12 MANTAN

12 MANTAN
PART 14 GALAU MELOW


__ADS_3

“Ehm, iya. Ada acara di sana. Cuma sehari,” jelasku sedikit kikuk.


“Mmm, terus malamnya? Kamu …” tanya Irwan ragu-ragu.


Aku melirik samping menahan senyum, tahu apa yang ada dalam pikirannya sekarang. Lalu aku menatapnya menyahut, “…enggak. Beda kamar. Lagian Leon selingkuh sama wanita lain, makanya aku minta putus,” cibirku kesal dengan wajah berubah masam.


Tampak lesung pipi memesona di antara senyuman di sela helaan napas lega. “Maaf, tahu gitu aku datang ke acara. Aku dapat undangan, tapi nggak jadi ikut karena syuting.”


“Selain kamu, ada yang dapat undangan juga nggak?” tanyaku memancingnya bicara.


“Emm, setahuku enggak karena nggak semuanya dapat. Kemarin yang dapat aku sama Pak Bos saja. Bosku juga berhalangan hadir.”


“Mm, jadi nggak ada yang datang.”


Irwan mengangguk mengiakan. Berikutnya, ia memainkan jarinya di punggung tanganku gemas, “Sya, kita—kita nikah yuk!” ucap Irwan ragu-ragu mengatakan.


“A-apa? A-aku.” Spontan terperangah, gugup mendengar pernyataannya yang mendadak, mampu bikin jantungan.


Ia menepuk lalu meremas pelan punggung tanganku. “Nggak perlu jawab dulu. Aku cuma mau bilang, nggak ada wanita lain yang bisa buat aku nyaman kecuali kamu.”


Dahiku berkerut bingung. “Maksudnya nyaman?”


“Ehm, aku … nyaman di samping kamu, nyaman tersenyum sama kamu dan yang paling penting aku nyaman mencintai kamu,” Kedua bola matanya menatapku bergantian.


Alamak! Tatapannya itu loh dalam banget, bikin hati meleleh.


Hush! Sadar Nesya, sadar jangan terburu-buru. Masih ada waktu buat menemukan bapak dari janinmu, batinku membatasi diri.


Terlambat. Seandainya saja Irwan mengatakannya sebelum kejadian ini terjadi, aku pasti sudah memberikan pelukan sebagai balasan lamarannya sembari berkata, “Iya, aku mau. Sekarang juga boleh. Yuk, ke penghulu.”


Tapi itu nggak akan pernah terjadi. Aku menatap lelaki ganteng di depanku sedih. “Ir, maaf. Aku—aku nggak pantas buat kamu,” kataku sambil menarik tangan dari pegangannya.


“Kenapa Nes?” tanya Irwan dengan pandangan tak mengerti. “Aku serius,” lanjutnya menatap tajam.


Klek!

__ADS_1


“Ternyata di sini toh! Ir, sudah pada nunggu tuh,” celetuk salah satu kru membuka pintu, membuat kami berdua terkejut, menoleh bersamaan.


Irwan menghela napas cepat. “Oke, aku ke sana sekarang,” ujarnya seraya beranjak dari duduk.


Dengan cepat tanganku meraih pergelangan tangannya. “Iyang, aku_” kataku tak selesai.


Irwan menyentuh tanganku sambil berkata, “Nggak apa, pikirkan dulu baru jawab. Aku siap nunggu sampai kamu jawab iya,” ucapnya pengertian.


Aku membalas dengan senyuman tanpa berkata-kata.


“Ayo, mereka sudah bingung nyari kita,” ajaknya menggandeng tanganku lembut. Keluar dari dalam ruang rias, kembali ke tempat pemotretan.


Selesai pemotretan Irwan mendekatiku sembari bertanya, “Aku mau balik. Kamu mau pulang? Sama siapa? Apa perlu kuantar?”


Aku menggeleng pelan. “Nunggu Firda, tadi sudah telepon,” kataku beralasan supaya tidak pulang bareng, tapi aku tidak bohong tentang menelepon Firda.


