12 MANTAN

12 MANTAN
PART 9 KLINIK? PERGI GAK YA


__ADS_3

Selesai makan rasanya mendingan. Aku menatap Firda sejenak—berpikir ulang tentang masalah barusan, kurasa belum waktunya untuk bicara. Aku harus mengecek sendiri kondisiku.


“Fir, besok aku mau ke rumah mama.”


“Biar kuantar,” balasnya cepat.


Aku memutar mata bingung, mencari alasan agar aku bisa keluar sendiri tanpa pengawalan darinya. “E-eng, tidak perlu. Aku bisa menyetir sendiri.”


Sudut matanya melirikku tajam seperti tanggap maksud perkataanku. “Kau mau ke mana?” ujarnya bertanya menyelidik.


“Ke rumah mama. Kangen lama nggak tengok mama,” jawabku sewajar mungkin supaya tak menimbulkan curiga.


Firda menghela napas pendek. “Oke, jangan lupa hari rabu. Tempat syutingnya … nanti kukabari lagi, tunggu info,” ujarnya sembari membereskan kotak buburku yang isinya habis ludes tak tersisa. “Kamu istirahat saja, biar aku yang beres-beres.”


Aku mengangguk pelan, “Aku ke kamar dulu.” Beranjak dari duduk, menuju kamar dan berbaring. Badanku masih terasa lemas meskipun sudah makan. Kupejamkan mata berharap rasa mualku cepat hilang sampai akhirnya aku tertidur tanpa tahu kepulangan Firda.


Menjelang sore aku terbangun dengan kondisi badan normal. Tak sabar menunggu besok. Selesai mandi aku bergegas bersiap untuk keluar, rencananya aku akan mencari klinik dokter kandungan—memastikan keakuratan hasil test pack milikku.


Pukul 18.35, hampir 2 jam aku berputar-putar kota mencari klinik yang masih buka. Beruntung salah satu klinik dokter kandungan masih ada yang buka dan sepi antrian. Kuparkirkan mobil di depan halaman klinik, keluar dari mobil berjalan terburu-buru (takut ketahuan).


Sepi, tidak ada pasien. Hanya seorang mbak-mbak resepsionis yang berdiri menyambut kedatanganku dengan penuh senyum.


“Selamat malam. Ada yang bisa saya bantu?” sapa ramah wanita berseragam putih itu padaku.


Kucondongkan kepala lebih dekat supaya suaraku jelas terdengar dari balik masker yang kukenakan. “Saya mau periksa kandungan. Bisa sekarang?” aku bertanya memastikan.


“Bisa pinjam KTP-nya?”


Aku tersadar, membatin sebentar, bawa KTP gak ya. Kurogoh tas Bruno Magli warna biru tua yang kudapat dari endosemen iklan tas bulan lalu.


Mengambil dompet dan membukanya. Syukurlah, KTP-nya ada, segera kusodorkan lalu duduk menunggu setelah si petugas memberiku segelas air untuk diminum.


Tanganku gemetaran keringat dingin, menunggu dalam galau. Mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan—duduk sendiri tanpa teman.


Kucoba mengalihkan perhatian ke ponsel, melihat berita selebriti bulan ini. Nama Leon tertulis jelas di salah satu berita “Grup DEO-X Bersiap Menggelar Konser Amal—CNN Indonesia”.


Aku baru tahu berita tentangnya hari ini setelah hampir selama sebulan lebih aku memutuskan hubungan dengannya. Sedikit ada penyesalan, tapi tak apa: aku baik-baik saja.


“Bu Nesya, silakan masuk,” panggil sang resepsionis membukakan pintu ruang dokter untukku setelah beberapa menit lalu dia masuk lebih dulu ke dalam membawa kertas periksa.

__ADS_1


Aku berdiri dari duduk—berjalan ragu-ragu masuk ke dalam ruang dokter. Tampak wanita muda tengah duduk tegak menatapku memasuki ruangannya.


“Silahkan duduk.” Tangannya bergerak mempersilahkanku untuk duduk di kursi seberang mejanya.


