12 MANTAN

12 MANTAN
PART 43 BESOK KITA NIKAH


__ADS_3

“Sya, besok kita nikah.”


Sprot!


Makanan dalam mulutku menyemprot keluar seketika itu juga. Tersedak, jelas saja, saat makan pun sempat-sempatnya pria yang duduk di sebelahku ini membicarakan hal sakral.


“Minum dulu.” Ia membantuku mengambilkan minum.


Kutenggak separuh gelas es teh, belum benar-benar habis. Mengatur napas sejenak, merasakan tenggorokanku yang masih tercekat sakit.


“Bisa nggak sih ngomongnya nggak waktu makan.” Kupukul lengannya gemas, melotot galak padanya.


Fint tersenyum menatap geli padaku, membantu mengambil tisu, membersihkan sisa nasi yang menempel di sudut bibirku.  Ia mencubit gemas pipi kananku.


Kutepis tangannya pelan. “Apaan sih!”


“Apa alasannya kamu nggak mau nikah,” tanya Fint menatapku tajam. “Terus semalam.”


Kututup mulutnya dengan telapak tanganku sembari melotot galak padanya. “Fint… diem.”


Fint mendengus napas kecewa. “Sudah makannya. Ayo pulang,” balasnya ketus.


“Dwe, marah nih!” Kucubit ujung hidungnya gemas.


“Kenapa sih?” ucap Fint mengulang tanya, raut wajahnya penasaran.


Kumasukkan sendokan terakhir ke dalam mulutku, menenggak habis teh hangat di samping piringku, lalu menatapnya. “Apanya…”


“Sudahlah. Ayo pulang.”


Fint berdiri dari duduk, selesai membayar kami berjalan, lalu masuk ke dalam mobil. Wajahnya tampak kesal, sepertinya dia marah dengan keputusanku yang tidak jelas juntrungannya. Selama di mobil Fint membisu dalam diam, aku jadi merasa tidak nyaman berada di sampingnya. Sampai di rumah pun Fint langsung berpamitan pulang, sikapnya berubah dingin di depanku. Salahku juga, aku membuat garis status hubungan kami semakin tidak jelas.


♥️♥️♥️♥️♥️♥️


Dua hari ini aku mencoba menghubungi ponsel Fint, tapi dia tak jua mengangkat teleponku. Apa iya dia benar-benar marah padaku?


Pemotretanku baru selesai, aku meminta kunci mobil dari tangan Vivi. Aku tersentak kaget, tampak beberapa orang wartawan menenteng kamera dan ponselnya dengan pandangan mata awas, mereka  menunggu bergerombol di depan pintu gedung utama. Segera kubalikkan badan, berlari menuju lift, kulepas high hell 10 centimeterku. Dengan langkah terburu aku kembali pada Vivi.


“Kok balik, kenapa?” Dahi Vivi bertaut penasaran.

__ADS_1


Napasku terengah, kucoba mengatur napas dan mulai bicara. “Huft, huft, ada wartawan di depan. Bantu aku keluar.”


“Berapa orang?” tanya Vivi dengan wajah serius.


“Banyak.”


“Ya udah, kamu ganti baju dulu aja. Pakai atributmu. Biar aku yang urus.”


Aku mengangguk setuju. Kuambil  baju yang baru saja dipilihkan Vivi untukku. Celana, jaket, topi denim hitam, T-shirt dan masker warna navy. Asal kalian tahu saja, kalau Vivi   mengatakan “biar aku yang urus”, berarti ia akan mencari seseorang yang postur tubuhnya hampir sama denganku, sebagai umpan (menyangka itu aku) supaya para wartawan terkecoh.


Syukurlah, orang suruhan Vivi berhasil mengelabui para wartawan. Aku berlari terburu-buru menuju parkiran, masuk ke dalam mobil. Kali ini aku menyetir sendirian, tujuanku sudah jelas. Aku akan ke kantor Fint, menemuinya.


Entah kenapa, dalam perjalanan aku merasakan hal yang aneh, seseorang sepertinya sengaja menguntitku. Sampai di parkiran kantor Fint, aku berjalan sendirian di halaman parkiran yang sepi, tidak ada orang lain kecuali aku. Kupercepat langkahku, berjalan tergesa-gesa, masuk ke dalam lift. Jantungku berdebar keras dengan hati was-was.


