12 MANTAN

12 MANTAN
PART 34 WANITA YANG KUCARI-CARI


__ADS_3

Uwek!


Cairan kental berbau busuk itu melumeri kemejaku. Yeiks!


Seketika itu juga dia berlari ke kamar mandi dan aku mengikutinya. Dari situlah aku menginginkan sesuatu yang lebih dari sekedar menjaganya.


Malam ini, untuk pertama kalinya aku melepas keperjakaanku. Awalnya kami sama-sama malu. Aku tak menyesal saat dia mulai berubah menjadi agresif di depanku.


Bola mata indah itu menatap kedua mataku lekat. Sentuhannya menggerayang lembut menimbulkan getaran nikmat hingga ke ujung kuku jari kakiku. Muncul hasrat untuk memilikinya lebih lama dan aku tahu konsekuensi dari apa yang akan terjadi setelah malam ini.


Saat kedua tangannya melingkar dan mengecupku, aku berkata, “Menikahlah denganku.”


Ya, aku yakin betul aku menginginkan dirinya lebih dari malam ini. Aku mau dia menjadi milikku selamanya.


Pagi itu, aku harus menelan pil pahit. Aku tak menemukan wanita itu di sampingku. Dia kabur, entah kemana?


Aku benar-benar kecewa, mimpi indah bersamanya harus pupus seketika itu juga dari anganku, namun sentuhan lembut kulit tubuhnya masih membekas di sekujur tubuhku.


Sekembalinya dari Santorini, aku menerima kabar baik. Aku mendapatkan pekerjaan di Indonesia. Mama baru memberitahu kalau kami masih punya rumah di sana, cuma rumah itu sudah roboh karena lama tak ditinggali dan aku berencana untuk membangunnya kembali.


Selesai mengantongi paspor, Visa dan ITAS (Ijin Tinggal Terbatas), aku terbang ke Indonesia untuk mengecek rumah. Sedikit bisa bernapas lega ketika ternyata pembangunan rumah sudah hampir dalam tahap selesai. Tinggal membeli beberapa perabot dan mengambil barang kesayanganku yang masih ada di rumah mama.


Aku masih ingat pesan mama sebelum berangkat, “Kalau butuh bantuan ada Tante Fina, tetangga sebelah rumah. Teman Mama dari SMA. Jangan lupa, sampai sana mampir ke rumahnya dulu,”


4 hari di sini, aku belum sempat mampir ke mana-mana, sibuk di rumah sakit sampai tidak bisa pulang hanya untuk sekedar rehat sejenak.


Petang beranjak malam, aku bergegas mandi setelah memarkirkan mobilku di halaman rumah. Terdengar bunyi bel rumah berkali-kali, kupercepat mandi, memakai celana dan menyambar handuk, segera keluar dari kamar mandi.


Kedua mataku terbelalak kaget, benar-benar terkejut melihat penampakan cantik yang sekarang berdiri di depanku.


“Mm, ngg, kamu…”


Wanita itu, wanita yang kucari-cari, kami bertemu kembali di saat yang tak terduga. Aku bahagia bisa bertemu lagi dengannya, tapi di lain pihak, aku harus menahan rasa kecewa, ketika tahu kalau dia adalah tunangan dari teman baikku Fint.


Fint, teman SMPku, kami sudah lama tidak bertemu sejak kepindahanku ke Australia. Asal tahu saja, orang yang pertama kali kutemui di bandara adalah  Fint.


Ia pria baik hati dan terlalu perhatian, Fint bahkan meminjamkan salah satu mobilnya untuk kupakai selama berada di sini. Fint tahu keberadaanku di sini tidak lama, jika kontrak kerja dan Visaku berakhir, mau tidak mau aku harus kembali ke negaraku.


Semalaman aku tidak bisa tidur nyenyak, kupikir aku harus menjauh dari Nesya, namun setiap ekor mataku merilik sebelah rumah. Aku tahu, aku merindukannya, tapi aku berusaha untuk tidak merindukannya. Sampai aku sadar kalau Nesya benar-benar membutuhkanku. Tidak pernah terbayang olehku, seorang wanita hamil  berani memanjat hanya untuk bertemu denganku.


