12 MANTAN

12 MANTAN
PART 29 AKU MENCINTAIMU


__ADS_3

“Aku tidak mau bersama Fint . Aku ingin bersamamu,” kataku sedih.


“Nanti kita bicarakan lagi. Sekarang cuci muka dulu dan ganti bajumu,” ujarnya menatap gaun yang kukenakan, basah kuyup.


Aku tersentak hebat melihat pantulan diri dalam cermin. Wajahku pucat pasi mirip hantu gentayangan, mataku sudah mirip anak panda gara-gara maskara yang luntur menghitam di bawah kantong mata.


“Sya, ini bajunya,” serunya sesaat setelah mengetuk  pintu.


Kubuka pintu perlahan, mengambil baju dari tangannya. “Makasih,” ucapku tersenyum.


“Kamu sudah makan?” tanya Kent saat kutempelkan pantatku di sofa, tepat di sebelahnya.


Aku menggeleng pelan, “Belum.”


Ia mengusap rambutku sebentar kemudian berkata, “Ingat si kecil. Makan yang banyak dan jangan terlalu banyak pikiran,” pesannya padaku, menggenggam punggubg tanganku sembari mengecup keningku lembut. “Soal itu, biar nanti aku bicara dengan Fint.”


Aku balas dengan anggukan kecil, membiarkannya pergi menuju dapur.



Mataku terpana menatap punggung kesepian itu dari belakang. Kuberanikan diri melangkah mendekat, menghampiri. Seperti adegan dalam drama, aku memeluknya dari belakang.


Kent terdiam terpaku. Ia membalikkan badan, menghadapku. “Sya, kenapa?” Ujarnya bertanya sembari membetulkan rambutku ke belakang.


Kucoba menatap kedua matanya, teduh. “Aku ingin pergi. Pergi jauh, bersamamu.”


“Iya, nanti kalau masalahmu sudah selesai,” jawabnya kalem.


“Sekarang saja. Kita pergi dan tinggal di tempat lain.”


Kent tersenyum kecil, mencubit pipiku gemas. “Memang kamu mau kemana?”


“Kemana saja, asal jauh dari tempat ini.”


Embusan napas Kent menyapu lembut napasku, menatap kedua manik mataku bergantian, jari jemarinya membelai lembut rambutku, ujung hidung kami bersentuhan.

__ADS_1


Ting… tong… ting… tong… ting… tong…. Suara bel rumah berbunyi tak ramah. Kami berdua sama-sama terkejut, menatap ke arah pintu. Kent melepas pelukanku, bergegas menuju pintu.


Aku benar-benar terkejut, mataku membelalak penuh saat mendapati seonggok manusia di depan pintu yang sekarang tengah berdiri menatap menyorot tajam padaku dari kejauhan. Seakan siap melontarkan busur panahnya ke arahku. Kugigit bibir bawahku pelan, jantungku berdetak lebih kencang, cemas, takut terjadi sesuatu pada keduanya. Mataku melirik awas memperhatikan setiap gerak gerik keduanya dari kejauhan.


Kent tidak membiarkannya masuk, menahannya di depan pintu. Sayup-sayup kudengar mereka bicara, aku tidak begitu dengar karena jauh. Belum ada pertengkaran pasti yang terjadi di antara mereka. Sampai Kent berkata dan berpesan, “Sya, aku keluar sebentar. Kamu di sini saja. Jangan kemana-mana.”


Maksud hati ingin menahan keduanya, tidak ingin mereka berkelahi, tapi apa dayaku itu urusan lelaki. Aku hanya bisa menunggu salah satu dari mereka muncul di hadapanku. Menunggu dan menunggu.


Kedua manik mataku menegang, menyaksikan secara langsung adegan perkelahian, perkelahian di antara dua orang pria. Saling melempar pukul dan tendangan, hingga salah satu dari mereka jatuh tersungkur ke tanah. Meninggalkan luka lebam, di pelipis mata dan sobekkan kecil di ujung bibir. Tak hanya sampai di situ, mereka masih melanjutkan perkelahian sampai salah satu dari mereka tergeletak tak sadarkan diri. Selanjutnya, sebuah iklan mie instan muncul, moodku jadi hilang, sedang asyik-asyiknya nonton malah terpotong iklan.


Terdengar suara seseorang membuka pintu perlahan, langkah kakinya mendekat, menghampiriku. Bola mataku keburu menoleh pada pria yang tengah berdiri di sebelahku sekarang. Sontak terkejut, melihat pelipis matanya bengkak, membiru. “Kent! Kalian pasti bertengkar,” tuduhku setelah melihat luka memar yang di dapatnya.


Kent duduk di sebelahku, kemudian berkata, “Tidak, cuma terbentur.”


“Bohong. Kalian pasti bertengkar.”


Seutas senyum tersungging dari bibirnya. “Kamu sudah makan?” ujarnya kalem, binar matanya terlihat teduh.


“Sudah. Tadi masak sendiri.”


“Bagus. Setidaknya jaga kesehatanmu dan anak kita.”


“Dia bilang akan membatalkan pernikahan.”


“Benarkah!” pekikku memelototkan mata tak percaya.


Kent mengangguk pelan. “Yeah!”


“Kok bisa segampang itu. Kupikir Fint bakal marah, tidak terima,” kataku berkomentar, melihat sikap Fint yang gigih untuk mendapatkanku kembali. Kuakui dia berhasil.


Kent memelukku ke dalam dekapannya, embusan napasnya menyapu rambutku lembut. “Jangan pikirkan apa-apa, biar aku yang mengatasi semuanya. Cukup berada di sampingku, bersamaku.” Sebuah kecupan singkat mendarat di keningku. “Kamu mau pulang. Aku antar.”


“Tidak. Aku mau di sampingmu, bersamamu.” Senyumku sembari memeluk sebelah bahu lengannya manja.


Kent terkekeh geli, mendengarku mengulang ucapnya. “Iya, iya di sampingku menempel kayak perangko.”

__ADS_1


“Jangankan perangko, menempel kayak jamur aku juga mau.”


“Jamur?” alisnya bertaut tak paham.


Ujung jari telunjukku mentowel ujung hidungnya genit. “Jamur cinta.”


Spontan membuat Kent tertawa lepas, mendengar banyolanku yang konyol. Mengangguk-angguk kecil dan berkata, “Ya, ya, ya. Boleh, boleh.” Ia menghentikan tawa, menatap kedua bola mataku bergantian, “Nesya. Aku mencintaimu.”


Lambat-lambat wajahnya mendekat, ujung hidungnya menyentuh hidungku. Kent memiringkan kepalanya, menciumku intens. ******* dan menarik lembut bibirku, sangat lembut membuatku ingin mengisapnya lebih lama. Sesaat kami terbuai dalam ciuman hangat dan lama.


Aku juga mencintaimu, Kent, ucapku dalam hati mengakui.


Di lain tempat, di tengah hiruk pikuknya para kru dan model yang sedang bergaya di depan kamera. Seseorang menghentikan kegiatannya, memandang sembari menyeringai seram, memperhatikan berita selebrity ter-up to date yang muncul di televisi hari ini.


Sembari memainkan pemantik api (mirip adegan pembakaran), ia bermonolog sendiri, “Ternyata, mereka masih bersama.”


☘️🥰


Malem semua


Seandainya orang yang kamu suka, ternyata menyukai kamu juga. Gimana rasanya?


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2