
Matahari perlahan mulai menyembunyikan diri di balik cakrawala yang memerah. Semilir angin laut, berembus kencang meniup buket bunga mawar putih yang menghias altar. Beberapa kursi kosong belum diisi para tamu yang masih tertidur pulas.
Beberapa orang dari wedding organizer masih sibuk mempersiapkan dekorasi. Mulai dari meja kursi, bunga, pita, hiasan, dan pernak-perniknya. Bertempat di pinggir pantai salah satu resort Bali. Pernikahan yang di tunggu-tunggu telah tiba, pernikahan serba hitam putih (warna kesukaan Fint) digelar dengan sederhana dan tertutup. Hanya sanak saudara dan teman terdekat yang akan hadir dalam acara nanti malam.
Tepat dalam 18.10 petang, satu per satu tamu keluar dari dalam kamar masing-masing, menuju ke tempat sakral, acara pesta pernikahan kami berdua.
Di atas pintu masuk yang terbuat dari kayu, terpasang papan dari kayu berbentuk estetik, bertuliskan Wedding Day Nesya dan Fint. Senyum mengembang sempurna dari wajah pria tampan yang berjalan di sampingku.
Fint mengenakan kemeja hitam dan celana slim fit warna hitam. Rambut panjangku disanggul headband french braids dengan aksesori permata di tengah rambut, memperlihatkan leherku yang jenjang. Aku mengenakan gaun pengantin putih A-line setumit, sedikit membuatku kesulitan berjalan, pasalnya pengantin dan para tamu dilarang menggunakan alas kaki alias bertelanjang kaki.
Terdengar suara sang pembawa acara sesaat setelah kami duduk di pelaminan. Prosesi pernikahan berlangsung dengan lancar dan khidmat. Senyum dan tangis bahagia tergambar dari pihak kedua orang tua, termasuk Tante Widya (Mama Fint). Biar kuceritakan sedikit bagaimana dia sampai bersedia merestui pernikahan kami.
Biar kuberi tahu sebuah rahasia kecil. Hampir sebulan aku berusaha untuk memperbaiki hubunganku dengan Tante Widya, namun dia selalu menolak dan mengusirku, sampai sore itu.
Tanpa sengaja kami bertemu di mall, waktu itu aku ada acara sebagai salah satu bintang tamu.
Rehat acara, aku berjalan mencari toilet. Aku melihat Mama Fint berjalan ke sebuah toko sendirian, tapa pengawal atau teman yang biasa menemaninya. Saking penasarannya aku mengendap-endap mengikutinya dari jauh. Betapa kagetnya aku, saat Mama Fint bergandengan tangan dengan seorang lelaki, bukan Om Paorl, tapi lelaki lain. Dilihat dari umurnya, umur lelaki itu kira-kira sekitar 25 tahunan, terlalu muda diuntuk seumuran Tante. bisa kusimpulkan kalau Tante Widya berpacaran sembunyi-sembunyi dengan seorang brondong muda.
Secara sengaja aku membidik kebersamaan mereka. Aku tahu menguntit adalah berbuat yang tercela, tapi aku tidak punya cara lain. Bukan maksudku untuk mengancam Tante Widya, aku hanya ingin dia menerima pernikahan kami. Dilain hal aku juga ingin dia tahu kalau kami saling mencintai dan aku berjanji akan bersamanya seumur hidupku.
Perseteruan kami berakhir dengan sebuah pelukan hangat, Tante Widya akhirnya setuju, dan merestui pernikahan kami. Kami juga saling meminta maaf dan mencoba untuk saling memahami satu sama lain.
Aku mengatakan satu hal yang berhasil mencairkan suasana, “Maafkan saya sudah membuat Tante marah dan kecewa. Izinkan saya mencintai Fint. Saya sudah menganggap Tante sebagai Mama saya, jadi anggap saya sebagai putri Tante sendiri karena Tante juga Mama saya. Mama paling cantik yang selalu Fint sayangi dan hormati.”
Kala pandanganku berpapasan dengan Tante Widya, wanita itu menyunggingkan senyuman manis padaku. Untunglah, Tante Widya tidak merusak acara pernikahan ini. Seminggu sebelum acara, aku sempat bermimpi buruk, mimpi tentang acara pestaku yang porak poranda, dihantam badai besar.
Lain halnya ketika mataku melihat ke arah Mama, rasanya tentram. Mama yang melahirkanku, membesarkanku dan menjagaku. Senyum bahagia melengkung sempurna dari wajah yang mulai keriput karena usia.
Mamaku sayang, lihat anakmu ini, harapan mama terkabul, akhirnya Nesya menikah juga dengan Fint. Pasti Mama senang, Fint mantu kesayangan Mama, batinku bermonolog.