“Mm, oke. Aku pulang dulu ya. Nanti aku telepon.” Terdengar ada nada kecewa dari ucapannya.


Sembari mengangguk pelan, kusunggingkan seutas senyuman manis berharap bisa mengobati rasa kecewanya. Tak segera beranjak pergi ia malah menggenggam tanganku dengan sebelah tangannya yang bebas.


Bola mataku sontak terbelalak kaget. “Iyang. Lepasin,” elakku menepis tangannya sopan. “Nanti dilihat orang,” bisikku memperingatkan lebih jauh.


“Sya, kumohon kamu memikirkan lagi lamaranku tadi,” pintanya dengan wajah merengek manja. Aih, cute-nya.


“Nes, ayo pulang!”


Tiba-tiba Firda datang menghampiri dari arah belakang punggungku. Berjalan cepat sambil terengah-engah seperti habis dikejar-kejar anjing saja.


Irwan yang sedang berusaha mengajakku pulang bersama langsung mengurungkan niat sambil berpamitan, “Tuh Firda dah jemput. Aku pulang dulu ya sayang. Nanti malam kutelepon.” Sambil lalu sempat-sempatnya dia mengecup singkat pipiku di depan orang banyak, berlanjut cubitan lembut pada bekas kecupannya.


Firda reflek mendelik terkejut melihat adegan barusan. “Nesya!” pekiknya memanggil namaku.


“Hai, Fir. Lama nggak ketemu. Tolong antar Nesya pulang ya,” kata Irwan menyunggingkan senyum paling memesona.


“Sudah selesai pemotretannya?” tanya Firda ketus.

__ADS_1


“Sudah. Aku pamit pulang dulu,” ujarnya berpamitan, sangat sopan seperti biasanya.


Ya, Irwan memang terkenal sebagai pria yang sopan dan baik hati, siapa coba yang bakal nolak jadi pacarnya?


Tentunya aku, karena kondisiku sekarang yang tidak mungkin bersamanya. Apalagi Firda melihat adegan tidak wajar barusan, masalahnya aku tidak pernah bilang padanya kalau pernah pacaran dengan Irwan.


Benar saja, sepanjang perjalanan Firda mengomel panjang lebar, intinya memperingatkan keras supaya aku tidak terlalu dekat dengan Irwan.


Ditengah perjalanan tiba-tiba hidungku mengendus bau rawon. Aneh? Kok bisa, padahal nggak ada warung penjual rawon di jalan tol. Hehehe.


Mungkin si kecil lagi kepingin makan rawon, maklum bawaan bayi kata orang tua dulu istilahnya “ngidam”.


Hampir memasuki area perumahan, Firda menghentikan mobil menyempatkan diri untuk mampir dulu di warung rawon seberang jalan dekat perumahan.


Setibanya di rumah, aku menyegerakan makan, tak lupa cuci tangan dan ganti baju.


Larut malam aku terbangun oleh suara ponselku yang berdering bising beberapa kali. Kulirik malas layar hologram bergambar fotoku.


Nama Irwan muncul di layar, aku menelan ludah, mendengus pelan.


Angkat tidak ya? batinku ragu-ragu.


Sebetulnya aku rindu, berharap bisa mendengar suaranya walau hanya sekejap. Wajah gantengnya kini menari-nari di pelupuk mataku, reflek mengibaskan kepala, melarang diri untuk terhanyut bujuk rayuan seorang pria.


Tidak, aku tidak boleh mengangkatnya. Tidak boleh!


Kututup mukaku dengan bantal, menggulung diri dalam selimut. Tak berhasil juga, aku berlari ke kamar mandi, mengguyur wajahku dengan air, kembali ke tempat tidur merebahkan diri berharap segera terlelap.


🔘🕤


Malem semua.


Miels up date dengan segala kebisingan yang menerpa telinga.


Buat nama sama yang masuk dalam cerita, mohon maaf semoga tidak tersinggung. Hanya fiksi dalam imajinasi Miels. Semoga suka ceritanya.

__ADS_1


Bantu like da komennya ya


Terima kasih 🥰😘🤗


__ADS_2