
“Minum dulu,” ucap Kent, menyuguhkan teh madu untukku.
Kami baru sampai di rumahnya 5 menit yang lalu. Rasa bersalahku masih tertancap di dada, belum benar-benar kelar. Aku bahkan belum sanggup menatap kedua mata Kent saat ini.
Kent duduk di sampingku, ekspresinya benar-benar tenang. Aku tidak mengerti, harusnya dia marah saat tahu pacarnya selingkuh dengan pria lain, bahkan dicium di depan matanya.
“Kent… Aku…”
“…jujur. Kamu, mau bersamaku atau bersama Fint.”
Air mataku respon menetes ketika ia bertanya tentang hal yang paling inti dalam hatiku.
Kepalaku tertunduk dalam, “Dua bulan, aku mencarimu, sampai aku bertemu Fint. Dia memintaku menikah dengannya. Awalnya aku menolak, tapi karena Fint…”
“Cukup! Sekarang aku tanya. Kamu hamil?”
Aku mengangguk pelan. “Ini anakmu.”
Bola mata Kent terbelalak lebar, mendengar pengakuanku yang mengejutkan, seakan tak percaya dengan apa yang kukatakan barusan. Aku menunggu sebuah jawaban keluar dari mulutnya.
Ia mengusap wajah, “Terus, sekarang bagaimana?”
Aku sedikit kecewa melihat reaksinya yang kurang bahagia, sepertinya dia tidak senang mendengar kalau anak ini adalah darah dagingnya.
“Menurutmu? Aku harus bagaimana?”
“Jangan katakan apa pun.”
Sontak tersentak dengan apa yang dikatakan Kent. Menggeleng bingung.
“Maksudmu?”
“Tidak sekarang. Fint sedang sakit.”
“Lalu sampai kapan?”
“Biar aku yang bilang.”
__ADS_1
“Sampai kapan? Sampai aku menikah dengannya. Bulan depan aku nikah. Terserah, kalau itu maumu,” kataku ketus, beranjak dari duduk, cepat-cepat pergi dari rumahnya.
Aku tak menyangka kalau dia tidak peduli dengan janin dalam kandunganku. Marah, sedih, kecewa, itu yang kurasakan sekarang.
7 panggilan tak terjawab dari nomor ponsel Fint. Kent, bahkan tak menghubungiku. Kata-katanya yang tak acuh terngiang-ngiang di kepalaku, air mataku tumpah terisak basah. Aku menangis semalaman.
Keesokan harinya, derung suara mobil berhenti di depan pagar rumah bercat kuning jeruk lemon. Si pemilik rumah masih terlelap dalam tidurnya, dengan kelopak mata yang sembab.
Bunyi ponsel berdering beberapa kali di bawah bantal, mengusik, membangunkan. Aku beranjak enggan dari tempat tidur, menuju pintu depan rumah. Fint sudah menunggu di sana. Masih mengenakan piama, aku berjalan gontai membukakan pintu pagar.
“Sayang, baru bangun.”
Aku mengangguk pelan, membalikkan badan kembali ke kamar.
“Tadi malam kemana. Aku telepon nggak diangkat.”
“Ngantuk,” jawabku asal bicara.
Fint mengikuti langkahku menuju ke kamar. “Sarapan yuk!” ajaknya.
“Oke, aku mandi dulu.”
Aku terkejut mendengarnya. “Beda, beda apanya?” elakku membalikkan tanya.
“Sikap kamu. Enggak kayak biasanya.”
Aku tersenyum semanis mungkin di depannya. “Masa iya sih!” ucapku menangkup kedua pipinya dengan kedua tanganku gemas.
Cup!
Aku mengecupnya singkat, mencairkan suasana yang sedari tadi kaku. Fint tersenyum menyambut kecupanku dengan ciuman hangat. Dalam hati aku berkata, aku tak peduli lagi tentang dia (Key).
...♡♡♡♡♡♡...
Seharian ini, aku bersama dengan Fint. Nanti malam akan ada acara ulang tahun Mama Fint, seluruh kerabat Fint ikut datang merayakannya di sini, Vila milik keluarga Fint. Hampir 24 jam, Key tidak menghubungiku, aku benar-benar kesal dibuatnya.
“Sayang, kok melamun. Bosan ya.”
__ADS_1
Aku menoleh menatapnya sembari tersenyum. “Nggak apa. Cuma nggak enak badan,” jawabku pura-pura sakit. Tentu saja, aktingku tak perlu diragukan lagi, aku sangat lihai dalam hal ini.
“Kamu sakit? Perlu kuantar ke rumah sakit?” ujarnya panik, memegang wajahku dengan kedua tangannya.
Aku berpikir sejenak, mencari ide, “Bisa antar aku ke rumah Mama.”
“Mama? Tumben.”
“Iya, aku dah lama nggak ke sana. Lagian kalau di rumah aku sendirian.”
“Oke. Maaf, aku tidak bisa menemani,” mengusap-usap pipiku lembut.
“Nggak apa,” jawabku wajar.
Fint mengantarku ke rumah orang tuaku. Aku melambaikan tangan sampai jumpa, saat mobilnya melaju pergi. Kuedarkan pandangan ke rumah sebelah, tampak sepi seperti biasa.
Mama menyambutku saat langkahku masuk ke dalam rumah, membiarkanku menghabiskan masakan buatannya. Tiap jam aku melirik ke rumah sebelah dari jendela kamarku di lantai atas, kebetulan jendelaku berseberangan dengan pintu samping rumahnya.
Matahari tenggelam di ufuk barat, sejam yang lalu. Terdengar suara mobil memasuki halaman rumah. Cepat-cepat aku berlari ke arah jendela.
Itu dia! Keluar dari dalam mobil, masuk ke dalam rumah.
Aku berjalan sedikit berlari, keluar kamar menuju gudang di ujung ruangan lantai ini. Mengambil tangga, membawanya ke kamar dengan hati-hati dan pelan-pelan, tak ingin menimbulkan suara. Bisa-bisa Mama marah, melihat kelakuan nakalku.
Kubuka jendela kamarku lebar-lebar, menjinjing tangga yang berat, memastikan ujung tangga hingga menyentuh tanah.
Setelah pijakan tangga dirasa cukup kuat. Aku memijakkan kakiku, turun ke halaman Key memakai tangga.
Baru sampai tengah-tengah, tiba-tiba saja….
“Nesya!!!"
Teriak seseorang dari bawah tangga.
🔘 😤
Menurut kalian, Nesya turun sendiri atau jatuh tertimpa tangga?
__ADS_1
Btw, jangan lupa like komen ya guys