12 MANTAN

12 MANTAN
PART 22 I FIND YOU


__ADS_3

“Adek, ambilkan Mama gula,” pinta Mama yang sibuk mengaduk-aduk sesuatu dalam panci.


“Gula? Yang mana Ma? Gula merah, apa gula putih?” tanyaku menghentikan makan, sontak berdiri dari duduk.


“Gula merah saja. Eh, semuanya saja deh! Dek,” kata Mama bingung.


Kuambilkan semua yang Mama minta, meletakkannya sembari bertanya, “Mama bikin apa sih?”


“Buat bubur sayang. Kamu kan hamil 3 bulan. Mama tahu kamu nggak mau orang pada tahu, tapi ini tradisi sayang. Biasanya kalau 3 bulanan buat nasi kotak sama kue, tapi nanti tetangga-tetangga pada tanya lagi. Jadi Mama buat bubur merah saja, sambil memanjatkan doa supaya si kecil sehat selamat sampai lahir,” kata Mama sedikit menjelaskan.


Aku menggangguk seperlunya, “Terus yang antar siapa?” tanyaku sambil sibuk mencicip remahan-remahan kecil gula merah.


“Nanti biar bibi yang antar.”


“Adek ke kamar dulu ya Ma, ngantuk. Nanti bangunin, kalau Fint dateng,” pesanku sebelum beranjak dari dapur.


“Kok tidur sih Sya, masih siang nak.”


“Ngantuk Ma, nggak kuat,” kataku berujar manja.


Tampak Mama berpikir sejenak, kemudian berkata, “Ya, sudah. Tidur sana.”


Kubenamkan diri dalam selimut penawar letih, membaringkan diri dalam sendiri.


Kalian tahu! 6 hari lalu aku dan Fint menggelar acara lamaran tertutup di salah satu hotel milik keluarganya.


Sebetulnya aku tak berniat melanjutkan hubungan kami, namun melihat kesungguhan Fint membuat pendirianku luluh lantak.


Aku membatin dalam diam, bergumam sedih menatap ke arah pusar, perutku sebentar lagi membesar, bakal jadi gemuk dan jelek. Fint pasti jijik melihatku?


Tiba-tiba saja mood-ku berubah melo sendu. Beberapa hari ini, sorot mata tajam milik pria itu menari-nari di pelupuk mataku. Kuhela napas panjang sekali lagi, mengusap sayang perut yang sedianya belum juga menunjukkan tanda-tanda membuncit, “Sayang, kapan ya bisa ketemu Papa kamu?”


Oh Tuhan, ijinkan hamba bertemu dengannya, meski hanya sekejap mata.


Matahari sore hampir tenggelam di ufuk barat, menggoreskan kuas warna langit jingga kemerah-merahan. Beberapa menit lalu aku terbangun dari tidur, mandi, dan sekarang berjalan gontai ke arah dapur. Kotak-kotak tempat bubur sudah bersih tak tersisa satu pun di atas meja, pasti sudah selesai diantar ke tetangga-tetangga dekat rumah.

__ADS_1


Pandanganku mengedar memutar, aku tak melihat Mama di dapur, hanya Bi Sumi yang sedang sibuk mengelap meja.


Sementara aku sibuk mengambil air minum, Bu Sumi tampak mengelap tangannya yang basah ke rok panjangnya (selesai mencuci tangan).


“Mbak, ini buburnya tinggal 1. Tetangga sebelah kanan rumah belum. Tadi bibi ke sana orangnya belum pulang, masih kerja katanya. Biasanya pulang habis maghrib,” ujar Bu Sumi berpesan padaku, menunjuk pada kantong plastik hitam di atas kulkas. “Ini juga ada kuenya. Ibu tadi pesan ‘jangan lupa diberikan’. Maaf mbak, Bibi mau pulang dulu. Bapak sakit, nggak ada yang jaga.”


Seketika itu juga rasa ibaku mendadak muncul, “Bibi buburnya sudah?”


“Sudah mbak, ini mau saya bawa,” kata Bi Sumi mengangkat kantong plastik hitam yang di pegangnya.


“Ya sudah, kalau begitu Bibi pulang saja. Nanti buburnya tetangga sebelah, biar saya yang antar.”