Esok harinya, untuk pertama kalinya aku bertemu langsung dengan Tante Fina sambil membawa tangga yang digunakan Nesya semalam. Dengan hati was-was aku menceritakan awal pertemuanku dengan Nesya pada Tante Fina.

__ADS_1


Alisnya sempat bertaut, ketika aku menceritakan kejadian saat seorang pemabuk hampir memukul Nesya. Terbelalak kaget, reaksi Tante Fina  saat aku bilang, “Nesya hamil. Dan itu anak saya.”


Tentu saja aku tidak bohong, memang benar anak dalam kandungan Nesya adalah anakku.


Aku juga bilang kalau aku tahu Nesya akan segera menikah dengan Fint. Secara jujur aku bilang kalau Nesya sedang berada di rumahku.


Tante Fina betul-betul kaget, memintaku untuk segera membawa Nesya pulang, tapi aku menyanggahnya dengan alasan Nesya sudah dewasa, dia berhak memilih siapa pasangan  hidupnya.


Jika benar dia memilih Fint, aku akan rela melepasnya, namun jika dia lebih memilihku, aku akan menjaganya lebih dari nyawaku.


Hal yang tak kuinginkan terjadi, aku sudah menyangka hal ini bakal terjadi esok atau nanti.  Bel rumah berbunyi tidak sabar, Nesya datang memelukku dengan air mata terisak di depan pintu rumahku. Mimik mukanya sangat sedih.


Sebelum dia datang aku sempat melihat berita tentang rencana pernikahan mereka di TV, meski aku tahu hanya Fint yang berbicara di depan awak media, Nesya sendiri memalingkan muka, duduk terdiam di sebelahnya.


 Dari tadi pagi perasaanku sudah tidak enak, pertanda sebuah kejadian buruk menanti. Tadi pagi, sepulang dari kerja, mobilku keluar dari halaman parkir rumah sakit. Tiba-tiba saja sebuah mobil sedan hitam menguntitku sampai ke rumah. Setelah memarkirkan mobil  dan akan menutup pagar, aku melihat mobil itu berhenti di depan rumah Nesya. Aku menebak dalam hati, pasti orang suruhan Fint.


Benar saja, saat kami bercengkrama, tiba-tiba saja Fint datang dengan wajah penuh amarah. Dengan cepat, aku menahannya untuk masuk. Kedua bola mataku menatap kedua bola matanya tajam, lalu membisikkan sesuatu di depannya. “Nesya hamil, jangan membuatnya sedih. Kita bicara di luar.”


Beruntung saja dia menyetujui pintaku. Aku membawa Fint ke rumah Nesya, berbicara delapan mata dengan kedua orang tua Nesya.


Ya, aku mengambil alih posisi Nesya untuk menjelaskan semuanya, menceritakan kejadian sebenarnya, dan memberitahu niat awalku untuk menikahi Nesya.


Kuhela napas lega, ketika kedua orang tua Nesya setuju dengan rencanaku untuk segera menikahi Nesya sebelum janin dalam perutnya membesar. Setelah menikah, aku akan membawa Nesya tinggal di Australia demi menghindari gosip miring yang akan menyebar.


Namun, kejadian yang tak kami inginkan terjadi, Nesya menghilang, tanpa kabar berita selama 3 hari. Aku, Vivi, Fint dan kedua orang tua Nesya kelimpungan mencarinya. Fint menyuruh beberapa orang pengawal untuk mencarinya, Papa dan Mama Nesya sudah lebih dulu menelepon polisi, melaporkan pencarian orang hilang, Vivi sibuk menelepon teman seagensi dan teman semodel Nesya.


Aku sendiri menelepon teman-teman di beberapa rumah sakit, meminta mereka mengirim kabar jika ada pasien dengan ciri-ciri yang kusebutkan.


Kemana Nesya sebenarnya? Aku benar-benar takut sesuatu yang buruk terjadi padanya.


🔶🔸😎


Malam semua, coba tebak siapa pria yang menculik Nesya. Penasaran? Ikuti Part minggu depan ya...


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2