ucapku tak percaya.


“Ya, karena diundangannya tertera namaku dan namanya.”


Aku benar-benar tak habis pikir, tapi aku juga tidak bisa menyalahkan wanita ini. Mungkin saja dia kemari karena tuntutan pekerjaan.


Kuusap wajah kesal. “Lalu sekarang, apa yang akan kau lakukan?” tanyaku padanya. Oh ya, teman. Mungkin saja dia bertemu dengan temannya di pesta tadi. “Ngg, apa kau bertemu dengan teman wanitamu di pesta?”


“Tidak ada yang ku kenal.”


“Mana ponselmu?” tanyaku bernada ketus.


Tiba-tiba saja ia tertunduk sedih lalu berkata, “Ponselku terjatuh di laut.”


Astaga, wanitta ini. Dia mengatakan kalau dia tidak tahu jalan pulang, bahkan tempat menginap pun dia tidak ingat. Satu hal bodoh yang dia lakukan, membiarkan ponselnya  terjatuh di tengah jalan.


Apa dia bercanda? Pekikku membatin geram tak percaya.


Di negara antah berantah ini, jauh dari rumah, tanpa teman, tanpa saudara, dia (wanita di depanku) berdiri sendirian, tertunduk sedih dan putus asa.


Sebetulnya, aku tidak berniat ikut campur lebih jauh masalah pribadinya, tapi aku tak bisa lepas tangan begitu saja. Bayangkan saja, seorang wanita cantik berjalan sendirian, apalagi hal buruk hampir saja terjadi padanya.


Kuhela napas panjang dalam hati, kalau bukan aku, siapa lagi yang akan menjaganya.


🔶 ☺️


Menurutmu, Kent bakal nolongin dia g?

__ADS_1


__ADS_2