Sebelum Bi Sumi benar-benar pulang, aku menyerahkan sedikit tambahan untuk biaya berobat suaminya, mereka berdua sudah seperti keluarga kami sendiri. Mama dan Papa selalu mengajarkan untuk membantu orang lain, terlebih lagi pada orang terdekat di sekitar kami, karena mereka jugalah yang akan membantu kita suatu saat nanti.


Pukul 18.37, sudah satu jam aku menunggu Mama sambil menonton TV, tapi Mama belum pulang juga. Kuhentikan acara menontonku, bergegas menuju dapur mengambil kantong plastik berisi sekotak kue dan bubur di atas meja. Melangkah keluar rumah, berjalan pasti menuju ke rumah tetangga sebelah.


Ada sebuah mobil Terios berwarna putih terparkir di depan rumah. Sedikit terkejut, saat tahu pintu pagarnya tidak terkunci. Dengan mudahnya aku menyelonong masuk ke dalam halaman rumah yang luas berpasir (maklum rumah baru, masih dalam tahap pembangunan).


Aku mengetuk pintu beberapa kali, namun tak ada seorang pun yang membukakan pintu. Kesal menunggu, kuputuskan untuk berjalan melihat-lihat ke samping rumah.


Aku mendengus, memutar badan kesal. Percuma saja aku menunggu lama, mending pulang saja, rutukku dalam hati.


Belum juga melangkah, tiba-tiba terdengar suara daun pintu terbuka pelan. Berikutnya terdengar suara, “Siapa ya?”


Suara itu! Aku mendengarnya dalam mimpiku semalam. Astaga! Apa aku mimpi?



Otomatis menoleh, menatap sosok separuh telanjang di depanku: hanya memakai celana pendek selutut warna hitam. Rambutnya basah tergerai berantakan dengan handuk di tangan.


Kedua bola mata kami saling bersiborok. Jakunnya naik turun (menelan ludah) seolah tak percaya melihat penampakanku, begitu pun halnya denganku (mengerjap mata).


Aku tak percaya, sungguh tak percaya. Tubuhku terpaku membeku, lidahku seakan kelu, jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.


“Mm, ngg, kamu,” ujarnya tak selesai.

__ADS_1


Diam. Lidahku berat seperti terkunci gembok berkarat, susah dibuka.


“Masuklah. Aku ganti baju dulu,” katanya berbalik badan.


Kaki ini tak jua melangkah, hanya berdiri menatap punggung itu pergi. Belum sampai masuk ke dalam rumah, mendadak dia berbalik arah. Menatapku sejenak, sembari menyunggingkan senyum, lalu berjalan menghampiriku.


Kedua tumit kakiku perlahan menyeret mundur, mungkin aku masih belum yakin dengan penglihatanku sendiri.


Raut wajahnya tampak terkejut melihat reaksiku, sedetik kemudian dia tersenyum tipis sambil mengetuk dahiku dengan ujung jari telunjuknya pelan.


“Ayo masuk, bisa-bisa aku masuk angin,” ujarnya meraih pergelangan tanganku, membawaku masuk ke dalam rumah.


Aku terduduk tegang, melihat ke arah pintu. Rasanya ingin lari saja, tapi, kenapa juga?


Tidak menyangka bisa bertemu semudah ini, setelah beberapa bulan lalu bingung mencari dia. Kemarin-kemarin aku benar-benar hampir putus asa: ingin bertemu dengannya. Sekarang sudah ketemu malah mau kabur.


Mataku melirik tipis pintu kamar dekat tangga yang masih tertutup rapat, pria itu sedang ganti baju.


Pintu samping ini ternyata menghubungkan antara dapur dengan halaman samping, jendela panjang besar menempel di sebelahnya. Aku duduk di sofa bed ruang santai, tak jauh dari dapur. Rumah ini tampak sangat luas, minim perabot, jelas saja ini rumah baru.


“Kamu mau minum apa?” tanya pria itu membuyarkan lamunanku. Aku tersentak kaget, dia sudah berdiri di depan meja dapur.


“Eng-enggak usah. Aku cuma ngasihkan pesenan Mama,” kataku berdiri dari duduk berjalan menghampirinya—menaruh kantong plastik di atas meja. Terburu-buru membalikkan badan, pergi.


“Nesya,” panggilnya menyebut namaku dengan benar.


Hei! Dari mana dia tahu namaku?


🔘🥰


Pagi semua. akhirnya Miels bisa up date.


Jangan bosan menunggu ya 🤗


Makasih

__ADS_1


__ADS_2