Kuletakkan pantatku ragu—rasanya ingin pulang saja tapi kuurungkan dengan pikiran, aku harus tahu. Aku hamil atau tidak.


“Kapan terakhir haid?” tanya si dokter lugas.


Aku berpikir sejenak, “Kira-kira sebulan lalu,” kataku mengira-ngira sendiri.


“Sudah pernah tes sendiri?” lanjut dokter bertanya.


“Sudah.”


“Hasilnya?”


“Positif, dok.”


“Silahkan berbaring di sana.” Tunjuknya pada meja periksa pasien yang berada tak jauh dari tempat dudukku.


“Astagfirullah!” jeritku memekik kaget ketika bumper mobilku hampir menubruk seekor kucing yang tengah melenggang cantik di tengah jalan raya yang lengang.


Jantungku berdetak cepat spontan memegang perut mengusap sayang. Ya, aku betul-betul hamil. Janin berbentuk telur berada dalam perutku sekarang. Begitu terlihat kecil mungil saat USG tadi, dokter mengatakan janinku berumur 45 hari.


Apa yang harus kulakukan sekarang?


Bagaimana caranya aku bisa menemukan bapak dari janinku. Namanya saja aku tidak tahu, batinku meracau sendiri.


Aku yakin 100% kalau bapak dari jabang bayiku adalah lelaki yang telah menolongku malam itu. Semua gara-gara Leon, kalau dia tidak menyeretku paksa: pastinya aku sudah berpacaran dengan lelaki itu sekarang.


Kuinjak pedal gasku pelan-pelan, melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Hal pertama yang harus kulakukan adalah menelepon Firda—memberitahunya masalah ini dan meminta bantuannya untuk mencari tahu tentang lelaki itu. Aku tidak mungkin melakukannya sendiri, bisa-bisa para wartawan menyerbu rumahku untuk mencari berita.


Perasaanku merasa plong setelah beberapa menit lalu kuputuskan mengirim pesan Whatapps.


Nesya: Fir, aku hamil


Tak pelak beberapa jam kemudian seseorang menggedor pintu rumahku keras. Aku sudah bisa menduga siapa gerangan yang terburu-buru datang ke rumah tengah malam begini.


“Nesya. Buka pintunya!” teriak suara Firda yang terdengar dari balik pintu.

__ADS_1


“Iya … sebentar.”


Benar saja, tampak raut muka masam terpampang jelas saat pintu terbuka lebar. Firda benar-benar marah sepertinya.


“Sini!” ia menarik pergelangan tanganku kasar.


“Akh! Sakit,” pekikku merengek kesakitan.


Kami duduk berdua, kedua matanya menatapku menyelidik—sesekali melirik ke arah perutku lalu menghela napas panjang, kesal.


“Anak siapa?” tanya Firda ketus.


Aku balas menggeleng pelan dalam diam.


“Kok bisa. Emang bisa hamil nggak ada bapaknya. Konyol. Pasti Leon, benar ‘kan,” ujarnya menuduh Leon tanpa alasan.


“Bukan,” jawabku singkat.


“Terus siapa? Kamu punya pacar lain?” sentaknya menduga-duga.


“Enggaklah.”


Firda menggeleng bingung. “Terus siapa? Ini masalah besar Nes. Kamu mau karirmu hancur, citramu buruk. Siap jadi single parent?” tutur Firda panjang lebar.


“Makanya aku butuh bantuanmu.”


“Bantuan, maksudnya?” dahinya berkerut tak paham.


Kugenggam kedua belah punggung tangannya sambil berkata, “Bantu aku mencari bapak dari bayiku. Dia orang baik. Semua gara-gara Leon, aku tak sempat tahu siapa dia.”


“Leon, apa hubungannya?” tanya Firda semakin bingung dengan perkataan yang terlontar dari mulutku.


“Ceritanya panjang, dengar dulu."


🔘🙇‍♀️


Selamat hari raya idul fitri


Semoga pandemi cepat berakhir

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen.


Makasih


__ADS_2