
Senyumku mengembang tatkala mendapati wajah tampan yang sedang tertidur di depan mataku. Hei! Aku baru tahu kalau bulu matanya lentik pendek, seakan tergelitik untuk menggodanya. Ah, tapi tidak. Kasihan, dia baru pulang semalam setelah dua hari di rumah sakit. Jadwal operasi yang padat membuatnya tertahan, tak bisa pulang.
Sudah kuputuskan untuk tinggal di rumah Kent, sampai Fint memberikan pernyataannya kalau pernikahan kami di batalkan. Tentu saja, aku tidak mau tinggal sendirian di rumah (takut sesuatu yang buruk terjadi). Meskipun sebenarnya aku harus beradu mulut lebih dulu dengan Vivi, dia melarangku, melarang keras. Tapi, tentu saja dia tidak bisa menang melawanku, karena aku terlalu keras kepala.
Hari ini aku ada jadwal pemotretan dengan salah satu sponsor, sebenarnya aku sudah menolak jauh-jauh hari, namun Vivi bilang tidaklah apa menerima satu atau dua job. Dengan sangat terpaksa aku menuruti permintaannya.
Kuganti bajuku dengan kostum yang telah disiapkan. Aku sedikit merasa aneh, kenapa tempat ganti bajunya disendirikan, di ujung tempat pemotretan. Tempat kecil dari papan kayu yang tertutup tirai. Biasanya aku ganti baju di kamar mandi atau di ruang ganti yang sudah disiapkan di salah satu ruangan. Tanpa pikir panjang, aku segera mengganti bajuku dan memulai pemotretan.
Betapa terkejutnya aku saat melihat sosok yang tak asing di depan mataku. Regan. Dia masih hidup.
“Hallo sayang. Lama tidak jumpa,” ujarnya melambaikan tangan padaku ringan. Senyumnya menyeringai tipis, menakutkan.
“Sedang apa kamu di sini?”
“Hei! Aku fotografernya,” ucapnya coba meyakinkan.
Ya, benar, ia memang fotografernya. Tahu kalau itu dia sudah kutolak mentah-mentah job ini. Aku tidak mau berurusan dengan makhluk jahat macam Regan. Ia berjalan mendekat, aku membeku ketika jari jemarinya membetulkan rambutku ke belakang. Gelombang mistis seakan terpancar dari dirinya, membuat tengkukku bergidik ngeri.
“Sayang, bagaimana kalau makan bersama.” Seutas senyum miring tersungging dari bibirnya, seram.
“Tidak bisa. Aku ada perlu.” Tolakku ketus. “Jadi foto tidak, kalau tidak aku pulang.”
“Hei! Hei! Judes banget sih! Jangan marah-marah dong! Nanti cantiknya luntur.” Ujung jarinya mentowel daguku genit.
Spontan mengelak dari sentuhan tangannya, jijik. Cuih! Yang benar saja. Bulu kudukku meremang ngeri melihat kelakuannya barusan. Sejak kapan dia jadi genit, gerutuku dalam hati. Selesai pemotretan, aku mencari-cari keberadaan Vivi. Entah, kemana dia tiba-tiba menghilang dari peredaran. Maksud hati ingin segera pergi meninggalkan tempat ini, tapi kenapa ada saja.
Seseorang menepuk pundakku. “Nesya, tunggu siapa?”
“Tunggu pacar.”
“Oh ya, siapa pacar kamu? Kupikir masih single. Gimana kalau kita balikan? Aku tuh masih sayang sama kamu.”
__ADS_1
“Regan. Cari saja cewek lain. Aku sudah mau nikah.”
“Wah! Serius. Sama siapa? Pasti orang kaya, kamu kan matre,” ucapnya sengaja mengolokku.
Sudut mataku sontak melirik sinis padanya, kesal. Tidak ingin berdebat dengannya, aku mengambil langkah pergi.
Tangannya menarik lenganku cepat. “Hei! Mau kemana? Aku masih kangen,” katanya berlebihan, mendengar ucapnya membuatku jijik.
“Reg, lepasin,” pekikku risih.
“Nesya!” panggil Vivi menghampiriku.
Untung saja Vivi datang tepat waktu, ia berjalan tergopoh-gopoh, membawa baju ganti. “Nes, ganti dulu gih! Di kamar mandi saja. Ayo!” ajaknya menarik lengan, menuntunku.
Mata jalang itu seolah tak lepas menatapku, senyumnya tak berhenti sampai ia menghilang dari pandangan.
Selama di dalam mobil aku berpikir keras, bagaimana caranya supaya aku tidak bertemu dengan makhluk menakutkan itu. Tapi, sepertinya tidak mungkin, selama beberapa hari ini aku harus menghadapi sendiri tingkah laku manusia jahat itu. Bulu kudukku bergidik ngeri mengingat kejadian masa lalu kelam bersamanya.
Tangan itu seolah mencengkram pergelangan tanganku permanen. Vivi menatapku terheran sedari tadi.
Aku menggelengkan kepala pelan. “Tidak. Tidak ada apa-apa. Makan dulu yuk!” pintaku padanya mengalihkan pikiran.
Selesai makan bersama Vivi, aku kembali sendirian ke rumah Kent. Sepi, mungkin Kent masih berada di rumah sakit. Aku menuju kamar mandi untuk mandi sedikit terkejut saat memasuki kamar mandi. Ada karpet kamar mandi di area shower. Senyum kecil, merekah di bibirku tahu maksud dari semua ini. Kent benar-benar memperhatikan kondisiku.
Grab! Kedua lengannya melingkar di pinggangku, mengejutkanku. Kent baru saja datang ketika aku berada di dapur.
“Sayang, bagaimana kabarmu hari ini? Capai tidak?” Ucapnya membalikkan badanku, tersenyum menatap.
Aku menggeleng pelan. “Tidak, aku baik-baik saja.”
“Neant kecil gimana? Tadi perutmua sakit tidak?” tangan kanannya mengusap-usap perutku sayang.
__ADS_1
Aku menatapnya senang. “Neant? Dari mana kamu dapat nama itu?” ujarku dengan raut muka ingin tahu.
“Dari nama kita. Ne dari namamu dan Ant dari namaku Keant.”
“Bisa saja kamu,” ucapku sembari mentowel ujung hidungnya gemas.
“Sayang. Aku punya kabar baik dan kabar buruk. Kamu mau dengar yang mana dulu.”
“Apaan sih,” timpalku mengerutkan dahi tak mengerti. “Aku tidak mau loh kalau ada apa-apa.”
“Ayolah. Yang mana dulu yang harus kuceritakan.”
Kuhela napas pendek, “Yang baik dulu.”
“Fint tadi siang telepon. Dia bilang akan mengumumkan pembatalan pernikahan kalian ke media besok,” ucapnya dengan wajah senang.
“Oh ya, syukurlah.” Senyumku bahagia.
“Aku mau kita segera menikah,” ujarnya dengan mata berbinar.
Aku mendaratkan kecupan singkat di bibirnya, “Aku juga.”
Kent membalas kecupanku dengan ciuman hangat sedikit lama. Aku selalu suka saat dia menciumku, membuatku yakin kalau dia mencintaiku, mungkin janinku merasakan hal yang sama.
Kruk!
Tiba-tiba terdengar suara perut yang meronta. Kent tersenyum malu, “Kabar buruknya. Aku lapar,” celetuknya sembari menggosok perutnya.
Kami berdua saling menatap, tersenyum bersamaan.
Aku berharap, kebahagian ini bertahan lebih lama.
__ADS_1
🍃 🥺
Pernah punya pacar ringan tangan? amit-amit deh jangan sampai