
Patung es abadi sengaja terukir berbentuk cinta, terpajang mewah di atas meja di tengah-tengah ruangan, sebagai lambang cintaku padanya.
Rangkaian buket bunga berwarna putih menghiasi seluruh penjuru ruangan (hall). Hampir penuh kursi tamu yang hadir malam ini, meski para undangan tertutup untuk umum (hanya dari kalangan relasi dan sanak saudara).
Mata ini seolah tak ingin lepas mengagumi sosok cantik bergaun kebaya putih panjang setumit yang tengah berdiri anggun di sebelahku.
Senyum manis menawan hati, selalu bisa membuat otakku sedikit ling lung. Dia memang cantik, sangat cantik bahkan. Aku bersyukur bisa menemukan dia lagi setelah sekian lama kami berpisah tanpa kabar berita pasti. Rindu yang meletup-letup serasa hampir meledak ketika iris mataku mendapatinya berdiri gusar tanpa seseorang yang menemani.
Siang itu, aku sedang menunggu sepupu kecilku mengikuti audisi, karena bosan aku berjalan-jalan mengitari gedung mencari kafe atau restoran di dalam gedung.
Tiba-tiba saja bola mataku dikejutkan oleh sosok cantik yang selalu kurindukan. Seperti dejavu, aku memimpikannya tepat seminggu yang lalu (mungkin ini sebuah isyarat dari mimpiku).
Pertemuan kami bisa dibilang sedikit thriller, karena aku dengan sengaja menculiknya dari buruan para wartawan.
Awalnya aku bingung, kikuk, tak tahu harus mulai darimana, karena sudah lama tidak pernah berjumpa dengan dia.
Setelah berpikir sebentar, akhirnya aku mendapat sebuah ide brilian. Pelan-pelan tapi pasti, aku melangkah maju menghampiri dia, kemudian sebelah tanganku membekap mulutnya (mirip adegan penculikan), membawanya paksa ke tangga darurat.
“LEPASKAN!” suara teriakannya berdenging di telingaku. Dia sempat berontak, tapi kucoba untuk bersikap setenang mungkin.
Sungguh tak kuasa tatkala kedua manik mataku mendapati paras cantik itu seutuhnya, bibirku sudah lebih dulu menciumnya, meski terhalang oleh masker yang kukenakan. Seandainya saja aku tidak pakai masker, sudah kulumat habis bibirnya yang elok, rutukku dalam hati kesal.
“Auch!” pekikku kesakitan. Jelas saja, ujung runcing sepatu high heels miliknya sengaja menginjak sepatuku.
__ADS_1
Ekor mataku menangkap lengkap gerak gerik yang terburu-buru mencoba untuk kabur, dengan cepat kutarik sebelah lengannya. Detik itu juga kubuka masker yang menutup separuh wajahku sambil berseru, “Nesya ini aku.”
Kami mengobrol biasa layaknya teman lama yang tidak pernah bertemu, namun semuanya terbongkar saat kami berada di dalam mobil. Syok! Syok berat, ketika dia bilang, “Aku hamil.”
Seakan diterjang buffalo, hati ini rasanya remuk redam. Bagaimana bisa? Perempuan yang sangat kucintai, mendadak hamil. Padahal sebulan lalu, aku sempat mendengar kabar berita tentangnya: Artis cinlok berinisial N dan L putus!
Foto keduanya bahkan terpampang jelas di media televisi dan surat kabar. Tanpa pikir panjang, waktu itu aku buru-buru menelepon temanku (sebut saja Reno), dia bekerja di stasiun TV yang menyiarkan berita itu. Aku sempat menanyakan nomor kontak manager Nesya, tapi dia menolak memberikannya, dengan alasan privasi artis (oke, oke, aku bisa terima itu).
Terkadang, tengah malam, ketika mataku tak jua terpejam, muncul perasaan marah dan kesal di dada acap kali mengingat pengakuan tentang kehamilannya.
Sesekali aku bertanya dalam hati kecilku, “Apa aku bisa bahagia bersamanya? Meski aku tahu anak itu bukan darah dagingku.”
Namun, saat itu pula, kubuang jauh-jauh semua ego dan benci. Mm, aku terlalu mencintai Nesya, mungkin alasanku terlalu simpel, tapi aku mencintainya tidak hanya sebulan dua bulan. Aku yakin mencintainya sejak awal pertama kali mata ini menemukannya di sebuah pesta ulang tahun teman (Regan), sebut saja mantan pacar Nesya.
Huft!
Tapi, aku tidak ingin menyerah sampai di situ. Aku bahkan rela menyakiti diri sendiri dengan meminta sedikit bantuan dari Fifi (Firda). Awalnya ia menolak dengan tegas, namun setelah mendengar permintaanku dan… sedikit gift (berlibur gratis ke Bali).
Ssh…! Jangan bilang-bilang Nesya, nanti dia marah.
Aku tahu aku salah, memanfaatkan kelemahanku untuk membuatnya kembali padaku, tapi aku tak menyesal.
Sekarang, aku bisa tersenyum lega, melihat rona bahagia dari ekspresi wajah ceria yang ditunjukkannya. Kuremas lembut jari-jemari lentik dalam genggaman tanganku, tanpa sungkan mengecup punggung tangannya lembut di depan banyak orang sembari berbisik mesra di telinganya, “I love you, Sya.”
__ADS_1
Seutas senyum malu-malu tersungging dari bibir bergincu merah cabai miliknya. Iris mata indahnya menatapku gemas, “Gombal,” balasnya berbisik di telingaku, segaris senyum simpul mengembang dari bibirku.
Rasanya sudah tidak sabar ingin segera membawanya lari dari keramaian ini, menahannya dalam pelukan dan ciuman.
Beberapa kali aku terkekeh congkak dalam hati, mendapati tatap mata iri para tamu yang melihat kemesraan kami dalam pesta, apalagi seseorang yang memantau gerak-gerik kami mulai dari awal acara.
Bola matanya yang belok mendelik geram tatkala aku mulai mencium tangan atau sekedar berbisik di telinga Nesya.
Huft!
Siapa lagi kalau bukan Mamaku tersayang. Ia betul-betul menentang hubunganku dengan Nesya, tapi aku tidak peduli.
Sore itu, sempat terjadi cek-cok di rumah, mama betul-betul marah besar, membuang muka dan tidak peduli dengan penjelasanku. Beruntung, papa datang di saat yang tepat. Mama pun tidak bisa berkutik pada keputusan papa yang memintaku untuk segera menikahi Nesya.
Syukurlah! Pesta Lamaran kami berlangsung dengan hikmat, tanpa kendala. Meskipun seseorang yang kuharapkan tidak bisa hadir dalam acara penting dalam hidupku.
Dia hanya mengirim pesan Whatsapps singkat, “Maaf, aku tidak bisa hadir.”
🔘🙄
Coba tebak siapa yang sms Fint di pesta lamarannya? Cowok atau cewek?
Jangan lupa like dan komen
__ADS_1
Terima kasih 🥰