Di depan meja kerja sekretaris Fint aku bertanya, “Pak Fint ada?”


“Uhm… maaf. Bapak masih rapat di luar kantor.”


Aku menghela napas kecewa, berpikir sejenak, berniat menunggunya ataukah pergi, kemudian aku melirik Venita (sekretaris Fint) sebentar dan bertanya, “Ven, kemarin Fint kemana saja?”


“Mmm… sepertinya tidak kemana-mana. Hanya berada di kantor seharian. Saat saya masuk, Pak Fint sedang tidur di sofa,” jelasnya padaku singkat.


Syukurlah, setidaknya ia tidak kemana-mana. Aku hanya takut dia pergi ke tempat yang tidak jelas, buruknya lagi kalau dia membawa seorang gadis ke kantornya. Ck! Fint bukan tipe pria seperti itu, aku yakin itu. Kupikir, aku jadi merasa khawatir dan cemburu.


“Regan, lepasin! Regan, sakit…” erangku coba melepas pergelangan tanganku dari pegangan tangannya.


“Ikut aku. Aku tidak suka melihatmu bersama Fint,” bentak Regan kasar.


Jadi mobil box tadi…  tak pernah kusangka, Regan akan membuntutiku sampai ke kantor Fint. Regan tak peduli dengan penolakanku, ia mirip penjahat yang menculik seorang perempuan. Regan membuka pintu mobil box, mendorongku masuk ke dalamnya.


Brak!


Gelap! Seketika itu semuanya mendadak gelap. Aku tidak bisa melihat apa pun di sini. Handphone! Segera saja aku menelepon nomor ponsel Fint. Nihil! Fint tak juga mengangkat teleponku. Tanpa pikir panjang, aku teringat pada Venita, mengatakan padanya untuk segera menghubungi Fint. Kukirimkan juga posisi GPS ku padanya.


Aku terduduk sendiri, mobil yang kutumpangi bergerak-gerak tak beraturan, pantatku sampai sakit karena guncangan yang keras pada lantai mobil. Regan benar-benar sudah gila, ia tak pernah berubah, sama seperti yang dulu.Jahat, arogan, kasar dan anarkis.


Kucoba menghubungi nomor Fint, lagi, dan lagi, sampai akhirnya sebuah suara menyahut dari seberang.


“Sayang! Kamu baik-baik saja,” serunya bernada panik. Jangan matikan handphone-mu, nyalakan terus GPS-nya. Aku dan Venita dalam perjalanan menyusulmu.”

__ADS_1


Mendengar suaranya, sedikit bisa membuatku merasa tenang meskipun dalam keadaan genting sekali pun. Tanganku masih gemetar, memegang ponsel.


“Fint, maafkan aku. Maafkan aku.” Isak tangisku pecah seketika.


“Jangan nangis, tenang saja. Aku pasti menyelamatkanmu. Tenang ya sayang,” ucapnya lembut, coba menenangkan pikiranku yang kalut. “Nesya, kau harus janji satu hal.”


“Janji apa?”


“Besok kita nikah.”


Kuseka air mataku sembari tersenyum sendiri. “Fint… udah kayak gini masih saja.”


“Janji dulu.


Kuhela napas sejenak, meredam kekalutan dalam hati, lalu menjawab, “Iya, aku janji. Nikah sama kamu.”


Terdengar senyum senang Fint di seberang. “Aku juga janji akan menjagamu selama sisa hidupku,” kata Fint yang terdiam sebentar, kemudian berkata, “Tunggu ya, aku hampir menyalip mobil Regan.”


Lega rasanya mendengar Fint berhasil membuntuti mobil box yang dikendarai Regan. Benar saja, tiba-tiba mobil berhenti, tapi pintunya tak segera terbuka. Terdengar teriakan, suara Fint memanggil nama Regan.


Ada apa di luar? Apa mungkin mereka berkelahi.


DOR!


🔶🔸🔸🔸😱


Suara apa itu? Kayak suara tembakan? Siapa yang ditembak? Siapa yang nembak?


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2