__ADS_1
Berikutnya, kualihkan pandanganku, menatap kedua bola mata indah di depan mataku. Fint, lelaki baik hati, perhatian dan paling sabar yang pernah kutemui. Meski sudah berkali-kali aku menyakiti perasaannya, tapi dia selalu bisa memaafkan dan memahamiku. Aku bersyukur, menikahi pria terbaik yang dipilih Tuhan untukku.
Kugenggam kedua tangan yang selalu siap menjagaku kapanpun. Menguntai senyum menyambut bahagia kecupan lembut yang menyentuh pipiku. Kamu berdua saling berpelukan dan tersenyum bahagia di depan para tamu yang hadir. Mereka ikut tersenyum malu-malu melihat kemesraan kami yang romantis manis.
Hari ini, disaksikan langit dan bumi, darat dan lautan. Kisah kami berdua mulai dari awal pertemuan kami hingga harus berpisah, bertemu kembali dengan mengejutkan, pertengkarannya dengan Kent, Reza yang menculikku, kemunculan Regan, perhatian Irwansyah, kemudian berujung pada berakhirnya kisahku dan Kent. Semua pria yang kusebutkan adalah para mantan yang pernah mengisi lembaran hati yang telah lalu. Kini saatnya kubuka lembaran baru hidupku, bahagia, bersama dengan Fint selama hidupnya.
Dua tahun kemudian…
Kulangkahkan kakiku menyusuri jalan setapak yang berkelok dan beranak tangga. Fasad biru yang indah di sepanjang kota OIA selalu mampu membuat kedua mataku terpukau takjub. Kunikmati hangatnya matahari yang membakar kulit putihku perlahan-lahan. Rambutku kubiarkan tergerai lepas sebahu. Yeah, seminggu lalu aku baru potong rambut. Bosan dengan model rambut panjang sepinggang yang selalu kupertahankan beberapa tahun kemarin. Beban hidupku seakan berkurang setelah memotong rambut, bisa kurasakan semilir angin yang menyapu tengkukku bebas.
Kubetulkan topi pantaiku yang hampir terbang, berhenti berjalan, menoleh ke arah laut. Biarkan aku sejenak menikmati keindahan pemandangan yang pernah kurasakan sebelumnya. Kurentangkan kedua tanganku ke samping, tersenyum pada laut biru yang luas membentang, merasa bebas sendirian, bak burung camar yang terbang bebas di atas lautan lepas.
Ingatanku menggulung perlahan, kembali mengingat memori indah yang pernah kulalui bersama Fint beberapa tahun terakhir. Masih menyisakan tangis sedih, acap kali teringat akan dirinya. Seperti sekarang, air mata perlahan menggenang di pelupuk mataku. Betapa aku dan Fint merasa bahagia selama masa pernikahan kami, tanpa kusadari ada masa yang harus kuterima dengan lapang dada dan berhati besar.
Fint, meninggalkanku dengan harta yang berlimpah. Tak pernah kuduga-duga akan jadi seperti ini. Aku yang dulunya hanya seorang model, berubah menjadi nyonya besar dengan saham terbesar dan memiliki cabang perusahaan dimana-mana. Setiap hari disibukkan dengan pekerjaan kantor yang bertumpuk. Baru kurasakan betapa sibuknya Fint selama ini, bahkan ia masih menyempatkan diri untuk bertemu denganku.
__ADS_1
Hampir sebulan aku dirundung duka, menyendiri di rumah sendirian tanpa teman. Sedih yang teramat sangat menyiksaku setiap hari acap kali teringat pada sosoknya yang selalu tersenyum ramah padaku. Tak rela rasanya membiarkan dia pergi begitu saja dari dunia ini, tanpa sempat merasakan kehadiran sosok kecil dalam hidupnya.
Hmm… tidak apa-apa Nesya, kamu harus kuat, ujarku selalu mengingatkan diri sendiri.
Tiba-tiba angin kencang meniup topiku, melemparnya jauh-jauh. Aku berlari berusaha mengambilnya, senyum mengembang di bibirku saat kudapatkan topiku kembali.
“Nesya!”
Sebuah suara memanggil namaku dengan lantang. Aku mengenal suara itu. Kedua bolaku menatap sosok yang berdiri tak jauh dariku. Seutas senyum tersungging dari bibir tipisnya, membuat hatiku berdebar tiga per empat.
Ia… mantanku yang ke-12
🔶🔸🔸🔸
...TAMAT...
Hai, semua. Terima kasih sudah setia like dan komen 12 Mantan. Bantu terus karya-karya Miels. Follow IG: mielsstory ya.... untuk kalian yang selalu penasaran dengan cerita-cerita Miels. Terima kasih.
Love you all
__ADS_1